Chapter 173
Melihat betapa secara otomatis *sinkang* pemuda itu melindungi tuannya, mereka mengira sedang diserang. Namun, setelah Bi Kwi menyesuaikan diri dan justru mengikuti arus *sinkang* di tubuh Kun Houw, tolakan itu berhenti dan dapat diajak "bersahabat".
Bi Kwi tertegun. "Hebat, pemuda ini memiliki *sinkang* luar biasa, Cici. Rupanya itulah yang dimaksud Ok Ciangkun sebagai Tenaga Ular di kundalini saktinya!"
"Ya, rupanya secara aneh pemuda ini telah melatih *sinkang* yang dahsyat, Sumoi. Mengherankan benar bagaimana dalam usianya yang semuda ini dia berhasil memiliki *sinkang* Tenaga Ular!"
"Warisan mendiang gurunyakah?"
"Tak mungkin. Jago pedang itu tak memiliki *sinkang* macam ini, Sumoi. Ok Ciangkun sendiri curiga, jangan-jangan pemuda ini mendapatkan *sinkang*-nya dari orang lain, seorang tokoh sakti. Tapi siapa?"
Kalau Pendekar Gurun Neraka, jelas tak mungkin. Tentu orang lain yang tak mereka kenal atau... Bi Hwa tertegun. "Pedang Medali Naga!"
Samkwi terkejut. Mereka teringat akan kabar bahwa Kun Houw memiliki pedang pusaka itu. Sebuah pedang yang tidak mereka lihat, dan mereka baru sadar bahwa Kui Hoa memberikan Kun Houw kepada mereka tanpa pedang keramat tersebut. Bi Kwi membelalakkan matanya lalu mendesis, "Benar, dan Pedang Medali Naga tak ada di tubuh pemuda ini, Ji-ci. Mungkin saja Kun Houw mendapatkan tenaga saktinya itu dari warisan pedang keramat."
"Mungkin saja." Bi Hwa berkilat penuh gairah. "Mungkin saja pemuda ini mendapatkan tambahan ilmunya dari pedang yang luar biasa itu, Sumoi. Tapi benarkah Pedang Medali Naga menyimpan petunjuk tentang melatih tenaga sakti?"
"Tidak," Bi Gwat kali ini bicara. "Aku tak mendengar kehebatan pedang itu selain ketajamannya. Pedang Medali Naga bukan pedang yang menyimpan petunjuk-petunjuk tentang ilmu silat. Aku tahu itu!"
"Kalau begitu, dari mana pemuda ini memiliki *sinkang* demikian dahsyat? Dia mampu menahan pukulan Petir yang dimiliki Pendekar Gurun Neraka!"
"Entahlah," Bi Gwat menggelengkan kepalanya. "Ini rahasia yang hanya diketahui pemuda itu sendiri, Sumoi. Kalau ingin tahu, tentu saja kita harus menyadarkannya."
Bi Hwa dan adiknya mengangguk. Mereka mempercepat proses penyembuhan dengan *sinkang* itu, semakin tertarik dan kagum memandang Kun Houw. Ketika beberapa lama kemudian Kun Houw mengeluarkan keluhan perlahan, Bi Kwi melepas telapaknya dan berseru girang, "Dia sadar!"
Bi Gwat dan Bi Hwa mengangguk. Mereka melihat Kun Houw membuka matanya. Bi Hwa melepas telapaknya dari punggung pemuda itu lalu melompat turun dengan muka berseri, "Anak muda, bangunlah!"
Kun Houw merasa sedang bermimpi. Dia tak segera tahu apa yang terjadi; kesadarannya masih setengah melayang. Namun, ketika beberapa detik kemudian dia ingat akan pertempurannya dengan Pendekar Gurun Neraka dan pukulan dahsyat yang mengenainya, Kun Houw mencelat bangun dan langsung menghantam Bi Hwa yang berada paling dekat dengannya.
"Hait!" Bi Hwa kaget bukan main. Dia terkesiap oleh serangan yang tak terduga itu. Namun, melihat lawan menghantam dan tak mungkin mengelak, Bi Hwa membentak dan mendorongkan lengan kanannya.
"Dess!"
Bi Hwa terlempar. Orang kedua dari Sam Hek-bikwi ini menjerit, mencelat menghantam pintu hingga pecah berantakan. Dia kaget oleh kedahsyatan *sinkang* lawan yang mengangkat tubuhnya demikian ringan, seolah belalai gajah membantingnya di lantai kamar.
Ketika Bi Hwa terguling-guling dan dua saudaranya berseru kaget, Kun Houw baru sadar bahwa yang diserang bukanlah istri Pendekar Gurun Neraka, Ceng Bi, wanita cantik dan galak yang disangkanya berdiri di sampingnya tadi. Kun Houw terkejut melihat Bi Hwa terguling-guling, dia tertegun dan menjadi bengong. Apalagi ketika melihat Bi Kwi dan Bi Gwat yang tidak dikenalnya, dua wanita cantik yang asing baginya.
Bi Hwa yang gusar oleh serangan Kun Houw segera melompat bangun dan memaki, "Bocah keparat, beginikah balas budimu kepada orang yang menyembuhkanmu? Kau kurang ajar, tak tahu aturan!"
Kun Houw menjublak. Dia sekarang melihat jelas tiga wanita setengah umur ini. Setelah ingatannya bekerja penuh, dia terkejut dan melompat mundur. "Maaf, siapa kalian?"
Bi Kwi mendahului kakaknya, "Kami Samkwi, Kun Houw. Aku dan Enciku nomor dua itulah yang menyembuhkanmu!"
Kun Houw tercekat. Dia merasa tubuhnya memang telah sehat kembali, segar, dan lenyap pengaruh pukulan Pendekar Gurun Neraka yang dahsyat itu. Dia heran tiga wanita cantik ini mengenalnya. "Kalian tahu namaku?"
Bi Kwi tersenyum. "Tentu saja. Kita bukanlah orang lain, Kun Houw. Lagi pula, siapa tak mengenal mendiang gurumu yang lihai itu? Si jago pedang Kun Seng adalah sahabat dan teman akrab kami. Kita adalah orang-orang sendiri!"
Kun Houw tertegun. Dia tak percaya begitu saja, namun melihat orang telah menyembuhkannya dari pukulan Pendekar Gurun Neraka yang membuatnya hampir tewas, dia tidak enak hati untuk menaruh curiga. Dia pun memberi hormat. Melihat Bi Hwa mendelik padanya, Kun Houw buru-buru menyatakan penyesalannya, "Maaf, terima kasih untuk pertolongan kalian, Sam-hek-bikwi. Tapi di mana dua orang temanku yang ikut bersamaku? Di mana aku kini?"
"Hi-hik, kau maksudkan dua gadis kembar putri Ok Ciangkun itu, Kun Houw? Mereka sudah dipanggil ayahnya. Kau berada di tempat Ok Ciangkun sekarang."
Kun Houw terkejut. Dia melihat tiga wanita itu memandang penuh kagum kepadanya, terutama ke arah dadanya yang telanjang. Kun Houw yang jengah segera menyambar bajunya di atas meja. Namun, Bi Kwi menahan baju itu dan menyerahkan baju baru yang diambil dari lemari. Sambil memandang genit, dia berkata, "Sebaiknya kau buang bajumu yang lama itu, Kun Houw. Pakai saja baju baru ini dan buang baju yang sobek-sobek itu!"
Kun Houw tak dapat menolak. Dia menerima baju itu. Bi Kwi sempat membantu memasangkannya dengan sikap centil yang membuat wajah Kun Houw semburat merah. Ketika baju sudah melekat, tanpa diminta, Bi Kwi mencubit dagunya dan berseru genit, "Ih, tampan kau, Kun Houw. Tak heran kalau Kui Hoa jatuh hati padamu!"
Kun Houw melangkah mundur. Dia kaget dan marah oleh sikap yang dianggapnya "berani" ini, tapi mengingat mereka telah menyembuhkannya, dia menahan diri. Tiba-tiba pintu diketuk.
"Sam-wi-niocu, Ciangkun mengundang kalian untuk jamuan malam!"
Bi Kwi mendesah kecewa oleh gangguan ini, tapi kakaknya yang ingat akan sesuatu segera berkelebat keluar. "Benar, kita dijanji untuk ke sana, Sumoi. Ayo bawa pemuda ini menghadap Ok Ciangkun!"
Bi Hwa segera mengikuti kakaknya. Bi Kwi yang sendirian bersama Kun Houw tiba-tiba menyambar lengan pemuda itu dan menggandengnya tanpa malu-malu. "Kun Houw, ayo kita menerima undangan Ok Ciangkun ini. Ada sebuah berita penting untuk kita ketahui!"
Kun Houw kembali berusaha mengelak. Dia kurang kenal siapa tiga orang wanita ini. Ketika Bi Kwi mengempit lengannya dan wanita itu terkekeh genit, dia melepaskan diri tanpa ragu. "Maaf, biarkan aku berjalan sendiri, Niocu! Jangan membawaku seperti ini."
Bi Kwi terbelalak. Dia mau marah, tapi melihat Kun Houw memandangnya tak senang dengan sorot mata yang tak takut kepadanya, wanita ini justru terkekeh. "Bagus, kau memang pemuda yang hebat, Kun Houw. Rupanya tak sia-sia Ok Ciangkun mengambilmu sebagai pembantu. Ayolah, kita ke sana!"
Kun Houw mengangguk. Dia mengikuti wanita itu dari belakang. Ketika tiba di ruangan luas dan melihat banyak orang berkumpul di depan meja besar yang penuh makanan dan arak, Kun Houw berhenti mendadak. Dia membelalakkan matanya melihat Hun Kiat dan Mayat Hidup ada di situ!
Kun Houw gemetar, mulutnya terkatup rapat, dan dia mogok tak mau maju.
"Eh, kenapa kau, Kun Houw? Ada apa?" Bi Kwi ikut berhenti, terbelalak memandang temannya hingga semua orang menoleh.
Ok Ciangkun melihat kedatangan mereka dan bangkit dari kursinya, "Kun Houw, kemarilah. Duduk dan bersikaplah biasa kepada para pembantuku ini. Mereka adalah kawan!"
Kun Houw tak dapat maju. Dia teringat akan kematian ibunya dan kekejaman Hun Kiat serta Mayat Hidup itu. Tak mampu menguasai diri, dia berkelebat menerjang lawan. "Hun Kiat, bayar hutang jiwa ibuku di sini!"
Semua orang terkejut. Hun Kiat, yang dulu bernama Ceng Liong, menendang kursinya, meluncur mundur, dan melompat bangun. Begitu Kun Houw menghantam dadanya dengan pukulan berat, dia menangkis sambil mengeluarkan bentakan keras.
"Dukk!"
Dua pemuda itu terdorong. Mereka terpental dan sama-sama membuat orang terpaku, kagum oleh benturan keras yang membuat ruangan itu tergetar seakan dilanda gempa; piring dan mangkok di atas meja mencelat dan pecah.
Ok Ciangkun yang melerai dengan bentakan penuh wibawa segera berdiri di antara dua orang muda itu, "Kun Houw, jangan membuat onar. Ingat akan janjimu kepadaku!"
Kun Houw tertegun. Dia berapi-api memandang lawan, mukanya merah bagai dibakar. Hun Kiat tersenyum mengejek dengan mata yang tak mengenal takut, dia mengangkat tangannya dengan mulut mencibir, "Kun Houw, sebaiknya persoalan kita diselesaikan lain kali saja. Ok Ciangkun tak menginginkan kita bermusuhan. Setidak-tidaknya saat ini."
"Hm!" Kun Houw menggeram. "Kau memang benar, Hun Kiat. Tapi betapapun, kau tak dapat berlindung terus di belakang Ok Ciangkun!"
"Siapa berlindung?" Hun Kiat tertawa mengejek.