Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 161

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 161

"Aku siap menghadapimu, dan yang lain tidak perlu ikut campur!" Pendekar Gurun Neraka tersenyum, senyum yang pahit.

"Kau yakin anak isteriku tidak akan membela, Kun Houw?"

"Aku tidak takut. Tetapi mereka tentu juga tidak akan membiarkan!" Bi Lan yang melintangkan pedang dengan gagah melindungi ayahnya berkata, "Benar, kau tidak dapat menghadapi ayah sebelum menghadapi aku, Kun Houw. Betapapun, kami tidak akan tinggal diam melihat kau menantang ayah!"

Sin Hong juga maju ke depan, mengerutkan keningnya. "Dan kau tidak mungkin menghadapi ayah kalau aku di sini, Houw-ko. Kami semua tidak akan membiarkan kau menangkap sesuka hatimu. Sebaiknya kau minta ampun saja atau pergi baik-baik."

"Hm!" Kun Houw gemetar. "Kalau begitu, siapa yang maju dulu? Kaukah, Sin Hong?"

Sin Hong mengangguk. "Boleh, demi baktiku pada ayah, Houw-ko. Kalau kau ingin kita bertempur, aku siap melayaninya!"

Bi Lan melengking, "Sebaiknya kau mundur dulu, Hong-ko. Masih ada aku di sini. Biar kuhajar dia!" Bi Lan memasang kuda-kuda di depan Kun Houw dengan mata berapi-api, siap bertanding dengan penuh kemarahan.

Namun, Kui Hoa menyentuh lengan kekasihnya. "Houw-ko, setan perempuan ini tidak perlu kaulayani. Tenagamu diperlukan untuk yang lain. Kau berikanlah dia kepadaku dan mundurlah!"

Tanpa memberi kesempatan Kun Houw membantah, Kui Hoa sudah menerjang ke depan, menusuk tenggorokan lawan. "Yap Bi Lan, terimalah seranganku!"

Bi Lan mendengus. Dia bermaksud menantang Kun Houw, tetapi melihat Kui Hoa menyerangnya dengan pedang yang menusuk cepat, mau tak mau ia mengelak dan menangkis dengan pedangnya pula. "Trang!" Dua gadis itu terhuyung. Mereka sama-sama tergetar, terbelalak, dan memandang lawan dengan marah.

Kui Hoa yang sudah memekik tinggi tiba-tiba melompat dan menerjang kembali, memainkan ilmu silat pedangnya yang disebut *Jengging-toat Beng Kiam-sut* (Silat Pedang Seribu Pelangi Mencabut Nyawa). Ilmu pedang itu dipelajari dari ayahnya dan berasal dari nenek iblis Mo-li Thai-houw; gerakannya hebat dan bergulung naik turun bagai pelangi yang berkelebatan menyambar-nyambar. Bi Lan harus berlompatan ke sana kemari, matanya membelalak karena terdesak mundur.

"Bi Lan, pergunakan *Cui-mo Kiam-sut* (Silat Pedang Pengejar Iblis)!"

Bi Lan mengangguk. Ia membentak, memutar kakinya, menggeliatkan pinggang, dan menangkis satu tusukan yang mengarah ke dada. Ketika dua pedang terpental dan mengeluarkan bunga api, Bi Lan membalas menyerang sambil melengking tinggi. Begitu ia bergerak memutar pedangnya, gulungan sinar menyambar tak putus-putusnya, bergerak bagai air mengalir tiada henti, bertubi-tubi mengimbangi Kui Hoa. Ketika Bi Lan mengerahkan *ginkang*, bayangan gadis itu lenyap dibungkus putaran pedangnya.

Kui Hoa terkejut. Ia melihat lawan mendesak dan menekan, gencar melakukan serangan yang tidak kalah hebat dengan *Jengging-toat Beng Kiam-sut* miliknya. Karena lawan mengerahkan *ginkang* untuk mempercepat putaran pedangnya, Kui Hoa terpaksa membentak dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya pula. Putri Ok-ciangkun ini tidak mau kalah. Begitu ia membentak dan menambah kecepatan, kedua gadis itu sama-sama lenyap di balik gulungan pedang yang menyambar-nyambar.

"Bagus, kita mengadu kepandaian secara adil, siluman betina. Jangan beralasan lagi kalau aku berhasil merobohkanmu!" teriak Kui Hoa.

"Tak perlu cerewet, setan perempuan. Aku berharap kau tidak dibantu orang tuamu kalau kalah!"

Keduanya bertanding dengan gencar. Kui Hoa dan Bi Lan sama-sama menggerakkan pedang dengan hebat, menusuk dan membacok dengan jurus-jurus terampuh. Ketika pertandingan meningkat dan Bi Lan melancarkan satu tikaman beranting dengan jurus *Sin-kiam-hoan-sin* (Pedang Sakti Membalikkan Tubuh), tiba-tiba pundak Kui Hoa terbabat oleh pedang yang tajam.

"Bret!" Bi Lan terbelalak. Ia melihat lawan terhuyung mundur, baju pundaknya robek namun tidak terluka. Ketika ia membentak dan kembali menyerang dengan satu tusukan cepat ke dada lawan, pedang itu terpental. Bi Lan terkejut dan sadar bahwa lawannya ini kebal.

"*Hoat-lek Kiam-ciong-ko*!"

Kui Hoa tertawa mengejek. Ia memang mempergunakan ilmu kebalnya itu, melindungi diri hingga kebal terhadap semua senjata tajam. Ketika lawan bertubi-tubi menyerang dan semua serangannya terpental saat mengenai badannya, Bi Lan ganti terdesak oleh jurus-jurus serangan pedang Kui Hoa yang ganas.

"Kau tidak dapat mengalahkan aku, setan perempuan. Pedangmu terlampau tumpul dan perlu diasah lebih tajam!"

Bi Lan marah. Ia melengking tinggi mendengar ejekan itu dan melompat saat pedang lawan menyambar tenggorokannya. Ketika pedang lewat dan Kui Hoa belum memperbaiki posisinya, Bi Lan menendang pedang di tangan lawan dengan putaran tumitnya.

"Plak!" Kui Hoa terkejut. Ia berseru keras ketika pedang terlepas dari tangannya dan terlempar di udara. Namun, dengan berjungkir balik mengejar senjatanya, ia berhasil merebut kembali dan membentak marah. Kui Hoa mulai membantu serangan pedangnya dengan tamparan tangan kiri, melakukan pukulan-pukulan *Gin-kong-jiu*, karena maklum akan kehebatan putri Pendekar Gurun Neraka ini yang sudah didesak namun masih berbahaya.

Karena Kui Hoa memiliki *Hoat-lek Kiam-ciong-ko*, kelemahan pedang di tangan gadis itu tertutup oleh ilmu kebal. Bi Lan merasa bingung dan penasaran bukan main. Ia terpaksa berlompatan ke sana kemari, seakan takut dan sepintas berada di pihak yang terdesak.

Kun Houw mengerutkan kening. Ia melihat apa yang tidak dilihat kekasihnya; bahwa sebenarnya Bi Lan sengaja mengelak untuk mencari celah. Kun Houw diam-diam tercekat. Ia melihat *Cui-mo Kiam-sut* yang dimainkan Bi Lan memiliki teknik yang lebih tinggi, lebih bersih, dan lebih kuat. Sementara *Jengging-toat Beng Kiam-sut* yang dimainkan Kui Hoa lebih garang tapi kalah teknik. Namun, karena Kui Hoa memiliki ilmu kebal yang luar biasa, lawannya pun menjadi bingung.

Bi Lan yang terus memutar otak akhirnya berseri-seri ketika menemukan jalan keluar. Ia melengking, lalu menangkis tusukan pedang yang menyambar lehernya dengan kekuatan penuh hingga pedang mengeluarkan bunga api. Kui Hoa terbelalak oleh benturan tersebut. Sekonyong-konyong, Bi Lan menyerang mata kanan lawan dengan tikaman cepat, disusul totokan dua jari telunjuk dan tengah menuju mata kiri.

Kui Hoa tentu saja tidak dapat melindungi matanya dengan ilmu kebal. "Aih!" Ia melempar kepala ke belakang, tidak sempat lagi menggunakan pedang untuk menangkis. Serangan Bi Lan ini adalah serangan nekat karena ia tidak lagi memikirkan perlindungan diri.

Kui Hoa yang gusar kemudian menyambitkan pedangnya tepat saat totokan itu luput dari matanya. Namun, Bi Lan sudah memperhitungkan semua risiko; ia mengegos dan meneruskan totokannya ke arah jalan darah *Kiang-hu-hiat* di pundak kanan. Begitu jari menyentuh jalan darah, Kui Hoa roboh, tetapi pedang itu menancap di pangkal lengan Bi Lan.

"Plak! Crep!" Bi Lan terhuyung. Ia melihat lawannya roboh tertotok tak berdaya di atas tanah. Bi Lan mencabut pedang yang melukai pundaknya, lalu membentak sambil mengulang tusukannya ke arah mata Kui Hoa—satu-satunya bagian yang tidak dapat dilindungi kekebalan.

Kun Houw yang kaget segera membentak dan menangkis ke depan, bersamaan dengan Pendekar Gurun Neraka yang juga berteriak mencegah puterinya dengan mengebutkan ujung lengan baju. Begitu dua orang ini menangkis, pedang di tangan Bi Lan mencelat sementara gadis itu sendiri terbanting roboh.

"Plak-dess!"

Dua orang itu berdiri berhadapan. Kun Houw terkejut melihat Pendekar Gurun Neraka turun tangan mencegah puterinya membunuh Kui Hoa. Tangkisan yang bertemu ujung baju pendekar besar itu membuat keduanya terdorong mundur.

"Hebat, *sinkang*-mu luar biasa, Kun Houw. Inikah warisan Bu-beng Sian-su yang kaudapatkan bersama Sin Hong?" Kun Houw tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment