Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 17

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 17

"Plak!" Keduanya tergetar, masing-masing terdorong mundur.

Pek Hong yang melihat siapa yang muncul tiba-tiba mengeluh girang, "Suhu...!" Pendatang baru itu tersenyum menyeringai. Dia adalah seorang hwesio, mukanya bulat dan kepalanya gundul.

Melihat lawan tergetar mundur dan dia sempat menyelamatkan nyawa nyonya muda ini, sang hwesio pun menggerakkan tangannya membebaskan totokan.

"Siapa musuhmu ini, Pek Hong?" tanya hwesio itu. Nyonya muda itu melompat bangun. Ia nyaris binasa di tangan lawan, tubuhnya masih gemetar dan matanya terbelalak pucat.

Nyonya muda yang marah ini berseru, "Dia So-beng, Suhu. Datang dan hendak membunuh teecu tanpa kuketahui sebab-sebab yang jelas!"

Si hwesio tertegun. Dia mengangkat keningnya, heran. Hwesio pendek yang tak lain adalah Ta Bhok Hwesio itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan bersikap tenang.

"So-beng, betulkah kau hendak membunuh murid pinceng tanpa alasan yang jelas? Siapa kau?"

Iblis berkepala merah ini melangkah mundur. Mukanya sedikit berubah, terlihat dari matanya yang berputar terkejut. Namun, sambil tertawa mengejek, tiba-tiba dia menjawab dingin, "Ya, aku ingin membunuh muridmu, Ta Bhok Hwesio. Dia berutang nyawa padaku belasan tahun yang silam!"

"Eh, kau sudah mengenalku?" Ta Bhok Hwesio terbelalak, terkejut bahwa lawan sudah mengenal dirinya.

Namun, So-beng yang bersikap dingin itu menjengek, "Aku sudah mengenalmu belasan tahun yang lalu, keledai gundul. Tak perlu kau bertanya seperti orang tolol!"

"Omitohud, kalau begitu siapa kau ini?"

"Hm, aku So-beng adalah So-beng, Ta Bhok Hwesio. Tak perlu kau banyak cakap menanyaiku!"

"Wah, jadi pinceng menghadapi musuh gelap?"

Iblis Penagih Jiwa tertawa mengekek. Dia tak menjawab. Pek Hong yang gemetar karena marah tiba-tiba menerjang ke depan, "Suhu, dia siluman misterius. Sebaiknya kita robohkan dia dan lihat siapa muka di balik kedok kulit itu!"

So-beng menangkis. Dia membuat Pek Hong terpental dan hampir roboh dengan pukulan uap merah. Ta Bhok Hwesio yang kaget melihat kehebatan iblis ini sekonyong-konyong bergerak ke depan.

"Pek Hong, mundur...!"

Nyonya muda itu melompat mundur. Dia melihat gurunya sudah berhadapan dengan iblis berkepala merah itu. Ta Bhok Hwesio yang tercengang serta terkejut melihat uap merah ini langsung bertanya, "Kau mahir memainkan Ang-in Tokciang, So-beng? Kau berasal dari Thian-tok (India)?"

Iblis ini mendengus, "Aku tak tahu apa itu Thian-tok, keledai gundul. Tapi kalau kau ingin merasakan Ang-in Tokciang-ku, boleh maju bergebrak denganku!"

"Jadi kau benar ahli Ang-in Tokciang?"

"Jangan cerewet. Aku ingin menagih sebuah nyawa lagi di sini. Kau mundurlah...!"

Tapi Ta Bhok Hwesio tentu tak mau diusir begitu saja. Dia tertawa bergelak. Kaget melihat lawan tampaknya lihai, mendadak hwesio ini menjadi gembira. "Wah, sudah lama pinceng tidak melatih otot, So-beng. Kalau kau mau menggebuk pinceng, sungguh aku akan gembira!"

Iblis ini terbelalak. Sambil mengeluarkan suara dari hidung, tiba-tiba dia mengejek, "Boleh, tapi jangan menyesal kalau kau mampus, keledai gundul. Angciang-ku tak mengenal kasihan dalam memilih lawan."

Ta Bhok Hwesio menggeser langkah. Dia menyeringai mendengar ejekan lawannya itu, namun tetap bersikap tenang. Hwesio ini mengebutkan jubahnya lalu tertawa lebar. "Kau tampaknya sombong sekali, So-beng. Mari kita buktikan siapa yang akan roboh, kau atau pinceng!"

Tiba-tiba hwesio ini membentak keras dan melompat ke depan, memukul dada lawan dengan dorongan sinkang.

"Duk!" So-beng menangkis. Dia menggerakkan tangannya menerima pukulan itu. Begitu dua tenaga beradu untuk kedua kalinya, kembali Ta Bhok Hwesio terkejut dan tergetar mundur.

"Wah, kau benar-benar lihai, So-beng!"

Si iblis menjengek, "Kalau tidak lihai, tidak mungkin aku berani melawanmu, keledai gundul. Karena itu, lebih baik kau mundur saja!"

Ta Bhok Hwesio tertawa bergelak. Dia memajukan kaki dengan cepat, menampar dan mendorong kembali dengan pukulan-pukulan sinkang. Begitu terdengar suara "duk-duk" dari dua pasang lengan yang beradu dan saling totok, tiba-tiba saja hwesio ini berseru keras dan memainkan Hongthian-kun miliknya.

Dia melihat lawan benar-benar lihai; tidak cukup hanya dengan mengadu sinkang. Begitu bergerak cepat dengan kedua lengan berputar, tiba-tiba hwesio ini telah berkelebat lenyap dengan pukulan menyambar-nyambar.

"So-beng, hati-hati. Pinceng siap merobohkanmu...!"

So-beng mendengus. Dia diserang secara gencar oleh hwesio ini yang berkelebat memutarinya bagai bayang-bayang setan. So-beng melihat angin pukulan hwesio itu menderu-deru, jauh lebih dahsyat dibanding muridnya. Tiba-tiba dia juga membentak keras dan balas menyerang.

"Keledai gundul, jangan sombong. Kau tak dapat merobohkan aku, hati-hatilah...!"

Begitu dua orang ini bergebrak saling pukul, pertandingan pun menjadi sangat seru. Ta Bhok Hwesio dan lawannya berkelebat sambar-menyambar, masing-masing berusaha mendahului. Namun, pertandingan yang baru berjalan dua puluh lima jurus ini membuat Ta Bhok Hwesio terkejut saat menyadari bahwa lawannya benar-benar tangguh!

Iblis Penagih Jiwa itu mampu mengelak dari semua jurus serangannya, termasuk Honghai-kun yang biasanya hebat itu. Kenyataan bahwa lawan tidak hanya mengelak melainkan mampu pula menghalau semua serangannya dengan sinkang beruap merah membuat hwesio ini mencelos dan terbelalak lebar.

"Wah...!" Ta Bhok Hwesio membatin. "Siapa sebetulnya Iblis Penagih Jiwa ini? Dari mana dia berasal? Melihat ilmu silatnya yang demikian hebat, setidaknya dia adalah tokoh tersembunyi yang selama ini tak dikenal orang! Siapa dia?"

Meski begitu, hwesio itu masih terus menyerang dengan gencar. Dia tak boleh menghentikan serangannya karena itu berarti membahayakan diri sendiri. Saat mereka saling pukul dan menangkis dalam gebrakan cepat, tiba-tiba Iblis Penagih Jiwa itu membentak dan membanting kakinya. "Keledai gundul, robohlah...!"

Ta Bhok Hwesio terkejut. Dia sedang melancarkan serangan dalam jurus Bianglala Menari, sebuah jurus dari ilmu silat Honghai-kun. Serangan itu ditujukan ke pusar lawan dengan sinkang penuh. Namun, saat lawan membentak dan membanting kakinya sambil menangkis, tahu-tahu hwesio ini menjerit kaget ketika lengan lawan membentur dan menggesek kulit lengannya.

"Duk... syut!" Hwesio ini terpekik. Saat itu dia merasakan guncangan dahsyat yang menggetarkan tubuhnya, membuatnya hampir terjengkang. Ketika lengan lawan menggesek lengannya dan mengeluarkan suara mendesis bagai api membakar kulit, sekonyong-konyong hwesio ini berteriak keras saat tubuhnya terpental dua tombak dan kulit lengannya melepuh!

"Ah, pukulan beracun!" Hwesio Tibet itu kaget bukan main. Dia sebenarnya sudah melindungi diri, menjaga kulitnya dari sentuhan uap merah yang menimbulkan rasa gatal itu. Namun, uap merah itu ternyata masih mampu menerobos kulitnya hingga dia merasa seperti dibakar api. Tiba-tiba hwesio ini melengking dan mencabut tasbihnya.

"So-beng, kau keji...!"

Sambil menubruk dan mencengkeram, tahu-tahu hwesio ini telah memutar tasbihnya. Suara gemeretak terdengar saat tasbih itu menyambar lawan, bertubi-tubi menyerang dan menghantam! Namun So-beng tertawa mengejek. Iblis Penagih Jiwa ini mengelak ke sana kemari sambil menyeringai.

Ketika tujuh serangan hwesio Tibet itu luput menghantam angin, iblis ini berseru, "Keledai gundul, lima menit lagi nyawamu terancam! Racun Angciang semakin meresap seiring kau semakin bernafsu menyerangku!"

Ta Bhok Hwesio tak percaya. Dia mengira itu hanya gertakan belaka, ancaman kosong yang tidak perlu diperhatikan. Namun, ketika tiba-tiba lengan kanannya gemetar dan terasa semakin panas bagai dipanggang di atas api, hwesio ini menjadi sangat kaget dan wajahnya berubah. Tasbih di tangan kanannya tiba-tiba menggigil dan hampir lepas saat lengannya diserang rasa nyeri yang melumpuhkan.

Tepat saat dia hendak menghantam leher lawan dengan sambaran tasbih, mendadak hwesio ini menjerit karena urat lengannya kaku dan kram. Begitu dia berteriak dengan muka kaget, tahu-tahu tasbih di tangannya itu lepas dan jatuh ke lantai!

"Haha, bagaimana kataku tadi, keledai gundul?"

Ta Bhok Hwesio pucat sekali. Dia sekarang percaya bahwa ancaman lawan tidak kosong dan dirinya berada dalam bahaya besar. Menyadari lengan kanannya diserang racun hebat, mendadak hwesio itu melompat mundur dan menyambar pedang muridnya, Pek Hong, yang tertegun melihat keadaan gurunya. Begitu pedang disambar, dengan tangan kiri dia membacok lengan kanannya hingga kutung sebatas siku.

"Crak...!" Pek Hong menjerit.

Iblis Penagih Jiwa juga terkejut, tak menyangka akan perbuatan lawannya itu. Namun, hwesio Tibet yang sudah menyelamatkan nyawanya dengan membuntungi lengan kanan itu melempar pedang kembali kepada Pek Hong dan berteriak, "Pek Hong, lari! Bawa anak-anak ke dalam! Biar aku yang menghadapi iblis ini...!"

Pek Hong terkejut. Dia melihat suhunya sudah menotok pangkal lengan untuk menghentikan darah yang menyembur dari buntungan itu. Namun, nyonya muda yang hampir histeris melihat keadaan gurunya itu justru melompat maju menyerang si Iblis Penagih Jiwa.

"So-beng, kau manusia keji...!"

Iblis Penagih Jiwa tertegun. Dia melihat Pek Hong menyerangnya dengan ganas, namun dengan mudah dia mengelak dan menampar pedang di tangan nyonya muda itu.

"Kwan Pek Hong, aku ingin menagih sebuah nyawa di sini... plak!" Pedang Pek Hong terpental ke atas, membuat nyonya muda ini menjerit dan menyerang kembali.

Namun, Ta Bhok Hwesio tiba-tiba melompat ke depan. Dia menendang Pek Hong hingga nyonya itu terpelanting, lalu membentak marah, "Hong-ji, bawa anak-anakmu dulu! Selamatkan mereka...!"

Pek Hong melompat bangun. Ia hendak membantah, tetapi bentakan gurunya yang kedua kali mengenai Sin Hong dan Bi Lan membuat wanita ini sadar dan menangis. Dia melihat gurunya menyerang Iblis Penagih Jiwa itu dengan tangan kiri dan dua kaki yang masih utuh, tampak beringas dan siap mengadu nyawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment