Chapter 184
"Locianpwe, sebaiknya besok saja kau kembali. Atau aku sendiri yang akan ke tempat majikanmu!"
Kakek itu tak dapat membantah. Dia tampak kecut memandang sang pangeran, namun ketika sang pangeran mengangkat lengan menyuruhnya pergi, akhirnya kakek itu mengangguk juga.
"Baiklah, hamba akan melapor pada Wu-taijin, Paduka Pangeran. Tapi sekali lagi hamba wanti-wanti pada Paduka untuk berhati-hati menghadapi kekasih Paduka itu!"
Sang pangeran tersenyum mengejek. Dia melihat kakek itu telah mengubah sebutannya, tidak lagi memaki Bi Kwi melainkan menghormati kekasihnya itu. Ketika kakek itu lenyap meninggalkannya sendirian, pangeran pun masuk ke dalam untuk menanti malam tiba. Hatinya berdebar, tegang, dan waswas karena dia telah mengenal wajah si pembunuh—yang ternyata seorang nenek—dan kini tinggal mengetahui namanya saja.
Saat malam tiba, dengan perasaan tidak karuan ia menanti Bi Kwi. Orang yang diharapkan pun muncul, bersama dua wanita lain yang tidak kalah cantiknya dengan Bi Kwi, yakni Bi Gwat dan Bi Hwa. Begitu tiga bayangan itu berkelebat memasuki kamar, Bi Kwi segera terkekeh memperkenalkan enci-encinya.
"Pangeran, selamat malam. Inilah enci hamba, ia Bi Gwat dan Bi Hwa."
Sang pangeran tersenyum. Dia bangkit menyambut dengan gembira, melihat dua kakak beradik itu mengenakan pakaian ketat yang menggairahkan. Masing-masing memberi hormat dengan kerling memikat, genit, dan panas, mengenakan baju rendah hingga menampakkan belahan dada yang membola penuh.
Ketika sang pangeran tertawa sambil menyentuh pundak mereka, Bi Hwa berbisik lirih dengan suaranya yang serak basah, "Pangeran, hamba datang atas permintaan Bi Kwi. Benarkah Paduka siap membagi cinta?"
"Ah, Enci Bi Kwi memang nakal, Niocu. Tapi sanggupkah aku melayani kalian bertiga? Enci Bi Kwi sudah hebat, dan kalian katanya lebih hebat lagi!" Pangeran tertawa, wajahnya memerah dan hampir tak tahan menahan nafsu.
Namun, Bi Hwa yang tersenyum lebar mendengar hal itu mendadak mundur dengan bibir cemberut. "Pangeran, kenapa memanggil hamba dengan sebutan Niocu? Bukankah Paduka memanggil Bi Kwi dengan sebutan Enci?"
"Jadi...?"
"Panggil hamba berdua dengan sebutan itu pula, Pangeran. Jangan membeda-bedakan kami bertiga!"
Sang pangeran tertawa tergelak. Dia menyambar Bi Kwi yang ada di sampingnya, lalu menyambar pula Bi Hwa yang cemberut. Mendadak, sang pangeran sudah menciumi tengkuk mereka yang putih halus. "Enci Bi Hwa, Enci Bi Kwi, kalian benar-benar serupa. Kalian cantik dan sama-sama menggairahkan!"
"Hm, dan bagaimana dengan aku, Pangeran? Tersisihkah aku begini saja?" Bi Gwat memprotes, iri melihat dua adiknya dipeluk lebih dulu.
Ketika sang pangeran tertawa melepas Bi Kwi dan ganti menyambar dirinya, mendadak Bi Gwat mengerang dan melepas bajunya. "Pangeran, hamba gerah!"
Sang pangeran terbelalak. Dia melihat orang tertua dari Samkwi ini tinggal mengenakan pakaian dalam tipis yang menerawang, sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ketika sang pangeran melihat bahwa wanita ini tak kalah indah bentuk tubuhnya dengan Bi Kwi, ia mendengus dan langsung menciumnya.
"Gwat-cici, kau benar-benar membangkitkan nafsuku!"
Bi Hwa dan adiknya tertawa. Mereka melihat sang pangeran telah mencium cici mereka dengan ganas tanpa malu-malu lagi di hadapan mereka berdua. Tanda pangeran ini telah "kebal" untuk ditonton.
Namun, ketika Bi Gwat mengeluh dan melepaskan diri, Bi Kwi terkekeh membuka bajunya pula. "Pangeran, hamba juga minta bagian!"
Sang pangeran terbelalak melihat Bi Kwi sudah menanggalkan pakaian luarnya, tinggal mengenakan pakaian dalam yang tembus pandang. Sementara dia melotot oleh perbuatan kakak beradik itu, tiba-tiba Bi Hwa menyusul pula dengan lebih berani—langsung telanjang.
"Pangeran, hamba juga...!"
Kim-ongya tak tahan lagi. Dia dibakar oleh pemandangan kakak beradik itu, mendengus, dan menyeringai aneh. Ketika Bi Hwa menggeliatkan pinggang dan melempar rambutnya, tahu-tahu rambut wanita itu telah membelit leher sang pangeran.
"Hihik, bagaimana, Pangeran? Harumkah rambut hamba?"
Sang pangeran bergolak nafsunya. Dia menarik dan menyambar tubuh Bi Hwa, lalu memeluknya ketat. Bi Hwa tertawa, sementara pangeran menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. "Enci Bi Hwa, kau pun hebat. Rambutmu luar biasa harum!"
Bi Hwa terkekeh. Ia menyambut ciuman hangat pangeran itu, menggerayangi baju sang pangeran, dan melepasnya satu per satu hingga jatuh ke lantai. Saat keduanya terguling di pembaringan, mereka sudah bergumul dengan penuh nafsu.
"Pangeran, Bi Kwi telah menceritakan kehebatan Paduka. Hamba ingin mencobanya."
Sang pangeran tak menghiraukan apa-apa lagi. Saat itu dia memandang Bi Kwi bersaudara bagai tiga dewi yang turun dari kahyangan, memberinya berkah dan kebahagiaan. Ketika Bi Hwa menyambut dan terkekeh di atas pembaringan, tahu-tahu Bi Gwat dan Bi Kwi juga ikut nimbrung.
"Pangeran, jangan memperhatikan Bi Hwa seorang. Hamba berdua juga ikut di sini!"
Kim-ongya mendengus-dengus. Dia diserbu tiga wanita cantik itu dan sibuk melayani mereka. Saling gubat dan belit bagai tiga ekor ular merebut pejantan, seru dan ramai. Masing-masing terkekeh dan tak malu-malu lagi melakukan apa saja. Begitu Sam-hek-bi-kwi "mengeroyok" pangeran muda ini, Kim-ongya benar-benar kewalahan.
Bi Kwi bersaudara mengocek pangeran itu tanpa kenal puas. Ketika malam semakin larut dan empat orang itu melampiaskan nafsu mereka hingga pagi hari, keesokan harinya pangeran muda ini kepayahan dengan wajah yang pucat.
"Aduh, kalian hebat, Enci Bi Gwat. Napasku habis dan tenaga pun ikut lunglai!"
Bi Kwi dan dua kakaknya tertawa. Mereka puas dan kagum malam itu, merasakan keganasan pangeran ini yang rupanya belum pernah bergaul dengan wanita—masih jejaka tulen. Ketika Bi Kwi turun dari pembaringan, wanita ini berkata sambil menyodorkan arak yang untuk kesekian kalinya telah diteguk pangeran itu.
"Ah, Paduka yang lebih hebat, Pangeran. Minumlah untuk kesegaran tubuh Paduka!"
Kim-ongya tersenyum. Dia menerima arak itu, tertawa, dan tak curiga sedikit pun. Ketika dia tersedak, Bi Hwa melempar selimutnya. "Ih, sudah cukup siang, Kwimoi. Kita harus melaksanakan pekerjaan kita!"
Bi Gwat juga mengangguk, mengerling aneh sambil melirik cawan yang baru saja diteguk isinya. Turun dari tempat tidur, wanita ini berbisik, "Ya, sudah cukup siang, Pangeran. Kami bertiga harus mengawal istana lagi sesuai tugas!"
Sang pangeran mengerutkan kening. "Kalian buru-buru pergi, Enci?"
Bi Kwi tertawa. "Kau kecewa, Pangeran?"
"Bukankah ini hari terakhir? Ah, aku tak mau kehilangan hari yang seperti ini, Enci. Aku ingin kalian tetap tinggal bersamaku seumur hidup. Memadu cinta!"
"Hi-hik, tak mungkin itu, Paduka Pangeran. Bukankah Wu-taijin tak menyukai hubungan kita? Jangan-jangan dia akan mengusir hamba bertiga dan melaporkannya pada Sri Baginda."
"Hm, siapa berani melakukan itu?" Pangeran marah, bangkit dari tempat tidurnya dan turun menyambar Bi Kwi yang setengah telanjang. "Aku tak akan membiarkan orang menyusahkan kita, Cici. Aku tak peduli Wu-taijin senang atau tidak!"
"Tapi dia cukup berkuasa, Pangeran. Wu-taijin adalah orang kedua setelah Sri Baginda sendiri."
"Benar, tapi ini urusan pribadiku sendiri, Enci. Masa dia akan ikut campur?" Teringat janji Bi Kwi, tiba-tiba pangeran itu memeluk wanita itu. "Enci, kau akan memberitahu nama pembunuh itu, bukan? Aku telah melihatnya kemarin secara kebetulan!"
Bi Kwi terkejut. "Kau tidak main-main, Pangeran?"
"Tidak, aku benar-benar telah mengenal mukanya, Enci. Tapi aku tidak tahu siapa namanya."
"Hm," Bi Kwi mengangguk-angguk. "Kalau begitu jangan terkejut, Pangeran. Terus terang kuberi tahu padamu bahwa pembunuh ini adalah..."
"Siapa?"
Bi Kwi tampak ragu dan mengerutkan kening. "Kau percaya padaku, Pangeran?"
"Tentu saja. Kau adalah kekasihku, Enci. Kau segalanya bagiku!"
Bi Kwi tersenyum. "Baiklah, pembunuh itu sesungguhnya adalah sahabat pembantu Wu-taijin, Pangeran. Saudara perempuan Lo-ciu si Arak Tua!"
"Apa? Lo-ciu pembantu Wu-taijin itu?"
"Ya, maaf, Pangeran. Paduka tak percaya pada hamba, bukan?"
Sang pangeran tertegun. Dia terhenyak oleh kata-kata Bi Kwi, setengah percaya setengah tidak. Namun, Bi Kwi yang menarik napas dengan wajah sedih sudah memeluk pinggangnya.
"Pangeran," wanita itu berbisik lirih, "hamba berat untuk menyatakan ini. Tapi kalau Paduka kurang percaya, hamba akan membuktikannya. Paduka mau dengar, bukan?"
Sang pangeran mengangguk.
"Nah, sekarang dengar, Paduka Pangeran. Kalau Paduka berkata telah melihat muka pembunuh itu, tentu tak salah jika hamba tebak dia adalah seorang nenek tua. Begitu, bukan?"
"Ya."
"Dan kemarin si Arak Tua itu datang ke tempat Paduka, bukan?"
"Ya."
"Dan Paduka menceritakan tentang kedatangan nenek pembunuh ini, lalu Paduka menyuruh mencari nenek itu, tapi si Arak Tua kembali dengan tangan kosong?"
"Ya."
"Nah, ketahuilah, Paduka Pangeran. Si Arak Tua itu berbohong pada Paduka. Nenek pembunuh itu sengaja dilepasnya begitu saja karena dia masih saudara dari si Arak Tua itu sendiri. Tak mungkin dia mau menangkap atau menyerahkan pembunuh itu pada Paduka!"
Sang pangeran kaget. "Begitukah, Enci?"
"Ya, hal ini telah hamba selidiki, Pangeran. Dan sebagai bukti terakhir, coba Paduka renungkan. Kalau nenek iblis itu datang seperti yang Paduka katakan, bukankah dengan mudah dia akan membunuh Paduka? Tapi kenapa hal itu tak dilakukannya? Ini bukan lain atas cegahan Arak Tua itu, Pangeran. Dia tak memperkenankan nenek itu membunuh Paduka. Mungkin juga atas cegahan Wu-taijin!"
Sang pangeran tertegun. Pikirannya segera teringat peristiwa kemarin. Hatinya berdetak, heran, serta kaget akan keterangan Bi Kwi. Semua itu campur aduk hingga membuatnya bingung dan marah. Karena memang kemarin si Arak Tua itu tidak berhasil menangkap pembunuh tersebut padahal nenek itu baru saja pergi, sang pangeran pun menjadi curiga dan termakan kata-kata Bi Kwi.