Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 180

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 180

Lo-ciu tidak sempat menghindar lagi ketika serangan itu tiba, siap mengenai mukanya yang tentu akan hancur. Namun, Hun Kiat yang mengubah gerakan dan menotok pundaknya membuat kakek itu mengeluh dan roboh terjerembap. "Tuk," si Arak Tua pingsan seketika. Dia sebelumnya sudah menerima pukulan bertubi-tubi dari keroyokan Mu Ba dan kawan-kawan. Maka, begitu Hun Kiat menotoknya, ia pun tak sadarkan diri di ruangan itu.

Nyaris binasa kalau Ok-ciangkun tidak mencegah Hun Kiat membunuh kakek ini dengan melancarkan *Tok-hiat-jiu* yang ganas. Kaisar pun memerintahkan untuk menangkap kakek ini dan menjebloskan si Arak Tua ke dalam penjara. Hal ini memperberat kesalahan Wu-taijin dengan tewasnya si Golok Emas, karena dianggap sengaja menghilangkan jejak. Si Arak Tua yang dilempar ke penjara akhirnya menjadi pesakitan dan justru dituduh macam-macam.

Begitulah, kejadian menggemparkan di istana itu berakhir. Wu-taijin kalah. Namun, karena kaisar mengingat jasa-jasa menteri itu yang amat besar terhadap roda pemerintahan, tidak diambil tindakan panjang terhadapnya. Wu-taijin dianggap hanya mencari-cari keributan, kemudian diampuni kaisar dan diperingatkan agar tidak mengulang perbuatannya. Wu-taijin, yang tertegun melihat Lo-ciu ditangkap, lalu memohon kepada kaisar untuk mengampuni pula pembantunya itu. Kaisar mengabulkan permohonan tersebut dan kembali memberi peringatan keras kepada menterinya agar tidak membuat onar.

Wu-taijin yang dua kali menerima pil pahit dari selir yang cantik itu akhirnya berputus asa, hampir saja bunuh diri jika tidak dicegah putranya. Menteri yang terpukul oleh dua kejadian berturut-turut yang mengguncang jiwanya ini kembali jatuh sakit. Beberapa hari kemudian, sejak gagalnya peristiwa di ruang sidang itu, Wu-taijin terlihat kurus. Menteri ini sakit hati sekali, sering batuk-batuk, dan mengepal tinjunya. Ia bekerja tanpa semangat hingga roda pemerintahan mulai kacau.

Ketika ia duduk sendirian di kamarnya, tiba-tiba muncul sebuah kereta yang berhenti di rumahnya. Penjaga melapor bahwa Pangeran Kin datang. Wu-taijin menyambut dengan kening dikerutkan, lalu mempersilakan pangeran itu masuk; ia tampak pucat dan tidak begitu gembira. Begitu tamunya duduk, pembesar ini segera bertanya, "Maaf, ada keperluan apa Paduka kemari, Pangeran? Mengapa malam-malam begini datang?"

Pangeran ini, yang sebaya dengan Wu Hap, tampak terharu memandang Wu-taijin. Dia adalah teman baik putra pembesar ini, ikut prihatin, dan sudah mendengar semuanya dari banyak mulut. Ia diam-diam tidak senang pula pada selir ayahnya yang memboroskan uang negara itu. Maka, menarik napas dan bergetar lirih, ia menjawab, "Aku kemari untuk membicarakan urusan penting, Paman Wu. Akhir-akhir ini rakyat mulai mengeluh oleh kepincangan yang terjadi di dalam istana. Mengapa Paman acuh saja membiarkan kenaikan pajak yang diumumkan Liem-taijin? Bukankah Paman dapat bergerak untuk meniadakan ini?"

Wu-taijin batuk-batuk. "Pangeran, hamba memang ditugasi Ayah Paduka untuk mengatur roda pemerintahan. Tapi bagaimana hamba akan protes tentang kenaikan pajak itu bila Ayah Paduka yang menyuruh Liem-taijin mengumumkan? Rakyat memang mulai terhimpit, Pangeran, dan hamba menangis melihat keadaan ini."

"Dan Paman mulai tak acuh menjalankan tugas. Mengapa dalam beberapa hari ini Paman tak bersemangat dan membiarkan orang-orang bawahan Paman merajalela? Mereka katanya menyelewengkan tugas-tugas negara. Banyak di antara mereka yang mulai korupsi!"

Wu-taijin menyeringai pedih. "Hamba mulai mendengar cerita itu, Pangeran. Besok hamba merencanakan menyelidiki kebenaran berita ini setelah hamba sehat kembali!"

"Dan Paman tahu pengangkatan Menteri Lui?"

"Hm, pejabat yang diberi tugas mengurusi tanah-tanah negara itu, Pangeran?"

"Ya, menteri baru ini, Paman. Ada berita mengejutkan yang diam-diam kudengar!"

Wu-taijin membelalakkan matanya. "Apa itu, Pangeran?"

Pangeran ini tidak segera menjawab. Dia celingukan ke sana-sini, melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah dirasa aman, ia berbisik, "Lui-taijin bermaksud menjual tanah-tanah negara, Paman. Mengubah status tanah itu menjadi milik pribadinya. Ribuan hektar!"

Wu-taijin terkejut. "Apa? Demikian berani menteri itu, Pangeran? Padahal dia baru saja diangkat?"

"Sst, jangan keras-keras, Paman. Berita ini kudengar secara kebetulan saja ketika Lui-taijin menghadap selir Ayahanda!"

"Syi-Syi?"

"Ya."

Wu-taijin pucat. Menteri ini tiba-tiba menggigil, batuk-batuk, dan menekan dadanya dengan hebat. Namun, ketika ia berhasil menguasai diri, ia mengepal tinju dan berkata penuh kemarahan, "Sudah kuduga. Menteri baru itu memang antek selir itu, Pangeran. Tapi bagaimana kita bisa membuktikan hal ini pada Ayah Paduka? Beranikah Paduka memberitahukannya terang-terangan?"

"Tidak, aku tak berani, Paman. Aku bukan pengurus pemerintahan yang sehari-harinya bergelut dengan itu. Aku justru ingin meminta bantuan Paman untuk mencegah hal ini."

"Hm!" Wu-taijin ragu-ragu; ingatannya tertuju pada kegagalannya dua kali menghadapi selir berbahaya itu. Namun, semangatnya bangkit mendengar berita ini. "Pangeran, ibunda selir Paduka itu cerdik sekali. Kita harus berhati-hati. Apakah hasil pembicaraan itu dapat Paduka rekam baik-baik? Beranikah Paduka menjadi saksi?"

"Asal Paman di belakangku, tentu aku berani. Tapi kalau sendirian, terus terang aku gentar!"

"Baik, kalau begitu kita jebak mereka, Pangeran. Kita rencanakan akal bagus untuk menangkap basah perbuatan menteri baru ini. Utus seseorang untuk membeli tanah pada menteri baru ini dan buka kebobrokannya pada kaisar."

Pangeran muda itu setuju. Mereka bercakap-cakap lagi mengatur siasat dan mencari orang yang tepat untuk melakukan tugas ini dengan berpura-pura membeli tanah negara yang dikuasai Lui-taijin. Pilihan jatuh pada Sang-wangwe (hartawan Song) yang mereka kenal baik. Begitu semuanya beres, pangeran itu segera pergi kembali ke istananya.

Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Song-wangwe, hartawan yang diincar dan siap dijadikan pembantu untuk menjebak Lui-taijin, ternyata tewas. Hartawan itu dikabarkan digigit ular berbisa. Ketika pangeran memeriksa, memang benar di bawah siku hartawan itu terdapat tusukan kecil mirip gigitan ular.

"Sial, orang yang kita pilih keburu mati, Paman. Siapa lagi yang harus menggantikannya?"

Wu-taijin menyebut beberapa nama hartawan kaya yang berhubungan dengannya. Namun, ketika satu demi satu dari mereka gagal karena tewas "digigit ular", tiba-tiba saja Pangeran Kin dan Wu-taijin tersentak, kaget, dan sadar bahwa semuanya ini tidak wajar. Ketika Lo-ciu datang membawa kabar, kekagetan mereka semakin menjadi.

"Mereka tewas bukan dipagut ular, Taijin. Melainkan karena jarum beracun yang amblas di kulit mereka!"

Dua orang itu meremas tinju. "Kau yakin, Lo-ciu?"

"Tentu, lihat ini, Taijin. Hamba baru saja mengambil jarum yang membunuh Swi-wangwe!" Kakek itu mengeluarkan jarum hitam dan meletakkannya di telapak tangan dengan hati-hati. Ketika pangeran hendak menyentuhnya, kakek ini memperingatkan, "Jangan sentuh. Jarum itu berbahaya sekali, Pangeran. Kulit bisa hangus dan keracunan!"

Pangeran itu terkejut. "Demikian berbahaya, Locianpwe?"

"Ya, amat berbahaya sekali, Pangeran. Apalagi kalau menembus kulit mengenai daging!"

Pangeran membelalakkan mata. Sekarang mereka berdua maklum bahwa musuh telah mencium rencana mereka. Terbukti dari tindakan membunuh hartawan-hartawan yang mereka hubungi. Ketika Wu-taijin menggigil mengepal tinjunya, Wu Hap muncul membawa berita baru.

"Ayah, Lok-taijin diangkat menjadi Menteri Perairan. Kabarnya pembesar ini akan melipatgandakan pajak yang memasuki semua pelabuhan!"

Wu-taijin terkejut. "Kapan terjadinya itu, Hap-ji?"

"Kemarin, Ayah. Sri Baginda mengangkat menteri itu atas permintaan selirnya."

"Keparat!" Menteri ini semakin beringas. "Lagi-lagi selir jahanam itu! Apa maksudnya menaikkan pangkat pejabat-pejabat pemerintahan? Dan mengapa Sri Baginda tidak meminta saran atau pertimbanganku?"

Pangeran Kin bangkit berdiri. "Rupanya ibunda selir ingin menyenangkan pembantu-pembantunya, Paman. Mungkin dia mau membiarkan semua orangnya korupsi!"

"Ya, dan mengadakan kudeta di saat negara sedang kacau, Pangeran. Rupanya selir itu mau memberontak dan menjadi ratu!" Menyambar lengan pemuda itu, Wu-taijin tiba-tiba menyiapkan keretanya menuju istana. "Pangeran, bantu aku untuk melapor pada Sri Baginda!"

Menyuruh kusir berangkat, Wu-taijin buru-buru menghadap kaisar. Kebetulan, Kaisar baru santai dipijat pelayan-pelayan cantik. Wu-taijin menjatuhkan diri, berlutut, dan langsung memohon untuk bicara.

"Ampun, hamba membawa berita penting, Sri Baginda. Bolehkah hamba bicara?"

Sang kaisar mengerutkan kening. "Apa yang kaubawa, Taijin?"

Wu-taijin tidak menghiraukan sikap dingin itu, membenturkan dahinya. "Hamba membawa berita penting, Sri Baginda. Bahwa Lui-ciangkun mau melahap semua tanah negara untuk menjadi milik pribadinya. Pangeran Kin menjadi saksi!"

Kaisar terkejut, membelalakkan matanya. "Apa? Lui-ciangkun, Taijin? Kau bilang dia mau memiliki tanah negara untuk namanya sendiri?"

"Ya, ampunkan hamba, Sri Baginda. Yang mendengar itu adalah putra Paduka sendiri, Kim-ongya (Pangeran Kin)."

Kaisar turun dari kursi goyangnya. Dia terbelalak dan merah mukanya memandang putranya dengan gusar. Lalu, membentak dengan suara keras, dia bertanya, "Pangeran Kin, betulkah yang dikatakan pamanmu ini? Kapan kau mengetahuinya?"

"Ampun, hamba tahu ketika Lui-taijin kasak-kusuk dengan seseorang, Ayahanda Kaisar. Secara kebetulan, telinga hamba mendengar sendiri percakapan itu!"

"Siapa?"

Sang pangeran ragu, tidak segera menjawab, dan tampak pucat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment