Chapter 171
Tewas!
Bi Hwa tertawa. Ia mencabut jarumnya, lalu berdiri dan menendang mayat Hui-pian Siang-hoaw. Setelah membersihkan jarum maut itu, ia menyimpannya dengan tenang. Melihat Shi Shih tergeletak pingsan, ia pun melompat mendekati selir cantik itu dengan perasaan kagum dan terpesona.
"Hebat, ini rupanya selir baru yang diberitakan orang itu, suci. Dia memang cantik dan menggairahkan sekali. Tak heran kalau kaisar mencintainya setengah mati!" Bi Gwat tersenyum. Ia kemudian melompat mendekati Ceng Tan yang tergolek di sisi madunya. Memandang sumoinya, ia menyambar selir kedua itu dan berkata, "Tak salah lagi. Kita mendapat keberuntungan besar dengan menyelamatkan selir-selir Sri Baginda, Hwa-moi. Tentu Sri Baginda akan berterima kasih sekali dan memberi kita hadiah lumayan. Ayo, ke istana!"
Bi Hwa mengangguk. Bersama Bi Kwi, ia berkelebat meninggalkan tempat itu untuk menghadap kaisar. Mereka segera melaporkan kejadian tersebut sambil membawa bukti dua orang selir yang pingsan dibius. Mengingat kaisar mengenal ketiga wanita ini—karena dulu kaisar pernah bernaung atau bersahabat dengan perkumpulan Gelang Berdarah—kedatangan mereka langsung menggegerkan istana.
Kaisar terkejut, marah, dan gusar bukan kepalang. Ketika Shi Shih disadarkan dan mengaku bahwa mereka dibius oleh dua orang laki-laki yang tidak lain adalah Hui-pian Siang-hoaw, kemarahan kaisar mencapai puncaknya. Ia tahu siapa Hui-pian Siang-hoaw; mereka adalah orang kepercayaan atau pembantu Wu Yuan, menteri yang menjabat sebagai kepala rumah tangga istana. Karena bukti tidak dapat disangkal lagi dan perbuatan ini tertangkap basah, saat itu juga Wu Yuan dipanggil menghadap.
Menteri itu dimaki-maki, bahkan kaisar hampir menyuruhnya untuk dibunuh. Namun, Wu Cu Shu yang juga menghadiri sidang kilat tersebut memohonkan ampun. Sebenarnya, Wu Cu Shu bersiap melindungi saudaranya itu, bahkan siap pula menerima hukuman bersama. Karena mereka berdualah yang sesungguhnya mengatur semua kejadian itu. Namun, ketika dengan isyarat tertentu yang amat rahasia saudara sepupunya itu meminta agar semua kesalahan ditimpakan kepadanya saja, menteri yang tertegun ini terpaksa menerima. Terlebih lagi, mereka sudah saling berjanji setelah bertemu malam harinya usai tewasnya Hui-pian Siang-hoaw.
"Kita tertangkap, Shu-twako. Pekerjaan yang dilakukan Hui-pian Siang-hoaw gagal!" Itulah ucapan pertama ketika saudara sepupunya itu datang.
Wu Cu Shu yang kaget segera membelalakkan mata dengan wajah berubah. "Siapa yang menggagalkannya?" suara menteri ini serak, hampir tak terdengar.
Wu Yuan menceritakan kejadiannya dengan tergesa-gesa; bahwa ia diam-diam mengintai semua kejadian di belakang rumahnya dan melihat betapa Samkwi muncul lalu membunuh utusannya itu. Karena semuanya tertangkap basah, tak ada jalan lain bagi mereka untuk melarikan diri.
"Karena itu, kuminta padamu, Shu-twako. Karena Hui-pian Siang-hoaw adalah orang kepercayaanku, biarlah semuanya ini aku yang bertanggung jawab. Kaisar tentu marah, dan aku siap menerima hukumannya."
"Tidak!" Menteri Wu mengepalkan tinjunya. "Aku tak mau berkhianat, Yuan-te. Meskipun Hui-pian Siang-hoaw orang kepercayaanmu, yang mengatur semuanya ini adalah kita berdua. Biar kita berdua pula yang mengakui perbuatan ini!"
"Jangan," sang adik menggeleng. "Kalau kita berdua yang menerima hukuman, maka perjuangan kita terhenti, Twako. Tak ada lagi yang meneruskan dan menghadapi selir berbahaya itu. Kau harus diam saja dan jangan ikut campur; ini akan kupikul sendiri!"
Wu Cu Shu menolak dengan sengit, namun ketika perdebatan memuncak, istri Wu Yuan muncul sambil menangis melerai mereka. "Sudahlah, ini adalah risiko perjuangan, Shu-twako. Aku telah tahu apa yang kalian rencanakan. Suamiku benar, sebaiknya salah seorang di antara kalian yang mengakui perbuatan ini sementara yang lain meneruskannya untuk menghadapi selir itu. Tak boleh kalian berdua sama-sama menerima hukuman!"
"Kalau begitu, aku saja yang menerimanya, Hujin. Aku saudara tua wajib mengalah pada yang lebih muda!" Wu Cu Shu masih emosi, mengucapkan kata-katanya dengan gagah.
Namun, Wu Yuan menggoyangkan lengannya. "Tidak, kedudukanmu lebih penting daripada aku, Twako. Kau yang mengatur roda pemerintahan selama ini. Kalau kau tertangkap, tentu roda pemerintahan akan dijalankan orang lain dan itu lebih berbahaya. Apalagi kalau selir itu ikut campur, memasang orangnya untuk menggantikan dirimu."
Wu Cu Shu tersentak oleh kata-kata saudaranya. Ia tertegun dan seketika menghentikan debatnya. Menyadari bahwa apa yang dikatakan saudaranya itu benar, dengan berat hati menteri ini menerima. Ia menangis dan memeluk sepupunya itu.
Ketika beberapa saat kemudian kaisar memanggilnya untuk mempertanggungjawabkan penculikan itu, menteri ini mengikuti persidangan dan berusaha membela. Wu-taijin berhasil; ia bersusah payah mengajukan argumentasi untuk meringankan hukuman, termasuk bersedia menggantikan tanggung jawab saudaranya. Karena kegigihan menteri ini, kaisar akhirnya meringankan hukuman dengan mengenakan sanksi administratif. Wu Yuan dipecat dan dimutasi; tidak lagi menjabat sebagai kepala rumah tangga istana, melainkan menjadi gubernur di Provinsi Kwangtung, jauh di luar kota raja. Secara tidak langsung, ia "ditendang" dari istana. Mengingat jasa-jasa Wu Cu Shu terhadap roda pemerintahan, bekas kepala rumah tangga kaisar itu dipindah dalam waktu 24 jam.
Wu Cu Shu dan Wu Yuan lega. Kaisar berhasil diredakan kemarahannya dengan pengertian bahwa penculikan Shi Shih belum sampai pada tahap pembunuhan, melainkan sekadar melepas kejengkelan dan rasa iri. Ketika usahanya berhasil, bekas kepala rumah tangga istana itu merasa lolos dari maut. Karena tidak ada waktu lagi untuk melepas perasaan hati, dua kakak beradik itu berpisah. Wu Cu Shu tidak mengantar sepupunya, kecuali menitipkan sepucuk surat agar saudaranya berhati-hati.
Setelah Wu Yuan berangkat, menteri tua ini tinggal seorang diri. Rakyat awam menganggap kejadian itu semata-mata kesalahan Wu Yuan. Tak ada yang mengira bahwa Wu-taijin (Wu Cu Shu) terlibat, padahal sebenarnya menteri tua ini diam-diam ingin membunuh Shi Shih, selir yang dirasa akan membahayakan negara.
Seminggu kemudian, kaisar mengangkat Menteri Po Phi sebagai kepala rumah tangga kaisar. Sekali lagi, menteri tua ini tertegun. Ia melihat bahwa apa yang dikatakan saudaranya benar; Shi Shih "menanamkan" orang-orangnya untuk menduduki jabatan penting, karena Po Phi adalah antek selir yang cerdik itu dan orang yang cukup dekat dengannya.
Membayangkan bahwa ia hampir terseret emosi untuk mengaku bersama, menteri tua itu terhenyak. Seandainya kaisar membunuh atau mengusirnya, tentu Po Phi akan menggantikannya, mengatur roda pemerintahan, dan bekerja sama dengan Shi Shih—sebuah kerja sama yang akan merusak negara dan menambah kebobrokan kas negara.
Mengingat betapa benarnya kata-kata saudaranya, menteri ini mencucurkan air mata. Ia sedih dan amat berduka memikirkan nasib junjungannya. Namun, karena semuanya telah berlalu, Wu-taijin hanya bisa menghela napas dalam. Sebulan dua bulan kemudian, melihat Shi Shih dan temannya gencar "memelet" para pembesar istana, menteri ini hanya bisa mengeluh dan kembali menangis. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan selir cantik itu. Namun, karena yang "dipelet" adalah orang-orang istana sendiri, Menteri Wu Cu Shu tidak berkutik. Ia geram, namun tidak dapat melampiaskan kemarahannya.
Berminggu-minggu digerogoti perasaan yang tumpang tindih, menteri ini jatuh sakit. Wu Cu Shu menahan beban mental yang berat. Ia merasakan ada sesuatu yang amat berbahaya sedang dilakukan selir cantik itu, sesuatu yang tidak diketahuinya kapan akan "meletus". Karena hal ini mengganggu pikirannya dan ia tidak dapat menjebak selir itu, menteri setia yang sudah tua ini jatuh sakit hingga tubuhnya yang rapuh semakin digerogoti usia.
Ketika penyakitnya semakin memberat, ia memanggil putranya, Wu Hap. "Hap-ji, kukira ajal ayahmu tak lama lagi."