Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 172

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 172

"Maukah kau memenuhi pesanku?" Wu Hap, pemuda pendiam yang akhir-akhir ini murung melihat keadaan ayahnya, mengangguk.

Dia mengusap dua butir air mata yang jatuh di pipi, lalu dengan gemetar memandang sang ayah. Pemuda ini mencoba menghibur, "Kau tak perlu bicara seperti itu, Ayah. Kematian dan segala sangkut-pautnya ada di tangan Tuhan."

"Benar, tapi... ugh!" Menteri itu terbatuk-batuk. "Usiaku semakin tua, Hap-ji. Tanpa digerogoti penyakit pun tentu umurku tak panjang lagi. Maukah kau memenuhi permintaanku?"

"Boleh kau katakan, Ayah. Tapi kalau kau lelah, biar nanti saja. Aku dapat bersabar."

"Tidak... tidak...!" Menteri itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Aku ingin berpesan padamu, Hap-ji. Kalau ajalku tiba, sebaiknya kau pergi ke rumah sahabatku di Chi-ih. Carilah Tong Hing Lam yang membuka perusahaan piauw-kiok (ekspedisi barang) di sana. Temui pula pamanmu, Wu Yuan. Aku, ugh...!"

Wu-taijin kembali terbatuk-batuk. Dia menghentikan kata-katanya, dan Wu Hap yang terbelalak memandang sang ayah tiba-tiba menangis. "Ayah, sebaiknya kau tenangkan diri. Aku pasti memenuhi permintaanmu. Tapi kita pergi ke sana bersama, bukan hanya aku seorang. Kau pasti sembuh!"

"Ah, penyakit begini mana bisa sembuh, Hap-ji? Kalau sembuh pun, tentu penyakit di hatiku tak dapat lenyap. Ini semua gara-gara selir siluman itu. Jahanam dia...!"

Wu Hap tersedak. Dia tak tahan melihat wajah ayahnya yang penuh kebencian terhadap Shi Shih, selir baru yang cepat menjadi buah bibir istana karena kepiawaiannya menundukkan Kaisar. Selir itu berpengaruh, cerdik, dan amat cerdas. Karena saban hari mendengar ayahnya menunjukkan ketidaksenangan terhadap selir itu, Wu Hap pun tahu apa yang sebenarnya tersimpan di hati sang ayah. Wu Hap tentu saja membela ayahnya dan ikut menaruh benci pada selir cantik itu.

Sementara ayahnya terbatuk-batuk sambil mengepalkan tinju, mendadak sebuah bayangan berkelebat memasuki kamar.

"Heh-heh, kenapa bicara tentang kematian kalau ajal masih jauh, Wu-taijin? Aku bisa menolongmu. Penyakitmu dapat kusembuhkan!"

Wu Hap terkejut. Dia melihat seorang kakek tua berdiri di sana, tangannya memegang buli-buli (tempat arak) sambil meminum isinya. Dia adalah kakek tak dikenal. Wu Hap yang terkesiap kaget langsung melompat bangun dan membentak, "Orang tua, kau siapa?"

"Heh-heh, aku Lo-ciu (Arak Tua), Wu-kongcu. Aku guru Hui Pian Siang Houw yang tewas terbunuh itu!" Kakek ini tertawa, menggoyang buli-bulinya, dan melangkah lebar mendekati pembaringan Wu-taijin yang terbelalak memandang kakek itu dengan rasa tidak percaya dan curiga.

Namun, setelah Lo-ciu menunjukkan cincin bermata hijau sebagai tanda utusan adiknya (Wu Yuan), barulah menteri ini tersentak dan gembira bukan main. "Ah, kau utusan saudaraku, Lo-cianpwe? Kau datang dari Provinsi Kwang-tung?"

"Benar, aku datang secara rahasia, Taijin. Gubernur Wu menyuruh aku ke sini untuk menyembuhkan sakitmu. Dia telah mendengar keadaanmu dan ikut cemas."

Wu-taijin girang. Dia turun dari pembaringan dan menyambut kakek ini dengan mata berseri. Begitu mendengar kakek ini adalah utusan adiknya, secara aneh Wu-taijin merasa sembuh setengah bagian. Dengan gembira dan penuh harap, dia mendengar cerita kakek itu tentang keadaan saudaranya di Provinsi Kwang-tung yang ternyata baik-baik saja.

Ketika Lo-ciu mulai mengobati penyakitnya, dalam beberapa hari saja Wu-taijin sembuh. "Ah, kau benar, Lo-cianpwe. Penyakitku sembuh dalam sekejap mata saja! Kiranya kau juga seorang ahli pengobatan?"

"Heh-heh," kakek itu tertawa. "Sedikit-sedikit aku tahu arti penyakit, Taijin. Dan untuk penyakitmu itu, aku tahu obatnya. Kau hanya perlu menenangkan hati dan pikiran!"

"Benar, tapi kalau setiap hari melihat hal-hal yang membuatku sakit hati, mana mungkin aku tak menderita, Lo-cianpwe? Ini semua gara-gara..."

"Gara-gara selir baru itu, bukan?" si Arak Tua memotong, matanya berkilat. "Aku telah mendengar semuanya itu, Taijin. Aku tahu kenapa kalian berdua sampai gagal. Gubernur Wu telah menceritakannya secara lengkap kepadaku!"

Wu-taijin mengangguk. "Memang benar. Apa rencana saudaraku sekarang ini, Lo-cianpwe? Kau membawa tugas lain selain menyembuhkan aku?"

"Ya, aku si tua ini ingin mencari Sam-hek Bi-kwi, Taijin. Aku ingin membalas kematian muridku pada tiga wanita iblis itu!"

"Hm, tapi Sam-kwi sekarang menjadi pengawal istana, Lo-cianpwe. Maksud hatimu terlalu berbahaya dan dapat mencelakakan dirimu sendiri. Sebaiknya bersabar dulu. Kau tinggal di sini untuk menjadi perantara di antara kami."

"Aku tahu. Gubernur Wu juga menyatakan demikian, Taijin. Mengingat hubungan mendiang dua orang muridku, aku menyanggupkan diri membantu kalian. Percayalah, aku juga tak senang pada selir baru itu karena gara-gara mereka, dua orang muridku terbunuh!"

Wu-taijin menghela napas. Kembali menyebut nama selir itu membuat hatinya sakit, geram, dan marah. Akhirnya, setelah cukup bergaul beberapa minggu dan mengenal baik kakek ini, Wu-taijin timbul pikiran untuk menyuruh putranya berguru pada kakek penggelogok arak itu.

"Hap-ji, kulihat kakek ini cukup lihai. Bagaimana kalau kau menjadi muridnya?"

Wu Hap mengangguk. "Boleh. Aku memang tertarik padanya, Ayah. Tapi bagaimana dengan kakek itu sendiri, maukah dia menerima aku sebagai muridnya? Maklum, aku tak pernah belajar silat, Ayah. Jangan-jangan aku dianggapnya terlalu tua dan tak berguna!"

Sang ayah optimis. "Tidak, kurasa Lo-ciu tak keberatan, Hap-ji. Asal kau berlatih sungguh-sungguh, tentu kau akan pandai pula menjaga dirimu. Sebaiknya Arak Tua itu kita panggil!"

Lo-ciu sudah menghadap. Dia tertawa ketika Wu-taijin menyatakan maksud hatinya, lalu mengangguk setuju tanpa banyak bicara. "Boleh, aku melihat tulang-tulang puteramu ini cukup baik, Taijin. Tapi apakah aku cukup berharga menjadi gurunya, biarlah kita lihat bersama!"

Hari itu juga Wu Hap diambil menjadi murid. Dia mulai diajar silat di bawah bimbingan kakek tua ini. Karena hubungan mereka kian akrab, sebentar saja si Arak Tua ini sudah dianggap keluarga sendiri oleh Wu-taijin. Pembesar ini semakin gembira karena merasa mendapat bantuan moral.

Karena Lo-ciu sering mondar-mandir dari kota raja ke Provinsi Kwang-tung, hubungan yang semula putus antara Wu-taijin dan Wu Yuan dapat tersambung kembali. Maklum, sejak peristiwa itu, Wu Cu Shu tak berani mendekati adiknya karena khawatir akan sorotan tajam orang-orang istana.

Ketika si Arak Tua ini menjadi jalan keluarnya, rencana mereka yang sempat kandas untuk menghancurkan Shi Shih kembali disusun. Mereka tidak tahu betapa diam-diam lawan telah mencium semua gerak-gerik ini, mengikuti tindak-tanduk menteri tua itu hingga ke rencana yang sekecil-kecilnya. Saat Wu Cu Shu mengadakan "kontak" dengan adiknya, saat itu pula lawan siap menjebaknya dengan muslihat yang cerdik.

Agaknya kita perlu melihat kembali keadaan Kun Houw dan meninggalkan konflik batin Wu-taijin. Beberapa waktu yang lalu, Kun Houw dibawa oleh tiga orang Sam-kwi untuk pengobatan. Benarkah demikian? Sebagian memang benar. Kun Houw dibawa ke kamar Bi Kwi, orang termuda dan tercantik di antara tiga bersaudara itu.

Ketika Kun Houw dibawa masuk, Bi Kwi benar-benar memberikan pengobatan. Pemuda itu diletakkan di atas pembaringan dalam keadaan masih pingsan. Saat Bi Kwi melepas baju pemuda ini, hal pertama yang dilakukan wanita itu adalah... bersiul.

"Fui, hebat pemuda ini, Suci. Dia memiliki dada yang bidang dan kulit yang putih bersih!" Bi Hwa tertawa. Dia juga melihat itu dan bergairah memandang dada telanjang Kun Houw yang lebar, tegap, dan berotot.

Namun, Bi Gwat mendengus dan memperingatkan dengan serius, "Jangan main-main. Putri tertua Ok-ciangkun itu rupanya jatuh hati pada pemuda ini, Sam-moi (adik ketiga). Sebaiknya kita tolong dia dan sadarkan lebih dulu!"

Bi Kwi mengangguk. Ia tersenyum penuh arti, tertarik dan bangkit nafsunya melihat keadaan Kun Houw. Sambil menempelkan lengan di dada pemuda ini, Bi Kwi berseru pada kakaknya, "Ji-ci, sebaiknya kau bantu aku menyalurkan sinkang di belakang punggungnya. Pemuda ini luka parah menerima pukulan mukjizat!"

"Ya, katanya Pendekar Gurun Neraka sendiri yang melukainya, Sumoi. Berarti dia terkena Pukulan Inti Petir itu. Lihat, dada kanannya gosong dan bahu pundaknya hancur!"

Mereka semua terbelalak. Diam-diam kekaguman besar memancar di hati tiga wanita ini melihat betapa Kun Houw mampu menerima pukulan Pendekar Gurun Neraka yang amat dahsyat. Melihat Kun Houw dapat bertahan dan tidak tewas menerima pukulan Petir itu, Sam-hek Bi-kwi menjadi kagum.

Bi Kwi menyalurkan sinkangnya dengan menempelkan lengan di dada Kun Houw, sementara Bi Hwa menyalurkan sinkang di punggung Kun Houw dengan memiringkan tubuh pemuda itu. Sebentar saja, mereka mulai bekerja membantu penyembuhan.

Tiba-tiba Bi Kwi terkejut. "Wah, sinkangku bertemu hawa sakti yang bergolak dari pusarnya, Cici. Apakah sinkangmu membentur hawa mukjizat ini?"

"Ya," Bi Hwa ikut terkejut. "Aku merasakan daya dorong yang menolak balik sinkangku, Sumoi. Agaknya pemuda ini sudah memiliki sinkang otomatis yang siap menyerang lawan kalau dia diserang, dalam keadaan tidur sekalipun!"

Bi Kwi mengangguk. Dia terheran-heran karena sinkangnya ditolak oleh hawa sakti yang bergolak dari pusar pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment