Chapter 164
"Tak perlu sungkan, Kun Houw. Aku dapat menjaga diriku dengan baik. Belum tentu kau dapat mencelakai aku meskipun dengan Pedang Medali Naga!" "Baiklah," Kun Houw yang menggigil menahan amarahnya memusatkan konsentrasi, mendongkol mendengar lawan bicaranya yang congkak.
Begitu melengking dan menggeliatkan pinggangnya, mendadak Kun Houw melejit dan mulai menyerang, mencabut pedangnya dan "terbang" menusuk perut lawan, cepat dan luar biasa bagai gerakan seekor elang yang menyambar dan menerkam mangsanya.
Namun, Pendekar Gurun Neraka yang sudah bersiap dan meledakkan telapak tangannya, tiba-tiba merendahkan tubuh dan mengelak dengan kecepatan yang sama. Ia mendengar pedang mendesing di atas kepala dan lewat setipis rambut saja di bawah telinganya. Ia tak berani menangkis karena kekebalannya tak dapat dipergunakan untuk menghadapi pedang yang ampuh itu.
Begitu pedang lewat di sisi kepalanya, tiba-tiba pendekar ini menampar pergelangan tangan Kun Houw. "Plak!" Kun Houw terputar. Dia terguncang dan kehilangan kuda-kudanya, lalu terpelanting.
Namun, Kun Houw yang membentak keras sudah membalik dan mengayun tubuh, berjungkir balik memutar pedang dan berkelebat menyambar-nyambar, melanjutkan serangannya dengan jurus kedua yang disebut Heng-hun-pouh (Awan Berarak Hujan Mencurah).
Begitu Kun Houw melengking dan memainkan jurus kedua ini, tiba-tiba saja tubuhnya lenyap berputaran di balik gulungan pedang yang berseliweran naik turun bagai naga menari, begitu indah dan cepatnya hingga bayangan pedangnya menutup rapat.
Dan ketika Kun Houw membentak dan melakukan sebuah gerakan silang dari atas ke bawah, tiba-tiba pedangnya "pecah" dan meluncur bagai hujan yang dicurahkan dari langit.
"Bagus, hebat sekali!" Pendekar Gurun Neraka berseru kagum, terbelalak dan takjub menyaksikan gerak pedang yang luar biasa ini, melihat ribuan mata pedang meluncur menghujani dirinya.
Namun, pendekar yang sudah siap dengan segala kepandaiannya itu tiba-tiba membanting kakinya dan meledakkan telapak tangannya.
Kun Houw hanya melihat sebuah cahaya menyambar dari telapak tangan lawan. Lalu, ketika terjadi benturan yang memekakkan telinga, sekonyong-konyong api keluar dari ledakan telapak tangan Pendekar Gurun Neraka itu.
"Clap!" Kun Houw terkejut. Dia melihat pedangnya terpental, kaget melihat kilatan api yang meluncur dari telapak lawan.
Namun, Kun Houw yang ingat cerita gurunya tiba-tiba terbelalak dan berseru keras. "Lui Kong Ciang-Hoat (Silat Tangan Petir)!" Pendekar Gurun Neraka tak tertawa.
Dia tak menanggapi teriakan lawannya itu, karena ia memang telah mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat ini, maklum bahwa hanya dengan ilmu silat itulah dia dapat menghadapi jurus-jurus Bu-Tiong Kiam-Su yang dahsyat, jurus-jurus inti yang dikeluarkan lawan untuk mengadu kepandaian secara sungguh-sungguh. Tak lagi main-main seperti tadi, yang lebih bersifat "warming-up" (pemanasan) dan saling mengukur kepandaian sebelum memasuki puncak pertandingan seperti sekarang.
Dan ketika Kun Houw melengking dan kembali menyerang dengan jurus berikutnya yang disebut Bu-Tiong-Boan-Seng (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut), tiba-tiba pendekar ini meledak-ledakkan telapak tangannya untuk menghantam gulungan pedang.
Pertandingan itu sangat hebat. Pendekar Gurun Neraka mulai bergeser maju mundur, tak berani secara berhadapan menerima Pedang Medali Naga.
Dan ketika dua orang ini mulai membentak dan saling mengerahkan kepandaian masing-masing dengan jurus-jurus pilihan, tiba-tiba pertandingan menjadi seru dan sangat hebat.
Baik Kun Houw maupun Pendekar Gurun Neraka tak tertawa lagi. Mereka serius, bersungguh-sungguh.
Dan ketika Pendekar Gurun Neraka meliuk-liukkan tubuh dan menepuk kedua tangannya berkali-kali, tiba-tiba telapak tangannya sudah menjadi merah seperti besi dibakar, meledak dan berkali-kali mengeluarkan kilatan api yang menahan serangan pedang. Ketika Bu-Tiong-Ban-Seng juga terpental oleh tangkisan Lui-Kong Ciang-Hoat yang berhawa panas ini, tiba-tiba Kun Houw membentak dan mengeluarkan jurus keempat.
Sebenarnya, dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya menghadapi lawan-lawan tangguh, Kun Houw belum pernah mengeluarkan tujuh jurus intinya secara lengkap. Bahkan terhadap Ok-Ciangkun itu pun tidak.
Karena biasanya dalam jurus ketiga dia sudah dapat menundukkan lawan dan memenangkan pertandingan, kecuali dengan Ok-Ciangkun, yang oleh karena satu dan lain hal, serta mempergunakan pedang biasa, ia kalah. Terpaksa menyerah karena pertandingan pada waktu itu lebih bersifat pibu, bukan adu jiwa atau pelampiasan dendam kesumat.
Namun sekarang, menghadapi Pendekar Gurun Neraka yang jelas-jelas berani mencengkeram Pedang Medali Naganya dan benar-benar hebat ini, hingga tiga kali berturut-turut tiga jurus pertamanya gagal tertolak balik, Kun Houw menjadi penasaran dan kaget juga, di samping kagum.
Ia kagum dan terbelalak bahwa pendekar sakti ini memang benar-benar hebat dan sangat lihai, rupanya masih di atas Ok-Ciangkun!
Dan Kun Houw yang sudah meneruskan serangannya dengan jurus keempat yang disebut Jingciok (Seribu Pedang Memanah Batu), tiba-tiba memekik dan keluar dari gulungan pedangnya, menusuk dan menikam bertubi-tubi ke ribuan jalan darah di tubuh lawan. Spektakuler!
Namun Pendekar Gurun Neraka yang lagi-lagi meledakkan kedua tangannya dengan Silat Tangan Petir itu sudah menangkis dan menyemburkan lidah apinya yang lebih besar.
"Clap!" Kun Houw terlempar. Dia harus membanting tubuh bergulingan mendapat pukulan petir itu, merasa pedangnya disengat setrum tegangan tinggi hingga menyentak urat-urat tubuhnya, kaku sejenak.
Namun, Kun Houw yang penasaran dan semakin marah sudah melompat dan kembali menerjang dengan jurus kelima, Huiliong (Pedang Terbang Mengejar Naga).
Dan ketika lawan kembali meledakkan Pukulan Petirnya untuk menangkis pedang, tiba-tiba Kun Houw sudah melakukan dua jurus terakhir yang disebut Sin-Lionghoan-Eng dan Sinkin, yakni jurus keenam dan ketujuh, dua jurus gabungan yang harus dilakukan berturut-turut dan tak boleh berhenti di tengah jalan.
Begitu Kun Houw membentak dan meluncurkan dua jurus inti yang paling dahsyat ini, tiba-tiba Pedang Medali Naga berkilau dan mengeluarkan cahaya menyilaukan.
Secara aneh, pedang keramat ini mengaung sekejap saja. Sedetik kemudian gaungnya lenyap dan meluncur tanpa bunyi, menyambar pusar dan tenggorokan lawan dengan kecepatan luar biasa.
Dan ketika Pendekar Gurun Neraka menangkis dengan Pukulan Petirnya yang mengeluarkan lidah api, sekonyong-konyong secara ajaib api yang meledak di telapak pendekar itu padam!
Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia tak tahu kenapa lidah apinya hilang, seolah mengikuti hilangnya gaung Pedang Medali Naga.
Namun, melihat pusar dan tenggorokannya diancam pedang yang meluncur tanpa suara, tiba-tiba pendekar ini menghentak bumi dan tanpa sadar mengeluarkan jurus Sinjiu-Tong-Tee (Tangan Sakti Mengguncang Bumi), yakni sebuah dari tiga jurus intinya yang dahsyat dari ilmu silatnya Lui Kong Ciang-Hoat. Jurus inti ini dulu dipelajarinya dari mendiang gurunya untuk persiapan menghadapi susioknya (paman guru) yang berkhianat, yaitu iblis Hek-Kwi-To yang menjadi ketua Gelang Berdarah dan sudah tewas bersama gurunya di luar lembah Hwe-Seng Kok.
Dan Pendekar Gurun Neraka yang menghentak bumi dan otomatis melindungi diri dari serangan maut yang mengancam jiwanya ini, tiba-tiba membentak dan mendorongkan kedua lengannya. Ia melihat Pedang Medali Naga meluncur lurus menuju pusar dan tenggorokannya tanpa dapat dicegah, karena Pukulan Petirnya mendadak lenyap dan hilang bersama dengan hilangnya gaung Pedang Medali Naga. Hal ini tak dimengerti dan membuat pendekar ini terkesiap, sangat kaget.
Dan Kun Houw yang juga membelalakkan mata melihat pukulan dahsyat itu menghantam dirinya, tiba-tiba menggigit bibirnya dan mengeraskan hati. Ia sudah membayangkan bahwa pedangnya kali ini akan menembus perut lawan, sementara dia sendiri akan terlempar oleh dorongan Pendekar Gurun Neraka yang menderu itu, menggantikan letikan petirnya yang entah kenapa tiba-tiba juga hilang, bersamaan dengan hilangnya gaung Pedang Medali Naga.
Dan Kun Houw yang sudah menusuk perut lawan disusul gerakan menusuk ke atas untuk menikam tenggorokan, tiba-tiba benar saja menerima hantaman dahsyat itu.
Namun Kun Houw terkejut. Jurus terakhirnya yang disebut Sinliong-Hoan-Kin (Naga Sakti Memindahkan Tenaga), yang merupakan kelanjutan dari jurus keenam yang disebut Sinliong-Hoan-Eng (Naga Sakti Menukar Bayangan), mendadak saja tanpa sebab membuat kakinya keseleo.
Kun Houw mengaduh ketika tiba-tiba pergelangan kakinya terkilir dan salah urat. Ia kaget dan menjerit oleh "kecelakaan" yang tidak disangka-sangka ini.
Dan persis pedang menusuk tenggorokan setelah menikam pusar, tiba-tiba pukulan Pendekar Gurun Neraka menghantam dadanya. "Crat-blukk!" Kun Houw mencelat dan terlempar.
Dia tak tahan oleh hantaman Sin-Tee itu, pukulan tangan sakti yang benar-benar sakti, mengguncang dan menggempur isi dadanya seakan rontok dan hancur.
Dan Kun Houw yang langsung terbanting di atas tanah tiba-tiba melontarkan darah segar dan... pingsan. Ia roboh terjerembap!
Sementara Pendekar Gurun Neraka sendiri, yang terluka perutnya dan nyaris tertikam tenggorokannya, jatuh terpental dan terhuyung. Ia mendekap pusarnya dan meraba leher yang tergores Pedang Medali Naga. Lalu, terbatuk dan terbelalak memandang Kun Houw, tiba-tiba pendekar ini jatuh terduduk dan... terguling roboh.
"Ayah...!" "Houw-ko...!" Dua seruan itu meluncur berbarengan.
Sin Hong dan Kui Hoa sudah meloncat ke depan, masing-masing menuju ke orang yang mereka sebut. Dan Kui Hoa yang pucat menubruk Kun Houw, tiba-tiba menangis dan memeluk kekasihnya.
Keadaan menjadi ribut, dan ketika Ceng Bi serta Pek Hong juga berkelebat ke depan setelah sadar dari akhir pertandingan yang amat dahsyat ini, tiba-tiba dua orang nyonya itu pun menangis dan menubruk suami mereka.