Chapter 183
Kemudian, seperti kemarin ketika Bi Kwi melepas bajunya, saat itu pula Pangeran Kim terbawa suasana. Ia hanyut dan mabuk oleh sikap Bi Kwi yang merangsang, yang membuatnya tampak luar biasa cantik di mata Pangeran Kim yang tak tahan dan sudah berdebar menunggu kedatangannya. Ia terpengaruh dan masuk dalam ilmu perampas berahi Bi-jin-kui yang dilancarkan Bi Kwi.
Ketika semalam suntuk mereka memadu cinta, keesokan harinya Bi Kwi turun dari pembaringannya sembari terkekeh dan menggeliatkan pinggang dengan manja, "Pangeran, ini hari kedua. Karena itu, lihat baik-baik huruf kedua dari nama pembunuh itu!"
Kim-ongya terbelalak. Ia memperhatikan Bi Kwi menggurat lantai, dan ketika wanita itu menulis huruf "Yan", pangeran muda ini tertegun.
"Hm, Sin Yan namanya, Enci. Kau maksudkan pembunuh itu memiliki dua nama, Sin dan Yan?"
"Tidak, pembunuh ini memiliki empat nama, Pangeran. Bukan dua seperti yang kau bilang. Ini baru separuh dari nama lengkapnya!"
"Hm, kalau begitu siapa nama lengkapnya, Enci? Kau keberatan memberitahunya sekarang?"
"Hi-hik," Bi Kwi tertawa. "Perjanjian kita empat hari, Pangeran. Karena itu, harap Paduka bersabar sampai hari keempat!"
"Dan selama itu kau tetap menggodaku, Enci? Terlalu, benar-benar keterlaluan kau ini!" Sang Pangeran yang gemas langsung mencoba menangkap, merasa kesal dan mendongkol pada Bi Kwi yang bermain-main. Namun, Bi Kwi mengelak lincah dan berkelebat melalui jendela, terkekeh meninggalkan Pangeran itu.
"Pangeran, sabar dulu. Malam nanti hamba kembali. Kau tunggu, ya?"
Kim-ongya tak berkutik. Ia tak berdaya menghadapi kemauan Bi Kwi. Namun, ketika malam tiba dan Bi Kwi menepati janjinya, Pangeran ini tak sabar dan langsung mendahului memeluk. "Enci, malam ini kau harus bercerita selengkapnya. Aku menggigil panas dingin menanti jawabanmu!"
Bi Kwi terkekeh. Seperti biasa, ia kembali mencumbu Pangeran ini yang semakin mabuk dan tergila-gila padanya. Ketika hari ketiga selesai dan mereka siap berpisah, Bi Kwi berkata dengan senyum dikulum, "Tidak, ini masih hari ketiga, Pangeran. Justru hamba yang ingin Paduka memenuhi sebuah permintaan lagi sebelum hari terakhir itu tiba! Paduka sanggup?"
"Hm, nama ketiga belum kau sebut, sekarang mengajukan syarat baru, Enci? Kau memaksaku tunduk luar dalam?"
"Hi-hik, bukan Paduka yang tunduk kepada hamba, Pangeran. Melainkan hamba yang tunduk pada Paduka. Bukankah semalam hamba telah memenuhi segala keinginan Paduka? Lihat, wajah Paduka berseri, terang, dan gembira sekali. Bukankah ini tanda pelayanan hamba memuaskan sekali? Hamba meminta satu permintaan lagi, Pangeran. Mohon dikabulkan untuk sekali ini."
"Baik," sang Pangeran mengangguk. "Apa yang kau minta, Enci?"
Bi Kwi terkekeh kecil. "Sungguhkah, Pangeran? Paduka tidak keberatan?"
"Tidak, kalau itu yang kau minta, Enci. Apa yang kauinginkan?"
"Hm..." Bi Kwi bersinar mukanya. "Hamba minta agar malam terakhir nanti Paduka memperkenankan dua Enci hamba yang lain ikut, Pangeran. Mereka iri dan menginginkan cinta kasih Paduka pula. Cemburu kepada hamba!"
"Apa? Dua Encimu yang lain, Enci? Kau maksudkan...?"
"Ya, mereka itu, Pangeran. Enci Bi Gwat dan Bi Hwa. Mereka ingin malam nanti diterima Paduka seperti hamba, bersenang-senang memadu cinta!"
"Ah, tapi..."
"Tak ada tapi, Pangeran. Tinggal Paduka setuju atau tidak. Hamba ingin keputusan Paduka, sekarang!"
Kim-ongya tertegun. Ia terbelalak memandang Bi Kwi, namun dengan gemetar ia memeluk kekasihnya. Pangeran muda itu berbisik, "Kau tidak cemburu, Enci? Kau mau aku melayani dua kakakmu yang lain itu bersama-sama?"
Bi Kwi tertawa. "Tak ada cemburu di hati kami kakak beradik, Pangeran. Kami biasa bertiga melakukan segala hal, termasuk bermain cinta. Dan yang lain akan marah kalau seorang di antaranya melakukan pekerjaan itu sendirian, seperti hamba sekarang ini!"
Kim-ongya semakin terbelalak, namun ia menggigil membayangkan sepak terjang Bi Kwi yang ganas di atas ranjang. Ia pun bangkit nafsunya membayangkan dua kakak Bi Kwi yang lain. Maka, mendengar Bi Kwi mengajukan saran agar ia menerima tiga kakak beradik itu untuk malam terakhir, nafsu sang Pangeran berkobar.
"Enci, kalau kau tidak cemburu, boleh saja bawa kemari dua kakakmu yang lain itu. Tak perlu menunggu, sekarang pun bisa!"
"Hi-hik, Paduka mau tempur lagi, Pangeran? Paduka tidak capai?"
"Ah, kalau kalian datang bersama, tak ada capai di tubuhku, Enci. Bahkan aku merasa mendapat semangat dan tenaga baru!" Pangeran itu tertawa, memeluk dan mencium Bi Kwi dengan nafsu menggebu.
Tapi ketika Bi Kwi mengelak dan terkekeh melepaskan diri, wanita ini telah melompat menjauh. "Pangeran, jangan dulu. Stop. Aku yang kewalahan!" Kemudian, untuk menarik perhatian Pangeran itu pada nama si pembunuh, Bi Kwi menggurat lantai menyambung yang kemarin. "Lihat, ini nama ketiga dari pembunuh itu, Pangeran. Malam nanti akan hamba teruskan dengan nama terakhirnya!"
Sang Pangeran terbelalak. Berahinya menurun, dan ketika Bi Kwi menggurat huruf "Mo", Pangeran ini tertegun.
"Hm, Sin Yan Mo... Enci? Jadi ini tiga nama depan dari pembunuh sahabat-sahabatku itu? Dan yang terakhir...?"
"Nanti malam, Pangeran. Hamba akan kembali untuk terakhir kalinya!" Bi Kwi kemudian berkelebat meninggalkan Pangeran itu sembari berseru, "Persiapkan dirimu, Pangeran. Hamba akan kembali membawa dua kakak hamba yang lain...!"
Ketika Bi Kwi terkekeh di kejauhan, Pangeran muda ini tertegun dan bengong di tempat. Sekarang ia mendapat tiga nama pembunuh itu, tetapi ia heran dan tak mengerti siapa yang dimaksud Bi Kwi. Pangeran yang terpaksa menunggu akhirnya menjadi tidak sabar dan menanti malam terakhir itu dengan jantung berdebaran.
Siang itu, bayangan seorang nenek tiba-tiba muncul di kamarnya.
"Heh-heh, Paduka mencari hamba, Pangeran?"
Kim-ongya terkejut. Ia melihat nenek ini muncul seperti setan; tak terdengar langkahnya, tahu-tahu muncul begitu saja seperti iblis. Sang Pangeran yang teriak kaget langsung bangkit dari kursinya. "Siluman...!"
Namun, melihat nenek itu terkekeh dan kedua kakinya menempel di tanah, Pangeran ini menekan detak jantungnya. "Kau siapa?"
Sang nenek tersenyum. "Hamba orang yang Paduka cari-cari, Pangeran."
"Ya, tapi siapa?"
Nenek ini mengeluarkan sesuatu. Pangeran muda itu melihat nenek ini mengeluarkan sapu tangan, lalu mengebut cepat. Tanpa disangka-sangka, mendadak nenek ini menyambitkan sebuah jarum yang tersembunyi di balik sapu tangan itu ke baju sang Pangeran.
"Bret!" Pangeran terkejut. Ia berseru tertahan, mundur karena kaget bukan main. Tapi melihat jarum menancap di bajunya dan tidak melukai tubuhnya, Pangeran itu terbelalak dan menggigil. "Kau... kau pembunuh itu...!"
Nenek ini terkekeh. Ia melihat sang Pangeran telah mengenal jarum beracunnya, jarum yang sama dengan yang membunuh para hartawan itu. Sementara Pangeran ini tertegun dengan muka pucat, mendadak sang nenek berkelebat lenyap.
"Pangeran, awas jarum beracunku itu. Jangan dipegang kalau tak ingin mampus!"
Pangeran Kim sadar. Ia berteriak mengejar nenek itu, tapi bayangan si nenek lenyap entah ke mana, membuatnya marah dan bingung. Saat itulah Lo-ciu muncul.
"Ada apa, Pangeran? Kenapa Paduka berteriak-teriak?"
"Ah, pembunuh itu datang, Locianpwe. Dia muncul di kamarku dan menyambitkan jarumnya ini. Tolong dicabut!"
Si Arak Tua tertegun melihat jarum hitam di baju Pangeran muda ini, jarum yang sama dengan yang menewaskan para hartawan. Ketika dengan hati-hati namun amat perlahan ia mencabut jarum itu, sang Pangeran berseru marah, "Locianpwe, kejar dia! Tangkap pembunuh itu...!"
"Hm, ke mana dia lari, Pangeran? Dan bagaimana orangnya?"
"Dia nenek iblis, Locianpwe. Aku tak tahu namanya, tapi mengenal baik rupanya. Kejar ia. Cepat tangkap!"
Lo-ciu mengangguk dan berkelebat ke arah yang ditunjuk Pangeran muda ini. Namun, tak melihat bayangan seorang pun, kakek ini akhirnya kembali. Kim-ongya tampak terengah-engah, duduk di sudut dengan muka pucat.
"Bagaimana, Locianpwe? Kau tak menemukannya?"
"Tidak, dia telah menghilang, Pangeran. Hamba tak menemukan jejaknya!"
"Keparat, dan kau terlambat datang, Locianpwe. Bagaimana bisa kebetulan berada di sini?"
"Maaf," kakek ini menarik napas. "Hamba datang diutus Wu-taijin, Pangeran. Kabarnya Paduka berhubungan dengan seorang di antara Sam-hek-bi-kwi."
"Hm!" Pangeran muda ini terkejut. "Ada apa, Locianpwe? Bagaimana Wu-taijin tahu?"
Kakek ini tampak khawatir. "Kami tahu setelah Wu-taijin mendengar dari pelayan, Pangeran. Dan kami khawatir jangan-jangan kau celaka di tangan wanita iblis itu!"
"Apa?" Pangeran ini marah. "Kau menyebutnya wanita iblis, Locianpwe? Kau menghina kekasihku itu?"
Lo-ciu terkejut. "Kau telah berhubungan demikian jauh, Pangeran? Kau menjadikan wanita itu sebagai kekasihmu?"
"Ya, kenapa, Locianpwe? Wu-taijin tidak setuju?"
"Ah, jelas, Pangeran. Samkwi adalah orang-orang berbahaya. Terutama yang paling muda itu, yang telah membunuh dua orang muridku!"
Sang Pangeran tertegun, tapi teringat hubungan mesranya dengan Bi Kwi, ia menjadi gusar. "Locianpwe, sebaiknya tak perlu membicarakan urusan pribadiku. Bi Kwi tidak berlaku jahat kepadaku. Dia baik dan justru membantuku membuka rahasia pembunuh ini!"
"Kau tahu, Pangeran?"
"Ya."
"Kalau begitu siapa?"
"Nenek iblis itu tadi. Namanya..." Sang Pangeran merandek, tak meneruskan kata-katanya karena ingat bahwa nama lengkap pembunuh itu baru malam nanti ia ketahui dari Bi Kwi. Karena Lo-ciu sendiri tak suka pada Bi Kwi, Kim-ongya mengerutkan kening dan memandang pembantu Wu-taijin itu dengan tidak senang, lalu mengibaskan bajunya.