Chapter 169
Ketika suatu hari menteri itu menyatakan ketidaksenangan hatinya akan hal ini, untuk pertama kalinya kaisar mendapat nasihat.
"Ampun, hamba tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Paduka, Sri Baginda, tapi bukankah Paduka telah membangun istana mungil di luar kota raja? Kenapa harus ditambah lagi? Itu pemborosan, Sri Baginda. Hamba khawatir kas negara akan terhambur untuk hal-hal yang kurang perlu."
Kaisar mengerutkan alis. "Ini permintaan selirku, Taijin. Haruskah kutolak untuk alasan pemborosan? Bukankah kita memiliki kekayaan yang berlimpah dan tak mungkin habis hanya untuk membangun lagi sebuah istana?"
"Betul, tapi sebaiknya pengeluaran-pengeluaran yang tak begitu perlu dikurangi, Sri Baginda. Semata untuk penghematan kas negara agar tak terhambur sia-sia. Hamba tidak menentang, tapi memperingatkan Paduka agar tak mengabulkan begitu saja setiap permintaan selir Paduka yang cenderung melakukan pemborosan!"
Kaisar tertegun. Dia mendengar nada keras dari pembantu utamanya ini, dan Shi Shih yang menjatuhkan diri berlutut di depannya tiba-tiba berkata, "Maaf, agaknya Wu-taijin menaruh hati iri kepada hamba, Sri Baginda. Kalau begitu benar omongannya dan tak perlu lagi Paduka memberikan hamba istana baru."
Kaisar terkejut. "Iri?" Dia tersentak. Ucapan Shi Shih ini membuat dia semakin mengerutkan alisnya, sementara Wu-taijin sendiri yang terbelalak dan merah mukanya tiba-tiba berseru, "Tidak, hamba tidak menaruh iri pada selir Paduka, Sri Baginda. Hamba semata memperingatkan Paduka agar memperhatikan pemborosan-pemborosan yang kurang perlu."
"Kalau begitu kau tak perlu mengucapkannya dengan nada yang keras, Wu-taijin. Kaisar tak perlu diomeli dengan cara protesmu yang seperti itu."
Wu-taijin terkejut. Dia merasa balasan Shi Shih ini berbahaya sekali, langsung mengecamnya sebagai orang yang mengomeli kaisar. Seolah kaisar anak kecil yang bodoh dan kurang bertanggung jawab. Dan karena cara penyampaiannya dilakukan dengan nada yang keras serta menunjukkan ketidaksenangannya, tiba-tiba menteri ini pucat dan menjadi gemetar. Untuk sejenak dia tak mampu bersuara, dan kaisar yang melihat balasan Shi Shih memang benar, tiba-tiba menjadi marah kepada pembantunya ini.
Tersinggung, merasa tidak dihargai!
"Wu-taijin, apa yang dikata selirku memang benar. Protesmu terlalu keras dan tidak bersahabat! Beginikah caramu menasihati aku?!"
"Ampun...!" pembesar ini menjatuhkan diri berlutut. "Hamba tidak bermaksud begitu, Sri Baginda. Hamba sekadar memperingatkan Paduka untuk tidak melakukan pemborosan. Bukan mengomeli Paduka!"
"Tapi caramu menunjukkan seolah biaya istana baru itu kau yang mengeluarkannya, Taijin. Kau tak menghargai kekayaan Sri Baginda yang tak mungkin habis dipakai untuk membangun seratus istana sekalipun! Kenapa mencemaskan hal ini? Kau jelas iri kepadaku, Taijin. Kau tak suka karena Sri Baginda terlampau sayang kepadaku. Kau sirik. Kau dengki....!"
Shi Shih yang sudah berkaca-kaca memandang kaisar tiba-tiba bangkit berdiri. "Sri Baginda, hamba tak mau dikata memboroskan uang negara. Biarlah istana baru itu tak usah dibuat untuk menyatakan sayang Paduka kepada hamba!"
Shi Shih yang menangis pergi meninggalkan ruangan itu lalu membuat Wu-taijin dan kaisar tertegun. Pembesar she Wu ini bingung, mukanya merah dan pucat berganti-ganti. Tapi melihat Shi Shih meninggalkan ruangan dan kaisar tak memanggil selir yang cantik itu, pembesar ini bahkan merasa mendapat kesempatan, menggigil mengulang seruannya, "Sri Baginda, ampunkan hamba. Tapi selir Paduka itu benar-benar mau mencelakakan Paduka. Hamba khawatir dia sengaja menghambur-hamburkan uang negara untuk melemahkan kas kerajaan!"
Tapi sambutan kaisar mengejutkan pembesar ini. "Kau yang mau mencelakakan aku, Taijin. Kau yang hendak merusak hubunganku dengan selirku itu. Shi Shih benar. Kau sirik dan dengki. Kau yang iri dan tak senang melihat aku menyatakan sayang kepada selirku itu!"
Wu-taijin kaget bukan main. Dia tentu saja menyatakan ampun berulang-ulang, tapi kaisar yang pergi dengan marah membuat pembesar ini tertegun di tempatnya, tersentak pucat. Tak mampu bicara dan melihat pengaruh Shi Shih memang benar-benar hebat sekali. Bermaksud ditodong malah balik menodong!
Wu-taijin yang tentu saja gemetar dengan keringat bercucuran akhirnya sadar bahwa Shi Shih memang merupakan selir yang berbahaya. Cerdik dan amat lihai sekali. Bisa memutar balik omongan orang untuk menyudutkan orang tersebut. Wu-taijin yang segera pergi dari tempat itu lalu mengusap dua titik air matanya yang jatuh tanpa sadar. Air mata kecewa dan penuh penyesalan.
Ketika beberapa hari kemudian dia melihat kaisar bersikap dingin kepadanya, maka tak pelak lagi pembesar ini menangis. Menteri she Wu itu kecewa sekali. Dia sakit hati dan diam-diam marah kepada Shi Shih. Ingin berteriak lantang di depan Sri Baginda bahwa perempuan itu akan menjatuhkan junjungannya. Melihat dan merasa berdasarkan mata tuanya bahwa Shi Shih merupakan "benalu" yang amat berbahaya bagi kerajaan. Terbukti dari tindak-tanduk selir itu yang ingin menguasai kaisar, membius dan menina-bobokkan junjungannya dengan kecantikan tubuhnya, yang semakin lama membuat kaisar semakin mabuk.
Tapi karena tak ada bukti yang konkret untuk menjatuhkan dakwaannya ini, maka Wu-taijin tak dapat berbuat apa-apa dan memendam semua sakit hati dan kekhawatirannya itu. Sampai akhirnya, ketika dua hari yang lalu seseorang datang padanya, maka tiba-tiba Wu-taijin merasa mendapat jalan keluar.
Wu Yuan, saudara sepupunya yang menjabat Kepala Rumah Tangga Kaisar, menyatakan keluhannya tentang pemborosan yang terjadi akhir-akhir ini di dapur istana. Betapa kaisar mulai suka mengadakan pesta-pesta, memesan makanan dan minuman yang di luar batas kemewahan. Seperti misalnya daging naga yang harus dicari di Pegunungan Himalaya serta madu naga api yang sukar didapat, yang konon katanya atas permintaan dua selirnya tersayang itu, terutama Shi Shih.
Karena pekerjaan ini dilakukan untuk pesta yang hampir tiap hari diadakan, maka tentu saja semuanya itu menelan pembiayaan yang tidak sedikit.
"Bayangkan, selir baru itu selalu minta yang aneh-aneh, Shu-twako. Bahkan akhir-akhir ini dia minta pula agar semua piring serta gelas yang ada di meja pesta dibuat dari emas yang paling baik. Padahal, untuk piringnya saja ada seribu buah. Belum gelas serta cawannya! Bagaimana ini bukan suatu pemborosan? Dan yang mengherankan, begitu pesta usai maka begitu pula piring dan gelas ini lenyap, Shu-twako. Kami harus membuatnya baru untuk pesta-pesta berikut!"
Menteri Wu terbelalak. "Hilang maksudmu? Dicuri?"
"Boleh dibilang begitu, Twako. Tapi boleh juga dibilang tidak!"
"Eh, bagaimana itu?"
"Setengah dicuri setengah tidak, Twako. Karena setelah kuselidiki ternyata piring dan gelas-gelas yang terbuat dari emas itu dibagi-bagikan begitu saja oleh dua orang selir itu kepada tamu-tamu undangan!"
Wu-taijin terkejut. "Dibagi-bagikan? Diberikan cuma-cuma?"
"Ya, begitu kenyataannya, Twako. Dan Sri Baginda yang tertawa saja melihat perbuatan selirnya itu tak melarang sama sekali dan menyuruh kami membuat yang baru!"
"Keparat!" Wu-taijin mengepal tinjunya. "Aku tak mengerti sepak terjang selir iblis itu, Yuan-te. Apa kira-kira yang mendorongnya berbuat seperti itu?"
"Tak tahu. Tapi mungkin sebagai taktik untuk mencari teman, Twako. Karena kudengar kabar beberapa menteri yang ada di istana berhasil dipelet dua orang selir itu untuk menjadi bawahannya."
"Hai, dan hadiah barang-barang berharga itu dijadikan daya tariknya?"
"Kurang lebih begitu, Twako. Tapi apa maksud sebenarnya selir itu aku juga kurang tahu. Entahlah!"
Wu-taijin tertegun. Dia semakin merasa bahwa Shi Shih rupanya mau merongrong kekayaan negara, sedikit demi sedikit menggerogoti kekayaan istana untuk maksud tersembunyi. Dan ingat bahwa selir itu berasal dari kerajaan Yueh, tiba-tiba pembesar ini tersentak dan seakan mendapat firasat mengejutkan tentang selir itu.
Wu-taijin menggeram, "Jangan-jangan dia mata-mata musuh, Yuan-te. Sri Baginda harus kita beri tahu untuk memasang kewaspadaan."
"Maksudmu?"
"Jangan-jangan dia merupakan musuh dalam selimut, Adik Yuan. Mungkin dua selir cantik itu membawa misi rahasia dari kerajaan Yueh!"
Wu Yuan terkejut. "Tapi Yueh tak memiliki kekuatan apa-apa, Twako. Mana mungkin mengemban misi rahasia?"
"Hm, siapa tahu? Aku semakin mendapat firasat tak enak, Yuan-te. Sebaiknya kita kisiki (beri tahu) Sri Baginda agar menangkap saja selir keparat itu!"
"Ah, tapi ini perbuatan gegabah, Twako. Kita tak memiliki bukti-bukti apa pun tentang itu. Ini baru dugaan!" Wu Yuan membelalakkan matanya. "Dan lagi, tak ingatkah kau peristiwa beberapa waktu yang lalu? Kau sendiri menceritakan kalau selir itu amat cerdik dan berbahaya. Kau malah dituduh sewaktu menuduhnya melakukan pemborosan dengan membangun istana-istana baru!"
Menteri Wu tersentak. Dia ingat ini, tertegun dan menjublak. Sambil menarik napas dan mengepal tinjunya, pembesar ini mendesis, "Benar, Sri Baginda tak lagi ramah kepadaku, Adik Yuan. Jangan-jangan laporanku ini pun bakal mencelakakan diriku sendiri. Bagaimana sebaiknya?"
Wu Yuan menjentikkan jarinya. "Sebaiknya kita culik saja selir itu, Twako. Kita lihat bagaimana reaksi Kaisar kalau selir itu kita culik!"
"Dan kita bunuh?"
"Tidak. Kita hanya menculiknya dulu, Twako. Kalau reaksi Baginda tak begitu keras, barulah kita bunuh selir keparat itu!"
"Baik, dan siapa yang akan melaksanakan tugas ini?"
"Pembantuku, Twako, Hui-pian Siang-houw (Sepasang Harimau Pian Terbang) yang dapat kusuruh menculik selir itu."
Wu-taijin setuju. Tapi ingat bahwa selir itu tinggal di kaputren dan tempat itu dijaga putri-putri Ok-ciangkun, tiba-tiba dia pun mengerutkan kening.