Chapter 167
Memang mula-mula Kaisar mengerutkan alis, tidak senang dan hampir marah kepada Yueh karena mengirimkan dua wanita saja. Namun, setelah Shi Shih dan rekannya melayani Kaisar, tiba-tiba saja laki-laki setengah tua ini tertawa tergelak.
Shi Shih dan Ceng Tan memang jempolan. Hebat luar dalam. Di samping pandai melayani permainan ranjang, mereka juga mahir bersajak dan bernyanyi, membuat Kaisar jatuh hati dan "anjlok" seratus derajat. Maklum, pelayanan yang diberikan dua wanita cantik itu memang istimewa dan khusus. Apalagi mereka masih perawan, perawan tulen yang asli dan belum pernah diganggu kumbang-kumbang nakal. Belum mengenal operasi selaput dara, sehingga keutuhan mereka tak perlu diragukan lagi. Orisinal!
Kaisar yang tentu saja mabuk dan segera tergila-gila pada dua wanita cantik ini, terlena dan terbuai oleh asmara yang belum pernah seumur hidupnya dirasakan laki-laki tua itu. Kaisar semakin hanyut. Suara merdu dan lenggang memikat yang diberikan Shi Shih dan rekannya membuat Kaisar lupa daratan. Tak pernah lepas dan jauh dari dua wanita cantik itu, yang memang sebelumnya telah digembleng oleh ahli-ahli cinta dari Kerajaan Yueh.
Ketika beberapa minggu kemudian Shi Shih dan temannya mengusulkan agar Sri Baginda tidak mengambil lagi selir-selir baru, secara spontan dan mengejutkan Kaisar memenuhi permintaan ini. Yueh tak perlu lagi mengirimkan selir-selir baru tahun depan. Sudah cukup. Cukup dilayani Shi Shih dan Ceng Tan. Yueh tentu saja tercengang oleh keputusan sang baginda, yang akhirnya menjadi girang dan lega bukan main. Itu berarti keberhasilan usaha mereka, suatu rencana yang telah disiapkan bertahun-tahun. Rencana yang hanya diketahui orang-orang atas dan ditutup rapat hingga tak satu pun telinga luar mendengar, apalagi tahu.
Raja Muda Kou Cien yang girang oleh gejala pertama keberhasilan ini segera memonitor kelanjutan berita itu dengan harap-harap cemas. Raja muda ini cukup kebat-kebit karena Wen-taijin, penasihat utamanya yang mengantar barang hantaran itu, menceritakan bahwa pengiriman Shi Shih dan Ceng Tan hampir saja mengalami kegagalan di tengah jalan. Hal itu terjadi karena Wu Yuan, seorang menteri tua yang mendampingi Kaisar saat menerima persembahan, menyarankan agar pengiriman dua wanita cantik itu ditolak saja.
"Hamba kira persediaan di istana sudah cukup, Sri Baginda. Sebaiknya dua orang wanita ini dikembalikan saja dan dipulangkan kepada mereka. Tak perlu ditambah!" demikian menteri tua itu berkata, mengejutkan Wen-taijin karena ini berarti kandasnya rencana yang sudah diatur.
Tapi Sri Baginda yang tersenyum memandang Shi Shih yang luar biasa cantik dengan pipi bagai tomat masak, tiba-tiba bangkit dari kursinya dan menggelengkan kepala.
"Tidak, yang ini kukira lain, Taijin. Tidakkah kau lihat sinar gemilangnya yang menawan lembut itu? Ia menarik hatiku. Siapa namanya?" Kaisar memegang dagu Shi Shih dan mengangkatnya kagum, bersinar berahinya melihat kecantikan gadis yang luar biasa ini.
Shi Shih yang beradu pandang dengan Kaisar menjatuhkan diri berlutut dan berseru menggigil, "Ampun, hamba... hamba Shi Shih, Sri Baginda..."
"Hm, dari mana kau berasal?"
Wen-taijin mendahului menjawab, "Dia berasal dari Dusun Chu Lo, Sri Baginda. Ampun kalau anak ini tak dapat menjawab pertanyaan Paduka."
Kaisar mengangguk-angguk, mengerutkan keningnya. "Bukan dari kota?"
Pertanyaan ini mendebarkan. Semua orang melihat Kaisar tiba-tiba tersinggung. Maklum, Shi Shih bukan anak kota, hanya gadis desa yang mungkin dianggap terlalu rendah untuk Sri Baginda, yang bisa dianggap penghinaan tidak langsung. Tapi Wen-taijin yang buru-buru membenturkan jidatnya berkata cepat, "Ampun, Shi Shih memang berasal dari desa, Sri Baginda. Tapi hamba tanggung bahwa dia tak kalah dengan gadis kota. Dia pandai menyanyi, menari, dan membaca sajak dengan baik. Bahkan hebat pula menabuh alat-alat musik jenis apa pun!"
Kaisar tertegun. "Dia pandai menyanyi?"
"Bukan melulu menyanyi, Sri Baginda. Shi Shih pandai pula menari dan membaca sajak!"
"Ah, kalau begitu coba dia!" Kaisar menjadi gembira. "Coba kaubuktikan omonganmu, Wen-taijin. Aku ingin mendengar suara dan cara dia memainkan alat-alat musik."
Shi Shih dicoba. Kaisar menyuruh orang-orangnya menyiapkan alat tetabuhan, lalu duduk di kursi singgasananya dengan tertarik. Ia ingin membuktikan apakah benar gadis desa ini pandai menyanyi dan memainkan alat musik seperti yang dikatakan pembesar she Wen. Ketika Shi Shih mulai melaksanakan permintaan Kaisar, gadis itu terlebih dulu melirik temannya, menjatuhkan diri berlutut dengan sikap tersipu-sipu.
"Ampun..." suara Shi Shih gemetar. "Hamba ingin mengajukan usul, Sri Baginda. Bolehkah hamba main bersama dengan rekan hamba ini? Hamba ingin menghibur Paduka dengan teman hamba agar dia mendapat perhatian Paduka pula..."
Kaisar terkejut. "Kau takut main sendirian?"
"Tidak, hamba... hamba ingin agar teman hamba ini tak tersisih dalam pandangan Paduka, Sri Baginda. Hamba tak mau disebut lupa diri memegang kesetiaan kepada teman."
"Ah, rasa solider, Shi Shih? Baik, boleh saja. Tapi itu nanti. Sekarang tunjukkan dulu kemampuanmu bernyanyi dan memainkan alat musik."
Shi Shih tiba-tiba menangis. "Kalau begitu biar teman hamba dulu yang menjalankan perintah Paduka, Sri Baginda. Hamba belakangan saja setelah teman hamba mendapat perhatian Paduka."
"Shi Shih...!" Wen-taijin kaget bukan main. "Kau berani membantah ucapan Sri Baginda?"
Pembesar yang pucat itu membenturkan dahinya dengan ketakutan, lalu buru-buru berkata dengan suara menggigil, tak berani mengangkat muka di depan Kaisar, "Ampun, hamba akan membawa pulang saja anak ini, Sri Baginda. Biarlah dosa kelancangannya ini hamba yang bertanggung jawab!"
Semua orang terkejut. Mereka menilai perbuatan Shi Shih itu memang berani, terlampau berani malah. Bisa dianggap kurang ajar. Mata yang terbelalak memandang ke depan tiba-tiba menjadi tegang melihat Kaisar mengerutkan kening. Untuk sejenak Kaisar juga terkejut, sama seperti semua orang. Namun, Kaisar yang melihat dasar dari perbuatan itu tiba-tiba tersenyum lebar. Ia melihat perbuatan Shi Shih dilakukan atas dorongan solidaritas, rasa kesetiakawanan yang tinggi terhadap Ceng Tan. Hal yang justru membuat dia kagum dan semakin tertarik.
Ketika Kaisar tertawa dan tidak tampak sama sekali kemarahannya seperti yang diduga banyak orang, tiba-tiba saja semua orang heran dan tertegun dengan mata terbelalak.
"Ha-ha, Shi Shih tak melakukan dosa seperti yang kau katakan, Wen-taijin. Ia menyatakan pendapatnya atas dasar rasa setia kawan belaka. Tak perlu dihukum!"
Wen-taijin bengong. Ia menduga Kaisar bakal menghukumnya dan marah-marah. Tapi melihat Kaisar bersikap sebaliknya dan justru memuji Shi Shih, pembesar ini tertegun dan tak habis mengerti. Kaisar sudah menggoyang lengannya, berkata pada Shi Shih, "Baiklah, kau boleh bawa temanmu itu bersama, Shi Shih. Demonstrasikan sekarang kepandaianmu bernyanyi dan menabuh alat-alat musik itu!"
Shi Shih tersenyum. Ia mengerling Kaisar dengan sudut matanya, gerak yang luar biasa manis dan mempesona, membuat Kaisar gemas dan ingin segera memboyongnya ke kamar. Tapi Ceng Tan yang mendahului berlutut di depan Kaisar kembali mengejutkan semua orang, "Tidak, hamba belakangan saja, Sri Baginda. Biarlah Shi Shih melaksanakan perintah Paduka seperti yang Paduka inginkan!"
Kaisar terbelalak. "Kenapa begitu?"
"Semata untuk kegembiraan Paduka, Sri Baginda. Bukankah Paduka ingin mendengarkan dulu suara Shi Shih? Hamba tak merasa dikesampingkan. Biarlah Shi Shih main terlebih dahulu dan hamba belakangan!"
"Ha-ha, kalian ini ada-ada saja, Ceng Tan. Apakah demikian pula kehidupan kalian sehari-harinya? Wah, sebaiknya kalian main bersama. Biar yang satu menyanyi dan yang lain memainkan tetabuhan. Berganti-ganti!"
Ceng Tan tak dapat menolak. Shi Shih juga menerima. Begitu keduanya saling pandang dan tersenyum satu sama lain, Shi Shih berkata, "Baiklah, aku menyanyi lebih dulu, Ceng Tan. Kau yang memainkan alat musiknya dan nanti kau yang bernyanyi. Kita gantian."
Ceng Tan mengangguk. Ia sudah mengambil yang-khim (alat musik Tiongkok), mulai memetik senar-senarnya dan mengalunkan lagu yang indah, lagu cinta, dendang yang mulai membuat semua yang hadir memasuki dunia yang sendu amat romantis. Ketika Shi Shih mengatur napasnya dan ikut masuk dengan suara yang merdu ke dalam alunan lagu cinta ini, tiba-tiba semua orang terbelalak dan ternina-bobokan.
Mereka mendengar suara yang luar biasa bagusnya dari mulut Shi Shih. Suara yang empuk, juga lembut. Suara yang membuat mereka hanyut dan serasa diayun di awang-awang, terbuai oleh getaran syahdu yang membuat bulu kuduk meremang setiap kali lagu merintih dalam alunan cinta, mengeluh, atau menyayat lirih dalam ritme yang rendah.
Ketika lagu menukik dan naik tajam untuk kemudian berubah menjadi keriangan yang lincah gembira, tiba-tiba tanpa sadar Kaisar dan semua orang menghentak-hentakkan kaki dan ikut gembira mengikuti irama lagu. Hebat sekali. Shi Shih dan Ceng Tan berhasil menghipnotis setiap orang.
Ketika lagu berakhir dengan satu petikan nyaring hingga senar yang khim melampaui batas suara dan Shi Shih menghentikan nyanyiannya yang merdu, tiba-tiba seluruh orang terkejut karena mereka seakan disentakkan dari alam yang halus ke alam yang kasar.
"Aih...!" Kaisar berteriak kaget, kagum bukan main. "Apa judul lagu yang kalian mainkan ini, Shi Shih?"
Shi Shih tersipu malu. "Rembulan Memadu Cinta, Sri Baginda."
"Hah, Rembulan Memadu Cinta?"
"Ya."
"Memadu cinta dengan siapa?"
"Dengan Dewa Bintang, Sri Baginda. Sesuai isi syairnya tadi yang telah hamba nyanyikan."
"Ooh," Sri Baginda terbelalak takjub, mengangguk-angguk dan teringat akan lirik lagu tadi.