Chapter 174
"Aku dapat menjaga diriku sendiri, Kun Houw. Tak perlu perlindungan orang lain untuk menghadapimu seorang diri. Kau kira aku takut?" Kun Houw sudah hendak maju kembali.
Dia merasa ditantang, tetapi Ok-ciangkun yang menekan pundaknya berkata dengan bengis, "Kun Houw, aku tak mau perjamuan ini kau kotori dengan sepak terjangmu. Kita semua adalah kawan. Ingat janjimu dulu untuk tunduk kepadaku!" Kun Houw tak berkutik. Dia geram pada perjanjiannya ini, tetapi tak mau dikata menjilat ludah sendiri. Dia pun mundur dan menekan dadanya yang berombak.
Mayat Hidup tiba-tiba tertawa, batuk-batuk dengan suaranya yang khas. "Ok-ciangkun, sebaiknya biarkan saja dua ekor harimau muda ini bertarung. Kita tentu melihat pertunjukan yang menarik."
"Tidak!" panglima itu menggeleng. "Kita menghadapi urusan yang penting, Mayat Hidup. Jangan membakar dua orang muda ini dengan kata-kata yang memanaskan telinga. Mereka semua adalah pembantuku. Tak boleh ada yang berkelahi."
Semua orang diam. Mereka menyayangkan pertandingan yang batal itu, dan Sin-thouw-liong Mu Ba yang tertawa terbahak-bahak tiba-tiba bangkit dari kursinya. "Ciangkun, memang sebaiknya dua orang muda ini bersahabat. Tapi bagaimana kalau Kun Houw menyerang duluan? Bukankah muridku tak dapat menghindar? Sebaiknya diadakan pibu saja secara adil, Ciangkun. Biar diselesaikan masalah itu dengan kita sebagai wasit!"
Mayat Hidup setuju. "Betul, sebaiknya memang diselesaikan begitu, Ciangkun. Dan muridku sudah menyetujuinya. Entah Kun Houw berani atau tidak menerima penyelesaian ini!"
Yang lain lalu mengangguk. Hampir bersamaan mereka menyokong pendapat Sin-thouw-liong dan Mayat Hidup ini. Namun, Sam-kwi yang tertawa nyaring tiba-tiba menyemprot, "Mu Ba, dan kau Mayat Hidup, kenapa tidak dengar permintaan Ok-ciangkun? Kita semua diminta untuk tidak membakar dua orang muda ini dalam perkelahian terbuka. Tapi kalian malah tidak menghiraukannya dan ingin menciptakan keributan! Apa maksud kalian ini? Tidak tahukah bahwa mereka sama-sama diperlukan? Sebaiknya urusan pibu diadakan lain kali saja, Mayat Hidup. Masih banyak waktu bagi kita untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan menarik!"
"Benar," Ok-ciangkun mengeraskan wajahnya, "Kalian jangan memanaskan keadaan, Mu Ba. Kita sedang menghadapi persoalan penting yang harus dibahas. Tak perlu berkelahi sendiri dan saling cakar-cakaran." Lalu, sambil menggandeng Kun Houw duduk di sebelah kirinya, panglima itu memandang semua orang. "Cu-wi enghiong, ada berita mengejutkan malam ini dari Sri Baginda. Dua orang pemberontak muncul di kota Chi-ih dan Chin dengan tiga ribu laskar siap ke mari. Kalian sudah mendengar ini?"
Semua orang terkejut. "Tidak. Belum, Ciangkun," Bi Gwat mewakili. "Siapa mereka itu dan apa hubungannya dengan Ho-han-hwe?"
"Tak ada hubungan. Kabarnya mereka merupakan barisan tersendiri, Niocu. Armadanya kuat dan cukup berbahaya!"
"Dan siapa pemimpinnya?"
"Belum tahu. Dan inilah yang harus kita cari!"
"Hm," Mu Ba menjadi tertarik. "Kalau begitu apa yang harus kita lakukan, Ciangkun? Dan di mana Saudara So-beng?"
Orang-orang kembali terkejut. Mereka menyadari bahwa iblis Penagih Jiwa itu memang tidak muncul. Kun Houw yang melihat panglima itu tampak terkejut dan berubah wajahnya, tiba-tiba memandang Siang-bin dengan alis dikerutkan.
"Entahlah. Aku menyuruh suteku itu memberi tahu ji-wi locianpwe ini, Mu Ba. Ke manakah dia setelah memberi tahu?"
Ang-kwi, sang kakak tertua, menjawab, "Aku tak tahu ke mana dia pergi, Ciangkun. Tapi katanya menyelidiki para pemberontak itu. Betul atau tidak, aku tak tahu pasti."
"Hm, kalau begitu sudahlah. Aku dapat mencarinya nanti, Cu-wi enghiong. Sekarang kita lanjutkan lagi berita dari istana ini." Kembali menghadapi semua orang, panglima itu mencoba menutupi perubahan wajahnya. Tanpa disadari, Kun Houw menjadi heran dan curiga.
"Seperti yang kalian dengar, Cu-wi enghiong, mata-mata kerajaan melihat bergeraknya tiga ribu pasukan di perbatasan negara kita. Karena berasal dari Chin dan Chi-ih, Sri Baginda menghendaki kita menyelidiki siapa pemimpinnya. Karena itu, kuundang kalian ke mari untuk mendengar titah Sri Baginda!"
Kemudian, menarik napas dalam dan mengerutkan kening, panglima ini mulai bercerita. Betapa dua ancaman bahaya muncul dari dua orang pemberontak yang belum dikenal, yang hanya diketahui berasal dari Chi-ih dan Chin. Karena mereka merupakan ancaman berbahaya dengan pasukan yang cukup besar, Sri Baginda memutuskan untuk mendahului menyerang sebelum diserang, yakni menyambut di perbatasan sebelum mereka memasuki kota raja. Sri Baginda pun berencana ikut dalam barisan penyambut ini. Hal ini disambut detak keras orang-orang istana yang terkejut.
"Karena itu kita harus mendahulukan keselamatan Sri Baginda, Cu-wi enghiong. Kita harus menyelidiki dulu siapa musuh-musuh itu. Aku khawatir mereka orang-orang Ho-han-hwe yang bersembunyi dan menyamar!"
"Hm, kalau begitu memang tepat, Ciangkun. Tapi kapan kita berangkat? Aku sudah gatal mendengar ini. Moga-moga saja mereka betul-betul orang Ho-han-hwe hingga kita bisa menumpas sekalian perkumpulan keparat itu!" Mu Ba menggereng, matanya melotot dan terbelalak marah.
Namun, Ok-ciangkun justru menggeleng. "Tidak, jangan terburu-buru, Mu Ba. Aku telah mengirim Kwik-ciangkun untuk menjadi kurir di depan. Sebaiknya kita tunggu dia barang sehari-dua!"
"Dan kita menganggur, Ciangkun?"
"Siapa bilang?" panglima ini mendesah. "Tak ada yang menganggur, Mu Ba. Mulai besok masing-masing dari kita mendapat tugas baru yang lebih berat. Paduka Selir ingin bertemu kita untuk membicarakan masalah gawat. Wu Taijin dianggap berkhianat!"
Semua orang terkejut. "Apa? Wu Taijin berkhianat, Ciangkun? Maksudmu dia mau menggulingkan istana dan merebut kekuasaan?"
"Aku tak tahu pasti, Cu-wi enghiong. Tapi Paduka Selir mengatakannya begitu. Besok kita akan menghadap dan memperoleh penjelasan lebih lanjut."
"Hm!" Mayat Hidup mengetukkan jarinya. "Kalau begitu tangkap saja pembesar itu, Ciangkun. Bunuh atau jebloskan dia ke penjara bawah tanah. Orang-orang yang tak setia atau meragukan kesetiaannya lebih baik cepat-cepat dibereskan." Saat berkata begitu, iblis ini melirik Kun Houw.
Kun Houw yang naik darah tiba-tiba bangkit berdiri. "Apa maksudmu melotot padaku, Mayat Hidup? Kau mencari perkara?"
"Heh-heh, siapa mencari perkara padamu, Kun Houw? Kalau kau tak merasa bersalah, tak perlu marah-marah. Aku tidak menuduhmu berkhianat." Lalu, seakan tak sengaja memainkan jarinya, tiba-tiba iblis ini menyentilkan sebatang sumpit yang menyambar tenggorokan Kun Houw.
"Crep!" Kun Houw langsung menjepitnya hingga hancur. Gusar oleh perbuatan iblis kurus itu, Kun Houw balas menyerang dan menyambit balik tenggorokan lawan. "Mayat Hidup, kau sengaja mencari permusuhan, wu-wutt!"
Mayat Hidup mendorong kursinya. Dia tahu bahwa Kun Houw pasti membalas, maka ia mencelat bersama kursinya. Sambil terkekeh, ia berseru pada Panglima Ok, "Ciangkun, bocah ini rupanya pemarah benar. Jangan-jangan dia mata-mata Wu Taijin yang dikata berkhianat itu..."
*Brakk!* Kursi yang diduduki Mayat Hidup hancur. Ketika iblis itu harus berjungkir balik dengan tawanya yang parau, Kun Houw tiba-tiba berkelebat menampar kepalanya.
"Mayat Hidup, kau benar-benar minta mampus!"
Namun, Ok-ciangkun membentak nyaring. Dia jengkel dan marah pada rekan Sin-thouw-liong Mu Ba ini yang mengganggu lebih dulu dan terang-terangan melanggar perintahnya. Maklum, iblis-iblis sesat memang selalu tidak tahu hormat dan aturan. Melihat Kun Houw menampar lawan dan Mayat Hidup berjungkir balik mengelak, panglima ini menahan pukulan Kun Houw dan membentak iblis tinggi kurus itu.
"Mayat Hidup, jangan kurang ajar. Sekali kau melanggarnya, aku tak akan menerimamu di sini... *Plak!*" Pukulan Kun Houw yang diterima panglima ini membuat Kun Houw terhuyung dan membelalakkan matanya.
"Maaf," Kun Houw terengah. "Kau tahu sendiri siapa yang memulainya, Ciangkun. Aku tak mau dihina kalau tidak bersalah!"
Panglima itu mengangguk. Dia marah memandang si Mayat Hidup. Mu Ba yang buru-buru menyambar temannya sudah tertawa sambil bangkit berdiri. "Ciangkun, rupanya rekanku ini lagi mabuk. Bagaimana kalau kami duduk di lain meja saja? Kun Houw mudah tersinggung, Ciangkun. Jangan-jangan Mayat Hidup akan mengganggunya lagi dan kita semua repot. Atau, kalau diperkenankan, sebaiknya kami keluar saja dan biar besok kami datang lagi kepadamu, kalau pembicaraan ini sudah selesai!"
Ok-ciangkun terbelalak. Dia ingin menahan, tapi melihat tokoh-tokoh sesat itu melirik dan menyeringai memandang Kun Houw, ia pun mengangguk dan mengibaskan lengannya. "Baiklah, kalian boleh pergi, Mu Ba. Tapi ingat, besok kita harus menghadap Sri Paduka Selir!"
Mu Ba tertawa. Bersama temannya, dia menggapai Hun Kiat. Ketika anak muda itu bangkit berdiri dan mengikuti gurunya, tiba-tiba mereka berkelebat keluar tanpa permisi lagi. Hal itu membuat Ok-ciangkun tersinggung, namun karena suasana sedang panas dan masing-masing membawa adat sendiri, panglima ini memaklumi. Apalagi dia pun orang kang-ouw yang mengenal seluk-beluk orang macam Sin-thouw-liong Mu Ba yang tidak menghargai basa-basi di antara sesamanya.
Ketika ketiganya lenyap meninggalkan ruangan, panglima ini terpaksa berunding dengan sisanya: Sam-kwi serta Siang-mo ji-bin kakak beradik, tentu juga dengan Kun Houw yang dipandang dengan senyum penuh arti oleh Bi Kwi bertiga. Ketika panglima ini mulai bicara dengan muka sedikit tak puas, perjamuan dimulai dengan sikap sedikit kaku. Kepergian Mu Ba bertiga ternyata tidak terlalu merugikan bagi sang panglima, karena mereka sudah mendengar hal-hal penting sebelum Kun Houw datang, ditambah lagi dengan beberapa pembicaraan mengenai masalah pemberontak di kota Chin dan Chi-ih.