Chapter 181
Kaisar yang marah membentak dengan gusar, "Pangeran, katakan dengan cepat siapa orang yang bersekutu dengan Lui-taijin itu. Biar kuhukum dia!"
Pangeran itu ketakutan. Namun, melihat ayahnya murka dan mau tidak mau harus menjawab, ia berkata dengan suara lirih, "Ibunda selir, Ayahanda. Orang yang disayang dan dekat dengan Paduka..."
"Siapa namanya?"
"Ibunda Shi Shih..."
"Keparat!" Kaisar tiba-tiba berang. "Kau mengacau anakku untuk memusuhi ibu tirinya, Wu-taijin? Kau menghasut dan lagi-lagi membawa nama selirku itu?"
"Tidak, ampunkan Hamba!" Wu-taijin pucat. "Bukan Hamba yang menghasut putra Paduka, Sri Baginda. Melainkan putra Paduka sendiri yang datang memberi tahu ke rumah Hamba. Hamba tidak membakar atau mengacau putra Paduka!"
"Benar," pangeran muda itu menimpali. "Hamba mendengar sendiri percakapan itu, Ayahanda. Paman Wu tidak tahu apa-apa dan Hamba yang memberitahunya. Hamba tidak dihasut!"
Sri Baginda tertegun. Melihat junjungannya mulai percaya, menteri setia itu berkata dengan suara gemetar, "Sri Baginda, Hamba tidak memfitnah atau melontarkan omongan palsu di sini. Sebaiknya Paduka selidiki dulu laporan ini secara diam-diam. Paduka boleh membuktikan benar atau tidaknya!"
Kemudian, pangeran muda menyambung bicara dengan lebih mantap sambil membenturkan kepalanya ke lantai, "Hamba menjadi saksi utamanya, Ayahanda. Boleh Paduka bawa selir Paduka itu untuk berhadapan dengan Hamba!"
Kaisar goyah. Ia tidak mungkin tidak mempercayai putranya sendiri, meskipun pangeran itu bukanlah putra mahkota. Maka, dengan menggigil dan mengertakkan gigi, Kaisar menyuruh panggil selirnya.
Ketika Shi Shih datang menghadap, Kaisar berkata dengan wajah bengis, "Shi Shih, betulkah kau merencanakan membalik nama semua tanah negara untuk Lui-taijin? Benarkah apa yang didengar putraku ini?"
Shi Shih tertegun. Sejenak ia kaget, namun kemudian tersenyum. Sambil menjatuhkan diri berlutut, selir itu menjawab, "Sudahkah orang yang membawa laporan ini mempunyai bukti, Sri Baginda? Adakah buktinya Hamba menyuruh Lui-taijin menyulap tanah negara?"
Kaisar terbelalak dan memandang putranya. "Kau ada bukti, Pangeran?"
"Tidak," jawab pemuda itu gugup. "Hamba mendengar langsung percakapan mereka, Ayahanda. Bukti apalagi yang harus Hamba kemukakan?"
"Ah," Shi Shih tersenyum. "Kalau begitu kau mengada-ada, Pangeran. Dan ada apa pula Wu-taijin di tempat ini? Apakah dia bersamamu?"
"Benar," jawab Kaisar. "Wu-taijin datang bersama putraku ini, Shi Shih. Dia menyatakan Lui-taijin mau menyulap tanah negara menjadi tanah miliknya pribadi atas perintahmu!"
"Hm, kalau begitu panggil Lui-taijin, Sri Baginda. Suruh dia membawa catatan-catatan tanah negara yang ada. Benarkah sudah menjadi miliknya pribadi atau belum. Kalau tidak, maka Wu-taijin Hamba anggap memfitnah dan untuk ketiga kalinya hendak menjatuhkan Hamba karena iri dan dengki!"
Wu-taijin pucat, dan sang pangeran pun terkejut. Ketika Lui-taijin dipanggil untuk menunjukkan apa yang diminta Kaisar, ternyata berita yang dibawa itu bohong belaka.
"Taijin, semua catatan di sini lengkap adanya. Lui-taijin tak terbukti menyulap tanah negara menjadi miliknya sendiri. Apa sekarang katamu?"
Menteri itu gemetar. "Hamba... Hamba tak tahu, Sri Baginda. Hamba membawa pangeran ke sini hanya untuk mengantarnya memberi laporan!"
"Hm, bagaimana itu, Pangeran?"
"Betul, Hamba tak melibatkan Paman Wu, Ayahanda. Ini adalah tanggung jawab Hamba pribadi untuk menyelamatkan negara!" Pangeran Kim menjawab dengan gagah.
Pangeran itu mengerutkan kening, penasaran karena bukti yang ia miliki tidak cukup. Ia teringat bahwa beberapa hartawan tewas setiap kali hendak membuka rahasia ini. "Tapi, Sri Baginda, bagaimana teman-teman Hamba semuanya tewas sebelum membuka rahasia ini? Hamba hendak membongkar kedok kebusukan ini untuk membuktikannya pada Paduka, tapi semuanya terbunuh sebelum menjalankan tugasnya!"
Kaisar tak mengerti. "Apa maksudmu?"
Pangeran menceritakan bahwa ia diam-diam ingin membongkar rahasia ini dengan mengatur rencana menjebak Lui-taijin melalui para hartawan kaya untuk menangkap basah menteri itu dalam praktik jual-beli tanah negara. Namun, ketika satu demi satu hartawan itu tewas, kecurigaan pangeran semakin kuat.
"Bayangkan, semua hartawan yang Hamba hubungi binasa, Sri Baginda. Kalau tidak dibunuh komplotan Lui-taijin ini, apakah itu suatu kebetulan belaka? Mungkinkah kematian para hartawan ini terjadi secara kebetulan saja?"
Kaisar terkejut. "Begitukah?"
"Ya, begitu kenyataannya, Sri Baginda. Paduka boleh tanya semua orang untuk membuktikan tewasnya hartawan-hartawan ini. Yang anehnya, semuanya tewas dengan luka yang sama, ditembus jarum beracun!"
Kaisar terbelalak memandang Lui-taijin yang gemetar dan pucat wajahnya. Namun, Shi Shih berseru lantang, "Tapi Pangeran, adakah buktinya bahwa kematian hartawan-hartawan itu benar-benar disebabkan Lui-taijin? Bagaimana kalau dibunuh orang lain yang merupakan pihak ketiga?"
"Tak mungkin, aku mendengar sendiri pembicaraan kalian, Ibunda Selir. Aku yakin bahwa sahabat-sahabatku itu dibunuh oleh orang-orang kalian!"
"Hm, menuduh berdasarkan dugaan semata bukanlah pekerjaan baik, Pangeran. Bagaimana kalau kuminta buktinya dulu? Kau telah memfitnah kami, padahal kami dapat membuktikan bahwa semuanya itu tidak benar. Sri Baginda telah melihat surat-suratnya yang utuh sesuai aslinya. Dan sekarang kau menuduh pula bahwa kematian hartawan teman-temanmu itu adalah perbuatan kami! Mana buktinya, Pangeran?"
Sang pangeran terhenyak. Shi Shih yang wajahnya memerah kemudian berlutut di hadapan Kaisar. "Sri Baginda, rupanya banyak orang yang tak senang pada Hamba. Kalau Kim-ongya dapat membuktikan tuduhannya pada Paduka, biarlah Hamba terima itu dan rela dihukum. Tapi kalau tidak, Hamba mohon Paduka menghukum putra Paduka agar Hamba tak dituduh sembarangan!"
Kaisar terkejut. Ia merasa putranya salah karena menuduh tanpa bukti, namun ia juga heran mengapa para hartawan itu tewas dengan cara yang sama. Wu-taijin tiba-tiba maju berlutut dan berkata, "Sri Baginda, ampun. Omongan yang diminta selir Paduka memang betul, tapi sebaiknya kita bersikap adil. Kalau Kim-ongya diminta untuk membuktikan tuduhannya, maka selir Paduka juga harus dapat membuktikan bahwa orang-orangnya tidak melakukan pembunuhan itu!"
"Hm, apa maksudmu, Taijin?"
"Jelas, Sri Baginda. Kalau selir Paduka berkata ada pihak ketiga yang melakukan pembunuhan, maka sebaiknya selir Paduka diminta untuk menangkap pihak ketiga tersebut dan menyerahkannya kepada Paduka sebagai bukti bahwa ia benar-benar tidak bersalah."
Semua orang terkejut. Kaisar mengangguk setuju. Shi Shih dan Lui-taijin tersentak, sementara menteri tua itu tersenyum mengejek.
"Bagus, itu memang adil, Taijin. Pangeran dan selirku harus dapat membuktikan diri. Siapa yang tidak benar, dia harus menerima hukumannya, tak peduli siapa orangnya!"
Wu-taijin girang dan memberi isyarat kepada Pangeran untuk setuju. Pangeran mengangguk, begitu pula dengan Shi Shih yang terpaksa menerima dengan muka merah padam.
Kaisar telah mengambil keputusan, namun keraguan mulai menyelinap di hatinya. Wu-taijin memanfaatkan kesempatan itu, "Sri Baginda, percayalah. Bukannya Hamba menghasut, tapi sekali lagi Hamba peringatkan agar Paduka berhati-hati terhadap selir Paduka itu. Shi Shih terlampau cantik dan berbahaya. Dia adalah mata-mata yang hendak menjatuhkan kita dan merusak negara!"
Kaisar mulai curiga dan menjauhi selirnya. Shi Shih yang mendongkol lalu memanggil seseorang. Malam itu, di kamar Pangeran Kim yang sedang membaca buku, pintunya diketuk halus.