Chapter 185
Pangeran itu marah besar dan wajahnya memerah padam saat menyadari bahwa apa yang dikatakan Bi Kwi benar adanya.
"Keparat, jadi begini kelakuan Arak Tua itu, Enci? Pembunuh itu adalah saudaranya sendiri?"
"Ya, begitu setelah hamba selidiki, Pangeran. Dan untuk memberi tahu Paduka akan nama nenek ini, baiklah perhatikan keterangan hamba yang terakhir." Bi Kwi menggurat lantai, menulis huruf "Li" menyambung tiga nama pertama.
Begitu selesai menyebut nama si pembunuh, lengkaplah sudah informasi yang didapat sang pangeran.
"Keparat, jadi pembunuh itu adalah Sin-yan Mo-li, Enci? Dia saudara perempuan pembantu Wu-taijin itu?"
"Sst, jangan keras-keras, Paduka Pangeran. Hamba hanya mengatakan apa yang hamba ketahui. Kalau Paduka meminta hamba menangkap nenek ini, tentu saja hamba sanggup, asal diberi waktu."
Sang pangeran menggeretakkan giginya. "Boleh, dan tangkap sekalian Arak Tua itu, Enci. Bawa dia kemari atau sekarang kita sama-sama ke gedung Wu-taijin!"
"Ah, jangan!" Bi Kwi pura-pura kaget. "Kejadian ini harus kita atasi secara diam-diam, Pangeran. Jangan membuat ribut dulu dengan mengejutkan ular yang akan kita tangkap. Salah-salah musuh melepaskan diri sebelum kita datang ke sana!"
"Benar," Bi Hwa menyambung sambil mengencangkan ikat pinggangnya. "Sebaiknya tak perlu buru-buru, Pangeran. Kalau Paduka menyuruh hamba menangkap kakek dan nenek jahat itu, sebaiknya diatur suatu jebakan hingga mereka tak dapat melarikan diri!"
"Bagaimana itu?"
Bi Hwa tersenyum. "Gampang, Pangeran. Tanya saja adik hamba yang cerdik ini!"
Sang pangeran memandang Bi Kwi. Dia melihat kekasihnya itu tertawa kecil, manis sekali. Ketika Bi Kwi berbisik-bisik membicarakan sesuatu di telinganya, pangeran itu segera mengangguk.
"Bagus, itu bagus sekali, Enci. Biar kutunggu mereka dan kubuktikan kebenarannya!"
Bi Kwi tersenyum. Ia memberi isyarat pada dua kakaknya, lalu melompat keluar. "Pangeran, hati-hati malam nanti. Paduka tak perlu keluar kamar!"
Sang pangeran mengangguk. Ia melihat Bi Kwi lenyap di luar, dan ketika ia memandang Bi Gwat serta Bi Hwa, ternyata dua kakak Bi Kwi yang cantik itu juga melompat meninggalkannya. Bi Hwa sempat mencium pipinya dan berbisik, "Pangeran, malam nanti hamba kemari, ya. Harap Paduka berhati-hati!"
Kim-ongya terbelalak. Ia melihat tiga kekasihnya itu lenyap, tak tampak bayangannya lagi. Pangeran yang berseri-seri dan berdebar menjalankan siasat Bi Kwi ini lalu kembali ke pembaringannya dan melamun. Ia teringat nikmat membayangkan tiga kekasihnya yang hebat itu, yang semalam demikian ganas dan memberinya kepuasan lahir batin. Namun, ketika rasa kantuk yang hebat menyerangnya, tiba-tiba pangeran ini mengeluh heran. Tanpa curiga sedikit pun dan menganggapnya wajar, ia memejamkan mata dan tertidur.
Malam itu, seperti malam-malam kemarin di kamar Kim-ongya, tak terjadi sesuatu yang luar biasa. Kamar pangeran ini masih tertutup dan pintunya terkunci. Pelayan yang sudah lima kali mengetuk pintu tanpa hasil akhirnya segan membangunkan, mengira Kim-ongya sedang beristirahat dan tak ingin diganggu.
Namun, ketika sesosok bayangan terkekeh berkelebat memasuki jendela dan bayangan lain mengejar dengan bentakan tinggi, terjadilah keributan.
"Nenek iblis, keluarlah kau dan jangan ganggu Pangeran!"
"Heh-heh, kenapa harus keluar dan mengusir aku, Arak Tua? Aku ingin main-main dengan Pangeran. Sebaiknya kau saja yang keluar dan jangan mengganggu aku!"
Dua bayangan berkelebat masuk. Mereka adalah si Arak Tua Lo-ciu, pembantu Wu-taijin, dan seorang nenek berpakaian hitam yang membawa cambuk. Nenek itu mendobrak jendela kamar Kim-ongya yang, anehnya, masih tidur telentang di atas pembaringan tanpa mendengar suara keributan sedikit pun.
Ketika Lo-ciu membentak dan mengejar, cambuk si nenek menyambar. "Hei, keluar kataku, Arak Tua! Jangan mengganggu urusanku!"
Si Arak Tua menangkis, tetapi ketika si nenek menyentak pergelangan tangannya, lawan terkejut. Tubuh si Arak Tua terangkat mengikuti gerak pergelangan nenek itu. Saat si nenek mengedut dan balik menipunya, kakek ini terlempar dan jatuh di atas pembaringan Kim-ongya.
"Brukk!" Si Arak Tua terkejut. Ia menimpa tubuh pangeran itu, namun pangeran tersebut tetap tidak bergerak. Ketika ia terbelalak dan melompat turun, ternyata pangeran itu telah tidak bernyawa dengan bibir kebiruan!
"Ah, Pangeran tewas!"
Teriakan kakek itu disambut ketawa mengejek. Tiga bayangan lain memasuki jendela dan berdiri di samping nenek bercambuk itu. Ternyata, tiga bayangan ini tidak lain adalah Sam-hek-bi-bwi.
"Ah, kalian telah membunuh Kim-ongya, manusia-manusia busuk. Aku akan melapor pada Baginda atas perbuatan kalian!"
"Hi-hik, bukan kau yang akan melaporkan kematian pangeran ini, Arak Tua. Melainkan kamilah yang akan melapor kepada Sri Baginda bahwa kaulah pembunuhnya!"
"Apa maksudmu?" kakek itu terkejut.
"Hm!" Nenek bercambuk itu ganti bicara sambil menjatuhkan cambuknya. "Kau telah kami jebak, Arak Tua. Kami akan menangkapmu untuk diajukan pada Kaisar. Kau yang akan kami tuduh membunuh Kim-ongya, heh-heh!"
Belum sempat kakek itu menjawab, Bi Hwa yang tertawa dingin sudah mengeluarkan gelang beracunnya. "Kami berempat akan menangkapmu hidup-hidup untuk mengakui pembunuhan ini. Lo-ciu, Sin-yan Mo-li akan menjadi saksi. Bersiaplah!"
Lo-ciu terbelalak. Sekarang ia sadar bahwa musuh telah menjejaki dirinya, membunuh pangeran itu, dan menimpakan kesalahan kepadanya. Sambil membentak dengan suara parau, kakek itu mencabut buli-bulinya dan langsung menerjang Bi Hwa.
"Sam-hek-bi-bwi, kalian benar-benar wanita iblis!"
Bi Hwa mendengus. Ia mengelak dengan mudah, dan ketika buli-buli lewat di atas kepalanya, gelang di tangan kiri Bi Hwa membalas dengan pukulan miring. "Arak Tua, kau tak dapat mengalahkan kami. Kami tahu kau adalah guru mendiang Hui-pian Siang-houw yang kami bunuh!"
"Plak!"
Si Arak Tua tergetar. Ia terhuyung dan pucat menerima sambaran gelang yang mengenai pundaknya. Namun, kakek ini membalik dan menyerang bertubi-tubi dengan amarah meluap. Ia sadar telah dijebak di kamar Kim-ongya dan tahu bahwa memang terdapat kerja sama antara nenek iblis tersebut dengan tiga wanita cantik itu.
Bi Hwa bukan wanita sembarangan. Ia adalah bekas ketua cabang Hiat-goan-pang. Ketika si Arak Tua menerjang dengan buli-bulinya, Bi Hwa menunjukkan kekebalannya. Berkali-kali buli-buli kakek itu terpental, bahkan hampir menyambar mukanya sendiri.
Si Arak Tua mengeluh. Gelang di tangan lawannya itu berbahaya. Selain menyambar bagaikan maut, gelang itu mengeluarkan bau amis yang membuatnya pusing. Setelah pertandingan berjalan lima puluh jurus, napasnya sesak akibat bau racun yang menempel pada gelang tersebut.
Saat buli-bulinya terlepas akibat tangkisan keras, sepasang gelang itu mengenai tengkuk dan dada kiri kakek itu.
"Plak-plak!"
Si Arak Tua menjerit, lalu terlempar dan roboh menimpa meja hingga pecah berantakan. Ketika Bi Hwa terkekeh dan menyimpan senjatanya, kakek itu telah pingsan.
"Hi-hik, bagaimana sekarang, Mo-li?" tanya nenek bercambuk itu sembari tertawa.