Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 178

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 178

Dia memandang kepergian kekasihnya dengan sikap sayang. Ia ingin memanggilnya kembali, namun tertahan di mulut. Ia ingat bahwa malam telah larut dan tak pantas mengajak gadis bercakap-cakap.

Namun, teringat bahwa Pedang Medali Naga kembali telah berada di tangannya, Kun Houw pun merasa bersyukur dan mengucap terima kasih dari jauh. Begitu bayangan Kui Lin lenyap di balik pepohonan, ia pun berkelebat pergi memasuki kamarnya, mengurungkan niat untuk menyelidiki selir kaisar itu.

Seminggu kemudian, di istana kaisar.

Tidak seperti hari-hari biasa di mana kaisar bergembira ria bersama dua selirnya yang cantik, Shi Shih dan Ceng Tan, hari itu terjadi insiden mengejutkan yang membuat istana gempar. Shi Shih, selir yang disayang kaisar namun amat dibenci Wu Taijin, sore itu tertangkap basah bersama seorang laki-laki tak dikenal yang dianggap mata-mata.

Wu Taijin, yang menangkap mereka dengan beberapa saksi, menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar dan melapor dengan geram, "Ampun, hamba ingin Paduka membuka persidangan, Sri Baginda. Selir Paduka yang tak tahu diri ini telah hamba tangkap ketika kasak-kusuk dengan laki-laki ini, mata-mata dari Yueh!"

Kaisar terkejut dan gelap mukanya. Ia tidak segera mengeluarkan suara, namun terbelalak memandang selirnya dengan marah. Melihat Shi Shih menangis sementara laki-laki di sampingnya menunduk dengan tangan diborgol, tiba-tiba kaisar membentak, "Shi Shih, benarkah yang kaulakukan ini?"

Shi Shih terisak pedih, membenturkan jidatnya yang halus di lantai, "Tidak, hamba tidak melakukan seperti yang dituduhkan Wu Taijin, Sri Baginda. Itu adalah fitnah dan hasutan belaka!"

"Hm, bagaimana jawabanmu, Taijin?" Kaisar menoleh, mengerutkan keningnya memandang pembantunya ini.

Namun, Wu Taijin yang sudah menduga hal itu tersenyum mengejek. "Hamba tidak melancarkan fitnah, Sri Baginda. Justru selir Paduka itulah yang bohong dan pengecut. Hamba mempunyai saksi-saksi!" Ia menepuk tangannya dua kali dan memanggil tiga orang saksi yang duduk di belakangnya. Salah seorang di antaranya adalah seorang kakek yang memegang buli-buli, menggelogok arak tanpa peduli pada kaisar. Itulah Lo-cin, si Arak Tua.

Ketika Wu Taijin mempersilakan tiga orang ini maju menghadap, si Arak Tua itu tertawa. "Ampun, hamba saksi utamanya, Sri Baginda. Hambalah yang menangkap dua orang laki-laki dan perempuan ini di samping taman. Mereka rupanya mau berzina!"

Kaisar terbelalak marah. "Siapa kau?"

"Heh-heh, hamba Lo Ciu, Sri Baginda. Pembantu Wu Taijin yang sudah lama mengikuti gerak-gerik selir Paduka. Maaf." Si Arak Tua memberi hormat dengan caranya sendiri, membungkuk dan berdiri di sebelah Wu Taijin dengan sikap seenaknya, maklum orang kang-ouw.

Kaisar yang tak begitu peduli dan sudah mengenal watak orang-orang dunia persilatan lalu memandang Menteri Wu, "Benarkah, Taijin, dia ini pembantumu?"

"Benar, Sri Baginda," Wu Taijin mengangguk. "Lo Ciu inilah yang menangkap selir Paduka dan menyeretnya ke mari!"

"Sedang dua orang lainnya itu?"

Dua laki-laki di belakang Wu Taijin berlutut dengan gemetar. "Hamba penjaga taman, Sri Baginda, A-kam yang disuruh Wu Taijin memata-matai gerak-gerik selir Paduka!"

"Dan hamba Wu Hap, Sri Baginda, putra Wu Taijin yang mendapat laporan penjaga taman ini!"

Kaisar tertegun. "Kau putra Wu Taijin? Jadi ini putramu, Taijin?"

"Benar, ampunkan hamba, Sri Baginda. Tiga orang inilah yang menjadi saksi utama menangkap selir Paduka itu. Selir Paduka berkhianat, dia kasak-kusuk dengan mata-mata dari Yueh!"

Kaisar menoleh pada selirnya dengan wajah merah padam. "Bagaimana jawabanmu, Shi Shih? Bisakah kau menyangkal bukti-bukti ini? Kau tertangkap basah. Wu Taijin tidak mungkin bohong!"

Shi Shih menangis. "Ampun, hamba juga mempunyai saksi, Sri Baginda. Kalau boleh hamba bicara, biarlah hamba ceritakan bagaimana kedudukan sebenarnya!"

Kaisar mengerutkan kening, menjadi ragu. Ia tahu bahwa di antara selirnya dan Wu Taijin memang terdapat "perang dingin". Ia pun mengangguk, merasa cemas sekaligus marah. Jangan-jangan tuduhan Wu Taijin itu benar; selirnya berkhianat. Kaisar mengangkat lengan memberi isyarat agar Shi Shih bercerita.

Wu Taijin terbelalak. "Sri Baginda..."

Shi Shih mulai dengan suaranya yang gemetar, "Hamba sama sekali tidak berkhianat seperti yang dituduhkan Wu Taijin itu. Justru hamba merasa dijebak dan dihasut. Laki-laki yang dituduh mata-mata oleh Wu Taijin ini sesungguhnya bukan lain adalah..." Shi Shih berhenti sebentar, "...antek Wu Taijin sendiri yang dikirim untuk menjatuhkan hamba!"

Wu Taijin kaget. "Bohong! Tak benar, Sri Baginda. Hamba tak mengenal sama sekali laki-laki ini!" Ia bangkit berdiri dengan muka berubah, membelalakkan matanya, marah dan terkejut bahwa Shi Shih memutar balik kenyataan.

Namun, Kaisar mengulurkan lengannya dan berseru, "Tahan, simpan dulu bantahanmu, Taijin. Biarkan selirku bercerita!"

Wu Taijin tak berdaya. Ia menggigil dan mengepal tinjunya. Sementara itu, Lo Ciu serta Wu Hap yang terbelalak mendengar hal ini saling pandang dengan muka pucat.

Shi Shih melanjutkan dengan tangisnya yang tersedu-sedu, "Ampun, hamba terpaksa bicara apa adanya, Sri Baginda. Kalau Paduka tidak percaya, boleh Paduka buktikan kebenarannya pada laki-laki ini. Dia adalah si Golok Emas Kimte, bekas sahabat Hui-pian Siang-houw yang dulu menculik hamba!"

Wu Taijin semakin kaget. Ia melihat kaisar memandangnya marah, tampak percaya pada kata-kata selirnya itu. Lo Ciu yang tak tahan oleh pemutarbalikan fakta ini tiba-tiba melompat ke depan, hendak mencengkeram selir kaisar yang dianggapnya sebagai ular berbisa itu. Namun, Ok-ciangkun yang bertugas menjaga keselamatan tiba-tiba membentak dan berkelebat menangkis serangan tersebut.

"Lo Ciu, di hadapan kaisar tak boleh kau main-main begitu. Sopanlah!"

Dukk! Si Arak Tua tergetar, terbelalak, dan terhuyung memandang panglima yang gagah tersebut. Wu Taijin buru-buru bangkit berdiri menyambar lengan si Arak Tua ini dan memohon ampun pada kaisar. "Maaf, Lo Ciu tak tahan mendengar hamba dihina, Sri Baginda. Mohon ampun dan sudilah kiranya Ok-ciangkun melepas pembantu hamba?"

Kaisar mulai tak senang. "Pembantumu tak tahu adat, Taijin. Kalau tidak memandang mukamu, tentu sudah kusuruh tangkap dia."

Lo Ciu mendelik. Sebelumnya, dia sudah gemas pada selir yang menjadi penyebab kematian muridnya itu. Namun, Wu Hap yang memeluk kakinya berbisik, "Suhu, tempat kaisar tak sama dengan di rumah sendiri. Kau mundurlah."

Kakek ini sadar. Dia hampir mengamuk di situ, membawa adatnya sendiri sebagai orang kang-ouw. Tapi, melihat bayangan pengawal secara rahasia berkelebat di sekeliling kaisar, ia tahu diri dan mundur perlahan, tidak berani beradu pandang dengan kaisar yang marah itu.

Kaisar kembali pada persoalan semula dan memandang selirnya. "Betulkah yang kaukatakan itu, Shi Shih? Bagaimana kalau laki-laki ini bukan pembantu Wu Taijin?"

Shi Shih mantap dengan jawabannya, "Hamba tak bicara bohong, Sri Baginda. Boleh Paduka tanya kalau hamba tidak betul."

Kaisar mengangguk. Ia sudah menyuruh laki-laki yang diborgol itu menegakkan mukanya. Ketika laki-laki itu mengangkat wajahnya yang penuh darah, Kaisar bertanya nyaring, "Hei, benarkah kau adalah sahabat mendiang Hui-pian Siang-houw itu? Benarkah kau disuruh Wu Taijin untuk menemui selirku?"

Semua orang tegang. Laki-laki yang tertangkap itu tampak gagah, usianya sekitar tiga puluh lima tahun, dengan alis yang tebal. Ia tahu sopan terhadap kaisar dan gentar melihat begitu banyak orang di ruang sidang. Namun, ketika ia menganggukkan kepala dan melirik Wu Taijin, laki-laki ini membenturkan dahinya, "Ampun, hamba tak berani menjawabnya, Sri Baginda. Yang jelas hamba bersalah dan biarlah hamba dibunuh!"

Kaisar menghentak lengan kursinya. "Tak perlu ada yang ditakuti di tempat ini, orang muda. Kau bicaralah saja dan aku menjamin keselamatanmu!"

Namun, laki-laki gagah ini masih ketakutan. Ia melirik kembali ke arah Wu Taijin, mengerling pula pada si Arak Tua Lo Ciu yang mengepal tinju. Lalu, dengan keluhan gentar menghadapi kaisar, ia pun membenturkan jidatnya lagi, "Hamba tak berani, Sri Baginda. Hamba mengaku salah dan biarlah hamba dibunuh. Ampun."

Kaisar menjadi marah. Ia curiga melihat laki-laki itu ketakutan memandang Wu Taijin, seolah pembesar itu akan mengancamnya nanti jika ia bicara. Kaisar yang mendadak menduga hal buruk terhadap para pembantunya itu bangkit berdiri. "Wu Taijin, benarkah orang ini adalah suruhanmu? Kenapa dia ketakutan memandangmu?"

Wu Taijin juga marah. "Hamba tak kenal laki-laki ini, Sri Baginda. Sebaiknya kompres dia agar mengaku terus terang saja!"

Kaisar tertegun. Ia melihat menteri she Wu itu bersungguh-sungguh, sikapnya tegar dan tak takut salah, membuat ia ragu dan kembali memandang Shi Shih. Namun, melihat selirnya juga tenang dan mantap, Kaisar pun menjadi bingung. Ia memandang Ok-ciangkun. "Ciangkun, suruh laki-laki itu mengaku. Jaga dia dan lindungi keselamatannya."

Ok-ciangkun bergerak. Semua orang menjadi tegang oleh kejadian ini. Ketika panglima itu mencengkeram leher laki-laki ini, terdengarlah bentakannya yang menggetarkan ruangan, "Tikus busuk, Sri Baginda telah menjamin keselamatanmu. Mengakulah dan tak perlu takut!"

Laki-laki ini menjerit. Ia merasa lehernya dijepit tanggem raksasa, serasa patah tulang lehernya. Ia mengaduh, namun melihat panglima ini melindunginya dan kaisar berjanji menjamin keselamatannya, ia pun menjatuhkan diri berlutut. "Ampun... lepaskan tanganmu, Ciangkun. Hamba akan mengaku..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment