Chapter 177
"Samkwi, kalian terlalu..."
"Plak! Plak!" Kun Houw yang wajahnya memerah karena menahan geram tiba-tiba berkelebat memutari lawannya. Ia mengerahkan *Kiam-ciang* (Tangan Pedang), menampar dan menusuk tubuh lawannya yang saat itu terhuyung akibat tangkisannya yang kuat. Kun Houw terbelalak ketika melihat ketiga wanita itu bangkit kembali tanpa terluka sedikit pun meski terkena pukulan telak.
Hal itu menyadarkannya bahwa kejadian ini sudah berulang kali terjadi sejak ia mementalkan mereka di kamar tadi. Sam-hek-bi-kwi selalu bangkit dan kembali menyerang dengan lebih ganas. Kun Houw yang baru menyadari kekebalan aneh lawannya itu tiba-tiba mendengar ketiganya berteriak kembali. Gelang-gelang di tangan mereka berseliweran naik turun, menyambar tubuhnya bagai gelang maut. Dalam kebingungan, Kun Houw terkepung oleh bayangan gelang yang memancarkan sinar berbau amis.
"Kun Houw, kau terpaksa akan kami bunuh!" seru salah satu dari mereka.
Kun Houw terkejut melihat lawannya menyerang makin gencar. Saat dua gelang menghantam pundaknya dengan keras, ia terbanting dan untuk pertama kalinya mengaduh. "Augh!" Ia berguling-guling, berusaha menghindar sementara ketiga wanita itu terus mengejarnya dengan kejam. Dengan susah payah, Kun Houw menangkis serangan dan berjungkir balik untuk bangkit, namun sebuah gelang kembali mengenai pangkal lengannya hingga terasa pedas dan ngilu.
Saat Kun Houw terdesak dan tunggang-langgang, ia teringat pedangnya, Pedang Medali Naga, yang tidak ada di pinggangnya. Ia mengira ketiga wanita ini menyembunyikan pedangnya untuk berbuat curang.
"Sam-hek-bi-kwi, kalian manusia tidak tahu malu! Mana pedangku?" maki Kun Houw. Namun, ketiga wanita itu tidak menggubris dan terus mempergencar serangan. Saat Kun Houw kembali roboh, Bi Gwat memerintahkan adiknya mengeluarkan *Ang-intok* (Bubuk Awan Merah).
"Sumoi, kebutkan *Ang-intok* ke mukanya!"
Kun Houw tersedak saat bubuk berbau harum itu disiramkan ke arahnya. Namun, ia tetap bangkit berdiri tanpa goyah sedikit pun. Hal itu membuat Bi Gwat dan adik-adiknya kaget. "Dia kebal racun!"
Kun Houw sendiri tercekat, baru menyadari mengapa Arak Sorga sebelumnya tidak mempengaruhinya. Di saat yang bersamaan, dua bayangan berkelebat datang.
"Kun Houw, pedangmu ada di tanganku. Terimalah!"
Kui Hoa dan adiknya muncul, membuat Sam-hek-bi-kwi terbelalak marah. Kun Houw segera melompat menyambar pedang yang dilontarkan Kui Hoa. "Bagus, terima kasih, Hoi-moi. Sam-hek-bi-kwi menggangguku dengan cara yang sangat memalukan!"
Kun Houw mengayunkan pedangnya. Saat gelang-gelang di tangan ketiga wanita itu beradu dengan pedang tersebut, gelang-gelang itu putus seketika. "Crik! Crik! Crik!" Sam-hek-bi-kwi terkejut melihat senjatanya hancur. Saat Kun Houw menusukkan pedangnya, lengan ketiga wanita itu tergores dan berdarah. Menyadari bahwa Pedang Medali Naga terlalu berbahaya, mereka memekik kecewa dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Kun Houw menghapus peluhnya dengan kaki gemetar. Kui Hoa maju mendekat dan mengerutkan kening melihat pakaian Kun Houw yang kedodoran. "Apa yang terjadi, Houw-ko? Mengapa Samkwi menyerangmu?"
Kun Houw menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan jujur. Kui Hoa sangat marah hingga menghentakkan kakinya. "Keparat! Jadi mereka mengganggumu sampai sedemikian rupa? Benar-benar tidak tahu malu, mereka iblis wanita yang cabul!"
"Ya, dan aku hampir diperkosanya, Hoa-moi. Baru kali ini seumur hidupku ada laki-laki hendak diperkosa perempuan. Terkutuk!"
Kui Hoa bertanya dengan heran, "Dan kau sudah menenggak arak perangsang itu, Houw-ko?"
"Ya, meneguknya berkali-kali," jawab Kun Houw.
"Dan kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak merasakan sesuatu, Hoa-moi. Hanya merasa perutku sedikit tergigit dan kemramyang."
Kui Lin, adik Kui Hoa, tiba-tiba tersenyum dan melirik kakaknya. "Kalau begitu, ini semua gara-garamu, Cici. Kun Houw kebal racun setelah kau menyembuhkan lukanya di gua itu!"
Kui Hoa tertegun. Ia teringat saat menyedot racun *Tok-bwe-jit* dari luka Kun Houw melalui mulut ke mulut. Racun itu telah bergabung dengan hawa *sinkang* miliknya, dan ketika ia meniupkan hawa *khikang* untuk menyembuhkan Kun Houw, secara tidak sengaja ia memberikan kekebalan racun yang luar biasa kepada pemuda itu.
Kun Houw memandang Kui Hoa dengan penuh rasa terima kasih. Ia merasa haru karena untuk kedua kalinya kekasihnya itu menyelamatkannya tanpa disengaja.
"Hoa-moi, terima kasih. Lagi-lagi kau menyelamatkan aku!"
Kui Hoa tersipu malu dan segera melompat pergi, diikuti oleh Kui Lin. "Houw-ko, tidak perlu berterima kasih. Aku akan melapor pada Ayah tentang perbuatan mereka!"
Kui Lin melambaikan tangan sambil berlalu, "Benar, kami akan melapor pada Ayah. Kun Houw, sekarang beristirahatlah dan tidurlah di kamarmu. Hati-hati terhadap mereka lagi!"
Kun Houw hanya terdiam terpaku.