Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 166

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 166

Sebelum Bu-Tiong-Kiam tewas, sesungguhnya jago pedang itu telah menyatakan pada muridnya bahwa gerakan terakhir dari jurus itu memang masih harus diperbaiki. Karena jago pedang itu tewas sebelum memberi tahu, "kunci" rahasianya adalah di Medali Naga, benda yang kini dibawa si Mayat Hidup yang menjadi musuh Kun Houw!

Malam itu, Kui Hoa dan adiknya sudah memasuki kota raja. Mereka langsung ke istana, memanggul Kun Houw yang luka-luka. Tapi baru tiba di pintu gerbang, sekonyong-konyong Ayah mereka muncul.

"Hm, begini cara kalian pergi, Kui Hoa?"

Dua kakak beradik itu terkejut. Mereka menghentikan langkah, melihat wajah orang tua ini bengis dan gelap. Belum mereka menjawab, tiba-tiba berkelebat tiga bayangan wanita cantik yang berumur sekitar empat puluhan.

"Hi-hik, ini dua orang putrimu itu, Ok-Ciangkun. Aih, cantik-cantik mereka, tetapi tampaknya kusut dan lelah."

Kui Hoa meletakkan pondongannya, menjatuhkan diri berlutut. "Maaf, kami terpaksa pergi karena tidak tega membiarkan Kun Houw seorang diri, Ayah. Dan kau lihat bahwa sekarang dia terluka."

"Ya, aku tahu. Tapi tahukah kalian apa yang terjadi di istana? Tahukah kalian bahwa keputren geger gara-gara kalian tinggalkan? Sri Baginda marah-marah kepadaku, Kui Hoa. Selir Shi Shih lenyap diculik orang. Dan kalian harus mempertanggungjawabkan kelalaian ini!"

"Apa?" Kui Hoa tersentak. "Selir Shi Shih terculik?"

"Ya, dan Sri Baginda marah-marah kepadaku, Kui Hoa. Kau menyusahkan Ayahmu dengan pergi tanpa pamit!"

Kui Hoa tertegun. Dia terperanjat mendengar berita ini, teringat selir yang dikatakan Ayahnya itu. Selir baru, selir cantik yang belum dua bulan menjadi penghuni istana, tetapi sudah disayang kaisar melebihi selir-selir lain. Bahkan permaisuri saja tergeser kedudukannya. Kalah oleh selir baru yang luar biasa ini. Cantik dan pandai memikat pria, halus dan menundukkan kaisar luar-dalam!

Maka, mendengar selir itu tiba-tiba lenyap dan diculik orang pada saat ia meninggalkan keputren, mendadak Kui Hoa menyesal dan merasa bersalah.

"Maaf, aku menerima dosa, Ayah. Aku siap menghadap Sri Baginda dan menerima hukumannya!"

Kui Lin menimbrung. "Tapi Enci pergi bersamaku, Ayah. Aku juga akan menghadap kaisar dan siap menerima hukuman."

"Hm, kalian memang keterlaluan, Kui Lin. Tahukah kalian hukuman apa yang akan kalian terima dengan kelalaian tugas ini? Sri Baginda menyuruh aku membawa kepala kalian! Apa sekarang jawaban kalian untuk ini?"

Kui Hoa dan adiknya terkejut bukan main. "Apa? Kami...?"

"Ya, Sri Baginda menghendaki kalian dihukum mati, Kui Hoa. Kalau tidak ada Bibi kalian Sam Hek Bi-kwi ini, tentu kalian tidak dapat kutolong!"

Kui Hoa tertegun. Kui Lin juga terbelalak, dan tiga wanita cantik yang setengah baya itu tiba-tiba terkekeh dan memegang pundak mereka berdua.

"Aih, Ayah kalian terlalu menakut-nakuti, anak-anak. Siapa tega menghukum mati dua gadis secantik ini? Bangunlah. Anggap omongan Ayah kalian tidak serius lagi!"

Seorang di antara mereka yang berbaju hitam dan paling cantik mendadak mengangkat Kui Lin dengan sentuhan perlahan. Kui Lin merasa tenaga luar biasa kuat namun lembut menariknya ke atas, dan sementara dia bengong oleh kata-kata ini, tahu-tahu tubuhnya terangkat naik tanpa dapat dicegah.

"Ih!" Kui Lin terkejut, membelalakkan matanya.

Dan Kui Hoa yang juga mendapat tepukan ringan dari wanita berbaju ungu tiba-tiba juga tersentak dan terangkat naik. Tiga wanita itu terkekeh.

"Kalian tidak mengenalku, anak-anak? Ayah kalian tidak pernah menceritakannya?"

Kui Hoa menggeleng. "Kalian siapa?"

"Kami Sam Hek Bi-kwi. Dulu, sahabat dan pembantu terdekat Ayah kalian ini. Kami bekas ketua cabang dari perkumpulan Hiat-Goan Pang (Perkumpulan Gelang Berdarah) yang terkenal."

"Ah!" Kui Lin kaget. "Kalau begitu, kalian juga murid-murid dari mendiang guru Ayahku?"

"Hi-hik, benar, anak baik. Itulah kami! Kau bernama Kui Lin, bukan?"

"Ya."

"Dan ini kakakmu Kui Hoa?"

"Benar."

"Lalu, siapa itu pemuda yang kalian bawa?"

"Dia adalah Kun Houw."

"Eh, murid mendiang si jago pedang itu?"

"Benar."

"Aih...!" wanita berbaju hitam ini tiba-tiba terkekeh, memandang temannya. "Kalau begitu, berarti dia pemuda yang hebat itu, Gwat-cici. Kun Houw, murid Bu-Tiong-Kiam Kun Seng yang dulu putranya kita ganggu, hi-hik!"

Kui Lin tidak mengerti. Dia melihat ketiga Samkwi ini tiba-tiba tertawa, melirik Kun Houw yang pingsan dengan pandangan genit, membuat Kui Hoa tiba-tiba panas dan ingin marah.

Tapi, belum keduanya bicara, mendadak Ayah mereka sudah membentak dingin, "Hoa-ji, Lin-ji, cepat haturkan terima kasih pada Bibi kalian Samkwi ini. Merekalah yang menyelamatkan kalian dari hukuman kaisar!"

Kui Hoa membelalakkan matanya. "Dalam hal apa, Ayah?"

"Ah, kenapa tanya lagi? Merekalah yang mengembalikan Selir Shi Shih dari tangan penculik!"

Kui Hoa terkejut. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan tiga wanita cantik ini, dan Kui Lin yang juga mengikuti perbuatan kakaknya buru-buru berkata gugup, "Maaf, kami tidak tahu, Bibi. Terima kasih untuk pertolongan kalian yang berjasa besar!"

Samkwi tertawa lebar. Mereka membangunkan kakak beradik yang masih terbelalak ini, lalu memandang Ok-Ciangkun yang berdiri dengan kening berkerut, mereka berseru, "Ok-Ciangkun, beginikah sikapmu menyambut anak? Mereka bisa kedinginan di luar, sebaiknya suruh masuk dan biarkan mereka beristirahat!"

Ok-Ciangkun mengangguk. "Baik," lalu memutar tubuh dan mengibaskan lengannya, panglima ini berkata, "Kui Hoa, bawa masuk pemuda itu. Malam ini kalian langsung ke keputren!"

Kui Hoa terkejut. "Tapi Kun Houw perlu perawatan, Ayah. Mana mungkin meninggalkannya? Dia terluka, perlu pengobatan."

Panglima ini menggeram, berhenti memutar tubuh. "Kalian kira aku tidak tahu? Ada Samkwi di sini, Hoa-ji. Serahkan Kun Houw pada mereka dan biarkan dirawat sampai sembuh. Kalian kembali melaksanakan tugas di keputren!"

Kui Hoa tertegun. Dia kaget dan tentu saja tidak rela. Tapi, wanita berbaju hitam yang menepuk pundaknya dengan lembut berkata dengan senyum penuh arti, "Tidak perlu khawatir, anak baik. Kami juga dapat menyembuhkan luka-luka pemuda ini. Kau cemburu, bukan?"

"Siapa cemburu?" Kui Hoa memerah mukanya, tersentak dan tiba-tiba semburat.

Dan wanita berbaju hitam yang tertawa dengan manis itu mendorong pundaknya. "Nah, kalau begitu, pergilah. Kalian beristirahat dan kembalilah ke keputren. Penuhi permintaan Ayah kalian!"

Kui Hoa yang tentu saja tidak dapat menolak lagi akhirnya menggigit bibir dan diam-diam mengepalkan tinju karena sikap wanita berbaju hitam ini. Tapi, karena semuanya itu adalah atas suruhan Ayahnya sendiri, terpaksa mau tidak mau Kui Hoa meloncat dan meninggalkan Kun Houw di tempat itu, disusul adiknya yang juga terbelalak, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan ketika Kui Lin serta kakaknya berkelebat ke keputren, wanita berbaju hitam ini, yang tidak lain adalah Bi Kwi, tokoh yang menjadi biang keladi tewasnya Kun Bok (baca: Pendekar Kepala Batu), putra si jago pedang Kun Seng, lalu terkekeh dan menyambar Kun Houw. Begitu Ok-Ciangkun mempersilakan mereka masuk, segera ketiga wanita itu melompat dan memasuki istana.

Demikianlah, Kun Houw berpindah tangan. Susah payah Kui Hoa membawanya dari Ta-Pie-San, tahu-tahu seenaknya saja orang lain "merebut" kekasihnya itu. Tapi, karena semuanya itu atas permintaan Ok-Ciangkun, tentu saja dua gadis ini tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya Kui Hoa yang mendapat firasat tidak enak, diam-diam khawatir dan gelisah memikirkan kekasihnya itu. Meskipun jatuh di tangan pembantu Ayahnya, wataknya belum dikenal baik.

Dan Kui Hoa yang memiliki naluri tajam ini rupanya memang tidak banyak salah. Sam Hek Bi-kwi adalah tiga wanita cabul. Bagi para pembaca yang telah mengetahuinya lewat "Kepala Batu", tentu mengenal baik siapa ketiga wanita cantik ini, yang meskipun telah menginjak usia tua, namun sebenarnya masih "panas" dan cukup histeris kalau bermain cinta. Terutama Bi Kwi, biang kerok yang paling centil itu, yang telah merobohkan putra si jago pedang luar-dalam dengan tipu dayanya yang ampuh, hingga Kun Bok tewas dalam sakit hati yang teramat besar, dan baru sadar setelah semuanya terlambat.

Kun Houw yang kini jatuh ke tangan tiga wanita cabul ini memang tidak mengherankan kalau membuat Kui Hoa khawatir. Sebenarnya, apa yang terjadi dan bagaimana ketiga wanita cabul itu dapat datang ke istana? Benarkah terjadi penculikan terhadap selir kaisar yang paling disayang, dan ketiga wanita ini yang menyelamatkan Shi Shih? Agaknya ini pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh orang awam. Istana mempunyai penjagaan kuat. Mengherankan kalau terjadi peristiwa seperti itu. Tapi kalau benar, bagaimana terjadinya? Dan siapa Selir Shi Shih ini? Itu pertanyaan menarik.

Dua bulan lalu, seperti biasa dalam hari upeti, Yueh mengirimkan barang-barang berharga sebagai persembahan untuk kaisar yang ditetapkan pada hari raya Tahun Baru. Dan seperti biasa itu pula, sebagaimana umumnya tahun-tahun yang lewat, di samping ribuan permata dan sutera-sutera halus yang amat mahal, "disisipkan" pula benda-benda hidup kesukaan Kaisar. Tapi, tidak seperti tahun yang lalu yang mengirimkan wanita-wanita cantik sampai puluhan bahkan ratusan untuk Sri Baginda, tahun ini Yueh hanya mengirimkan dua "biji" saja benda hidup itu.

Tapi benar-benar luar biasa. Hebat dan istimewa sekali. Sangat mulus dan paling top. Sudah diseleksi di antara ratusan wanita cantik yang tiap tahun diadakan di kerajaan Yueh, jadi semacam kontes "ratu ayu" yang menetapkan juara satu dan juara dua. Dan ketika pilihan itu muncul dan persembahan ini dikirimkan kepada kaisar, ternyata semuanya itu tidak meleset jauh. Shi Shih, sang juara pertama, sang ratu ayu yang paling cantik dan sintal, mendapat anugerah merebut gelar kejuaraan itu, ternyata tidak mengecewakan kaisar. Bersama rekannya, sang "runner up", Ceng Tan, yang juga cantik jelita dan masih berumur enam belas tahun, keduanya diterima kaisar dengan penuh kegembiraan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment