Chapter 157
Gugup melihat Kun Houw memandang semua perbuatannya, tiba-tiba Kui Hoa memutar tubuh dan terisak menyusul adiknya.
"Houw-ko, kau pergilah. Kami tak akan membuntuti!" Kun Houw tertegun. Dia melihat bibir yang pucat itu tampaknya ingin banyak bicara, bergerak-gerak, tetapi akhirnya digigit kuat-kuat.
Mendengar Kui Lin memakinya sebagai manusia tak berjantung dan tak berperasaan, tiba-tiba Kun Houw terpukul dan mengejar gadis ini.
"Hoa-moi, tunggu...!" Kun Houw yang sudah melewati kepala Kui Hoa tiba-tiba menghadang dengan tubuh bergoyang, memandang gadis itu dengan kening berkerut-kerut.
Lalu, tak tahan oleh semuanya itu, Kun Houw berkata serak, "Kau... kau boleh ikut. Hoa-moi, aku tak melarang kalau kalian bersungguh-sungguh...!" Kui Hoa terhenyak. Dia tertegun, tetapi tiba-tiba menggelengkan kepala. Gadis ini melompat meninggalkan Kun Houw, air matanya bercucuran.
"Tidak... tidak, Houw-ko. Kami tak mau ikut kalau kau sekadar terpaksa!" Kun Houw terkejut.
"Tidak, aku tidak merasa terpaksa, Hoa-moi. Aku bahkan girang kau suka menyertai perjalananku. Aku... ah...!" Kun Houw yang terpaksa mengejar Kui Hoa tiba-tiba menangkap dan mencengkeram gadis itu, menekan kedua pundaknya dengan kuat, namun lembut.
Lalu, gugup dan menggigil memandang Kui Hoa, pemuda ini merintih dengan suara gemetar, "Hoa-moi, kau maafkanlah semua kekasaranku. Aku... aku tidak bersungguh-sungguh untuk menyakiti perasaan orang yang kucinta...!" Kui Hoa tersentak, membelalakkan matanya.
"Apa... apa, Houw-ko?"
"Aku... aku..." Kun Houw menangis. "Aku sengaja menekan semua perasaanku kepadamu, Hoa-moi. Aku tak ingin kalau cintaku hanya membuatmu sengsara seumur hidup. Aku, ah...!" Kun Houw yang melepaskan diri memeluk sebatang pohon tiba-tiba mengguguk dengan pundak berguncang-guncang, tak kuat lagi untuk meneruskan kata-katanya itu. Teringat bahwa dia banyak menyimpan dendam dan api permusuhan kepada orang-orang jahat, termasuk Sobeng, paman gadis itu!
Kui Hoa yang tertegun oleh tangis Kun Houw yang demikian menyayat, tiba-tiba menghampiri dan ikut menangis pula.
"Houw-ko, apa sebenarnya yang kau maksud?" Kun Houw mengguguk.
"Permusuhan yang mungkin melibatkan kita dalam hubungan yang tidak menyenangkan, Hoa-moi. Bahwa aku mempunyai banyak musuh yang telah membunuh guruku!"
"Hm, dan termasuk di antaranya adalah pamanku itu, Houw-ko?"
"Ya, dan banyak orang-orang lainnya lagi, Hoa-moi. Betapa aku terlibat dendam dan sakit hati yang harus kubalas!" Kun Houw yang kembali terhimpit oleh segala kekecewaan itu lalu menangis dengan suara tertahan-tahan, menggigit bibirnya sampai pecah dan berdarah.
Kui Hoa yang menghela napas melihat keadaan itu tiba-tiba mengusap air mata Kun Houw, dengan air mata bercucuran pula.
"Houw-ko...", suara Kui Hoa gemetar. "Haruskah persoalan dengan orang lain kau libatkan kepadaku pula? Haruskah cinta dikalahkan untuk segelintir perbuatan orang-orang tak bertanggung jawab?" Kun Houw terbelalak. "Maksudmu?"
Kui Hoa menahan isak. "Aku minta kau memisahkan dua kejadian ini, Houw-ko. Bahwa cinta tak seharusnya kau kaitkan dengan perbuatan orang lain. Biarpun Sobeng adalah pamanku sendiri!"
"Ah, kau..."
"Ya, aku tak akan membela orang yang salah, Houw-ko. Kalau pamanku berdosa, tentu kelak dia akan menerima hukumannya. Tak perlu mengikutsertakan aku. Aku bukan dia!"
"Tapi Sobeng adalah pamanmu, Hoa-moi. Mana mungkin kau diam saja? Bukankah..."
"Sudahlah, aku ingin kita menyerahkan semuanya ini pada Yang Mahakuasa, Houw-ko. Bukankah kejahatan pasti akan menemui hukumannya di saat terakhir? Dan aku percaya itu. Pamanku tentu menemui hukumannya kalau dia bersalah!"
"Tapi bagaimana kalau hukuman itu lewat tanganku, Hoa-moi? Bukankah kau akan membalas?" Kui Hoa menggelengkan kepalanya, pucat.
"Tidak, aku tak percaya hal itu, Houw-ko. Dan kalaupun terjadi, mungkin akan membiarkannya, karena dia telah membunuh gurumu!" Kui Hoa yang tiba-tiba menangis di pelukan Kun Houw lalu berbisik, "Houw-ko, bagaimana kalau seandainya kesalahan pamanku itu kau ampuni? Bukankah ini tak akan merusak hubungan kita?" Kun Houw tertegun. Dia telah mendengar jawaban Kui Hoa yang tak akan membalas padanya bila Iblis Penagih Jiwa itu berhasil dibunuh. Satu jawaban yang dinilai berani dan radikal. Semata agar cinta di antara mereka tetap bertahan, terjalin utuh.
Kun Houw yang balik ditanya bagaimana kalau dia mengampuni Iblis Penagih Jiwa itu tiba-tiba mengeluh dan menutupi mukanya dengan bingung.
"Bagaimana, Houw-ko? Kau tak dapat melakukannya?" Kun Houw membuka mata.
"Aku tak tahu... aku belum dapat menjawabnya, Hoa-moi. Tetapi mungkin saja tidak!"
"Kenapa?"
"Karena dia terlalu kejam, Hoa-moi. Dia keji dan ganas sekali menghadapi orang lain!" Kui Hoa terisak.
"Aku tahu. Aku memang mendengar sepak terjang pamanku yang ganas itu, Houw-ko. Tetapi kudengar kabar bahwa perbuatannya itu pun dikarenakan dendam yang setinggi langit. Dendam yang selama ini katanya belum terlampiaskan dan membuatnya semakin menjadi-jadi!" Kun Houw terbelalak. "Siapa yang bilang?"
"Ayah?"
"Persoalan apa? Dendam kepada siapa?"
"Tak begitu jelas, Houw-ko. Tetapi katanya terutama pada ayahmu itu, Pendekar Gurun Neraka. Juga akibat cemburu!"
"Apa, cemburu?"
"Ya, begitu kudengar sepintas, Houw-ko. Tetapi cemburu kepada siapa dan apa pula yang dimaksudkannya itu, aku tak tahu!" Kun Houw mendelong. Dia tiba-tiba teringat kata-kata Hok Sim Cinjin, ketua Tee-kong-bio yang dulu bunuh diri saking takutnya pada Iblis Penagih Jiwa ini, sepuluh tahun lewat, saat dia menanyakan alamat Pendekar Gurun Neraka. Hok Sim Cinjin yang juga menyatakan Iblis Penagih Jiwa itu menaruh dendam kesumat pada seseorang tiba-tiba membuat dia ingin tahu lebih lanjut tentang iblis yang selalu mengenakan kedok ini. Siapa dia? Bagaimana rupanya?
"Hoa-moi?" Kun Houw akhirnya bertanya. "Siapa sebenarnya pamanmu itu? Apakah dia adik kandung ayahmu?"
"Tidak. Ayah tak mempunyai adik laki-laki, Houw-ko. Sobeng adalah sute ayah dari hubungan kakak-beradik seperguruan."
"Dan kau pernah melihat wajahnya?" Kui Hoa menggeleng.
"Lalu kau tak curiga akan keanehan pamanmu ini?"
"Hm." Kui Hoa akhirnya menarik napas. "Aku dan Kui Lin memang menaruh perasaan curiga, Houw-ko. Tetapi tak ada kesempatan untuk bertanya tentang itu jadi aku tak tahu. Kenapakah?"
"Tidak, tak apa-apa. Hanya aku..." Kun Houw menghentikan kata-katanya, mendengar jerit Kui Lin di kejauhan sana.
Terkejut menarik lengan Kui Hoa, tiba-tiba Kun Houw berseru, "Hoa-moi, adikmu...!" Kun Houw yang terbang menyambar Kui Hoa tiba-tiba melejit dan berkelebat ke timur, menuju ke asal suara dari mana Kui Lin menjerit.
Begitu tiba di tempat ini, sekonyong-konyong keduanya tertegun.
"Lin-moi...!" Kui Hoa memekik, melihat Kui Lin dikepung ratusan ular yang mendesis-desis, naik turun dan saling mendahului menyerbu gadis itu.
Kui Hoa yang marah tiba-tiba mencabut pedangnya dan meloncat ke depan menikam ular-ular ini.
"Lin-moi, lompat ke atas. Tarik ujung pohon itu...!" Namun Kui Lin menggigil. Dia tak dapat bergerak, berdiri kaku dengan muka pucat.
Kun Houw yang melihat gadis itu terbelalak memandang ratusan ular ini tiba-tiba sadar bahwa Kui Lin tertotok. Maka, berjungkir balik membantu Kui Hoa, tiba-tiba Kun Houw berseru keras menyambar pohon di atas kepala Kui Lin. Lalu membentak dan membebaskan gadis ini dari totokan yang membuatnya kaku, sekonyong-konyong Kun Houw mencengkeram dan melempar gadis itu pada kakaknya.
"Hoa-moi, tangkap...!" Kui Hoa menyambut. Dia melihat adiknya bergerak kembali, berjungkir balik di udara akibat lemparan Kun Houw. Begitu Kui Lin ditangkap kakaknya, maka gadis ini berteriak marah dan menginjak-injak hingga hancur belasan ular yang mendekati dirinya.
"Enci Hoa, seseorang menyerangku secara gelap. Dia mengerahkan ular-ular ini!" Kui Hoa terkejut. Dia melihat Kun Houw berjungkir balik keluar dari kepungan yang tampaknya sepele ini, jijik dan ngeri memandang tubuh yang bulat-bulat panjang itu, yang merayap dan masih mengejar mereka. Marah bahwa di antaranya berani mendekat dan membuka mulut, tiba-tiba Kui Hoa menggerakkan pedangnya membacok ular-ular itu.
"Tas! Tas!" Darah menyemprot keluar. Kui Hoa membabat tujuh ekor ular yang tampaknya berbisa, melihat yang lain mundur dan menegakkan kepala, mendesis-desis, rupanya tak kuat melihat teman mereka terbunuh.
Kun Houw yang mendengar seruan Kui Lin tadi bertanya, "Siapa yang menyerangmu secara gelap, adik Lin? Di mana orangnya?" Kui Lin tak menjawab. Dia rupanya masih marah pada Kun Houw, tetapi ketika kakaknya bertanya, dia pun melompat seraya berkata, "Aku tak tahu, Enci. Tetapi bayangannya menunjukkan seorang pemuda. Kusangka dia...!" Kui Lin melengos ke arah Kun Houw, tak berterima kasih bahwa pemuda itu telah menyelamatkannya.
Kui Hoa yang tertegun oleh sikap adiknya ini tiba-tiba menyentuh lengan Kun Houw. "Maaf, Kui Lin memang kurang ajar, Houw-ko. Biarlah kutegur dia nanti!" Kui Hoa yang ganti menyambar lengan Kun Houw tiba-tiba mengajak pemuda itu mengejar adiknya. Tetapi tak ada apa-apa di tempat baru itu. Kui Lin hanya memutar-mutar dan mencari-cari orang yang menyerangnya tadi, bayangan seorang pemuda, memekik dan memaki kalang-kabut, tetapi karena tak ada siapa pun kecuali mereka bertiga, akhirnya Kui Hoa mendekati adiknya ini.
"Lin-moi, kita pergi. Tak ada siapa pun di tempat ini."
"Tetapi aku penasaran, Enci. Aku mendengar dia tadi tertawa dan mengejekku dari jauh...!"
"Tetapi sekarang tak ada siapa pun, Lin-moi. Hanya kita bertiga yang ada di tempat ini."
"Baiklah," Kui Lin yang cemberut memandang Enci-nya bertanya, "Kita pulang ke kota raja?"
"Tidak," Kui Hoa melirik Kun Houw. "Kita pergi bersama Houw-ko, Lin-moi. Dia mengizinkan kita mencari musuh bersama."
"Hm. Kalau terpaksa untuk apa, Enci? Sebaiknya pulang saja ke kota raja dan biarkan dia sendiri." Kun Houw melangkah maju, tersenyum pahit.