Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 16

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 16

Ia merasa dadanya sesak, hampir tak dapat bernapas. Namun, istri Pendekar Gurun Neraka yang gagah perkasa ini memekik. Ia tidak terluka, hanya terkena pukulan yang tidak begitu keras. Artinya, serangan itu tidak sampai membuatnya terluka dalam. Maka, begitu melengking dan melompat bangun, tahu-tahu nyonya muda ini telah mencabut senjata rantainya yang memang merupakan andalan utama!

"So-beng, kau cukup hebat...!" Si iblis menyeringai.

"Memang aku hebat, Nyonya Muda. Kalau tidak, tentu aku tak berani datang ke mari."

Pek Hong menggigil. Ia kaget sekali melihat lawan demikian tangguh, terutama dorongan *sinkang*-nya yang beruap merah itu, yang mampu membuat senjatanya tertahan bagai menemui tembok baja. Tiba-tiba nyonya muda ini terbelalak teringat sesuatu dan membentak, "So-beng, kaukah yang membawa Bu-beng Siauw-cut pagi tadi?"

Laki-laki ini tercengang. Dia terkejut, namun tertawa aneh sambil menggeleng. "Tidak, aku sebetulnya tak mengenal anak itu, *Hujin*. Tapi kalau kau tidak percaya, itu pun tak jadi soal bagiku!"

"Dan kau tidak membawa anak itu ke mari?"

"Wah, tak perlu kujawab. Yang pasti, aku gembira melihat anak itu memusuhi kalian!"

Pek Hong membentak marah. Ia melompat ke depan, dan begitu memainkan rantainya, tiba-tiba nyonya muda ini menerjang kembali dengan mata mendelik. Ia bertubi-tubi melancarkan serangan, tampak bernafsu sekali merobohkan lawan. Begitu nyonya ini memainkan rantainya dengan Ilmu Silat *Hongthian Lo-hai Kun* (Ilmu Silat Badai di Samudra), maka lawan terdesak mundur seperti semula. Memang nyonya muda ini ahli memainkan ilmu silat itu, warisan gurunya, Ta Bhok Hwesio yang sakti dari Tibet. Ilmu silat pengaduk lautan yang bergelombang naik-turun bagai badai mengamuk.

Begitu dia menerjang sambil memainkan rantai ini, tiba-tiba lawan keteteran dengan muka berubah. Apalagi ketika tangan kiri nyonya itu memainkan ilmu silat suaminya yang bernama *Khong-ji Ciang* (Silat Hawa Kosong)! Begitu Pek Hong memainkan gabungan dua ilmu silat ini, tiba-tiba lawan mendesis dan menggeram marah. Dia tak berdaya diserang seperti itu, bagai hujan mencurah atau badai mengamuk!

Kwan Pek Hong yang girang melihat lawan dapat didesaknya mundur, terus bertubi-tubi melakukan babatan dan tamparan mempergunakan rantai serta pukulan tangan kiri. Ketika lawan tak dapat mengelak semua serangannya, tiba-tiba rantai di tangan kanannya menghantam pundak lawan.

"Plak!" Si Iblis Penagih Jiwa tergetar.

Pek Hong girang, lalu menyusulkan lagi dua buah serangannya ke leher dan pinggang. Ketika suara "plak-plak" kembali terdengar saat dua serangannya mengenai tubuh lawan, tiba-tiba nyonya muda ini berseru girang, "So-beng, kau akan roboh di tanganku...!"

Tapi si Iblis Penagih Jiwa tertawa mengejek. Dia mencoba menghindar sambaran rantai yang kesekian kalinya. Namun, ketika rantai tetap menghantam dan kali ini malah mengenai mukanya hingga dia merasa kesakitan, mendadak iblis ini menggetarkan tubuh, mengguncang bagai anjing membersihkan bulu.

"Kwan Pek Hong, jangan girang dulu kau. Lihat apa yang terjadi...!" Dan ketika rantai kembali menyambar dirinya, mendadak iblis ini tidak mengelak. Dia justru maju menyambut sambil mengguncang tubuh seperti anjing membersihkan bulu itu. Begitu rantai mengenai pangkal lengannya, sekonyong-konyong terdengar suara "rrtt...!" dan rantai tak dapat ditarik! Rantai ini "melekat" atau terisap di pangkal lengan iblis itu.

Pek Hong yang kaget oleh kejadian itu tiba-tiba berseru tertahan, "Ilmu Penghisap Tulang...!"

Si Iblis Penagih Jiwa tertawa bergelak. "Kau mengenal ilmu ini, *Hujin*? Ha-ha, bagus, itu bagus!" Begitu tangannya bergerak, tahu-tahu iblis ini telah menangkap rantai di pangkal lengannya itu. Lalu, saat dia meremas dan menarik, tahu-tahu rantai di tangan Pek Hong hancur menjadi bubuk!

"Kress!"

"Aah!" Pek Hong kaget bukan main. Dia melihat rantainya hancur diremas jari-jari si iblis merah. Sementara dia terbelalak, tiba-tiba tangan kanan lawan menyambar pundaknya.

"Ibu, awas...!"

Pek Hong mencelos hebat. Ia melihat tangan lawan sudah berada di depan pundaknya, meluncur untuk mencengkeram. Sadar pundaknya bakal hancur diremas seperti rantainya sendiri, tiba-tiba nyonya muda ini melemparkan tubuh dan bergulingan.

"Bres-bress!" Lantai rumah pun menjadi korbannya. Pek Hong yang sudah melompat bangun melihat lantai hancur dicengkeram jari-jari lawan, mengepulkan uap dan remuk bagai bubuk. Pek Hong yang ngeri oleh kekuatan lawan yang demikian dahsyat ini tiba-tiba mendengar tawa menyeramkan dari lawannya.

"Yap-*Hujin*, aku akan menagih nyawa...!"

Pek Hong pucat mukanya. Ia melihat So-beng membalikkan tubuh, memandangnya penuh ancaman. Begitu ia terbelalak, tahu-tahu iblis ini melompat ke arahnya, merenggangkan kedua jari bagai cakar iblis yang ganas tak kenal ampun.

"Yap-*Hujin*, bersiaplah. Aku akan mencabut nyawamu!"

Pek Hong terpekik. Dia melihat si iblis menubruk dengan cepat. Sadar dirinya dalam bahaya, nyonya muda ini lalu mengelak dan menendangkan kakinya ke lutut lawan.

"Plak!" Tapi Pek Hong kecele. Lutut lawan sama sekali tidak bergeming ditendang ujung sepatunya. So-beng yang sudah tertawa menyeramkan dengan mata liar melotot menyerangnya kembali dengan penuh kebuasan.

"Kau tak dapat merobohkan aku, *Hujin*. Kau tak dapat melindungi diri dari setan perenggut nyawa...!"

Pek Hong terpaksa melompat-lompat. Dia menghindari serangan lawannya, mengelak ke sana kemari, bingung karena tak bersenjata lagi, juga gelisah. Sin Hong serta Bi Lan yang melihat ibu mereka dikejar-kejar So-beng dan tampak dalam bahaya, tiba-tiba melengking.

"So-beng, jangan ganggu ibuku!"

"So-beng, mampuslah kau!"

Si Iblis Penagih Jiwa terkejut. Dia melihat Sin Hong dan Bi Lan tiba-tiba menubruk ke depan, menggerakkan pedang mereka dengan penuh kemarahan. Tapi iblis merah yang terkekeh ini menggerakkan tangannya, menyampok ke kiri dan kanan.

"Anak-anak, mundurlah. Aku tidak mengincar jiwa kalian!"

Sin Hong dan Bi Lan terpekik. Mereka terdorong mundur, hampir terpelanting oleh hempasan angin lawan. Tapi dua orang anak yang sudah maju kembali sambil berteriak itu tak mau membiarkan ibu mereka celaka di tangan lawan. Baik Bi Lan maupun Sin Hong sama-sama menerjang, menggerakkan pedang menusuk ke sana kemari. So-beng yang geram oleh gangguan ini pun menjadi marah.

"Anak-anak, kalian tidak mau dengar nasihatku?"

"Aku tak butuh nasihat, iblis keji! Kau telah membunuh Lay-lay dan tiga orang pembantu kami!" Bi Lan berteriak.

"Ya, dan kami tak akan membiarkan kau membunuh Ibu, So-beng. Aku siap melawanmu sampai titik darah terakhir!" Sin Hong juga menjawab.

Maka So-beng akhirnya marah. Dia dikeroyok tiga oleh ibu dan anak itu, menerima tusukan dan bacokan bertubi-tubi. Tapi iblis merah yang benar-benar lihai ini ternyata mampu mengatasi semua kesulitannya. Bahkan pedang di tangan Bi Lan maupun Sin Hong kini tak dikelit lagi, melainkan diterima tubuhnya yang tiba-tiba kebal oleh perlindungan *sinkang*. Ketika pedang dua orang anak itu kembali menyambar tubuhnya, mendadak iblis ini memasang diri dan tidak mengelak.

"Anak-anak, kalian sungguh kurang ajar!"

"Tak-takk!" Sin Hong dan Bi Lan terbelalak. Mereka terang-terangan melihat pedang di tangan mereka mengenai leher dan dada lawan. Malah Bi Lan masih sempat melakukan tendangan ke atas menghantam pusar lawan. Tapi pedang dan kaki yang sama-sama tak membawa hasil karena terpental itu tiba-tiba ditotok lawan dan dicengkeram dengan marah.

"Anak-anak, kalian minggirlah!"

Sin Hong dan adiknya terbelalak. Mereka tak dapat menghindar ketika totokan lawan mengenai tubuh mereka. Begitu dua kali terdengar suara "tuk-tuk" yang menyentuh jalan darah di atas pundak, tiba-tiba dua orang anak ini mengeluh dan terguling roboh. Lalu, saat So-beng melempar tubuh mereka ke atas lantai, sekonyong-konyong Bi Lan dan kakaknya lumpuh tak berdaya.

"Bres-bress...!" Sin Hong dan Bi Lan sama-sama melotot. Mereka melihat Iblis Penagih Jiwa itu terkekeh; tawanya menyeramkan.

Pek Hong yang terkejut melihat anak-anaknya roboh tertotok segera melengking tinggi. Dia melakukan tamparan-tamparan *sinkang*, memainkan *Khong-ji Ciang* dan *Cap-jiu Kun*, dua ilmu silat yang ia dapat dari suaminya, Pendekar Gurun Neraka. Tapi So-beng yang tampaknya sudah beringas itu tiba-tiba membentak, "Kwan Pek Hong, kau robohlah!"

Nyonya muda ini tercekat. Tangannya yang hendak menampar pelipis lawan mendadak ditangkap. Begitu ia menjerit, tahu-tahu jari lawan yang mengepulkan uap kemerahan menyambar mukanya. Namun nyonya muda ini merendahkan kepala, dan persis saat jari lawan lewat di atas kepalanya, tiba-tiba ia menendang bagian vital Iblis Penagih Jiwa itu.

"Dess!" Pek Hong terbelalak. Ia mengeluh tertahan ketika kakinya tiba-tiba tak dapat ditarik, melekat di selangkangan lawan. Sementara ia merasa malu dan marah oleh gerakan lawan yang mempergunakan ilmu "menyedot", tiba-tiba lawannya ini menotok lehernya.

"Nyonya Muda, robohlah!"

Pek Hong tak dapat mengelak. Tangannya yang satu tertangkap; ia hendak menggerakkan tangan yang lain, namun kalah cepat. Begitu jari lawan mengenai lehernya, tiba-tiba nyonya ini mengeluh dan terguling roboh. Lalu, saat So-beng tertawa bergelak dan menendangkan kakinya, tahu-tahu nyonya muda ini mencelat terlempar bergulingan di atas lantai.

"Ha-ha, aku siap membunuhmu, Kwan Pek Hong. Kau tak akan mati tenang oleh pukulanku!"

Pek Hong pucat mukanya. Dia melihat iblis itu memburunya, mengangkat tangan dengan jari-jari terbuka yang berkerotok. Tepat saat si iblis mengangkat tangan untuk menusuk ubun-ubunnya, mendadak dari luar melayang masuk sesosok bayangan gemuk pendek.

"Omitohud, siapa ini yang berani mengancam murid Pinceng?"

Iblis Penagih Jiwa terkejut. Dia sudah hendak menusuk ubun-ubun nyonya muda itu dengan penuh tenaga dan kekuatan; pandangan matanya bersinar keji. Namun, begitu bayangan gemuk pendek ini melompat masuk dan tiba-tiba nyelonong menangkis tusukannya, sang iblis pun kaget bukan main.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment