Chapter 159
Dan Sin Hong yang tiba-tiba tidak berpikir panjang lagi sudah memberat dan melesat ke depan. Gerakannya bagai setan terbang atau burung garuda menyambar. Begitu berjumpalitan mengayun tubuh, tahu-tahu Sin Hong telah mendahului terjun dan berada di bawah Kui Lin, yang juga meluncur ke bawah, terbelalak memandang Sin Hong yang sudah menangkap kakinya.
Begitu membentak serta meneruskan ayunannya, Sin Hong melompat berjungkir balik menuju seberang. Tapi celaka, Kui Lin yang tertangkap itu memberi beban tambahan pada Sin Hong, menjadikan gerakannya kurang lincah dan berat. Hampir mencapai jurang sebelah sana, namun gagal, kurang setombak. Mereka berdua kembali meluncur dan terjeblos ke bawah, membuat Kui Lin terpelik dan kembali menjerit.
"Sin Hong....!" Namun Sin Hong bersikap tenang. Dia benar-benar lihai dan patut menjadi putra Pendekar Gurun Neraka yang hebat. Ia tidak gugup dan sejenak terbelalak oleh kegagalannya tadi, melihat betapa mereka meluncur ke bawah dengan cepat. Sin Hong yang melihat sebatang akar terjulur panjang, tiba-tiba menyambar akar itu dengan cepat. Tangannya yang kuat dan kokoh sudah meraih dengan sigap, tersentak dan membuat keduanya terguncang di udara, lalu tiba-tiba berhenti, tertahan oleh sulur di dinding jurang ini. Begitu Sin Hong membentak dan mengayun tubuhnya, tahu-tahu mereka pun sudah hinggap di dinding jurang itu, di tengah-tengah, cukup dalam. Ia melepas sulur dan melekat seperti cecak.
"Plak!" Kui Lin tertegun. Dia kagum bukan main oleh kehebatan putra Pendekar Gurun Neraka ini, terlongong dan sejenak bersyukur bahwa mereka selamat. Ia ngeri memandang ke bawah ke dalam jurang yang demikian tinggi, lalu duduk di pundak Sin Hong dengan perasaan tergetar. Tapi begitu ingat Sin Hong adalah musuh, tiba-tiba Kui Lin membentak dan mencengkeram rambut lawannya ini dengan sikap marah.
"Sin Hong, jiwamu sekarang ada di tanganku. Apa katamu sekarang, manusia sombong?" Sin Hong tertawa. "Aku tidak berkata apa-apa, Nona. Tapi bilakah kau keluar sendiri? Punyakah kau ilmu merayap seperti yang kumiliki?" Kui Lin tertegun. "Keparat, kau mengancamku, Sin Hong?"
"Eh," Sin Hong kembali tertawa. "Siapa yang mengancammu, Nona? Bukankah sekarang ini justru kau yang mengancamku? Lihat, jarimu telah menyentuh ubun-ubun kepalaku. Sekali totok tentu aku mampus!"
"Dan kau tak takut mampus?"
"Wah!" Sin Hong tertawa lebar. "Untuk apa takut mampus, Nona? Apalagi mampus disertai gadis cantik, tentu nikmat!"
"Setan....!" Kui Lin memekik. "Kau kurang ajar, Sin Hong. Kau tak tahu aturan. Kau, ah...." Kui Lin menampar Sin Hong, namun disambut teriakan kecil ketika Sin Hong melepaskan tangannya, melorot di dinding jurang itu, siap meluncur ke bawah. Tapi Sin Hong yang sengaja main-main sudah melekatkan kembali dua telapaknya di dinding jurang, tertawa melihat Kui Lin pucat.
"Bagaimana, Nona? Kau masih mau memukulku lagi? Awas, aku tak tanggung kalau peganganku lepas. Kau tentu menyusul arwahku kalau aku jatuh!" Kui Lin gemetar. Dia terpaksa berpegangan erat-erat di pundak Sin Hong, kakinya dingin, membuat Sin Hong tertawa di dalam hati.
Kui Lin yang menggigil dengan muka pucat berkata, "Tidak... tidak, Sin Hong. Aku tak akan memukulmu lagi. Ayo naiklah!"
"Wah, aku seperti kuda tunggangan, Nona. Dan nanti kau akan membunuhku pula?"
Kui Lin gugup. "Tidak, eh..., sudahlah. Cepat naik, Sin Hong. Aku ngeri. Aku.... aku tidak akan membunuhmu!"
"Kau janji?"
"Ya, aku janji!"
"Dan hanya itu saja janjimu?" Kui Lin terbelalak. "Apa lagi yang kau minta?"
Sin Hong tertawa. "Aku minta upah untuk pekerjaan ini, Nona. Hitung-hitung sebagai pengganti tanganku yang pegal-pegal."
"Kau minta berapa? Seribu tail? Dua ribu tail?"
"Wah, untuk apa uang, Nona? Aku minta yang lain. Aku tak butuh uang!" Kui Lin tertegun. "Kalau begitu apa?"
Sin Hong menahan senyumnya. "Tak dapat kusebutkan di sini, Nona. Nanti saja kalau kita tiba di atas. Kau mau?" Kui Lin terdesak, merasa kalah posisi. "Baiklah, kau cukup cerewet, Sin Hong. Sekarang naiklah dan cepat keluarkan aku dari sini!" Kui Lin menggigit bibir, diam-diam marah dan gemas pada Sin Hong yang diketahuinya sengaja menggodanya.
Sin Hong yang tertawa penuh kemenangan akhirnya mengangguk. "Bagus, kalau begitu berpeganglah erat-erat pada kedua pundakku, Nona. Awas kita mulai!" Sin Hong merayap ke atas, mulai "berjalan" seperti cecak, menepuk dan melekatkan telapaknya pada dinding jurang. Ketika perlahan namun pasti pemuda ini merayap naik, Kui Lin terbelalak dan diam-diam kagum bukan main, mengakui kehebatan pemuda itu yang tak dapat dilakukannya. Ketika beberapa saat kemudian mulut jurang mulai terlihat, tiba-tiba Kui Lin mengeluh girang dan berteriak, "Kita hampir sampai...!"
Namun Sin Hong mendadak berhenti. Dia membuat Kui Lin terkejut dan heran, menghentikan seruannya dan memandang pemuda itu. Kui Lin yang marah tiba-tiba menegur, "Ada apa, Sin Hong? Kenapa berhenti?" Sin Hong tertawa. "Aku capek, Nona. Ingin beristirahat sebentar."
"Bohong! Napasmu tidak ngos-ngosan, Sin Hong, kenapa menipu?"
"Wah, kau memperhatikan jalan napasku? Kau mendengar pula kedua lenganku yang menjerit-jerit kelelahan?"
"Jangan main-main. Aku tahu kau berpura-pura saja, Sin Hong. Ayo lekas naik agar kita segera sampai!"
"Hm, dan kemudian kau membunuhku di atas sana? Bagaimana kalau kau tidak menepati janji?"
"Keparat!" Kui Lin marah. "Kaukira aku manusia yang suka menjilat ludah sendiri, Sin Hong? Kau tak percaya padaku?" Kui Lin sudah siap menampar, merah pipinya dan mangar-mangar memandang Sin Hong. Sin Hong yang melihat gerakan tangan itu tiba-tiba menggoda dan sengaja melorot turun.
"Hei....!" Kui Lin terpekik, kaget oleh gerakan ini. Tapi Sin Hong yang sudah melekatkan tangannya kembali sudah tertawa memuaskan hati. "Tanganku kaget melihat kau siap menampar lagi, Nona. Kalau kau main-main atau sengaja menakuti aku lagi, jangan salahkan kalau kita merosot ke tempat semula!"
"Tidak...!" Kui Lin gemetar. "Jangan lakukan itu, Sin Hong. Cepat naik dan angkatlah aku ke atas. Mulut jurang tinggal sepuluh tombak lagi!"
"Dan kau tak akan merobah janjimu?"
"Tidak. Aku tak akan menarik janjiku, Sin Hong. Kalau tidak percaya boleh kau lempar aku ke dalam jurang!"
Sin Hong yang tertawa mendengar ini akhirnya mengangguk dan merayap kembali. Tapi tidak seperti tadi, kali ini Sin Hong ayal-ayalan dan sengaja memperlambat jalannya pendakian, ingin mengguncang perasaan lawan dan membuat Kui Lin menahan-nahan kemarahan, sengaja menggoda dan membuat Kui Lin menangis, marah, dan juga gemas.
Ketika beberapa saat kemudian bibir jurang sudah mereka gapai dan keduanya melompat keluar, yang pertama kali dilakukan Kui Lin adalah menggaplok pemuda ini. "Sin Hong, kau pemuda kurang ajar. Sengaja main-main untuk menggodaku berlama-lama..... plak-plak!" Sin Hong terpelanting.
Ia mendesak mundur lawannya dengan tangan kosong. Ketika beberapa saat kemudian Kui Lin didesak mundur dan terjepit oleh pukulan Sin Hong yang banyak menggunakan tenaga saktinya, tiba-tiba pedang di tangan Kui Lin mencelat, terlepas oleh pukulan Sin Hong yang kuat. Saat Sin Hong menendang gadis itu mengenai lututnya, tiba-tiba Kui Lin mendeprok dan mengeluh roboh!
"Aduh...!" Sin Hong tertawa. Dia langsung membuat gadis itu tak berdaya dengan totokannya, melihat Kui Lin melotot dan memaki. Tapi begitu rebah dan tak berkutik lagi di atas tanah, segera Sin Hong menghampirinya dan memungut pedang Kui Lin.
"Bagaimana, Nona? Sekarang kau betul-betul menyerah?"
"Menyerah hidungmu, Sin Hong. Kau licik dan curang menotok lututku!"
"Wah, kalau tidak begitu mana mungkin kau roboh, Nona? Kau sendiri yang minta kurobohkan, dan sekarang setelah roboh masih juga mengomel. Terlalu!"
Sin Hong yang menyimpan pedang Kui Lin sudah mengikat gadis ini dengan akar pohon, tertawa dan mendongkol juga melihat lawan memakinya curang. Tak peduli serta gemas pada Kui Lin yang rupanya tak mau kalah, tiba-tiba Sin Hong menyeru dan menarik tawanannya itu. "Ok-siocia, kau patut dihukum. Sekarang kau harus menghadap ayah-ibuku dengan cara begini. Biar disangka babi guling!"
Kui Lin marah-marah. Ia tentu saja terhina dan marah bukan main. Ketika Sin Hong menariknya di tanah berbatu, tiba-tiba Kui Lin menjerit, "Sin Hong, kau pemuda tak tahu sopan, bajuku robek-robek. Keparat kau!"
Sin Hong berhenti. Dia melihat pakaian Kui Lin memang robek-robek, memperlihatkan kulit tubuhnya yang putih halus, tidak terluka karena Kui Lin memiliki Hoatcong ko. Tapi Sin Hong yang menyeringai lebar sudah tertawa dan kembali menyeret Kui Lin. "Salahmu, Nona. Kenapa memasuki tempat ini tanpa izin? Kau memang harus dihukum, dan inilah hukumannya!"
Kui Lin mencak-mencak. Ia melihat Sin Hong tak peduli, memaki kalang kabut. Ketika Sin Hong membawanya ke tempat yang penuh onak dan duri hingga bajunya robek sampai di pundak, tiba-tiba Kui Lin menangis dan memaki Sin Hong sebagai manusia cabul, sengaja membuatnya begitu agar dapat menonton tubuh wanita.
Sin Hong yang berhenti mendadak, tiba-tiba memutar tubuhnya, terbelalak marah. "Apa cabul? Kau memakiku seperti itu?"
"Ya, kau pemuda cabul, Sin Hong. Kau sengaja membuatku seperti ini agar mata keranjangmu dapat melahap tubuh wanita! Kau laki-laki hina, kau pemuda yang diam-diam menyimpan pikiran kotor. Kau..."
"Plak!" Sin Hong tiba-tiba menampar Kui Lin. Dia marah dan tersinggung sekali oleh kata-kata gadis itu, hampir meremas mulut yang tajam dan menyengat ini. Tapi melihat Kui Lin terguling dan matanya membentur tubuh yang setengah telanjang dari pundak ke bawah, tiba-tiba Sin Hong tertegun dan bengong, melihat Kui Lin menangis dan memaki-makinya kembali. Ketika Kui Lin memaki matanya yang disebut "mata iblis" karena melotot memandang pundaknya, tiba-tiba Sin Hong terkejut dan sadar, melengos dan cepat memutar tubuh, melepas bajunya.