Chapter 179
Ok-ciangkun melepaskan jepitannya. Dia mundur dan memandang tawanan itu dengan bengis. Sambil terus waspada terhadap segala kemungkinan, dia mendengar laki-laki itu terbata-bata mengaku, melirik ke arah Wutaijin dengan tatapan ketakutan, terutama kepada si Arak Tua Lo-ciu yang menangkapnya tadi.
Begitu mendengar pengakuannya, hadirin terkejut oleh ucapan pertamanya, "Benar, hamba orang suruhan Wutaijin, Sri Baginda. Hamba disuruh menemui selir Paduka untuk pura-pura ditangkap dengan dalih mata-mata!"
Wutaijin membentak keras. Dia langsung menyatakan bahwa itu bohong. Lo-ciu, si Arak Tua yang berkelebat di belakang laki-laki ini, tiba-tiba melancarkan tendangan saat Ok-ciangkun lengah karena terkejut oleh pengakuan tersebut.
"Manusia busuk, kau siluman keji yang melempar fitnah kepada Wutaijin. Jahanam kau!" Laki-laki itu mencelat, terlempar ke pilar di dekat Kaisar, memuntahkan darah segar akibat tendangan yang dahsyat itu, lalu menjerit kesakitan.
Ketika Lo-ciu kembali berkelebat untuk mengulang serangannya, Ok-ciangkun sadar dan membentak marah, lalu menangkis pukulan si Arak Tua yang menyambar tengkuk tawanan itu. Saat Ok-ciangkun berkelebat, Lo-ciu terpental dan berseru keras.
"Plak!" Lo-ciu melompat bangun. Dia menggeram marah melihat tawanan itu luput dihajar, lalu mendelik ke arah lawan dengan mata berapi-api.
Kaisar menggoyangkan tangannya dengan gusar, "Wutaijin, beginikah sikap pembantumu di ruang istana? Kau tak dapat mencegahnya sebelum kusuruh tangkap?"
Wutaijin sadar. Dia tadi terkejut bukan main, tertegun dan membelalakkan mata oleh pengakuan fitnah laki-laki ini, yang tentu saja membuatnya marah hingga mengerotkan gigi. Namun, melihat Lo-ciu mengamuk dan Kaisar menegur penuh ancaman, pembesar ini tergopoh-gopoh menyambar pembantunya, menggigil, dan memohon dengan sangat.
"Lo-ciu, jangan mengumbar kemarahanmu di sini. Kita semakin salah!"
"Tapi jahanam itu memfitnahmu, Taijin. Dia harus dihajar dan kalau perlu dibunuh!"
"Hm!" Ok-ciangkun menjengek. "Istana bukan hutan rimba yang liar, Arak Tua. Kalau kau ingin mencari penyakit, boleh saja lakukan niatmu itu!"
Arak Tua membalikkan tubuh. Dia melihat panglima itu memandangnya dengan dingin, serta melihat tiga bayangan muncul di belakang Kaisar: Sam-hek Bi-kwi. Tiga wanita yang telah membunuh dua orang muridnya, Hui-pian Siang-houw! Arak Tua yang hampir tak tahan itu tiba-tiba diseret majikannya yang pucat dan gemetar.
"Lo-ciu, ingat nasib kita semua di sini. Wu Hap bakal celaka pula kalau kau tak dapat mengendalikan diri. Sadarlah!"
Lo-ciu sadar. Seketika dia menggigit bibir, mundur, dan menahan dadanya yang berombak. Ditambah melihat bayangan Sam-hek Bi-kwi yang muncul tiba-tiba, dia pun membungkukkan tubuh memberi hormat, meminta maaf pada Kaisar sambil menggigil dan menindas semua kemarahannya.
Ketika Kaisar memandang Wutaijin, pembesar itu menjatuhkan diri berlutut dengan suara parau, "Sri Baginda, mohon ampun beribu ampun. Namun, sesungguhnya hamba katakan di sini, hamba sama sekali tak mengenal laki-laki busuk itu!"
"Tapi dia telah menyatakan pengakuannya, Taijin. Kalau begitu, siapa dia?"
"Hamba tak tahu, Sri Baginda. Tapi yang jelas, dia mata-mata dari kerajaan Yueh!"
"Dari mana kau tahu?"
Wutaijin tertegun. "Dari gerak-geriknya bersama selir Paduka, Sri Baginda. Bukankah selir Paduka berasal dari sana?"
"Hm, jadi baru dugaan belaka, Taijin? Kau tidak mempunyai bukti-bukti kuat?"
"Hamba justru mempunyai bukti pada diri laki-laki itu, Sri Baginda. Hamba ingin menginterogasinya di hadapan Paduka agar dia mengaku!" Wutaijin bingung sekaligus penasaran. "Tapi tak hamba sangka bahwa dia justru memfitnah hamba sebagai orang suruhan hamba!"
Kaisar tiba-tiba tertawa mengejek. "Taijin, kalau begitu tindakanmu salah. Orang yang kauanggap mata-mata ini telah mengaku sebagai pembantumu. Apalagi yang harus kita bicarakan?"
"Tidak, hamba yakin dia mata-mata, Sri Baginda. Sungguh mati, hamba tak mengenal laki-laki jahanam ini. Dia tentu telah dibeli oleh selir Paduka untuk memfitnah hamba!"
"Hm," Kaisar mengerutkan alis. "Kau hendak menambah persoalan baru dengan mencari-cari, Taijin? Dapat pulakah kau membuktikan dugaanmu ini?"
Wutaijin terhenyak. Dia lagi-lagi tak dapat memberi bukti. Laki-laki yang telah memfitnahnya itu justru telah memojokkannya, menolong selir yang dibencinya, dan menyudutkannya dalam kedudukan yang tidak menguntungkan. Ketika melirik perempuan cantik itu, tiba-tiba dilihatnya sang selir tersenyum mengejek, mencibirkan mulut, dan tertawa penuh kemenangan.
Wutaijin yang merah mukanya tiba-tiba sadar. Dia maklum bahwa laki-laki yang ditangkap ini telah melindungi musuhnya, sengaja "memukul" dirinya untuk menyelamatkan Shi Shih. Sadar bahwa memang sesungguhnya ada "permainan" di antara selir cantik itu dengan laki-laki tangkapan ini, Wutaijin mengeluh, roboh, dan tak kuat lagi.
"Sri Baginda, selir Paduka itu cerdik melebihi ular!" Wutaijin pingsan. Dia hanya mengeluarkan kata-kata itu saat roboh, merasa kalah cerdik dan kalah bukti. Karena tawanan itu sendiri telah mengakui bahwa dia adalah orang suruhan Wutaijin, Shi Shih dibebaskan dari segala tuduhan. Kaisar menganggap menterinya ini hanya mencari-cari, bermain api, dan sengaja mendiskreditkan selir kesayangannya karena iri, dengki, dan serik semata. Karena Wutaijin pingsan dan si Golok Emas telah menyatakan pengakuannya, sidang dibubarkan dan Wutaijin dianggap bersalah.
Namun, kegemparan ini masih berlanjut. Lo-ciu, si Arak Tua yang kaget melihat Wutaijin roboh, tiba-tiba melompat maju. Dia marah dan tak kuasa lagi menahan diri, lalu menyerang si Golok Emas yang mencelakakan majikannya. Dia berkelebat dan langsung menggerakkan buli-bulinya untuk menghantam, mempergunakan kesempatan selagi semua orang terbelalak oleh pingsannya Wutaijin.
Begitu jago tua ini menggerakkan buli-bulinya, tanpa dapat dicegah, si Golok Emas menjerit nyaring dan terlempar roboh. Pecah kepalanya!
"Prakk!" Semua orang terkejut melihat kejadian mengerikan di lantai istana itu. Kepala si Golok Emas berantakan, hancur dihantam buli-buli yang dahsyat. Lo-ciu, si Arak Tua yang kini menerjang Shi Shih, menggerakkan buli-bulinya pula untuk menghantam kepala selir Kaisar itu.
"Siluman betina, kau wanita iblis yang jahat!"
Shi Shih terkejut. Ia tentu saja tak dapat mengelak karena bukan orang yang pandai silat. Tapi Sam-hek Bi-kwi yang ada di belakang Kaisar berkelebat ke depan menangkis serangan ini. Juga Ok-ciangkun yang menampar punggung si Arak Tua, yang tentu saja tak tinggal diam dan marah melihat kakek itu mencuri kelengahannya.
Begitu empat bayangan berkelebat menerjang, saat itu juga Lo-ciu menerima benturan tenaga yang membuat tubuhnya terpelanting.
"Arak Tua, kau manusia kurang ajar!"
Lo-ciu terlempar bergulingan. Dia berteriak dan berseru keras, berjungkir balik, dan turun dengan beringas. Melihat bahwa selir cantik itu gagal dibunuhnya, tiba-tiba kakek ini mengayun buli-bulinya dan menerjang kembali, langsung ke arah Sam-hek Bi-kwi yang pertama menangkisnya, dengan rasa geram yang luar biasa.
Ketiga lawan mengelak dan mencabut gelangnya. Sekonyong-konyong bayangan Siang-mo Ji-bin, Mu Ba, Mayat Hidup, serta Hun Kiat muncul. Pemuda yang menjadi pembantu Ok-ciangkun dan yang kini ikut mengawal Kaisar secara rahasia itu pun ikut bertindak. Begitu semuanya bergerak melakukan pukulan, tanpa ampun kakek ini menjerit dan terlempar roboh. Dia tak kuat menerima demikian banyak keroyokan, memekik dan memaki-maki, tunggang-langgang, namun semakin beringas.
Tapi begitu dia melompat bangun dan menerjang kembali, Hun Kiat berseru pada yang lain, "Ji-wi suhu, cuwi enghiong sekalian, mundur. Biar aku yang menghadapi tua bangka ini!"
Hun Kiat mendahului yang lain. Dia sudah menyambut dan sengaja unjuk kepandaian di depan banyak orang, terutama Kaisar dan selir cantik itu. Ketika lengannya menerima buli-buli si Arak Tua, tiba-tiba Lo-ciu menjerit dan terangkat tubuhnya.
"Bress!"
Lo-ciu terkejut. Dia terguling-guling dan terbelalak memandang pemuda itu, melompat bangun, dan mendesis dengan muka kaget. Dia merasa betapa buli-bulinya diterima sebuah tenaga dahsyat yang membuatnya tertolak balik, terangkat demikian ringan, untuk kemudian dibanting bagai menerima serudukan gajah.
Kakek yang sudah gelap pikiran ini tak peduli pada sekelilingnya lagi dan kembali menerjang, ingin mengamuk dan menumpahkan semua kemarahannya. Namun, Hun Kiat yang tertawa mengejek berkelebat memapak. Untuk kedua kalinya, pemuda ini menyambut terjangan lawan, menerima buli-buli yang menghantam lehernya dengan cepat. Dia mengerahkan *sinkang* warisannya dari Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng, hanya setengah bagian saja. Namun, begitu lawan membentur tenaganya, tiba-tiba si Arak Tua memekik dan mencelat roboh, lalu muntah darah.
"Augh!"
Lo-ciu semakin terkejut. Dia menyadari sekarang bahwa orang-orang istana ini memang hebat, semuanya lihai dan memiliki kepandaian mengejutkan. Sementara dia terhuyung melompat bangun, di saat itulah Hun Kiat berseru sambil menampar kepalanya.
"Tua bangka, mampuslah ke alam akhirat!"
Lo-ciu mengelak. Dia terbelalak dan ngeri melihat lawan menampar kepalanya, melihat betapa jari-jari lawan berubah merah seperti darah, amis, dan memualkan. Ketika Hun Kiat mengejar dan dia tersandung sesuatu, tiba-tiba kelima jari pemuda itu telah menyambar mukanya dengan cepat sekali.
"Hun Kiat, jangan bunuh dia!" Bentakan ini menyelamatkan si Arak Tua.