Chapter 187
Dan Wu-Taijin menangis tersedu-sedu di bawah kaki Kaisar.
"Ampun, maafkan hamba, Sri Baginda. Tapi demi nenek moyang dan arwah orang tua hamba yang setia mengabdi pada Paduka, biarlah kita buktikan untuk terakhir kalinya bahwa selir Paduka itu adalah mata-mata! Hamba berani bersumpah, Sri Baginda, demi nama baik leluhur hamba!"
"Hm!" Kaisar terkejut. "Kau berkali-kali memfitnah selirku, Taijin. Apa lagi yang hendak kaukatakan ini?"
"Ampun, hamba semata-mata prihatin akan nasib Paduka, Sri Baginda. Juga nasib kerajaan yang akan hancur dipermainkan oleh selir Paduka itu!"
Kaisar marah. "Kau ada bukti, Taijin? Kau berani menghina selirku?"
"Tidak, hamba memang tidak mempunyai bukti, Sri Baginda. Tapi untuk terakhir kalinya, hamba mohon kepercayaan Paduka. Sukalah Paduka mendengarkan pendapat hamba!"
"Apa maksudmu?"
Wu-Taijin menangis, mencium kaki junjungannya, lalu membenturkan dahi ke lantai. "Sri Baginda, mohon ampun untuk yang terakhir kalinya. Sumpah demi arwah leluhur hamba, kali ini hamba ingin membuka kebusukan selir Paduka. Hamba memang tak mempunyai bukti karena dia amat licin dan cerdik. Namun, percayalah, hamba ingin Paduka membuka mata. Hamba ingin mengajukan usul agar permusuhan hamba dengan selir Paduka diakhiri dengan kebenaran sejati!"
"Hm, apa maksudmu, Taijin? Apa yang kaukehendaki? Aku bosan mendengar kata-katamu. Kau diburu iri dan dengki semata!"
"Tidak, Sri Baginda. Hamba tidak cemburu atau dengki. Justru hamba marah karena selir Paduka membuat Paduka mabuk dan terlena dalam cinta palsu. Selir Paduka itu siluman yang amat berbahaya!"
"Taijin!" Kaisar membentak. "Kau berani memaki selirku? Kau menghinanya terang-terangan di depanku?"
"Ampun!" Pembesar ini menggigil. "Hamba tidak bicara main-main, Sri Baginda. Hamba siap menyerahkan nyawa bila Paduka menghendaki. Tapi satu yang hamba minta, sukalah Paduka mengabulkan permintaan hamba sebelum hamba menebusnya dengan jiwa!"
Kaisar membelalakkan mata. "Apa yang kaumauli, Taijin? Kau mau menyuruhku menjauhi selirku itu?"
"Tidak, hamba tahu Paduka tak akan percaya pada apa yang hendak hamba katakan tentang kebusukannya."
"Lalu apa permintaanmu?"
"Sebuah pesta, Sri Baginda. Hamba ingin Paduka melolohi selir Paduka itu dengan arak hingga mabuk!"
Wu-Taijin menggigil dan giginya bergemeretak. Kaisar terkejut mendengar permintaan aneh tersebut. "Apa? Sebuah pesta? Melolohi selirku dengan arak?"
"Ya, itu jalan terakhir bagi hamba untuk membuktikan kualitas selir Paduka. Hamba ingin dia dilolohi arak agar dia mengaku apa saja yang telah dilakukannya. Hamba ingin Paduka mendengar sendiri semua keburukannya saat dia mabuk!"
"Kalau tak terbukti?"
"Hamba siap memenggal kepala hamba di hadapan Paduka, Sri Baginda. Inilah taruhannya jika selir Paduka bukan mata-mata!"
Kaisar terkejut. Dia melihat mata pembantunya itu berapi-api. Melihat kesungguhan menterinya yang berani mempertaruhkan nyawa, jantung Kaisar terkesiap. Kata-kata itu lebih mirip sumpah daripada janji.
"Baiklah," Kaisar akhirnya terguncang. "Aku akan membuktikan omonganmu, Taijin. Tapi ini adalah kali terakhir bagimu memusuhi selirku. Kalau dia tidak bersalah dan kau lagi-lagi memfitnahnya, maka tiada lain kecuali kau menebus dosamu!"
"Hamba bersumpah, Sri Baginda, demi arwah leluhur yang hamba hormati!"
Permintaan menteri itu dikabulkan. Kaisar menyiapkan pesta dan memerintahkan orang-orangnya untuk menuruti rencana Wu-Taijin. Diam-diam, Kaisar merasa tegang dan cemas, terpengaruh oleh keyakinan menterinya yang sangat teguh.
Ketika pesta dimulai dan Shi Shih mendampingi Kaisar menikmati tarian, Kaisar mulai menjalankan rencananya. Shi Shih dilolohi arak sedikit demi sedikit hingga ia tidak menyadari bahaya. Saat pesta semakin larut, Shi Shih mulai mabuk, tertawa-tawa, dan berjalan limbung. Akhirnya, Kaisar menarik selirnya itu ke kursinya dan mulai menanyainya dengan berbagai pertanyaan untuk mengorek pengakuan.
"Jadi, kau benar-benar mata-mata yang dikirim kerajaan Yueh, Shi Shih?"
"Hi-hik, itu benar, Sri Baginda... hamba memang dikirim untuk menjadi mata-mata di sini untuk menjatuhkan Paduka!"
"Keparat! Dan kau juga bersekongkol dengan Menteri Lui? Kau memengaruhi para menteriku untuk berkhianat?"
"Ya, hamba membuat mereka menjadi domba yang patuh... para menteri Paduka itu seperti kerbau dungu yang mabuk kekuasaan dan harta!"
"Ah, dan siapa yang membunuh Kim-Ongya?"
"Hamba pula yang melakukannya. Putra Paduka itu hamba bunuh karena berani melawan hamba! Heh-heh, hamba ngantuk... hamba ingin tidur!"
Shi Shih terhuyung dan tertawa, sementara Kaisar terbelalak bagai disambar petir. Wu-Taijin yang gemetar di belakangnya segera berlutut dengan penuh kemenangan. "Bagaimana, Sri Baginda? Dustakah omongan hamba?"
Kaisar menggigil tanpa menjawab. Shi Shih telah memberikan pengakuan luar dalam. Wu-Taijin bangkit berdiri dengan geram. "Sri Baginda, bagaimana putusan Paduka sekarang? Masihkah Paduka mengampuni siluman betina ini?"
Kaisar marah bukan main. "Tangkap dia, Taijin. Kurung dan jebloskan dia di penjara bawah tanah!"
"Ah, tidak dibunuh saja, Sri Baginda?"
Kaisar menggeleng karena masih merasa sayang. "Aku akan memancungnya besok. Sekarang masukkan dia ke penjara, Taijin. Aku akan mengulangnya besok setelah dia sadar!"
Wu-Taijin gembira atas kemenangan mutlak ini. Namun, ia tertegun ketika keesokan harinya, selir yang telah mengaku itu dibawa ke ruang sidang. Bukannya memohon ampun, Shi Shih justru menangis terisak.
"Shi Shih, tahukah dosamu kenapa aku memanggilmu kemari?" bentak Kaisar.
Shi Shih berlutut, kemudian bangkit dengan berani. "Ya, hamba tahu, Sri Baginda. Tapi kenapa tidak saat itu juga Paduka membunuh hamba?"
"Aku menginginkan kau mengulang pengakuanmu. Ingin mendengar setelah arak tidak membuatmu mabuk lagi!"
Shi Shih memandang Menteri Wu dengan mata bersinar. "Sri Baginda, hamba nyatakan di sini dengan hati berat bahwa semalam hamba telah membohongi Paduka. Hamba membuat pengakuan palsu itu agar Paduka cepat-cepat membunuh hamba. Karena Paduka rupanya masih mencintai hamba, biarlah hamba berterus terang bahwa apa yang hamba katakan semalam adalah bohong belaka!"
Semua orang terkejut. "Kau hendak menyangkal?"
"Hamba tidak menyangkal, Sri Baginda. Tapi justru inilah yang hamba katakan dengan sebenar-benarnya!"
"Ah, kau mau menyelamatkan diri dengan menarik ludahmu sendiri sementara semalam kau mengakui segala perbuatanmu?"
Wu-Taijin bangkit berdiri menghadap Kaisar. "Sri Baginda, siluman betina ini rupanya mau menipu Paduka. Sebaiknya cepat dihukum saja dan penggal kepalanya!"
Kaisar menepuk kursinya.