Chapter 168
Sambil tertawa dan bertepuk tangan, Sri Baginda memandang Ceng Tan. "Bagus, sekarang coba kalian bertukar peran, Shi Shih. Biar kau yang memetik yang-khim sementara Ceng Tan yang bernyanyi!"
Mereka mengangguk karena hal itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Begitu Ceng Tan menyerahkan alat musiknya dan Shi Shih menjentikkan jarinya pada senar yang-khim, Shi Shih tersenyum lalu memainkan alat musik itu dengan irama yang sentimentil. Lagu tersebut masih bertema cinta, tetapi tidak ada lagi keriangan, melainkan irama sendu yang menghanyutkan semua orang namun tidak cengeng. Permainannya terasa lebih berbobot dan dewasa.
Ketika Ceng Tan mulai menyanyi mengikuti irama, untuk kedua kalinya Kaisar dan semua orang yang hadir dibuat tertegun. Mereka merasakan petikan yang-khim Shi Shih terasa jauh lebih mantap. Jika lagu pertama yang dimainkan Ceng Tan dipenuhi alunan tinggi rendah yang merintih di akhir, maka lagu yang dimainkan Shi Shih kali ini lebih artistik dengan sedikit rintihan. Shi Shih memainkan lagu yang tenang, seolah menggambarkan percintaan seorang gadis dewasa yang telah matang lahir batin, tidak seperti permainan Ceng Tan sebelumnya yang mirip gadis manja yang baru mengenal cinta—terlampau riang karena jiwanya masih labil.
Perlahan namun pasti, Shi Shih mengajak temannya menyelaraskan irama, membuat semua orang terpaku. Kaisar tidak mengejapkan matanya, tampak kagum oleh kepandaian Shi Shih memilih lagu yang syahdu. Begitu Ceng Tan mengisi dengan suaranya yang kalem namun merdu, Kaisar terbuai seolah hanyut di alam dewa-dewi. Tidak hanya Kaisar, Wu Taijin (Wu Yuan), yang tadinya curiga dan meminta agar Shi Shih dan Ceng Tan ditolak, kini juga ikut terbuai. Ia terbelalak kagum melihat jemari lentik Shi Shih memainkan alat musik tersebut, hingga ia tak bergerak dari tempat duduknya.
Ketika lagu kedua selesai dan Shi Shih mengakhirinya dengan getaran kuat yang mendentang di ruangan itu, Kaisar bertepuk tangan dengan keras. "Bagus, indah sekali lagu yang kau mainkan ini, Shi Shih! Apa judul lagunya?"
Shi Shih tersenyum. "Mutiara di Laut Biru, Sri Baginda. Lambang kejayaan cinta di tempat yang teduh!"
"Ha-ha, kalau begitu kenapa judulnya tidak menyinggung cinta sama sekali?"
"Ah, siapa bilang, Sri Baginda? Justru mutiara itulah cintanya. Dia lambang cinta yang hamba wujudkan dalam bentuk mutiara. Sedangkan penerimanya, sang Dewa Laut yang arif bijaksana, adalah peneduh dan pelindung cinta tersebut!"
Kaisar tertawa terbahak-bahak, merasa gadis itu sangat puitis. Namun, Shi Shih segera berlutut dan berkata, "Lagu hamba bisa nikmat didengar karena bantuan suara Ceng Tan, Sri Baginda. Harap Paduka tidak melupakan hal itu karena hamba tidak bekerja sendirian!"
Kaisar tertegun. Ia menyadari telah melupakan peran Ceng Tan. Karena kagum akan kesetiaan kawan Shi Shih, Kaisar tersenyum dan memandang Ceng Tan. "Maaf, aku lupa, Ceng Tan. Shi Shih benar. Kau pun menunjang keindahan lagu ini dengan suaramu yang tidak kalah merdu."
Ceng Tan tersipu dan menunduk. "Tidak apa-apa, Sri Baginda. Bagi hamba sama saja. Memuji Shi Shih berarti menyenangkan pula hati hamba."
Kaisar tertawa. Ia melihat ketulusan dalam diri Ceng Tan, tanpa ada rasa iri atau cemburu. Teringat bahwa Shi Shih juga mahir menari, Kaisar berkata dengan gembira, "Baik, sekarang tunjukkan gerak tarianmu, Shi Shih. Atau kalian berdua boleh maju bersama!"
Shi Shih mengajak Ceng Tan berdiri. Mereka meliuk dan menggeliat dengan senyum manis yang memikat, membuat Kaisar terbelalak gemas. Begitu musik dimainkan, keduanya mulai melenggak-lenggok dengan luwes. Mereka mampu menari mengikuti irama lagu apa saja, tanda bahwa mereka sudah sangat mahir. Kaisar takjub, menyadari bahwa Shi Shih dan Ceng Tan benar-benar melebihi gadis kota, bahkan lebih luwes dibanding Yang-nio, penari istana yang menjadi guru di keputren.
Melihat tarian itu, Kaisar merasa mabuk kepayang dan tergila-gila. Gerak pinggul dan pinggang Shi Shih yang luwes membuat Kaisar sering menelan ludah. Begitu mereka selesai, Kaisar tak tahan lagi dan segera memasuki peraduannya. "Wen-taijin, dua gadis ini memang hebat. Bawa mereka ke kamar!"
Wen-taijin tersenyum dan mengerti isyarat itu. Ia membungkuk di depan Menteri Wu dan berkata, "Maaf, silakan Paduka yang mengantar, Wu-taijin. Biarlah hamba memercayakan keduanya pada Paduka." Namun, Wu Yuan menolak, "Tidak, kau yang diminta mengantarnya, Taijin. Harap bawa mereka ke tempat Sri Baginda!" Wen-taijin pun mengangguk, memberi kesempatan kepada Menteri Wu untuk mencari muka.
Setelah mengantar keduanya ke kamar Kaisar, Wen-taijin berbisik meminta agar mereka tidak melupakan tugas rahasia. Ia kemudian segera pergi untuk melaporkan keberhasilan mereka kepada Yueh. Shi Shih dan Ceng Tan pun resmi melayani Kaisar. Karena memiliki keistimewaan yang mengalahkan penghuni istana lainnya, Kaisar dengan cepat terpikat pada mereka, terutama Shi Shih yang lebih agresif dan pandai bicara.
Beberapa minggu kemudian, Kaisar tidak lagi menggauli wanita lain. Shi Shih berhasil meyakinkan Ceng Tan agar mereka bersikap lebih agresif demi tugas negara. Akibatnya, Kaisar benar-benar mabuk kepayang. Ketika Shi Shih mengusulkan agar Sri Baginda tidak menerima selir baru dari kerajaan Yueh, Kaisar spontan menyetujuinya. Orang-orang di istana pun tercengang melihat pengaruh Shi Shih yang kian kuat.
Dua bulan berlalu, Shi Shih menjadi "kesayangan" Kaisar yang amat diperhatikan. Suara Kaisar kini hampir sepenuhnya didominasi oleh Shi Shih, membuat para menteri menjadi segan dan takut padanya. Shi Shih pun mulai bergerak mendekati menteri-menteri yang dirasa cocok untuk membantunya menggoyahkan istana dari dalam, membentuk semacam kelompok pengikut setia.
Namun, Shi Shih bertindak sangat hati-hati. Ia menyadari tidak semua menteri dapat ditarik, terutama Wu Cu Shu, menteri kepercayaan Kaisar yang merupakan saudara Wu Yuan. Ia merasa waspada karena Wu Cu Shu mulai mengerutkan kening melihat pengaruh Shi Shih yang terlalu menyolok, terutama ketika Kaisar mengabulkan permintaan Shi Shih untuk membangun beberapa istana baru.