Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 158

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 158

"Lin-moi, aku tidak merasa terpaksa untuk mengajak kalian. Aku tidak mengizinkan, justru meminta!" Kui Lin masih mendongkol.

Dia kurang percaya, tapi setelah encinya membujuk halus, barulah gadis ini mau dan berangkat bertiga. Mula-mula mereka diam dan tak banyak bicara. Namun, setelah melihat Kun Houw bersikap baik padanya dan encinya mendapat perlakuan "istimewa", barulah Kui Lin percaya dan mulai tertawa. Dia melihat Kun Houw tidak lagi bersikap dingin pada encinya, hal yang membuat dia girang. Ketika mereka berdua sering mencuri pandang, akhirnya Kui Lin malah menggoda. Perjalanan menjadi riang; begitu mereka tertawa-tawa, perjalanan itu seolah hanya tamasya, bukan perjalanan untuk mencari musuh.

Siang itu mereka tiba di Ta-pie-san. Kun Houw tiba-tiba mengerutkan kening, berdebar, dan menghentikan gurauan sepanjang jalan. Kui Lin yang juga tiba-tiba tegang segera menghentikan pembicaraannya.

"Houw-ko, bagaimana sekarang?"

"Kita terus ke atas, Lin-moi. Atau kalian tunggu saja aku di bawah."

"Tidak," Kui Hoa menggeleng. "Kita datang bersama, Houw-ko. Sebaiknya bersama pula kita ke atas. Mari!"

Tapi Kui Lin yang mempunyai pikiran sendiri tiba-tiba berkata, "Enci Hoa, sebaiknya aku mendaki dulu ke atas. Kalian menyusul belakangan. Aku ingin melihat apakah di depan aman atau tidak!"

Tanpa meminta persetujuan kedua temannya, Kui Lin berkelebat mendaki gunung.

"Lin-moi!"

Namun, Kui Lin yang terus mengerahkan ilmu ginkangnya sudah berlari cepat tanpa peduli. Ia hanya memberi isyarat agar encinya menunggu. Begitu tubuhnya lenyap, Kui Hoa pun menjadi gelisah.

"Houw-ko, mari kita susul!"

Kun Houw mengangguk. Dia juga kurang setuju dengan tindakan Kui Lin. Saat mereka tiba di atas, mereka tertegun. Ada dua jalur yang menyimpang: satu ke kiri dan lainnya ke kanan. Ke mana Kui Lin pergi? Ke kanankah atau ke kiri? Kun Houw bingung.

"Sialan, ke mana kira-kira adikmu mengambil jalan, Hoa-moi?"

"Tak tahu, Houw-ko. Tapi coba kita ambil jalan ke kanan itu. Mari!" Kui Hoa menyambar lengan Kun Houw lalu mengajak pemuda itu mengambil arah secara untung-untungan.

Namun, bayangan Kui Lin tidak tampak. Mereka sudah berada di pinggang gunung. Karena puncak sudah dekat dan Kui Lin tentu menuju ke sana, akhirnya Kun Houw meneruskan perjalanan untuk menenangkan pikiran Kui Hoa.

"Adikmu tentu ke atas juga, Hoa-moi. Sebaiknya tak perlu khawatir berlebihan."

"Ya," Kui Hoa mengangguk. "Tapi kuanggap ia ceroboh, Houw-ko. Bagaimana kalau ia tersesat?"

"Ah, ia bukan anak kecil, Hoa-moi. Kalaupun tersesat, tentu ia dapat keluar dengan selamat. Adikmu memiliki kepandaian cukup."

Kui Hoa tenang. Ia dapat menerima kata-kata itu, dan mereka berdua melanjutkan perjalanan. Namun, benarkah Kui Lin mengambil jalan yang mereka lalui? Ternyata tidak. Jika Kui Hoa mengambil jalan sebelah kanan, Kui Lin mengambil jalan sebelah kiri. Gadis ini juga bingung melihat dua jalan di persimpangan itu. Namun, karena menganggap keduanya tentu menuju puncak, ia sembrono saja mengambil jalan di sebelah kiri yang memang mendaki.

Tiba-tiba, Kui Lin tersesat menghadapi jalan buntu berupa jurang yang menganga lebar. Ia tertegun, menaksir tak mungkin ia melompati jurang selebar itu. Sementara ia bingung, dilihatnya seorang pemuda tidur di bawah sebatang pohon dengan wajah tertutup sapu tangan putih.

"Hei!" Kui Lin menghampiri. "Kemanakah jalan menuju puncak?"

Pemuda di depan diam saja. Ia rupanya tertidur lelap. Kui Lin yang mendongkol membentak dengan suara lebih keras, "Hei, mana jalan menuju puncak?"

Pemuda itu menguap, lalu menggeliat dan memutar pinggang untuk mengubah posisi tidurnya, melingkar bagaikan ular. Kui Lin yang merasa dipermainkan seketika menendang pantat orang itu.

"Hei, bangun dulu! Aku bertanya padamu!"

Pemuda itu mencelat, tergeragap, menubruk pohon, hingga sapu tangannya terlepas. Begitu ia membuka mata dan melihat Kui Lin, gadis itu terkejut dan berseru tertahan.

"Kau...?" Kui Lin mencabut pedangnya.

Pemuda itu tidak lain adalah Sin Hong, putra pendekar Gurun Neraka! Kui Lin menerjang dengan penuh kemarahan dan menikam leher lawannya. "Siluman jahat, terimalah kematianmu!"

Sin Hong tertawa. Dia memang pura-pura tidur tadi. Melihat pedang menusuk lehernya dengan ganas, ia mengejek dengan mulut mencibir. "Ok-siocia, selamat datang. Tapi kedatanganmu kurang ajar, plak!"

Sin Hong menangkis pedang Kui Lin hingga terpental. Kui Lin memekik marah dan kembali menyerang dengan tusukan dan bacokan. Sin Hong melompat ke sana kemari sambil mengejek dengan tawa yang menyakitkan. Ketika semua serangan pedangnya luput, Kui Lin membentak dan mengayunkan pukulan Gin-kong-jiu dengan tangan kiri.

"Ha-ha, boleh kau keluarkan semua kepandaianmu, Nona. Tambah lagi dengan Toh-hwe-ji yang kabarnya dimiliki pamanmu itu!"

Kui Lin melengking, menyerang kalap dengan mengerahkan ginkang. Ketika ilmu Ginkong-jiu membantu permainan pedangnya, Sin Hong terdesak mundur. Namun, belum sekalipun serangan itu mengenai sasarannya. Kui Lin girang saat melihat lawan terdesak di belakang jurang, agaknya lupa bahwa di belakang sana tidak ada tempat berpijak. Saat Sin Hong melompat jauh menghindari tusukan pedangnya, pemuda itu sekonyong-konyong terjeblos dan jatuh ke dalam jurang.

"Hei!" Kui Lin bersorak melihat Sin Hong terjungkal dan mendengar seruan keras dari dalam jurang. Ia menganggap lawan tewas. Namun, saat ia menyimpan pedang dan bersiap membalikkan tubuh, tiba-tiba terdengar suara tawa. Sin Hong muncul di bibir jurang, merayap bagaikan seekor cecak, lalu melenting dengan melempar kaki ke belakang mirip seekor kalajengking.

"Aih, kau kejam, Nona. Melihat orang terjungkal kenapa diam saja? Kau kira jurang ini tak dalam?"

Kui Lin tertegun. Ia tak mengira lawannya dapat keluar dengan mudah. Sadar bahwa putra Pendekar Gurun Neraka ini memang lihai, Kui Lin kembali mencabut pedangnya.

"Orang she Yap, kau benar-benar siluman!"

Sin Hong tertawa, lalu kembali mengelak dan berlompatan ke sana kemari. "Ok-siocia, sebaiknya kau menyerah saja. Ingat, dulu pun kau telah kutangkap!"

Kui Lin memekik gusar. Ejekan itu mengingatkannya pada kejadian di Wu-kian, di mana ia tertangkap bersama kakaknya oleh Pendekar Gurun Neraka. Ia kembali menyerang ganas dengan tusukan pedang dan pukulan Gin. Namun, Sin Hong terlalu lihai. Ditambah lagi dengan sinkang mujizat dari Bu-beng Sian-su, setiap dorongan Sin Hong selalu mementalkan pedang maupun pukulan Kui Lin.

Saat serangan Kui Lin luput bertubi-tubi, ia melakukan jurus "Melontar Pedang Menghantam Bukit". Ia menimpukkan pedangnya sementara tangan kosongnya menghantam dada Sin Hong dengan kekuatan penuh. Sin Hong segera mengerahkan sinkangnya dan balas mendorong.

"Plak-dess!"

Pedang Kui Lin runtuh setelah menghantam kulit lawannya yang sekeras baja. Pukulan Kui Lin pun beradu dengan hawa pukulan Sin Hong yang jauh lebih kuat, memantul balik, dan menghantam Kui Lin sendiri. Gadis itu kaget, ia meloncat tinggi dan berjungkir balik di udara untuk menghindari pukulannya sendiri. Pukulan itu akhirnya menghantam tanah, meledak, dan menumbangkan pohon di belakangnya.

Namun, Kui Lin tersirap darahnya saat melihat ia melayang turun bukan di atas tanah, melainkan di tengah jurang yang menganga. Dengan muka pucat, ia menjerit, "Sin Hong, tolong...!"

Sin Hong terkejut melihat Kui Lin terlampau jauh di bibir jurang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment