Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 165

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 165

"Kau terluka, Yap-koko?"

"Kau tak apa-apa, suamiku?" Pendekar Gurun Neraka tersenyum. Dia bangkit duduk dibantu Sin Hong, menghela napas, dan terkejut oleh kehebatan murid si jago pedang itu yang entah kenapa dalam jurus terakhir tadi berteriak dengan kaki terkilir, agaknya salah langkah.

Membayangkan bahwa hampir saja tenggorokannya tembus kalau Kun Houw tidak "kecelakaan" dalam gebrakan terakhir itu, tiba-tiba pendekar ini berdiri dipapah dua istrinya, berkata gemetar, "Tidak, aku tak apa-apa, Bi-moi. Hanya terluka kecil. Tapi dia itu... masih hidupkah?"

Ceng Bi melengking, "Mampus pun aku tak peduli padanya, Yap-koko! Untuk apa mengurusi bocah keparat itu?"

"Ah, tidak... jangan, Bi-moi. Dia hanya melaksanakan tugas. Mari kita lihat!" Pendekar Gurun Neraka yang tertatih menghampiri Kun Houw, diikuti istrinya yang tentu saja menjadi tidak senang, terutama Ceng Bi.

Namun, melihat Kun Houw hanya pingsan dan pemuda itu tak tewas menerima pukulannya, mendadak pendekar ini menjadi lega dan kagum bukan main. Ia kagum oleh daya tahan Kun Houw yang luar biasa, hebat, dan tentu berkat *Jing-liong Sinkang*-nya itu. *Sinkang* (tenaga sakti) warisan Bu-beng Sian-su!

Sambil menjejalkan obat untuk menyembuhkan Kun Houw, tiba-tiba pendekar ini menepuk pundak Kui Hoa. "Nona, sekarang pergilah. Bawa putraku ini!"

Kui Hoa terbelalak. "Kau tak menangkap kami?"

"Ah, untuk apa?" Pendekar Gurun Neraka tertawa, tawa yang pahit. "Kami tak merasa bermusuhan denganmu, Nona. Kalian hanya terlibat karena sepak terjang ayah kalian."

Kui Hoa berdiri. Ia terkejut dan girang akan kata-kata ini, juga kagum dan tiba-tiba hormat pada pendekar besar itu. Pendekar yang hebat, sakti, dan lihai bukan main. Kui Hoa yang tiba-tiba tunduk dan tergetar oleh budi kebaikan pendekar ini mendadak terisak dan menyambar tubuh Kun Houw.

"Baiklah, kami berutang budi padamu, Pendekar Gurun Neraka. Tapi bagaimana dengan dia itu? Masihkah diperlukan di sini untuk menjadi tawanan kalian?"

Pendekar ini tersenyum lebar, memandang Sin Hong. "Bagaimana pendapatmu, Hong-ji? Apakah tawananmu itu tak boleh mengikuti kakaknya?"

Sin Hong terkejut. "Tidak, aku... eh..." Sin Hong gugup, tak melanjutkan kata-katanya dan tampak jengah. Ia ingat bahwa ia masih bertelanjang dada karena bajunya dipakai Kui Lin.

Pendekar Gurun Neraka yang tertawa dengan senyum ditahan akhirnya menepuk bahu putranya. "Kalau begitu, bebaskan dia, Hong-ji. Biar tamu-tamu kita ini pulang ke tempat asalnya!"

Sin Hong mengangguk. Dia sudah berkelebat membebaskan totokan Kui Lin, yang sejak tadi tak dapat berbuat apa-apa dan hanya mematung memandang semua kejadian di depan matanya bagai orang tolol. Tapi begitu bebas dan dapat menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba Kui Lin berteriak dan menggaplok muka lawannya.

"Sin Hong, kau tak malu memanggul gadis? Plak! Plak!"

Sin Hong tertegun. Dia membuat semua orang terkejut, dan Bi Lan yang marah melihat kakaknya ditampar tiba-tiba membentak dan ganti menampar Kui Lin. "Siluman betina, kau tak tahu adat! Diberi kebaikan membalas keburukan, wuut!"

Namun, Sin Hong menangkap lengan adiknya. Dia keburu menyambar lengan Bi Lan yang hampir mengenai Kui Lin, keserempet, dan sedikit terhuyung. Lalu, menghalangi dan menekan pundak adiknya, Sin Hong berseru, "Tahan, tak perlu melayani gadis itu, Lin-moi. Biarkan dia dan jangan digubris!"

Bi Lan terbelalak. "Tapi dia... bocah kurang ajar itu..."

"Sudahlah," Sin Hong memotong, "Dia biasa begitu, Lin-moi. Di perjalanan pun tangannya suka menggaplok. Itu sudah wataknya."

"Tapi..."

Sang ayah kali ini maju. "Sin Hong sudah melarangmu, Bi Lan. Tentunya kakakmu ada alasan sendiri kalau mencegah. Biarkan dia dan mundurlah."

Bi Lan melotot. Dia mundur, tapi Sin Hong yang merah mukanya oleh senyum ayahnya ini buru-buru membalikkan tubuh menghadapi Kui Lin. "Nona, ayahku sudah membebaskan kalian. Sebaiknya pergilah dan jangan ke mari lagi."

"Cih, siapa berani melarangku kalau aku suka datang? Pergi atau tidak terserah diriku, Sin Hong. Tak perlu kau mengatur atau menggurui aku!"

"Wah, kau berani ke sini lagi?"

"Kenapa tidak? Kau kira aku takut?"

"Hm...!" Pendekar Gurun Neraka akhirnya tertawa. "Kau boleh datang sesukamu ke mari kalau Sin Hong ada, Nona. Kalau tidak, mungkin anakku yang lain yang akan marah-marah kepadamu!"

Kui Lin terkejut. Dia bingung sejenak oleh kata-kata ini, tapi begitu sadar dan mengerti arah tujuannya, tiba-tiba Kui Lin membanting kaki dan memutar tubuhnya, terisak melihat tawa Pendekar Gurun Neraka yang rupanya sadar akan "apa-apa" yang terjadi di antara dua orang muda ini.

Begitu membalikkan tubuh dan melompat pergi, segera Kui Lin menyambar lengan encinya. "Cici, ayo turun!"

Kui Hoa tertegun. Dia terbelalak dan melihat pula ada sesuatu yang tidak "beres" pada diri adiknya ini. Namun, ia menggigit bibir dan tersentak kaget, lalu mengikuti adiknya meloncat pergi. Begitu dua orang kakak beradik ini turun gunung, segera Kui Hoa berseru dari bawah, "Pendekar Gurun Neraka, terima kasih atas semua kebaikanmu hari ini. Kami akan membayarnya kelak di lain hari!"

Pendekar Gurun Neraka tak menjawab. Dia tersenyum dan menarik napas, tapi Bi Lan yang teringat baju kakaknya tiba-tiba berseru, "Hong-ko, bajumu!"

Namun, Sin Hong menggeleng lemah. "Biarkan, Lin-moi. Dia tak memiliki baju pengganti setelah bajunya robek-robek. Itu sengaja kuberikan padanya."

"Dan kau tak memintanya kembali?"

"Untuk apa?"

"Wah, justru untuk apa memberi hati pada gadis macam itu, Hong-ko? Bukankah percuma saja dan tak mungkin dibalas? Ingat saja waktu kita tertangkap, dia sama sekali tak mau menolongmu!"

Sin Hong tersipu. Dia semburat merah oleh kata-kata adiknya ini, tapi sang ayah yang batuk dan pura-pura tersedak menowel lengan putrinya. "Sudahlah, kakakmu menolong karena sekadar kasihan, Bi Lan. Bukankah sudah sepantasnya membantu musuh kalau dia tak berdaya? Kita masuk saja ke dalam. Ambilkan obat luar untuk lukaku!"

Sambil berbisik memandang dua istrinya, pendekar ini berkata, "Dua orang putra Ok-ciangkun itu cukup hebat, istriku. Tapi yang lebih mengagumkan lagi adalah Kun Houw itu. Dia lawan berat yang benar-benar mewarisi kepandaian gurunya. Dia nyaris sempurna dan tidak berada di bawahku. Entah Sin Hong dapat mengatasinya atau tidak!"

Pek Hong terbelalak. "Tapi dia roboh olehmu, suamiku. Bukankah..."

"Nanti dulu," pendekar ini memotong. "Dia roboh karena ketidaksempurnaan jurus terakhirnya, Hong-moi. Kun Houw terkilir karena tampaknya ada sesuatu yang kurang beres pada gerakannya tadi. Aku melihat pada jurus terakhirnya itu, Kun Houw tak menguasai kedudukan kakinya hingga salah urat!"

"Jadi maksudmu dia kurang mahir?"

"Bukan begitu. Yang kumaksudkan adalah Kun Houw seakan belum menerima secara lengkap pelajaran dari gurunya, Hong-moi. Mungkin jago pedang itu keburu tewas sebelum muridnya menguasai secara penuh."

Pek Hong tertegun. Ia percaya akan ketajaman pandangan suaminya ini, dan Ceng Bi yang juga mendengarkan dengan kening berkerut tiba-tiba mendengus. "Biarlah, persetan dengan bocah itu, Yap-koko. Yang penting dia tak mengganggumu lagi dan kita dapat mengatasinya!"

Pendekar ini diam. Dia sudah dipapah masuk dua orang istrinya untuk mengobati luka dan beristirahat. Tapi Pek Hong yang diam-diam merenungkan kata-kata suaminya ini tiba-tiba menjadi kecut dan was-was juga. Kalau dugaan itu benar, kalau Kun Houw memang belum sempurna mempelajari jurus terakhirnya itu karena Bu-tiong-kiam keburu tewas, biarlah itu sebagai keuntungan mereka. Sebab, kalau tidak, kalau Kun Houw menguasai ilmunya secara sempurna, agaknya pemuda itu bisa mencelakai suaminya, mungkin juga anaknya, Sin Hong.

Dan meskipun Kun Houw terbunuh juga dalam pertandingan itu, betapa pun dia kehilangan seorang dari dua orang yang ia cinta: putranya atau suaminya!

Maka, ketika malam tiba dan semua orang istirahat, diam-diam nyonya ini menemui suaminya. Dia baru dari kamar Sin Hong ketika Ceng Bi menjaga suaminya. Maka ketika madunya itu keluar menemui Bi Lan, segera saja Pek Hong menyatakan isi hatinya. Dia ingin jurus *Sintee* itu diwarisi Sin Hong, sekadar untuk menghadapi Kun Houw kalau datang mengganggu.

Tapi Pendekar Gurun Neraka yang menarik napas, membelai rambut istrinya dengan hati berat. "Itu adalah ilmu simpanan yang dimaksud untuk mati bersama, Hong-moi. Tegakah kau meminta ini untuk Sin Hong? Kalau sekadar pegangan aku tak keberatan. Tapi kalau untuk Kun Houw, ah... tak tahukah kau bahwa dia pun juga darah dagingku sendiri, Hong-moi? Bukankah mereka anak-anakku juga? Haruskah keduanya bertarung untuk mati bersama? Aku ngeri. Aku belum berani memikirkannya, Hong-moi. Lebih baik aku saja yang berkorban bila Kun Houw memang jahat!"

Pek Hong menghapus air matanya. Dia juga tahu ini. Maka terisak dan menyerahkan segala sesuatunya pada suaminya itu, akhirnya wanita ini diam dan tak meminta lagi. Pendekar Gurun Neraka yang tahu akan kelembutan istri pertamanya ini lalu merangkul dan memeluknya mesra, membisikkan dan mengharap mudah-mudahan Kun Houw tak menjadi iblis, hingga tak perlu dia berkorban untuk anak laki-laki itu yang sesungguhnya merupakan anak sulung sebelum Sin Hong dan Bi Lan lahir.

Begitu keduanya hanyut dalam keharuan masing-masing, maka malam itu pun Ta-pie-san tenggelam dalam kesunyian sendu. Seolah masih tertegun oleh kedahsyatan pertandingan siang tadi antara Pendekar Gurun Neraka dan putra kandungnya sendiri, putra sulung, Kun Houw murid si jago pedang Bu-tiong-kiam Kun Seng. Jangkrik dan nyamuk pun seolah takut mengeluarkan suara.

Memang, apa yang dilihat pendekar besar ini tak meleset sedikit pun. Ketidaksempurnaan Kun Houw dalam jurus terakhirnya tadi bukan karena kurang hebatnya jurus itu sendiri, melainkan semata kurang sempurnanya Kun Houw menguasai jurus ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment