Chapter 170
"Bagaimana cara menculiknya, Yuan-te?" Shi Shih dan temannya itu selalu mendampingi junjungan kita. Mereka tak pernah berpisah kecuali malam ketika mereka sendirian di kaputren. Padahal, kaputren dijaga oleh dua orang putri Ok-ciangkun! Bagaimana ini?"
Wu Yuan tersenyum. "Hal itu sudah kupikirkan, Twako. Saat ini waktu yang paling tepat karena Kui Hoa dan adiknya sedang keluar!"
"Maksudmu mereka meninggalkan pos penjagaannya?"
"Ya, kudengar dua gadis kembar itu menemani pembantu ayahnya ke Ta-pie-san, Twako. Kabarnya Ok-ciangkun mendapat pembantu baru yang amat lihai, yaitu murid si jago pedang Kun Seng yang bernama Kun Houw."
"Oh, pemuda yang malam-malam membuat ribut itu?"
"Benar."
"Tapi ini berarti mencelakakan putri-putri Ok-ciangkun itu, Yuan-te. Salah-salah maksud kita ini bisa mengorbankan sepasang kakak beradik itu!"
Wu Yuan mengerutkan kening. "Tapi ini risiko dari penculikan itu, Twako. Kalau tidak, kita tak akan berhasil menculik selir itu!"
"Baiklah," Wu-taijin menjawab agak berat. "Kuharap saja reaksi kaisar tak begitu keras, Yuan-te. Kalau sampai kakak beradik itu mendapat celaka dalam persoalan ini, biarlah kita anggap mereka sebagai tumbal demi menyelamatkan sri baginda dan seluruh istana!"
Dua orang menteri ini tak banyak bicara lagi. Mereka sudah menentukan sikap dan mengatur rencana untuk menculik Shi Shih dan Ceng Tan. Ketika saat itu tiba dan Hui-pian Siang-houw melaksanakan pekerjaannya, Shi Shih dan Ceng Tan berhasil diculik pada malam yang ditentukan.
Hui-pian Siang-houw tak mendapat banyak kesulitan. Maklum, kaputren dalam keadaan kosong karena Kui Hoa dan adiknya mengejar Kun Houw ke Ta-pie-san. Namun, ketika dua orang laki-laki ini membawa Shi Shih dan Ceng Tan ke tempat persembunyian Wu Yuan, tiba-tiba tanpa disangka-sangka Samkwi muncul.
"Hei, apa yang kalian bawa itu?"
Bentakan mengejutkan ini membuat Hui-pian Siang-houw kaget bukan main. Mereka tersentak dan otomatis membalikkan tubuh, mendapati tiga bayangan wanita cantik setengah umur yang tampak galak meluncur ringan di depan mereka.
Hui-pian Siang-houw yang menjadi marah segera meletakkan korban mereka dan mencabut senjata berupa pian atau ruyung emas. Senjata itu diputar-putar di atas kepala, berdengung dengan suara berkeritik bagai tikus menggerogoti kayu.
"Kalian siapa? Ada apa lancang mencampuri urusan orang lain?" Yang Lauw, orang pertama dari sepasang harimau itu membentak, merasa khawatir sekaligus marah melihat ada orang yang mengetahui perbuatan mereka.
Bi Kwi yang terkekeh dengan tangan bertolak pinggang tiba-tiba balas menghardik. "Tak perlu tahu siapa kami, penculik busuk. Kau telah membawa lari dua orang selir kaisar, bukan? Ayo menyerah, ikat kaki tangan kalian, dan ikuti kami menghadap sri baginda!"
Yang Lauw gusar. Terkejut bahwa orang lain telah mengetahui identitas korban yang mereka culik, ia berteriak dan memutar ruyungnya, lalu menghantam lawan dengan keprukan keras ke arah ubun-ubun. Namun, Bi Kwi mendengus. Begitu ia menggerakkan lengan kirinya ke atas, ruyung tersebut terpental oleh tangkisan telapak tangan terbuka.
"Plak!"
Yang Lauw tergetar. Ia kaget ruyungnya terpental, tetapi orang tertua dari Hui-pian Siang-houw itu segera berkelebat maju dan kembali menyerang. Dengan sengit dan penuh kemarahan, ia menggerakkan ruyungnya bertubi-tubi, menyabet dan membabat lawan yang terpaksa berlompatan ke sana-sini. Ketika Yang Lauw membentak dan ikut pula menggerakkan kakinya menendang, Bi Kwi terdesak mundur.
"Hebat, cecunguk! Ini rupanya lihai juga, Hwa-cici. Dia dapat dijadikan teman berlatih kalau kita ingin memanaskan badan!" Bi Kwi tertawa, meski didesak gencar. Hal itu membuat lawannya terbelalak heran mengapa orang yang sudah terdesak masih bisa tertawa dan memuji.
Yang Lauw yang gusar menggeletarkan ruyungnya, membuat satu gerakan aneh di mana senjata itu terlepas, berputaran, dan terbang mengelilingi lawan bagai ruyung bernyawa. Ketika satu saat Bi Kwi "dipagut" mata ruyung yang tepat mengenai pundaknya, Yang Lauw berteriak gembira.
"Rasakan! Kau tak dapat mengelak lagi, siluman betina. Hui-pian Siang-houw akan mencabut nyawa kalian!"
"Ih!" Bi Kwi terkejut. "Jadi kalian ini Hui-pian Siang-houw? Bagus, jangan sombong, tikus busuk. Aku tak takut menghadapi ruyung terbangmu. Lihat!"
Bi Kwi sengaja memasang tubuh untuk menerima sambaran ruyung yang bertubi-tubi. Ketika satu demi satu mata ruyung terpental seolah membentur tubuh yang terbuat dari karet, Yang Lauw memekik pucat.
"Tiat-po-san (Ilmu Kebal Baju Besi)...!"
"Hi-hik, kau tahu apa tentang ilmu kebal yang kupunyai, manusia rendah? Inilah Hoat-lek-kim-ciong-ko, bukan Tiat-po-san!"
Tak-tak-takkk! Semua benturan ruyung yang berbalik menyambar Yang Lauw membuat laki-laki itu terkejut dan membanting tubuhnya bergulingan sambil berteriak meminta bantuan adiknya. Namun, Bi Kwi mencabut gelang-gelang rahasianya dan menyambitkannya.
"Crep-crep!"
Yang Lauw menggeliat setelah menerima lima gelang kecil yang menancap di tubuhnya. Gelang berwarna merah dan berbau amis itu mengingatkannya akan perkumpulan Gelang Berdarah, perkumpulan yang dulu dipimpin seorang tokoh iblis dari Hekkwi-to. Begitu menyadari hal itu, Yang Lauw merintih dan menudingkan jari telunjuknya dengan gemetar.
"Kau... kau dari Hiat-goan-pang (Perkumpulan Gelang Berdarah)...!" Setelah berteriak, laki-laki itu roboh dan tewas seketika.
"Lauw-ko!" Yang Khi, adiknya, berseru kaget melihat kematian kakaknya yang demikian cepat. Ia mengamuk, mencabut ruyungnya, dan menerjang maju bagai harimau terluka.
Bi Kwi yang siap mengeluarkan gelang rahasianya mendadak diperingatkan kakaknya, Bi Gwat, "Sumoi, jangan bunuh dia. Kita perlu tahu siapa yang menyuruh Hui-pian Siang-houw menculik selir kaisar!"
Bi Kwi mengangguk. Ia tertawa mengejek dan berlompatan cepat mengelak semua serangan lawan. Ketika satu saat ruyung meluncur meleset di mukanya, Bi Kwi menggerakkan dua jarinya menotok siku lawannya.
"Tuk!"
Yang Khi menjerit. Ia merasa sakit bukan buatan, ruyungnya terlepas sementara tubuhnya terhuyung. Saat Bi Kwi menendang, orang kedua dari Hui-pian Siang-houw itu terlempar dan roboh tak berkutik.
"Hi-hik!" Bi Kwi menginjak punggung lawannya. "Apa sekarang yang kau mau, tikus busuk? Kau minta mati atau hidup?"
Laki-laki itu pucat pasi. Ia ingin meronta, tapi tubuhnya tak dapat digerakkan dan punggungnya serasa patah. Ia membentak, "Kau boleh bunuh aku, siluman betina. Hui-pian Siang-houw tidak takut menghadapi kematian!"
"Hm, kau minta mati? Baik, boleh saja. Tapi sebut dulu siapa orang yang menyuruhmu menculik selir kaisar!"
Yang Khi tetap tutup mulut. Ia menggigit bibir kuat-kuat ketika Bi Kwi menambah tenaga injakannya hingga tulang punggungnya berbunyi "krek". Namun, ketika Bi Gwat dan Bi Hwa melompat maju dan menyentuh jalan darah pi-peh-hiatnya, Yang Khi menjerit tak tahan.
"Aduh! Keparat kalian, jahanam kalian!"
Bi Hwa tersenyum. "Kami masih dapat membuatmu merasa sakit yang lebih hebat. Sebaiknya kau katakan saja permintaan kami dan menyerahlah!"
Laki-laki itu memaki-maki, mencoba keras kepala dan tetap bertahan. Namun, ketika Bi Hwa mengeluarkan sebatang jarum dan menyentuhkan ujungnya yang runcing di mata kanannya, laki-laki itu menjadi ngeri.
"Tidak... jangan... jangan coblos mataku...!"
Bi Hwa tersenyum. "Kalau kau menyerah baik-baik, jarum ini tidak akan menancap di bola matamu. Aku masih memiliki sebatang lagi yang boleh ditancapkan di matamu yang lain kalau kau suka. Hi-hik!"
Yang Khi gemetar. Ia sadar bahwa lawan yang dikaitkan dengan Hiat-goan-pang itu benar-benar bukan manusia, melainkan iblis yang dapat mencoblos matanya dengan sikap tenang. Ketika Bi Hwa mulai membuktikan ancamannya, Yang Khi menjerit dan mengeluh.
"Tidak... jangan... aku mengaku!"
"Bagus," Bi Hwa tertawa. "Cepat katakan siapa orang yang menyuruhmu ini!"
Laki-laki itu terpaksa bicara. Dengan muka pucat dan suara tersendat, ia menyebutkan bahwa Menteri Wulah yang menyuruhnya menculik Shi Shih. Begitu Samhek-bi-kwi mengetahuinya, Bi Hwa terkekeh.
"Bagus, terima kasih, orang budiman. Kau memang baik hati... crep!"
Bi Hwa menusukkan jarum panjangnya ke mata lawan, disambut pekik ngeri yang menyayat hati. Orang kedua dari Hui-pian Siang-houw itu berkelojotan karena jarum menembus hingga ke otaknya. Setelah beberapa erangan saat sakratul maut, laki-laki itu akhirnya tak bergerak lagi dan tewas.