Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 163

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 163

"Aih, hebat sinkangmu, Pendekar Gurun Neraka. Aku mengakui kepandaianmu yang luar biasa ini!" Pendekar Gurun Neraka tersenyum.

Dia melihat lawannya memiliki kejujuran, tidak malu memuji lawan meski terus terdesak mundur dan masih mencoba bertahan dengan susah payah. Ketika satu tamparan membuat Kun Houw terbanting dan mencelat roboh, barulah pemuda itu memekik dan mencabut pedangnya.

"Pendekar Gurun Neraka, maafkan aku. Dengan tangan kosong aku kalah!" Pendekar ini tertawa lebar.

Dia melihat Kun Houw benar-benar sportif, mengakui kelemahan diri sendiri, lalu berjungkir balik memutar pedang, melengking, dan tiba-tiba menyerangnya dengan dahsyat dari atas ke bawah, menusuk ubun-ubun kepalanya dengan permainan pedang yang luar biasa. Maklum bahwa lawannya ini memang lebih mahir bermain pedang daripada bertangan kosong, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka menggerakkan tangan menangkis dengan telapak terbuka.

"Plak!" Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia melihat pedang di tangan lawannya itu melejit, mental saat bertemu telapak tangannya yang sudah dilindungi sinkang, lalu menukik dan tiba-tiba menyerang dengan kecepatan luar biasa menusuk hidungnya dengan sangat ganas.

Karena pedang itu masih bergetar dan siap melanjutkan serangan menusuk matanya, terpaksa pendekar ini menangkapnya dan berseru keras. Ia sadar, pedang di tangan Kun Houw tidak boleh dibuat main-main karena penuh gerak tipu yang berbahaya, mengingat pemuda itu adalah pewaris tunggal si jago pedang Bu-tiong-kiam, Kun Seng. Begitu membentak dan menampar dengan pukulan miring, pedang lawan tertangkap dan terjepit di antara jari tengah dan telunjuknya.

Namun, Kun Houw tertawa mengejek. Dia sengaja membiarkan pedangnya dijepit saat melancarkan jurus yang disebut Angin Gunung Membelai Dewi, membiarkan lawan terkecoh dan mengira gerak pedangnya terhenti. Begitu lawan tertawa memandangnya, tahu-tahu Kun Houw membetot dan ganti menusuk ke arah bawah tenggorokan.

"Tak!" Kun Houw berhasil. Pedangnya mengenai tenggorokan lawan dan membuat Pendekar Gurun Neraka terkejut. Namun, pedang yang mental saat bertemu leher lawan yang kebal membuat Kun Houw terbelalak. Ia kaget karena lawan melindungi diri dengan Lui-kong-yang Sin-keng, sinkang yang tidak hanya membuat pendekar ini kebal terhadap pukulan berat, tetapi juga senjata tajam.

Kun Houw yang terkejut dan kagum bukan main, segera meneruskan tikamannya ke dada Pendekar Gurun Neraka. "Brett!" Pendekar Gurun Neraka terdorong mundur. Ia kaget dan terbelalak oleh kecepatan gerak pedang di tangan Kun Houw, serta mengakui betapa ganas dan berbahayanya serangan itu.

Namun, saat Kun Houw melihat pedangnya mental kembali setelah bertemu dada lawan, ia tertegun dan berseru keras karena pedangnya hanya merobek baju tanpa mampu melukai pendekar itu. Kun Houw melengking tinggi, lalu membentak dan memainkan Bu-tiong Kiam-sut miliknya, Ilmu Pedang Dalam Kabut.

"Pendekar Gurun Neraka, awas. Sekarang pedangku tak akan mengenal mata lagi!"

Pendekar Gurun Neraka mengangguk. Dia melihat lawannya menyambar-nyambar dengan pedang, hebat dan luar biasa, hingga sebentar saja lenyap dalam gulungan cahaya yang naik turun bagai gelombang samudra, ganas dan menerjang dari segala arah. Ketika Kun Houw bergerak sambil mengerahkan ginkangnya, pemuda itu tak tampak lagi di balik putaran pedangnya yang mengagumkan.

"Bagus, silat pedangmu indah, Kun Houw. Tapi jangan buru-buru, aku dapat bergerak mengimbanginya!" Pendekar Gurun Neraka yang tertawa menyambut terjangan lawan, tiba-tiba mengerahkan Jouw-sang hui-teng-nya (Terbang di Atas Rumput), berkelebatan mengimbangi ginkang pemuda itu untuk bertanding lebih sungguh-sungguh.

Keduanya bergerak sama cepat, saling belit, dan lenyap di balik gulungan pedang yang mulai melebar, membentuk asap atau kabut yang bergulung-gulung naik turun. Indah, tapi berbahaya. Ketika Pendekar Gurun Neraka mulai menangkis dan memainkan Khong-ji-ciang-nya untuk menghadapi pedang Kun Houw, pertandingan menjadi ramai dan menegangkan.

Kun Houw harus memutar pedangnya dengan cepat, mengerahkan semua kepandaiannya untuk memainkan Bu-tiong nyambar hingga lawan tak dapat melihat arah serangannya lagi. Tusukan atau bacokan Kun Houw tersembunyi di balik asap pedang, membuat Pendekar Gurun Neraka berkali-kali terkejut karena menerima tikaman pedang yang luput dari tangkisannya.

Kun Houw menjadi penyerang tunggal yang ganas, namun ia kembali terbelalak. Pedangnya yang menikam atau membacok selalu mental saat bertemu tubuh Pendekar Gurun Neraka yang seperti karet; atos dan kenyal. Marah serta penasaran, Kun Houw memekik dan membabatkan pedangnya ke pinggang lawan. Ia teringat pada Ok-ciangkun yang juga kebal dan mulai membandingkan mana yang lebih hebat, panglima she Ok itu dengan Hoat-lek kim-ciong-ko-nya atau pendekar ini dengan Lui-kong-yang Sin-keng-nya.

Saat Pendekar Gurun Neraka menangkis dengan lengan kirinya, pedang bertemu dengan lengan pendekar sakti itu. "Pletak!" Kun Houw terkejut. Dia terlampau kuat membacokkan Pedang Kui Hoa miliknya yang biasa, hingga pedang itu patah dan putus menjadi dua saat ditangkis lawan.

Pendekar Gurun Neraka melanjutkan tamparannya ke dada Kun Houw dengan sinkang mujijatnya, sinkang berhawa panas yang membuat Kun Houw berseru keras. Begitu tangan pendekar itu menyambar dengan kecepatan kilat, Kun Houw membentak dan melempar pedang buntungnya, lalu mencabut Pedang Medali Naga. Ia terpaksa menangkis dengan mata terbelalak, tak tahu apakah lawan berani mengadu lengannya dengan pedang pusaka yang luar biasa tajam hingga Ok-ciangkun sendiri gentar itu.

Pendekar Gurun Neraka terus mengebut dan membuka kelima jari tangannya untuk menghadapi Pedang Medali Naga. "Bret!" Kun Houw tertegun melihat pedangnya bertemu kelima jari lawan, ditangkap, dan langsung dicengkeram. Sementara ia bengong oleh keberanian itu, pedangnya dibetot dan Pendekar Gurun Neraka menendang lututnya.

Terpaksa Kun Houw berkelit dan melepaskan pedangnya, lalu membanting tubuh bergulingan. Pendekar Gurun Neraka melompat mundur, kelima jarinya tergores luka karena tidak mampu dilindungi kekebalannya. Ia masih kalah oleh tajamnya Pedang Medali Naga!

Kun Houw melompat bangun dengan mata terbelalak mendengar lawan memuji sambil mendesis, "Hebat, ilmu pedangmu benar-benar luar biasa, Kun Houw. Kau seperti harimau tumbuh sayap dengan Pedang Medali Naga di tangan!"

Kun Houw tertegun. Ia kagum pada pendekar besar yang berani mencengkeram pedang pusakanya itu—perbuatan yang tidak berani dilakukan Ok-ciangkun. Saat Kun Houw masih terpaku, Sin Hong melompat ke depan dengan penuh kekhawatiran, "Kau tidak apa-apa, Ayah? Sudah cukupkah permainan ini?"

Pendekar Gurun Neraka tertawa. "Aku hanya tergores sedikit, Hong-ji. Aku tak apa-apa, jangan khawatir."

"Dan kau mau menyudahi pertandingan ini?"

"Ah, siapa bilang? Justru pertandingan ini akan tiba pada babak terakhir, Hong-ji. Kun Houw belum mengeluarkan semua jurus terhebatnya. Dia masih menyimpan tujuh jurus inti yang kudengar diciptakan Bu-tiong-kiam Kun Seng!"

Kun Houw terkejut. Ia kaget bagaimana Pendekar Gurun Neraka dapat mengetahui rahasia itu, namun ia maklum bahwa pendekar ini memang luar biasa. Sin Hong pun membelalakkan matanya.

"Kau masih mau meneruskan pertandingan, Ayah?"

"Ya," pendekar itu tertawa. "Kau mundurlah, Hong-ji. Biarkan kami main-main lagi dan tak perlu khawatir. Aku dapat menjaga diri." Lalu, setelah menepuk kedua tangannya hingga meledak mengejutkan Kun Houw, pendekar itu melangkah maju. "Kun Houw, permainan kita sudah tiba pada babak penentuan. Keluarkanlah jurus-jurus simpananmu untuk kulihat!"

Kun Houw tertegun. "Eh, kenapa diam?" pendekar itu tersenyum. "Kau takut?"

Kun Houw menggigit bibir. "Aku tidak takut, Pendekar Gurun Neraka. Tapi yakinkah kau dapat menghadapi tujuh jurus intiku dengan selamat?"

"Ha-ha, itu kita lihat saja, Kun Houw. Tapi kuyakin dapat."

Kun Houw penasaran. "Dari mana kau tahu ilmu simpanan suhuku ini?"

"Ah, tak perlu ditanyakan, Kun Houw. Sebaiknya kau mulai saja dan majulah. Pergunakan Pedang Medali Nagamu itu!"

Kun Houw semakin penasaran. Ia melihat pendekar itu sudah menggosok-gosok telapak tangannya, mengeluarkan uap merah dan tampak bergetar, tanda mulai bekerjanya tenaga sakti. Kun Houw menghilangkan keraguannya, membentak keras, dan berjungkir balik dengan pedang di bawah kepala. Ia menancapkan pedang di atas tanah dan menungging dengan kaki lurus, tegak tak bergoyang karena mulai dengan jurus pembukaannya, Titseng (Menuding Bumi Menyembah Bintang), jurus pertama dari tujuh inti ilmu silat pedangnya.

Maklum bahwa pertandingan ini adalah penentuan yang paling berbahaya, Kun Houw menggigit bibirnya, sedikit gelisah. "Pendekar Gurun Neraka, ini adalah pertandingan yang sungguh-sungguh. Maaf jika ada sesuatu yang membuatmu celaka."

Pendekar ini memasang kuda-kuda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment