Chapter 176
"Istri gurumu meninggal, Kun Houw. Wanita bernama Bwee Kiok itu kehabisan darah setelah melahirkan anak kembarnya, laki-laki!" Kun Houw terkejut.
"Meninggal?"
"Ya, meninggal, Kun Houw. Konon katanya karena kecewa bahwa gurumu tak kunjung datang. Kau tentu mendengar ini, bukan?"
Kun Houw tertegun. Dia memang pernah mendengar cerita tentang gurunya yang memiliki istri bernama Bwee Kiok dan tinggal di Kun-lun-san. Namun, kabar bahwa istrinya telah meninggal dan gurunya memiliki sepasang anak laki-laki kembar baru kali ini ia ketahui. Tiba-tiba, Kun Houw membelalakkan mata, merasa hatinya teriris.
Bi Gwat melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan betapa istri jago pedang itu hidup menderita, betapa Bwee Kiok amat mencintai suaminya dan terus menunggu dengan setia. Ia penuh harap dapat memberitahu suaminya bahwa ia hamil dan tidak mandul seperti yang disangka selama ini.
Saat pembicaraan beralih pada hubungan suami istri yang tidak harmonis itu, tiba-tiba Kun Houw terkejut. Bi Hwa memeluk punggungnya dengan napas gemetar, wajah yang memerah, dan mendengus-dengus seperti sapi betina. Tiba-tiba, wanita itu melepaskan sepatu dan ikat pinggangnya.
"Karena itu, jangan contoh perbuatan gurumu, Kun Houw. Seorang laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tahu akan cinta seorang wanita. Seperti dirimu ini, yang tampan dan gagah... cup!"
Bi Hwa mengecup pipinya dari belakang, disusul kekehan Bi Kwi yang melepas baju luarnya. "Benar, kami tak ingin kau mencontoh gurumu, Kun Houw. Bukankah kami cantik dan jauh lebih berharga dibandingkan wanita dusun itu? Kami suka padamu, Kun Houw... kami mencintaimu dengan segenap jiwa raga kami... cup!"
Bi Kwi mengecup pipinya dari samping kiri, lalu Bi Gwat mendekapnya dengan pandangan redup, melekat seperti lintah. "Kun Houw, kami bertiga ingin menyerahkan diri padamu. Balaslah budi kami dengan permainan cinta malam ini!"
Kun Houw kaget bukan main. Dia tak mengerti mengapa ketiga wanita itu tiba-tiba bertingkah seperti orang gila. Mereka menanggalkan pakaian hingga setengah telanjang, terkekeh, dan menciuminya berganti-ganti. Namun, ketika tubuhnya digelayuti dan jari-jari mereka merayap di sekujur tubuhnya hingga membuat Kun Houw merinding, ia seketika mencelat dan mengibaskan kedua lengannya, mendorong mereka.
"Samkwi, kalian wanita-wanita tak tahu malu!"
Bi Kwi dan kakaknya terlempar. Mereka terkejut, marah, dan menatap Kun Houw dengan pandangan tajam. Pakaian mereka semakin tersibak hingga Kun Houw terpaksa memejamkan mata, merasa ngeri sekaligus gemetar.
Ketiga wanita itu kembali menubruknya dari kiri dan kanan. Mereka terkekeh, mengira Kun Houw bersikap demikian karena menggigil oleh nafsu berahi seperti mereka.
"Kun Houw, tak perlu pura-pura. Arak Sorga yang kita minum bersama tak seorang pun kuat menahannya. Kemarilah!"
Bi Gwat dan kedua adiknya mendengus-dengus penuh gairah. Mereka menciumi Kun Houw bagaikan lalat menemukan bangkai, sangat bernafsu mendekap pemuda itu. Mereka menjelaskan bahwa arak yang diminum tadi adalah Arak Sorga, sejenis arak perangsang yang membuat peminumnya mabuk bagaikan kuda binal.
Kun Houw tersentak mendengar keterangan itu. Ia segera menampar dan melepaskan diri. Ia heran mengapa dirinya tidak terpengaruh sama sekali oleh arak tersebut. Ketika Samkwi kembali terlempar hingga membentur tembok, Kun Houw membentak dengan suara bengis.
"Samkwi, kalian ternyata orang-orang gila. Sungguh tak kusangka kalian menyuguhkan arak perangsang!"
Melihat ketiganya tertegun dengan mata melotot, Kun Houw melompat keluar menerobos jendela, meninggalkan ketiga wanita itu yang masih keheranan mengapa Kun Houw tidak terpengaruh oleh arak bius tersebut.
Samkwi tidak membiarkan Kun Houw lolos. Mereka membentak dan mengejarnya dengan marah. "Kun Houw, jangan main-main kau!"
Samkwi berkelebat dan mengurungnya. Kun Houw melihat ketiga wanita itu kini tampak kepanasan, masing-masing menggeliat dan terengah-engah dibakar nafsu, mata setengah terpejam namun menatapnya dengan ganas. Kun Houw yang merasa jengah melihat wanita-wanita yang hampir telanjang itu kembali menggerakkan tangannya untuk mendorong mereka.
"Bi Kwi, minggirlah!"
Ketiga wanita itu menangkis sambil memekik. Begitu empat lengan beradu, ketiganya serentak menggeliatkan pinggang dan menotok Kun Houw.
"Plak! Plak! Plak!"
Kun Houw mengeluh. Ia tersipu, ngeri, dan jengah menatap tubuh-tubuh telanjang itu. Ketika tiga jalan darah di pinggang dan dadanya disentuh jari-jari mungil itu, ia kontan roboh.
"Hi-hik, kau tak dapat melawan kami, Kun Houw. Kau harus melayani kami dulu sebelum pergi!"
Kun Houw diangkat dan dibawa kembali ke kamar Bi Kwi. Saat ia dilempar ke atas pembaringan dan mereka mulai melucuti pakaian luarnya, Kun Houw pucat pasi. Ia melihat ketiga wanita itu seperti hewan buas yang merenggut pakaiannya hingga tersisa celana dalam saja.
Namun, ketika Bi Kwi siap merenggut pakaian terakhirnya, Kun Houw tiba-tiba menggelembungkan dada dan membentak keras. Ia berhasil menggerakkan sinkangnya untuk menjebol totokan yang melumpuhkan tubuhnya. Begitu jalan darahnya mengalir kembali, Kun Houw mencelat bangun dan menghujani Sam-hek-bi-kwi dengan tendangan serta pukulan bertubi-tubi.
"Plak! Plak! Dess!"
Samkwi terlempar, menjerit, dan berguling-guling hingga sisa pakaian mereka terlepas dan telanjang bulat. Kun Houw segera menyambar pakaiannya sendiri dan meloncat melalui jendela sambil berteriak dengan muka merah padam, "Sam-hek-bi-kwi, kalian iblis-iblis tak tahu malu. Awas kalau kalian mengejarku lagi!"
Sam-hek-bi-kwi memekik nyaring. Mereka marah besar melihat tawanannya lolos dan segera menyambar pakaian mereka, lalu mengejar dengan melompat keluar jendela pula.
"Kun Houw, kau tak dapat melepaskan diri dari kami. Kau pemuda tak tahu diuntung!"
Bi Gwat mendahului yang lain, berkelebat ke depan, menyambar, dan langsung mencengkeram punggung Kun Houw. Kun Houw yang sudah naik darah membalikkan tubuh dan menangkis dengan Jing-liong Sin-kang miliknya.
"Plak!"
Bi Gwat terputar, menjerit, dan terpelanting roboh. Ia tak kuat menerima tangkisan Kun Houw yang diwarisi dari Bu-beng Sian-su, manusia dewa yang sakti. Saat wanita itu terguling-guling, Bi Hwa dan Bi Kwi menyusul dengan serangan pukulan sinkang.
Kun Houw tidak ingin meladeni pukulan itu. Ia merendahkan tubuh dan mendorongkan kedua lengannya ke atas.
"Plak! Dess!"
Bi Kwi dan kakaknya menjerit, terlempar dan terguling-guling pula. Ketika mereka melompat bangun dengan penuh kemarahan, sepasang gelang berbau amis telah berada di tangan masing-masing wanita itu.
"Kun Houw, keparat kau. Kau pemuda tak tahu budi!"
Kun Houw terbelalak. Ia marah sekali dan hampir menerjang, namun ia merandek saat mendengar makian tersebut. Ia teringat bahwa ketiga wanita inilah yang telah menyembuhkannya dari luka parah.
"Sam-hek-bi-kwi, jangan mencari onar! Aku masih ingat budi kalian dan karena itu tak mau membalas!"
Namun, Bi Hwa dan saudaranya terus mengejar. Mereka menghantam leher pemuda itu dengan gelang mereka. Karena Kun Houw terpaksa menangkis dan kembali berhenti, ketiga wanita itu berhasil mengurungnya kembali.
"Kun Houw, kau akan kami bunuh. Tak pernah Sam-hek-bi-kwi melepas korbannya tanpa diminta!"
Kun Houw menggigit bibir. Ia melihat ketiganya menyerang dengan gelang yang berkelebat dan mengaung mengerikan. Saat ia mementalkan serangan itu, gelang-gelang tersebut membalik menyambar tuannya, namun Bi Kwi dan kedua kakaknya menendang dengan tumit yang diayun setengah lingkaran.
"Des! Dess!"
Kun Houw terlempar. Ia masih segan melayani ketiga lawannya, sehingga ia hanya menerima tendangan itu dan mencelat tiga tombak. Namun, karena teringat akan "budi" Sam-hek-bi-kwi, Kun Houw memilih melarikan diri. Bukan karena takut, melainkan semata-mata enggan menyerang musuh yang pernah menolongnya dari luka bekas pukulan Pendekar Gurun Neraka.
Kun Houw melompat meninggalkan lawan, menjejakkan kaki melayang keluar, melompati tembok istana yang tinggi, dan mencari tempat persembunyian. Namun, Sam-hek-bi-kwi terus mengejar dan membayangi ke mana pun Kun Houw pergi. Mereka beterbangan di kompleks istana bagai burung hantu.
Saat Kun Houw turun di taman belakang dan kebingungan mencari tempat sembunyi, ketiga lawannya meluncur dan menyerangnya kembali.
"Kun Houw, kau mampus atau menyerah kepada kami. Pilih salah satu!"
Bi Hwa menggerakkan gelangnya. Ia merasa sangat gusar karena pipinya bengkak akibat tamparan Kun Houw. Bi Kwi dan Bi Gwat pun menerjang dengan tak kalah hebatnya. Kun Houw gemas, bingung, dan wajahnya menggelap. Melihat serangan berbahaya yang susul-menyusul itu, ia pun menangkis dan membiarkan kemarahannya bangkit.