Chapter 175
Ketika makan dan minum dilanjutkan dengan pembicaraan lain yang masih berkaitan dengan istana serta para pembantu kaisar, tiba-tiba saja Kun Houw tertarik dan menaruh perhatian. Ternyata istana sedang mengalami ketidaktenangan. Ada goncangan kecil yang mulai meresahkan Ok-ciangkun. Perpecahan di antara orang-orang dalam terjadi sejak Sri Baginda memiliki dua selir baru, yaitu Shi Shih dan Ceng Tan, yang baru kali ini didengar namanya oleh Kun Houw. Karena pembicaraan menyangkut urusan internal yang tidak banyak diketahui orang luar, tentu saja Kun Houw tertarik dan membelalakkan mata.
Dia mendengar perselisihan kecil yang mula-mula dicetuskan oleh Wu-taijin. Menteri ini tidak setuju pada pembangunan istana-istana baru yang diminta oleh selir kaisar. Kaisar pun marah dan menganggap menterinya itu iri. Ketika Wu Yuan juga terlibat dalam penculikan selir yang menggegerkan istana hingga saudara Wu-taijin ini dikenakan tindakan administratif, Kun Houw semakin tertegun dan melihat bahwa sebenarnya perang dingin sedang berkecamuk di dalam istana.
Kun Houw berdebar. Dia melihat Ok-ciangkun mengajak pembantu-pembantunya untuk tidak berpihak terlebih dahulu karena sementara ini terdapat dua golongan besar yang memisahkan diri di istana. Satu adalah golongan tua kelompok Wu-taijin yang tetap berpengaruh karena menteri inilah yang mengatur roda pemerintahan, sedangkan yang lain adalah golongan yang disayang melebihi batas. Kun Houw mengangguk-angguk, heran serta kagum.
"Jadi selir ini baru beberapa bulan saja di istana, Ciangkun?" tanyanya tak tahan, memandang panglima itu yang mengerutkan kening.
Ok-ciangkun mengangguk dengan sikap berhati-hati. "Ya, dua orang selir ini baru tiga bulan di sini, Kun Houw. Tapi pengaruhnya terhadap kaisar hebat sekali dan luar biasa. Dia minta apa saja yang tak pernah ditolak Sri Baginda!"
Kun Houw kagum. Dia melihat Ok-ciangkun kembali bercerita tentang selir itu, betapa diam-diam dan cerdiknya selir ini memikat menteri-menteri lain untuk menjadi pembantunya. Belum tiga bulan penuh, mereka berhasil memengaruhi sekitar tujuh menteri, yang berarti separuh dari jumlah menteri yang ada. Ketika Kun Houw mendengar bahwa menteri yang paling dekat dan merupakan tangan kanan selir itu adalah Po-tai-jin yang kini menjabat kepala rumah tangga istana, tiba-tiba Kun Houw tertarik untuk mengenal lebih dekat rupa selir yang dikata cantik jelita ini.
Maka, begitu jamuan makan selesai dan pembicaraan Ok-ciangkun berakhir dengan pesan agar masing-masing dari mereka besok menghadap untuk menerima perintah, Kun Houw segera berkelebat ke luar menuju tempat selir yang menjadi buah bibir itu. Namun, Simkwi muncul mengejarnya.
"Kun Houw, ke mana kau mau pergi?"
Kun Houw terkejut. Dia merandek dan seketika menghentikan langkah. Lalu, melihat tiga wanita ini tersenyum menghadangnya, Kun Houw pun tertegun dan tak bisa menjawab. Maklum, tak mungkin baginya untuk berterus terang bahwa dia ingin mencari selir kaisar. Salah-salah disangka yang tidak-tidak.
Namun, Kun Houw yang cepat berpikir tiba-tiba menjawab dengan senyum dipaksa, "Aku ingin meronda istana, Niocu. Ada apa kalian memanggilku di sini?"
"Ih!" Bi Kwi tersenyum. "Kami ingin mengajakmu bercakap-cakap, Kun Houw. Dua enciku sudah menyiapkan arak istimewa untuk kita berbincang-bincang."
"Hm, aku kenyang, Niocu. Sebaiknya besok saja setelah aku meronda," Kun Houw mengelak. Ia siap meneruskan perjalanannya ketika Bi Hwa terkekeh, langsung menyambar lengannya, dan bersikap genit.
Ketika Kun Houw mencoba melepaskan diri, tahu-tahu Bi Gwat menepuk pundaknya dan bersikap ketus. "Kun Houw, kami bukanlah musuh! Kenapa enggan bercakap-cakap? Kau hendak mencari selir kaisar, bukan?"
Kun Houw terkejut dan melangkah mundur. "Siapa bilang?" suaranya bagai orang tertangkap basah, tersentak dan kaget bukan main oleh todongan Bi Gwat.
Bi Kwi mendengus dan menatap tajam. "Kun Houw, tak perlu kau mengelabuhi kami. Aku tahu kekagumanmu pada selir cantik itu! Kau ingin ke sana, bukan? Hm, jangan macam-macam, Kun Houw. Jalan yang kau ambil ini saja sudah menunjukkan niatmu. Berani kau menyangkal?"
Kun Houw tertegun. Dia terlampau kaget oleh todongan dua wanita ini yang tepat sasaran. Karena dia tak biasa berbohong dan Bi Kwi bertiga memang wanita-wanita yang amat tajam pandangannya, Kun Houw hanya diam tak dapat menjawab.
Bi Hwa tampil dengan sedikit lembut. "Kun Houw, kami tahu bahwa kau tidak bermaksud macam-macam. Tapi perbuatanmu ini tak berguna. Kau belum begitu dikenal orang-orang istana. Kalau terjadi apa-apa, tentu kaisar akan salah paham padamu. Sebaiknya ikuti permintaan kami dan mari bicara tentang hal yang lebih penting. Aku mendengar tentang istri mendiang suhumu!"
Kun Houw membelalakkan mata. "Apa? Istri mendiang suhuku?"
"Ya, tentu tak salah jika kukatakan gurumu menikah lagi, bukan? Kami mendengarnya di tempat itu, Kun Houw. Betapa istri gurumu ini meninggalkan dua anak laki-laki kembar ketika gurumu meninggalkannya di Kun-lun-san!"
Kun Houw terkejut. Dia merasa ini berita baru yang mengejutkan, tak kalah dengan todongan Bi Kwi kakak beradik tentang maksud hatinya. Maka, sambil mengangguk dan gemetar memandang tiga wanita cantik itu, Kun Houw bertanya, "Benar? Bagaimana sekarang keadaan istri mendiang guruku itu, Niocu? Di mana anak-anaknya?"
"Hm, membicarakannya tak enak di tempat begini, Kun Houw. Sebaiknya ikuti kami dan mari kita bercakap-cakap!"
Kun Houw menerima ajakan itu. Dia merasa "dicucuk hidungnya", maka ketika tiga wanita ini berkelebat mengajaknya ke dalam, segera Kun Houw mengikuti dengan jantung berdebar. Bi Kwi kakak beradik itu tersenyum aneh, memandangnya dengan penuh gairah sementara Kun Houw sendiri masih belum mengerti.
"Nah, duduklah di samping kami, Kun Houw. Kau ingin kita bicara baik-baik, bukan?"
"Ya, tapi..." Kun Houw celingukan, melihat pintu kamar ditutup rapat dan membuatnya merasa tidak enak. Tapi ketika Bi Hwa menariknya lembut dan menyuruhnya duduk di kursi, pemuda ini tidak berdaya dan menghapus keringatnya yang tiba-tiba bercucuran bagai orang habis berkelahi.
Bi Hwa tertawa memandang pemuda ini lalu memberi isyarat pada adiknya. "Kwi-moi, ambilkan minuman. Kun Houw merasa kamar ini pengap."
Bi Kwi mengangguk. Dia tersenyum dan bangkit dari kursinya, membuka sebuah jendela untuk menolong Kun Houw. Ketika Bi Kwi membawa arak dan menyuguhkannya, Kun Houw mulai panas dingin, tak tahu apa yang hendak dilakukan tiga wanita cantik ini kepadanya. Namun, ketika Bi Gwat mengerling dan menepuk lengannya, barulah Kun Houw menindas kegelisahannya dan tersenyum gugup.
"Eh, kau belum pernah bergaul dengan wanita, Kun Houw?"
Kun Houw mengangguk.
"Dan kau hanya hidup berdua dengan mendiang gurumu itu?"
Kun Houw kembali mengangguk.
"Eh, kenapa hanya mengangguk saja? Tak bisakah kau bicara?" Bi Kwi dan Bi Hwa terkekeh. Mereka geli melihat kecanggungan Kun Houw.
Melihat Kun Houw bangkit berdiri dan marah memandang mereka, seketika Bi Kwi dan kakaknya terkejut. "Eh, jangan marah, Kun Houw. Kami hanya menggodamu saja. Ayo duduklah, kita bicara yang lain!"
Bi Hwa buru-buru mengedipi saudara-saudaranya agar dapat menahan pemuda ini. "Kun Houw, kami hanya main-main. Masa harus gusar? Nah, Toa-ci akan menceritakan padamu tentang istri mendiang gurumu itu!"
Bi Gwat yang menyilangkan kaki dengan sikap santai lalu menuangkan arak ke cawan masing-masing, sekelebat memamerkan pahanya yang mulus dan gempal, membuat Kun Houw tersirap dan langsung melengos ke tempat lain.
Lalu, sambil meneguk arak mendahului yang lain, Bi Gwat tersenyum manis. "Sebaiknya kita hangatkan dulu perut kita, Kun Houw. Mari minum sebelum bercerita."
Kun Houw ragu-ragu. Dia melihat Bi Gwat sudah meneguk araknya habis dalam sekali tenggak. Bi Hwa serta Bi Kwi yang juga menyambar arak yang sama dan meneguknya dengan nikmat membuat Kun Houw membuang rasa sungkan dan menenggak araknya pula. Sedetik kemudian, dia disengat rasa keras dari arak yang harum itu. Saat perutnya dijalari rasa panas yang aneh, Kun Houw mengerutkan alisnya.
"Arak apa ini, Niocu?"
"Hi-hik, arak biasa saja, Kun Houw. Yang jelas bukan arak beracun!"
Kun Houw memerah mukanya. Dia mendengar tiga wanita itu kembali terkekeh, matanya berbinar-binar dan penuh gairah memandangnya. Melihat Kun Houw tak bereaksi apa-apa dan pemuda itu tetap tenang, Samkwi tampak terkejut.
"Ada apa?" Kun Houw terpaksa bertanya, heran dan terbelalak memandang tiga wanita cantik ini.
Bi Kwi yang rupanya lebih dulu sadar tertawa genit. "Tidak apa-apa. Tapi kau tidak merasa hangatnya arak ini, Kun Houw?"
"Hm, aku hanya merasa perutku panas. Lebih dari itu tidak."
"Dan bagaimana kau melihat kami? Tidak tampak lebih cantikkah kami bertiga?"
Kun Houw terkejut. "Jangan main-main, Niocu. Aku ke mari untuk mendengarkan cerita kalian!"
Bi Kwi dan kakaknya tercekat. Mereka saling pandang sejenak, tapi Bi Hwa yang tersenyum aneh tiba-tiba memandang encinya. "Ta-ci, Kun Houw rupanya tak sabar. Sebaiknya ceritakan saja tentang istri mendiang gurunya itu."
Bi Gwat mengangguk. Dia kembali menyilangkan kakinya lebih lebar—gerakan yang membuat Kun Houw kembali tersirap karena Bi Gwat lebih berani memamerkan pahanya yang mulus. Kun Houw melengos dengan sopan dan pura-pura tak tahu, sementara wanita itu mulai bercerita dengan suara yang mulai serak dan parau.
"Kami bertemu secara kebetulan saja di tempat itu, Kun Houw. Maksudku, kami datang secara tak sengaja ketika jerit tangis terdengar di rumah gurumu!"
"Ada apa?" Kun Houw terbelalak.