Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 186

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 186

"Kita hadapkan dia kepada Kaisar, Sam Hek-bi-kwi. Dengan kalian sebagai saksi, tentu Sri Baginda percaya bahwa kakek inilah yang membunuh Kim-ongya. Hayo, kita seret dia!" Si Arak Tua tak tahu apa yang terjadi. Dia memang sedang sial dan bernasib buruk.

Ketika Kaisar mendengar tewasnya Pangeran Kim yang dibunuh oleh kakek ini, segera Kaisar mendelik dan marah-marah. Bi Kwi bertiga memberikan kesaksian. Karena tiga orang wanita itu adalah pengawal istana dan Lociu sendiri pernah membunuh si Golok Emas Kim To di depan Kaisar, maka semua bantahan kakek ini tak dipercaya. Bagaimanapun, kakek itu tidak disenangi Kaisar sejak dia membunuh si Golok Emas.

Maka, ketika Kaisar mengangkat lengannya untuk menyuruh kakek ini dihukum mati, saat itulah nyali Arak Tua mencelos. Dia memaki-maki, marah bukan main pada Sam Hek-bi-kwi bertiga yang telah memfitnahnya. Namun, Ok Ciangkun yang mengerutkan kening melihat peristiwa di luar pengetahuannya ini, menyarankan agar Kaisar menunggu Wu Taijin. Sebab, kakek itu adalah pembantu menteri bermarga Wu tersebut.

"Maaf, ini memang kejadian di luar dugaan, Sri Baginda. Namun, sebaiknya Paduka memanggil dulu Wu Taijin agar mengetahui perbuatan pembantunya ini. Kita memberi kesempatan padanya untuk bicara."

Wu Taijin dipanggil. Dia tentu terkejut oleh berita yang tidak disangka-sangka ini, terbelalak melihat Lociu diborgol. Namun, karena kalah suara dan sebelumnya kakek itu memang tidak membangkitkan simpati di hati Kaisar, maka pembesar ini menarik napas dan berlutut dengan air mata bercucuran.

"Ampun, Hamba tidak dapat bicara apa-apa lagi, Sri Baginda. Namun, Hamba percaya keterangan pembantu Hamba sendiri. Ini adalah fitnah. Pangeran sengaja dibunuh agar selir Paduka tak perlu memberikan buktinya pada Paduka!"

"Hm, kau membawa-bawa lagi nama selirku itu, Taijin? Kau punya bukti?" Kaisar terkejut, terbelalak, dan geram memandang menterinya ini.

Karena Wu Taijin tak mempunyai bukti dan semua yang dikatakannya hanyalah dugaan, akhirnya si Arak Tua tak tertolong. Kaisar memutuskan bahwa esok kakek itu harus menjalani hukumannya. "Ok Ciangkun, tutup mulut kakek ini dan bawa dia ke penjara bawah tanah. Bunuh dia besok!"

Ok Ciangkun tak berdaya. Dia mengernyitkan kening dan terpaksa membawa kakek itu untuk menjalani hukumannya. Bi Kwi bertiga tersenyum di belakang punggung panglima itu, mencibirkan mulut pada si Arak Tua tanpa rasa kasihan sedikit pun. Mereka tak ingat lagi akan mayat Kim-ongya yang semalam menjadi kekasih mereka. Begitu Pangeran tewas, mereka segera mendapat ganti pangeran-pangeran lain atas jasa selir Kaisar yang memperalat mereka.

Keadaan di istana mulai kacau. Shi Shih terpaksa menyingkirkan Pangeran agar tidak memberikan bukti. Dengan tewasnya Pangeran, bebaslah dia dari tuntutan Kaisar, sekaligus berhasil mengkambinghitamkan Lociu. Wu Taijin, yang tahu akan akal licik selir itu, menjadi semakin benci. Ia sadar bahwa jika musuh sudah berani mengincar nyawa Pangeran, suatu saat nyawanya sendiri akan terancam.

Ia tidak takut akan ancaman terhadap jiwanya sendiri, tetapi ia takut musuh akan mencelakakan keluarganya. Teringat akan putranya, Wu Hap, menteri ini melakukan tindakan nekat. Dia menyogok kepala penjara bawah tanah agar memberi jalan keluar bagi Arak Tua, guru putranya. Begitu Arak Tua lolos, menteri ini menyuruh putranya ikut.

"Hap-ji, keadaan sekarang benar-benar serius. Selir itu dapat melakukan apa saja untuk membasmi kita. Kau pergilah, temui Paman Wu Yuan dan bersembunyilah di rumah sahabatku, Hing Lam. Ceritakan semua yang terjadi dan hati-hati di tempat baru itu!"

Wu Hap menangis melihat kegelisahan ayahnya. Lociu yang menggigil di samping muridnya berkata dengan tinju terkepal, "Jangan khawatir, nyawa Hamba yang kembali berkat pertolongan Paduka akan Hamba pertaruhkan untuk keselamatan Wu Hap, Taijin. Di samping melindungi dia, Hamba juga akan mencari teman-teman sealiran untuk menyergah komplotan selir siluman itu!"

"Baik, sekarang pergilah, Locianpwe. Awas, hati-hati menerobos dinding kota!" Wu Taijin melambaikan lengan, menyuruh pergi dua orang itu dengan tergesa-gesa.

Keesokan harinya, Wu Taijin dipanggil Kaisar. Sri Baginda marah besar mendengar Lociu lolos tanpa diketahui seorang pun. Menduga pembantunya yang menyelamatkan Arak Tua itu, Wu Taijin mendapat tuduhan berat.

"Kau yang menyelamatkan pembantumu, Taijin. Tak mungkin orang lain melepasnya begitu saja!"

Pembesar ini tenang. "Adakah buktinya Hamba melakukan itu, Sri Baginda? Bukankah setiap tuduhan harus disertai bukti?"

Kaisar tertegun. Dia memang tak mempunyai bukti. Namun, Shi Shih yang ingin memulihkan kepercayaan Kaisar tiba-tiba berlutut sambil tersenyum mengejek. "Sri Baginda, kali ini Hamba dapat membantu Paduka memberikan bukti seperti yang diminta Wu Taijin!"

Kaisar mengangguk memberi izin. Shi Shih bertepuk tangan memanggil seseorang. Ketika komandan penjara bawah tanah muncul dengan tangan diborgol, Wu Taijin tersirap darahnya. Kepala penjara itu gemetar ketakutan memandang Shi Shih.

"Sri Baginda, inilah bukti yang Hamba maksud! Kepala penjara bawah tanah, orang yang telah dipaksa menteri Paduka untuk melepaskan tawanan itu."

Kaisar terbelalak, lalu membentak kepala penjara, "Benarkah itu, tikus busuk? Kau yang melepaskan pembantu Wu Taijin?"

"Ampun! Hamba memang bersalah, Sri Baginda. Apa yang dikatakan selir Paduka memang benar!"

"Dan kau diam saja tak melaporkannya kepadaku?" Shi Shih menyela, "Dia dipaksa Wu Taijin, Sri Baginda. Harap Paduka maklumi kedudukan kepala penjara ini, dia kalah kuasa!"

Kaisar bangkit, merah padam memandang Wu Taijin, "Benarkah itu, Taijin? Kau memaksa kepala penjara ini melepaskan anak buahmu?"

Wu Taijin tak dapat menjawab. Dia terkesima oleh kecerdikan selir cantik itu. Terdengar bisikan Shi Shih di telinganya, "Wu Taijin, sebaiknya kau mengaku baik-baik. Kalau tidak, aku akan melapor pada Sri Baginda bahwa kau telah menyuap kepala penjara ini!"

Wu Taijin terpukul. Dia mengeluh, mendekap dadanya, lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengakui semuanya. Tidak tahan kalah oleh selir yang cerdik ini, mendadak Wu Taijin roboh tak sadarkan diri.

"Sri Baginda, ampunkan Hamba!"

Kaisar tertegun. Melihat menterinya pingsan, dia merasa kecewa, namun masih ingat akan jasa laki-laki tua ini. Akhirnya, Wu Taijin dipulangkan ke rumah. Shi Shih yang berhasil mengembalikan reputasinya memohonkan ampun untuk kepala penjara tersebut.

Sejak saat itu, segala cinta kasih Kaisar kembali pada Shi Shih. Sebaliknya, hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Wu Taijin. Kaisar bersikap dingin dan jauh, membuat sang menteri merasa tertekan. Meski begitu, Wu Taijin tetap berani mempertahankan pendapatnya bahwa Pangeran Kim dibunuh atas suruhan Shi Shih. Hingga suatu hari, ketika Wu Taijin bersumpah atas nama leluhurnya bahwa Shi Shih adalah mata-mata musuh yang amat berbahaya, Kaisar tiba-tiba terkejut dan tergerak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment