Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 182

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 182

"Pangeran, sudah tidurkah Paduka?"

Pangeran itu mengerutkan kening. Dia telah memberi tahu para pelayan agar tidak mengganggunya saat itu. Mengapa ada yang datang? Mengira pelayan yang mengetuk pintu, ia pun spontan mengusir.

"Pergilah, aku tak mau diganggu. Bukankah sudah kukatakan tadi agar tak usah ke mari?"

"Ih, hamba bukan dayang, Pangeran. Hamba adalah Bi Kwi. Tolong bukakan pintu!"

Sang Pangeran terkejut. Dia mencelos mendengar bahwa yang datang itu adalah Bi Kwi, salah satu dari tiga pengawal ayahnya yang membantu Ok-ciangkun. Pangeran pun menutup bukunya dan terbelalak saat membukakan pintu, melihat Bi Kwi dengan senyum aduhai yang menawan hati. Saat Pangeran mempersilakan masuk, wanita itu berjalan dengan lenggang memikat dan duduk di kursi.

"Aduh, kesal hamba mengetuk pintu, Pangeran. Kenapa Paduka diam saja tak menyambut?"

Pangeran tersirap. Dia melihat Bi Kwi menyilangkan paha, seolah "pamer" dengan sikap berani. Pangeran tersenyum sambil mencoba menenangkan debaran hatinya, ia melengos dan buru-buru menarik kursinya.

"Bibi, ada apa kau ke mari? Utusan ayahkah?"

"Aih," Bi Kwi mencemberutkan mulut. "Sudah sedemikian tuakah hamba hingga Paduka memanggil bibi, Pangeran? Tidakkah Paduka lihat bahwa hamba masih tak kalah dengan gadis remaja?"

Sambil melempar rambut dengan sikap menggairahkan, wanita ini mengerling lawannya dengan senyum dikulum, mengerahkan ilmu berahi yang disebut *Bijiu-kui* untuk membetot semangat laki-laki dengan pandangan mata yang menawan. Pangeran muda itu tertegun dan bengong. Dia melihat Bi Kwi luar biasa cantik, manis, dan menggairahkan. Saat Bi Kwi terkekeh dan menyambar lengannya, tahu-tahu Pangeran sudah terduduk di pangkuan wanita itu.

"Ah, jangan...!" Sang Pangeran terkejut, langsung berdiri dan beringsut ke kursinya, kaget bukan main.

Namun, Bi Kwi yang menggeser duduknya tahu-tahu telah berada di samping Pangeran, tertawa geli. "Pangeran, Paduka lucu sekali. Kenapa takut berdekatan dengan hamba? Baukah tubuh hamba hingga harus dijauhi?"

"Tidak... kau, ini..." Pangeran itu gugup, tak mampu mengeluarkan suara saking heran dan kagetnya.

Ketika Bi Kwi mengerahkan kekuatan pandang matanya dan memperberat tekanan *Bi-jin-kui*-nya, mendadak Pangeran muda itu mengeluh, gemetar, dan menggigil.

"Bibi... apa keperluanmu datang kemari? Diutus Ayahanda Kaisarkah?"

"Ih!" Bi Kwi memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. "Hamba ke mari atas kemauan sendiri, Pangeran. Ada urusan penting yang hendak hamba beritahukan. Masalah pembunuhan yang dilakukan ibu tiri Paduka!"

"Apa?" Sang Pangeran terkejut. "Masalah hartawan-hartawan yang tewas itu?"

"Hm," Bi Kwi memotong. "Aku tak mau kausebut bibi, Pangeran. Kalau kau sebut juga nama itu, aku akan ngambek!"

Sang Pangeran tentu saja girang. Dia terlanjur gembira mendengar berita yang memang sedang dicarinya. Melihat pengawal ayahnya itu cemberut, Kim-ongya tertawa rikuh.

"Niocu, bagaimana harus mengubah panggilan ini? Apa yang harus kulakukan?"

"Hm, kau harus menyebutku Enci, Pangeran. Enci Bi Kwi!"

"Ah, Enci?"

"Ya. Tampak tuakah hamba akan sebutan itu, Pangeran? Tidak pantaskah?"

Sang Pangeran tersenyum. Dia telah mengenal wanita ini, pembantu Ok-ciangkun, pengawal rahasia istana yang konon masih memiliki hubungan *su-moi* dengan panglima bermarga Ok. Tergetar memandang Bi Kwi, Pangeran tersipu. Malam itu, wanita ini terlihat sangat cantik. Pipinya kemerahan, cuping hidungnya kembang-kempis dengan setitik keringat di ujungnya. Sangat manis. Saat tatapan mereka bertemu, gairah Pangeran bangkit. Entah mengapa, berahinya timbul dan ia tak malu lagi untuk bertatap mata terang-terangan. Ketika Bi Kwi melebarkan senyumnya, pemuda ini terengah.

"Enci Bi Kwi, apa yang hendak kau bicarakan? Aku sudah memenuhi permintaanmu, bukan?"

"Hi-hik, permintaan kecil itu memang tak seberapa, Pangeran. Tapi apalagi yang dapat Paduka berikan untuk menukar berita ini? Hamba tahu siapa pembunuh hartawan-hartawan itu!"

"Hm, katakanlah," Sang Pangeran berseri-seri, mabuk akan wajah Bi Kwi yang mengeluarkan sinar dari ilmu perampas berahi *Bi-jin-kui*.

Saat Bi Kwi terkekeh dan sengaja jual mahal, Pangeran menyentuh pundak wanita itu. "Katakanlah, Enci Bi Kwi. Aku akan membayarmu berapa saja yang kauminta. Asal benar!"

"Hi-hik, tentu benar, Pangeran. Mana mungkin hamba main-main?"

"Aku percaya, Enci. Bagaimana berita yang kaubawa itu?"

"Tentu. Tapi berapa banyak yang akan kau berikan pada hamba, Pangeran? Sepadankah?"

"Ah, tentu sepadan. Berapa yang kau minta? Selaksa tail? Dua laksa tail?"

"Hm, hamba tak minta uang, Pangeran. Hamba tak butuh uang!"

"Kalau begitu, apa yang kau minta?"

Bi Kwi menahan senyum, pura-pura menunduk. Belahan dadanya membuat sang Pangeran tersirap. Tahu-tahu, Bi Kwi sudah mendengus di belakang tengkuknya dengan suara menggoda, "Apa yang kau minta, Enci? Istanakah?"

Bi Kwi bangkit berdiri, maklum bahwa ilmu perampas berahinya mulai bekerja. Begitu sang Pangeran menunduk di belakangnya, wanita ini memutar tubuh, langsung memeluk, dan berbisik lirih bahwa yang diminta bukanlah uang, melainkan cinta kasih dan kasih sayangnya. Saat Pangeran tergetar, Bi Kwi mengangkat muka dan mencium mulut Pangeran.

"Pangeran, hamba... hamba butuh kasih sayang Paduka!"

Sang Pangeran terkejut. Mulutnya dicium Bi Kwi, dipagut, dan dihisap bertubi-tubi. Saat Bi Kwi menggelinjang dan membuka pakaiannya, wanita itu telah telanjang bulat di depan sang Pangeran. Polos tanpa sehelai benang pun. Ketika Bi Kwi menarik Pangeran ke atas pembaringan, sang Pangeran pun roboh dan hanyut.

Sebelumnya, Bi Kwi telah menggunakan ilmu hitamnya, *Bi-jin-kui*, agar tidak gagal dalam menundukkan Pangeran. Karena pada dasarnya Pangeran itu adalah laki-laki yang mudah tergoda, tak heran jika Bi Kwi berhasil mempengaruhinya. Saat Bi Kwi melepas pakaian Pangeran, untuk pertama kalinya Kim-ongya berhubungan dengan pengawal rahasia istana itu. Pangeran tidak tahu bahwa diam-diam Bi Kwi menuang bubuk putih ke tempat minumannya, melakukan sesuatu yang berbahaya.

Setelah semalam suntuk bersenang-senang, pagi harinya Pangeran terengah, kehabisan napas.

"Enci, kau hebat sekali! Beginikah kiranya kau merobohkan aku?"

Bi Kwi tertawa, memeluk pinggang Pangeran. "Hamba masih belum seberapa hebat, Pangeran. Tapi dua kakak hamba yang lain jauh lebih hebat dan pandai dibanding hamba!"

Pangeran terkejut. "Kau main-main, Enci?"

"Ah, siapa main-main, Pangeran? Kalau hamba main-main, tentu tak perlu kemari dan tidur bersama Paduka semalam."

Pangeran memerah mukanya. "Hm, apa yang kauminta telah kupenuhi. Sekarang bagaimana dengan janjimu itu?"

"Hi-hik, kau khawatir aku berdusta, Pangeran? Jangan cemas, hamba tak akan menjilat ludah sendiri!" Sambil terkekeh mencium Pangeran, Bi Kwi berbisik, "Berita berharga tak boleh dikatakan begitu saja. Paduka cukup hebat, hamba ingin kembali lagi menagih janji!"

"Maksudmu?"

"Hamba ingin bermain cinta lagi, Pangeran. Paduka merangsang dan menggairahkan sekali. Hamba kagum."

"Tapi kau belum menepati janjimu, Enci."

"Hi-hik, hamba tidak bohong. Tapi kalau Paduka ingin tahu secara lengkap, maka Paduka harus melayani hamba empat hari berturut-turut. Ini malam pertama. Karena itu, biar hamba beri tahu dulu huruf-huruf pertamanya!"

Sambil menggores ujung jarinya di lantai kamar, Bi Kwi membentuk huruf "Sin". Sang Pangeran yang penasaran segera terbelalak. "Enci, apa artinya itu? Kenapa kau tak melanjutkan kalimat ini dengan jawaban yang lengkap?"

"Hi-hik, jawaban lengkap akan hamba beri tahu setelah empat hari berturut-turut, Pangeran. Sekarang cukup Paduka hafal dulu nama pembunuh itu. Huruf pertamanya adalah Sin!"

Sang Pangeran terbelalak gemas. Namun, saat hendak menangkap, Bi Kwi berkelebat keluar.

"Pangeran, pelayanmu datang...!"

Sang Pangeran kecewa. Dia melihat pintu kamarnya diketuk. Benar saja, seorang pelayan datang. Pangeran menggerutu dengan muka tidak puas, lalu melompat melihat Bi Kwi sudah lenyap melalui jendela.

Sepanjang hari itu dia mencari Bi Kwi, namun wanita yang telah menjadi kekasihnya itu tak tampak. Bi Kwi entah bersembunyi di mana. Namun, saat malam tiba dan Pangeran kembali duduk membaca buku seperti kemarin, mendadak bayangan Bi Kwi muncul.

"Pangeran, Paduka mencari-cari hamba?" Bi Kwi tertawa, mengejutkan Pangeran yang masih gemas.

Saat Bi Kwi menubruk dan memeluknya, mulut sang Pangeran sudah ditutup dengan ciuman panas. Kim-ongya terengah dan bangkit berdiri. Dia menegur sambil tersenyum, "Enci, kau keterlaluan sekali. Kenapa datang dan pergi seperti siluman?"

Bi Kwi terkekeh. "Hamba tak boleh lama-lama di sini, Pangeran. Hamba bertugas bergantian dengan dua Enci hamba yang lain."

"Dan malam ini, kau akan memberi tahu aku nama pembunuh itu?"

"Tentu, tapi bayar dulu janji Paduka, Pangeran. Kita bersenang-senang dulu sebelum membicarakan itu!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment