Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 18

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 18

Pek Hong yang tidak dapat membantah segera memanggul Sin Hong dan Bi Lan keluar demi menyelamatkan anak-anaknya. Ia membawa kedua anak yang masih dalam keadaan tertotok itu dengan perasaan pilu, marah, sekaligus bingung, lalu menyembunyikan mereka di tempat yang aman.

Begitu memondong anak-anaknya, ia berseru kepada gurunya, "Aku akan kembali membantumu, Suhu. Jaga dia, jangan sampai lolos!"

Ta Bhok Hwesio mengangguk. Ia merasa lega karena muridnya telah membawa Sin Hong dan Bi Lan untuk menyelamatkan mereka dari ancaman si Penagih Jiwa. Dengan tawa beringas, sang hwesio segera menyerang lawannya bertubi-tubi.

Namun, So-beng mendengus. Iblis itu melompat-lompat menghindar dari semua serangan. Ketika lawannya semakin marah karena semua serangannya luput, tiba-tiba iblis ini melompat mundur dan membentak, "Keledai gundul, persiapkan dirimu untuk menghadap Raja Akhirat!"

Ta Bhok Hwesio terus menyerang dengan gencar. Ia tidak memedulikan bentakan itu dan menyerang secara membabi buta, meski mulai terhuyung karena tenaganya hampir habis. Apalagi ketika luka di lengannya mulai pecah dan darah merembes akibat pengerahan tenaga yang melampaui batas.

Saat sang hwesio mengejar lawan yang melompat mundur, tiba-tiba sebuah tendangan menghantam tubuhnya. "Des!" Ta Bhok Hwesio tidak dapat mengelak. Ia terguling roboh, mengeluh tertahan, dan terbelalak berusaha menyelamatkan diri. Namun, baru saja ia melompat bangun, iblis Penagih Jiwa itu sudah berada di depannya.

"Ta Bhok Hwesio, kau ingin mati dengan mata terpejam?"

Hwesio itu membentak marah. Ia menggerakkan tangan kirinya untuk menghantam dada lawan. Namun, So-beng tertawa dingin dan menggerakkan tangan kirinya pula untuk menangkis. Begitu kedua lengan beradu, sang hwesio tiba-tiba menjerit karena lengannya tidak dapat ditarik; lengannya melekat pada lengan lawan, terhisap oleh tenaga sedotan yang sangat kuat.

"Ah, Ilmu Penghisap Tulang!"

Si iblis tertawa terbahak-bahak. "Kau mengenal ilmuku ini, keledai gundul? Kau tahu kehebatanku sekarang?"

Ta Bhok Hwesio menggerakkan kakinya. Ia menendang pinggang lawan sambil berteriak dan menarik lengan kirinya sekuat tenaga. Namun, saat kakinya mengenai pinggang lawan, Ta Bhok Hwesio mendelik kaget karena kakinya juga "menempel" di tubuh lawan dan tidak dapat ditarik. Di saat ia tertegun, jari lawan tiba-tiba menotok pundaknya.

"Bluk!" Ta Bhok Hwesio terguling. Sekarang ia roboh. Hwesio Tibet yang terkesiap hebat oleh kekalahannya itu mendesis pucat, "So-beng, siapakah kau sebenarnya?"

Iblis itu menendang lawannya hingga Ta Bhok Hwesio terpental ke sudut ruangan. Ia melompat maju, mencengkeram dada sang hwesio, lalu membebaskan totokannya.

"Keledai gundul, lihatlah baik-baik siapa aku!"

Kedok yang tiba-tiba dibuka itu sejenak menunjukkan wajah seseorang. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa detik. Ta Bhok Hwesio yang sempat melihat wajah tersebut berseru tertahan sebelum kedok kembali ditutup. Iblis Penagih Jiwa itu segera mencabut senjatanya yang mengerikan, sebuah cakar baja bergagang panjang.

"Kau...?"

Namun, semuanya berakhir di sana. Cakar baja di tangan iblis Penagih Jiwa itu berkelebat. Selagi lawan masih tertegun oleh wajah di balik kedok, senjata maut itu telah menghunjam ke dada sang hwesio.

"Crak!" Ta Bhok Hwesio menjerit ngeri. Ia mencoba menghindar, tetapi kalah cepat. Begitu cakar baja menyambar dadanya, sang hwesio langsung roboh terjengkang dengan darah muncrat dari dadanya yang berlubang. Ia tewas seketika.

Tepat saat hwesio itu menjerit, Pek Hong muncul kembali di depan pintu. "So-beng, kau membunuh Suhu?"

Pek Hong terkejut bukan main. Begitu melihat gurunya tewas akibat cakar baja mengerikan itu, nyonya muda tersebut memekik tinggi. Ia langsung menyerang lawannya menggunakan pedang kedua yang tadi dipakai gurunya, karena pedang pertamanya sudah patah. Nyonya muda itu menyerang dengan ganas sambil menusukkan pedangnya bertubi-tubi.

Namun, So-beng mendengus. Ia menggerakkan cakar bajanya, senjata yang baru kali itu dikeluarkan. Dengan sekali bentakan sambil menangkis, pedang di tangan nyonya muda itu pun terpental.

"Kwan Pek Hong, aku tidak ingin membunuh lagi. Sudah cukup, sesuai janjiku."

Namun, Pek Hong tetap menyerang dengan tangan kosong. Ia terlalu marah atas kematian gurunya. Dengan hati yang sakit dan mata gelap, ia melancarkan tamparan serta tendangan bertubi-tubi ke arah lawan. Namun, semuanya luput.

Iblis Penagih Jiwa yang marah melihat kegigihan nyonya muda itu segera memasukkan kembali cakar bajanya. Matanya berkilat saat ia membentak, "Kwan Pek Hong, kau sungguh tidak tahu diri. Jika belum empat nyawa tewas di tanganku, tentu kau benar-benar akan kubunuh. Pergilah!"

Tangan si iblis tiba-tiba menyambar tengkuk nyonya muda itu tanpa bisa dihindari. Pek Hong terpelanting dan jatuh roboh. Ketika lawan menyusul dengan sebuah tendangan, nyonya muda itu terlempar dan terguling hingga pingsan.

Pek Hong tidak sadarkan diri selama dua jam. Saat ia terbangun dan menangisi mayat gurunya, iblis Penagih Jiwa itu sudah tidak ada di sana. Iblis itu menepati janjinya untuk membunuh empat jiwa.

Tengah Pek Hong tersedu-sedu, tiba-tiba Bi Lan muncul. "Ibu, Hong-ko diculik orang!"

Pek Hong terkejut luar biasa. Ia membalikkan tubuh dengan wajah pucat dan mata terbelalak. Ia sadar masih memiliki tanggung jawab terhadap kedua anak itu. Namun, saat Bi Lan mengulangi seruannya dengan kaki menggigil, nyonya muda itu menjerit histeris.

"Tidak... tidak mungkin, Lan-ji! Kau bohong!"

Nyonya muda itu segera berkelebat keluar dan meluncur ke bawah gunung bagaikan dikejar setan. Pek Hong langsung menuju ke sebuah gua, tempat ia menyembunyikan kedua anak itu. Namun, saat melihat gua itu kosong, ia terhenyak dengan tubuh gemetar pucat. Setelah mengeluh dan memaki nama "So-beng," ia kembali jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Nasib Pek Hong memang sedang malang. Setelah gurunya tewas, putranya pun lenyap diculik. Karena tidak kuat menanggung kejadian yang bertubi-tubi itu, ia tidak sadarkan diri di dalam gua. Ia tidak tahu bahwa Bi Lan telah sampai di sana dan menangis tersedu-sedu melihat kondisi ibu tirinya. Bi Lan kemudian memapah ibunya kembali ke atas gunung sambil terus menangis dengan penuh kesedihan.

Menjelang siang, dua bayangan berkelebat muncul. "Bi Lan, apa yang terjadi?"

Anak perempuan itu menjerit melihat ayah dan ibunya datang—Pendekar Gurun Neraka dan Ceng Bi yang baru saja tiba. Bi Lan menangis di dada ibunya sambil mengepalkan tinju. "Kami kedatangan musuh, Ibu. So-beng membunuh Sukung dan menculik Hong-koko."

Ceng Bi sangat terkejut. "Apa? So-beng, Lan-ji?"

"Iya, Ibu. So-beng, si Iblis Penagih Jiwa yang jahat dan kejam itu. Dia juga membunuh Lay-lay, Hu-hun, dan Kam-sui."

"Ah!" Ceng Bi melompat ke dalam dan melihat ruangan yang porak-poranda. Meja dan kursi terbalik tidak keruan. Tiba-tiba ia melihat guratan-guratan kasar di tembok:

*Aku yang datang. Pendekar Gurun Neraka, aku yang bertanggung jawab atas semua ini. Tertanda, So-beng.*

Ceng Bi menghentakkan kaki. "Siapa itu So-beng, Yap-koko?"

Pendekar Gurun Neraka menggeretakkan gigi. Ia sendiri tidak tahu, sehingga pertanyaan istrinya hanya disambut dengan gelengan kepala. Ia kemudian melompat menghampiri Pek Hong.

"Aku tidak tahu, Bi-moi. Tapi mungkin Hong-moi tahu. Biar kusadarkan dia."

Pendekar Gurun Neraka segera memeriksa istrinya dan melakukan tiga totokan di pundak serta punggung. Ia lega karena istrinya hanya pingsan dan tidak mengalami luka dalam. Saat Pek Hong terbangun dan melihat suami serta madunya, ia langsung menubruk suaminya sambil mengguguk.

"Yap-koko, Hong-ji dibawa penjahat!"

Pendekar Gurun Neraka mencoba menenangkan guncangan batin istrinya. "Iya, aku tahu, Hong-moi. Tapi siapa yang membawanya?"

Pek Hong tersedu-sedu. "So-beng, Koko. Iblis Penagih Jiwa itu datang kemari dan membunuh Suhu."

"Kau tahu siapa dia?"

Pek Hong menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu, Koko. Iblis itu menyembunyikan wajahnya di balik kedok kulit berwarna merah."

"Tapi kau tahu ciri-cirinya?"

"Iya. Dia bertubuh sedang, tatapan matanya keji, dan mahir memainkan Ang-ciang serta Ilmu Penghisap Tulang."

"Tanda-tanda lain?"

Pek Hong kembali tersedu-sedu. "Aku tidak tahu, Koko... aku tidak tahu..."

Pek Hong hampir jatuh pingsan lagi karena tekanan batin yang berat. Pendekar Gurun Neraka mendekapnya erat, sementara Ceng Bi memandang madunya dengan penuh rasa sesal.

"Enci Hong, maafkan aku. Jika kita berdua ada di sini, tentu kau tidak akan kehilangan Hong-ji. Sudahlah, aku bersumpah akan mencari iblis itu. Biarlah kau dan Yap-koko tinggal di sini untuk menjaga Bi Lan."

Pek Hong menangis sedih. "Aku tidak menyalahkanmu, Bi-moi. Setan itu rupanya datang saat tahu kalian tidak ada di rumah."

"Namun, aku bertanggung jawab atas keselamatan Sin Hong, Enci. Temanilah Yap-koko, biar aku yang turun sekarang juga!"

Ceng Bi bersiap untuk berangkat, tetapi Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba berseru, "Bi-moi, tunggu dulu!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment