Chapter 162
Dia tadi memang mempergunakan tenaga saktinya untuk melempar pedang Bi Lan, yang bertemu dengan tenaga sakti Pendekar Gurun Neraka yang juga menampar pedang itu. Benturan di badan pedang tersebut membuat senjata itu terpental dan membanting Bi Lan hingga tunggang-langgang.
Mendengar Pendekar Gurun Neraka bertanya tentang ilmunya yang didapat bersama Sin Hong, tahulah dia bahwa Sin Hong rupanya telah bercerita kepada ayahnya tentang warisan Bu-beng Sian-su yang sama-sama mereka miliki.
Maka, melirik dan melihat Sin Hong melompat maju, dia pun mengangguk dan tidak perlu menyembunyikan rahasia.
"Benar, itu adalah Jing-liong Sin-kang. Mendapat kehormatankah kali ini untuk aku menghadapi kepandaianmu?"
Pendekar itu mengangguk. "Kalau ingin coba-coba, Kun Houw, boleh saja kalau kau suka."
Namun, Sin Hong menghalangi ayahnya. "Tidak, biar aku yang menghadapinya, Ayah. Aku tak mau kau turun tangan kalau aku masih di sini."
Akan tetapi, Pendekar Gurun Neraka menggelengkan kepalanya dengan mata bersinar lalu mendorong putranya. "Tidak, aku ingin main-main sebentar dengannya, Hong-ji. Biarkan kulihat sampai di mana ilmu silatnya itu. Jangan khawatir, kalau kurasa cukup, aku akan mundur dan kau boleh maju."
"Tapi..."
Pendekar Gurun Neraka tertawa. "Jangan cemas, Hong-ji. Jelek-jelek dia adalah putraku. Tak mungkin dia membunuh aku!"
Sin Hong mengalah. Dia melihat Kun Houw memerah mukanya, tertampar oleh kata-kata ayahnya ini. Pendekar Gurun Neraka yang tampak tenang sudah memasang kuda-kudanya. "Kun Houw, majulah. Cabut pedangmu!"
Kun Houw tertegun. Dia melihat kegagahan luar biasa pada sikap pendekar itu, merasakan kewibawaannya yang besar namun lembut, halus, dan kuat. Kun Houw yang ragu-ragu menerima tantangan ini justru terbelalak dan bengong di tempat, tidak mencabut pedang. Dia ragu apakah pendekar itu mampu menghadapi ketajaman Pedang Medali Naga.
Pendekar Gurun Neraka tertawa melihat itu, lalu kembali menggapai dengan lengannya. "Cabut pedangmu, Kun Houw. Bukankah kau ingin main-main sebentar?"
Kun Houw menggigit bibir. Betapapun dia sangsi akan kesanggupan ayah kandungnya itu menghadapi pedang pusaka yang dulu tidak dapat dilayani oleh Hoat-lek-kim-ciong-ko sekalipun—bahkan membuat Panglima Ok terluka dan terdesak, bahkan nyaris kalah—dia akhirnya memungut pedang Kui Hoa yang tergeletak di atas tanah. Dia menyambarnya dan memasang kuda-kuda di depan lawannya.
Melihat Pendekar Gurun Neraka tidak mencabut senjata, Kun Houw berkata dengan suara berat, "Keluarkan senjatamu, Pendekar Gurun Neraka. Aku tak biasa menyerang lawan dengan pedang di tangan."
Pendekar itu tertawa. Dia simpati oleh kegagahan yang menurun pada Kun Houw, yakin bahwa anak ini adalah benar keturunannya dari si iblis wanita Tok-sim Sian-li, yang meskipun lahir di luar kehendaknya namun tidak mewarisi watak ibunya. Pendekar Gurun Neraka menggoyang lengan dan ingin menguji lebih jauh. "Tak perlu. Aku lebih senang mempergunakan kaki dan tanganku untuk menghadapi lawan, Kun Houw. Sebaiknya jangan ragu, seranglah. Aku siap!"
Kun Houw mengerutkan kening. Kalau bukan Pendekar Gurun Neraka yang bicara, tentu dia akan menganggap lawannya merendahkan dirinya, sombong, dan mungkin membangkitkan kemarahannya. Tapi, karena maklum akan kehebatan dan nama besar Pendekar Gurun Neraka yang cukup mengguncangkan dunia, dia pun mengangguk dan menyimpan pedangnya kembali.
"Baik, aku akan bertangan kosong dulu, Pendekar Gurun Neraka. Kalau tak mampu menghadapimu, barulah kupergunakan pedang ini untuk memperoleh kemenangan. Awas!"
Kun Houw membentak dan menerjang ke depan, tahu-tahu menampar mempergunakan Jing-liong Sin-kang setengah bagian, tidak tergesa-gesa untuk menang karena ingin mengukur dulu kekuatan lawannya.
Pendekar Gurun Neraka yang tersenyum lebar sudah memiringkan tubuh dan menangkis ke samping.
"Duk!"
Dua lengan itu bergetar keras. Semua orang merasa betapa tanah yang mereka injak berderak bagai kejatuhan bangkai gajah, mengejutkan dan membuat kaki mereka terpeleset.
Kun Houw yang terbelalak oleh benturan tenaga ini tiba-tiba membentak dan kembali menyerang. Dia mengayun lengan kirinya, melakukan pukulan dengan telapak terbuka, bergerak lebih cepat, dan melompat memukul leher. Namun, Pendekar Gurun Neraka kembali tersenyum lebar, merendahkan kepala, dan menangkis dari bawah ke atas.
"Duk!"
Kun Houw kembali terbelalak. Dia merasa benturan kedua ini mementalkan lengannya, melihat Pendekar Gurun Neraka menambah tenaga untuk menindihnya. Kun Houw yang maklum akan kesaktian lawannya tiba-tiba melengking dan berkelebat lenyap memainkan Tangan Pedangnya.
"Pendekar Gurun Neraka, hati-hati. Aku akan menyerangmu lebih cepat!"
Pendekar Gurun Neraka tertawa. Dia melihat Kun Houw melejit cepat berputaran mengitari dirinya; kedua lengannya membacok dan menusuk bagai sebatang pedang, mendesing, dan mulai bersiutan dengan ganas, menyambar-nyambar mengancam seluruh bagian tubuhnya tanpa sungkan lagi.
Namun, pendekar sakti yang tenang ini tidak mengikuti gerakan Kun Houw. Dia bersikap lamban, mengerahkan sinkang untuk melindungi diri. Ketika beberapa pukulan Kiam-ciang mengenai tubuhnya, tiba-tiba Kun Houw terkejut karena pukulannya mental saat bertemu kulit lawan yang atos (keras). Kebal!
Kun Houw membentak keras, tiba-tiba menjadi penasaran dan marah. "Pendekar Gurun Neraka, jangan menerima pukulan saja. Ayo membalas!"
Pendekar itu tersenyum. "Aku membalas kalau seranganmu mulai berbahaya, Kun Houw. Kalau belum, tentu saja aku tak akan membalasmu. Ayo, keluarkan semua kepandaianmu!"
Kun Houw terbelalak. Dia melihat pendekar ini memang betul-betul hebat sekali, sinkangnya kuat dan mampu melindungi diri dari tamparan-tamparan Tangan Pedangnya dengan baik. Bahkan, kian lama dia merasa tangannya sendiri sakit dan pedas. Mengejutkan!
Ketika dia mulai bergerak lebih cepat untuk melancarkan serangan yang lebih berbahaya, Kun Houw menambah sinkangnya untuk melakukan pukulan lebih mantap. Pendekar Gurun Neraka terbelalak. Dia merasa Tangan Pedang lawannya itu mulai ganas. Setiap pukulan atau tamparannya membuat dia tergetar dan terhuyung. Ketika Kun Houw membentak dan berkelebatan menyerang, tiba-tiba angin tajam mulai mengiris-iris baju Pendekar Gurun Neraka.
"Bagus, ini baru istimewa, Kun Houw. Tapi kerahkan lagi semua kekuatanmu. Jangan sungkan-sungkan."
Kun Houw membelalakkan matanya. Dia melihat pendekar itu mulai terkejut, baju di pundak dan dadanya robek. Tapi lawan yang masih dapat menahan semua pukulannya dengan tenaga yang kuat itu tetap saja tidak terluka. Padahal, dalam keadaan biasa, dia sanggup membacok putus sebuah golok dengan Tangan Pedangnya hanya melalui angin pukulan saja.
Kun Houw yang kagum oleh kehebatan lawannya ini mendadak melengking dan memainkan silat pedang tangan kosongnya dengan sepenuh tenaga!
"Catt!"
Pendekar Gurun Neraka terhentak. Dia melihat serangan lawannya berubah; tidak lagi cepat, melainkan perlahan bergerak lamban namun diiringi tenaga yang dahsyat, tajam, dan dingin.
Pendekar Gurun Neraka yang tiba-tiba terdesak, lehernya terhantam oleh bacokan Kun Houw yang mempergunakan Tangan Pedangnya.
"Plak!"
Pendekar Gurun Neraka terputar tubuhnya. Untuk pertama kali pendekar ini hampir terpelanting. Ketika Kun Houw menyusul dan membentak keras, tahu-tahu pundaknya terbacok dan roboh terbanting!
"Dess!"
Semua orang terkejut. Mereka melihat Kun Houw mulai membacok atau menusuk hingga Pendekar Gurun Neraka jatuh bangun, kaget oleh serangan yang ganas ini. Ketika kulit Pendekar Gurun Neraka mulai tergores oleh Tangan Pedang yang tajam bersiutan itu, mendadak pendekar tersebut membentak dan balas menyerang.
"Kun Houw, hati-hati. Aku akan membalas!"
Kun Houw menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab seruan itu, melihat lawan membalik dan menangkis pukulan Tangan Pedangnya. Ketika benturan di antara mereka membuatnya tergetar, tahu-tahu dia melihat uap panas muncul di permukaan lengan lawannya itu.
"Lui-kong-yang Siu-kang (Tenaga Sakti Inti Petir)!"
Kun Houw terkejut. Dia melihat lawan mendorong, mengebut, dan menangkis semua serangan Tangan Pedangnya. Ketika pukulannya mulai tertahan dan Kun Houw menghadapi tembok hawa yang panas mulai membakar tubuhnya, tiba-tiba Kun Houw memekik dan membacok dengan dua tangan berbareng.
"Plak-dess!"
Kun Houw tergetar. Dia tertahan oleh tenaga yang dahsyat dari lengan lawannya, merasa betapa tiba-tiba hawa panas mengiris hawa dingin Tangan Pedangnya, menembus, dan membelah dua bacokannya yang dilancarkan berbarengan. Ketika lengan Pendekar Gurun Neraka semakin mengepul dan uap panas itu menjadi tebal, sekonyong-konyong Kun Houw menjerit dan terlempar roboh, terdorong oleh hawa mukjizat Lui-kong-yang Sin-kang itu.
"Bress!"
Kun Houw terguling-guling. Dia kaget bukan main oleh tenaga sakti lawannya, merasa dadanya sesak dan terbakar. Tapi Kun Houw yang penasaran sudah melompat bangun, tiba-tiba membentak dan kembali menyerang, menusuk, dan membacok bertubi-tubi dengan Kiam-ciangnya, bahkan menendang pula untuk memperoleh kemenangan.
Namun, ketika Lui-kong-yang Sin-kang melindungi lawannya itu dan uap panas menolak balik semua serangannya, tiba-tiba Kun Houw tertegun dan mengeluh. Pendekar Gurun Neraka tidak dapat didekati, pukulannya selalu mental bertemu hawa yang kuat ini.
Ketika pendekar itu tertawa dan mulai menggerak-gerakkan lengannya mendorong, tiba-tiba Kun Houw terdesak dan mundur-mundur dengan muka pucat. Tangan Pedangnya tidak berdaya, lumpuh menghadapi benteng hawa yang membungkus lawannya itu. Ketika Pendekar Gurun Neraka membalas dan beberapa pukulan atau tamparan ganti menyengat tubuhnya, tiba-tiba Kun Houw terdesak dan jatuh bangun.