Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 160

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 160

Tanpa menoleh, Sin Hong melempar bajunya yang dengan tepat menakup pundak Kui Lin, melindungi tubuh gadis itu yang setengah telanjang.

"Nona, aku bukan manusia cabul. Sekarang kau lihat buktinya!" Kui Lin tertegun. Ia melihat baju Sin Hong telah menutup tubuhnya, sementara sang pemuda berdiri membelakanginya dengan dada telanjang. Saat melihat punggung yang kokoh dan tegap itu, Kui Lin justru terkejut.

Saat ia masih terbelalak, Sin Hong segera menyambar tubuhnya dan memanggulnya di atas pundak.

"Kau masih menolak?" Kui Lin diam.

"Nah, kalau begitu jangan serewel lagi. Aku akan melemparmu ke dalam jurang jika kau memakiku sebagai pemuda cabul!" Sin Hong yang tidak banyak bicara lagi segera meloncat dan terbang menuju puncak, membiarkan bajunya tetap di pundak gadis itu sementara dia sendiri bertelanjang dada.

Karena Kui Lin diletakkan di punggung dan pinggulnya dipeluk oleh Sin Hong, gadis itu terpaksa harus "mencium" punggung pemuda tersebut; punggung yang berkeringat namun terasa harum. Seumur hidupnya, baru kali itu Kui Lin "dipanggul" oleh seorang pemuda. Bersentuhan langsung dengan punggung laki-laki yang telanjang itu membawa debaran aneh di hatinya. Punggung yang kokoh itu membuatnya tertarik.

Ketika Sin Hong melompat-lompat, Kui Lin merasa terbuai. Mula-mula ia ingin meronta dan mengamuk, namun setelah Sin Hong tidak menunjukkan kekuranganajaran dan memeluknya dengan sopan, Kui Lin justru merasa nyaman hingga lupa pada tangisnya. Ia memandang punggung yang berkilat oleh keringat itu dengan perasaan yang baru; rasa asmara yang luar biasa. Ia merasa malu pada naluri kewanitaannya yang bekerja secara otomatis.

Ketika Sin Hong tiba di puncak dan melompati pagar rumah, dua seruan meluncur bersamaan.

"Lin-moi...!"

"Ayah!"

Kui Lin tertegun. Ia melihat encinya dan Kun Houw telah berada di sana, berdiri berhadapan dengan tiga orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah perkasa—Pendekar Gurun Neraka bersama dua istrinya—serta Bi Lan yang terbelalak melihatnya dipanggul Sin Hong.

Sin Hong segera menurunkan gadis itu. Ia terkejut melihat Kun Houw, lalu menghampirinya dengan girang. "Houw-ko, kau sudah sadar? Kau datang untuk memenuhi permintaan Ayah?"

Kun Houw mengerutkan kening tanpa menjawab. Ia baru saja tiba di tempat itu bersama Kui Hoa dan disambut oleh Pendekar Gurun Neraka serta keluarganya. Pertanyaan Sin Hong yang mengira dia datang karena sudah tidak membantu Ok-ciangkun membuat Kun Houw merasa kelam.

Bi Lan melengking mengejutkan kakaknya, "Kun Houw ke sini untuk menangkap Ayah, Hong-ko. Dia masih tersesat dan memusuhi kita!"

Sin Hong terkejut. "Benarkah, Houw-ko?"

Pendekar Gurun Neraka maju. "Apa yang dikatakan adikmu benar, Sin Hong. Kun Houw datang untuk menangkap aku."

"Terlalu!" Sin Hong menjadi marah. "Kau tak sadar akan kesesatanmu ini? Kau datang untuk menangkap Ayah? Ah, kau memang..."

"Dia memang iblis!" Ceng Bi tiba-tiba melengking, memotong kalimat Sin Hong. Ia melompat ke depan dengan muka merah padam. "Kun Houw, beri tahu kami apa kesalahan suamiku kepadamu. Dulu kau datang dengan tuduhan suamiku membunuh ibumu. Sekarang, setelah kau tahu duduk persoalannya, apalagi yang kau mau? Dosa apakah yang dia perbuat hingga kau memusuhi ayah kandung sendiri?"

Kun Houw pucat pasi. Ia terbelalak mendengar berondongan kata-kata dari istri kedua Pendekar Gurun Neraka itu. Ia tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu menghantam batinnya. Benar, kesalahan apalagi yang dilakukan Pendekar Gurun Neraka secara pribadi kepadanya? Bukankah justru dirinya yang melakukan kesalahan berulang kali?

Ia telah menuduh pendekar itu membunuh ibunya, padahal ia salah alamat. Ia juga telah memusuhi pendekar itu di Wu-kian. Kini, untuk ketiga kalinya ia datang untuk menangkap seseorang yang secara pribadi tidak memiliki kesalahan sedikit pun padanya. Kun Houw merasa hatinya pedih dan ingin menangis. Namun, ia memejamkan mata kuat-kuat, menahan diri. Ia tidak mau mengungkap bahwa dirinya terjebak oleh Ok-ciangkun dan harus menepati janji setahun sebagai seorang jantan.

Kui Hoa melangkah maju. Ia tahu Kun Houw sedang hancur menghadapi desakan Ceng Bi. "Kun Houw datang bukan untuk urusan pribadi, Hujin, tapi sebagai utusan ayahku yang mewakili urusan kerajaan. Ini urusan pemberontak, bukan perorangan!"

"Hm, kenapa Kun Houw harus membantu ayahmu? Bukankah karena kesesatan berpikirnya?" Ceng Bi menjengek. "Kelompokmu adalah kelompok manusia busuk, bocah ingusan!"

"Kun Houw membantu bukan karena kesesatan berpikir, Hujin," jawab Kui Hoa marah. "Justru itu menunjukkan kegagahannya sebagai seorang jantan. Dia kalah bertaruh dan menepati janjinya!"

Pendekar Gurun Neraka mengernyit. "Janji taruhan tentang apa, Nona?"

"Kun Houw kalah bertaruh dengan ayahku," sahut Kui Hoa. "Mereka mengadakan pertandingan di mana yang kalah harus tunduk pada yang menang. Maka dia membantu karena tidak mau menjilat kata-katanya sendiri!"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. Ia menghela napas, menyadari bahwa kegagahan Kun Houw telah diperalat oleh Ok-ciangkun yang cerdik. Ia memandang putranya itu dengan prihatin. "Benar yang dikatakan gadis ini, Kun Houw? Kau terikat janji pertaruhan dengan panglima itu?"

Kun Houw mengangguk berat.

"Seumur hidup?"

"Tidak, hanya setahun."

"Dan kau tetap ingin menangkap aku?"

Kui Hoa melengking, "Itu adalah tugas utamanya, Pendekar Gurun Neraka. Karena itu, bersiaplah!"

Bi Lan melompat maju, "Setan perempuan, tidak gampang Kun Houw mau menangkap Ayah. Masih ada aku yang siap menghajar kalian!"

Kui Hoa terkejut. "Kalian mau mengeroyok?"

"Cih, siapa yang main keroyok? Seorang diri saja cukup untuk merundukkan kalian, siluman betina. Maju dan cabut pedangmu!"

Kui Hoa melompat mundur. Ia ragu karena adiknya ditangkap Sin Hong. Bi Lan mengejek, "Kau takut?"

"Siapa takut! Tapi supaya hatiku tenang, bebaskan dulu adikku itu. Kita bertanding agar yang lain tidak berbuat curang!"

Bi Lan tertawa sinis. "Adikmu tertangkap karena kepandaiannya rendah. Kalau minta dibebaskan, sebaiknya minta maaf dulu."

Kui Hoa naik darah. Ia mencabut pedang dan maju. "Bagus, biar kurobohkan kau dulu, bocah bermulut besar!"

Namun, Kun Houw menggoyangkan lengan untuk menahan. "Nanti dulu. Tahan, Kui Hoa!" Ia memandang lawan utamanya dengan sikap keras. "Sebaiknya kau maju saja."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment