Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 188

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 188

"Shi Shih, apa jawabmu tentang sangkalan ini? Masihkah kau hendak menyangkal bahwa semalam kau berpura-pura saja?" Shi Shih mengguguk.

"Hamba memang berpura-pura, Sri Baginda. Hamba tak tahan oleh sakit hati yang menghimpit batin ini!"

"Hm, alasanmu?" Shi Shih tiba-tiba memandang Wu-Taijin, menudingkan lengannya.

"Sri Baginda, Paduka tahu bahwa Wu-Taijin iri dan dengki kepada hamba. Dia selalu menggosok Paduka untuk menjelek-jelekkan hamba. Tidak tahukah Paduka apa yang sebenarnya terjadi? Hamba memendam perasaan tertekan, Sri Baginda. Bahwa selama berbulan-bulan ini hamba tersiksa lahir batin oleh kecurigaan Wu-Taijin yang ingin memengaruhi Paduka! Hamba adalah wanita yang berperasaan halus dan peka. Tahankah hamba dicurigai sedemikian lama? Hamba terus terang tak tahan, Sri Baginda. Apalagi kalau Paduka sebagai suami yang hamba cintai juga mulai terpengaruh dan mencurigai hamba. Karena itu, daripada hamba dicurigai suami yang hamba cintai sepenuh hati, lebih baik hamba mengorbankan diri agar dibunuh Paduka saja!"

Hebat, kata-kata ini.

Shi Shih mempergunakan senjata "cinta" untuk menghancurkan perasaan Kaisar, memporak-porandakan hati laki-laki tua itu dengan tangisnya yang mengiba, membuat semua orang tertegun dan membelalakkan mata. Dan Kaisar yang tiba-tiba berdetak oleh semua kata-kata itu, sekonyong-konyong terhenyak dan terkejut sekali. Jadi, begitukah kiranya? Shi Shih sengaja mengaku karena tak kuat dicurigai? Dan selirnya itu siap dibunuh agar permusuhannya dengan Wu-Taijin yang memang selalu menggosok dan menghasutnya selama ini dapat lenyap dengan kematiannya di tangan Kaisar!

Laki-laki tua ini tertegun. Dia melihat Shi Shih menangis lagi dengan pundak berguncang-guncang, mengibakan sekali. Tapi Menteri Wu yang bangkit berdiri dan buru-buru memperingatkan sudah berseru nyaring, melihat Kaisar melunakkan sikapnya, "Sri Baginda, maafkan hamba. Harap hati-hati terhadap omongannya yang manis. Hamba membenci siluman betina ini bukan karena iri atau dengki melainkan semata-mata demi kesetiaan hamba terhadap negara dan Paduka. Wanita ini dusta, ia hendak membela diri memengaruhi Paduka!" Shi Shih membalikkan tubuh.

"Kau punya bukti tentang itu semuanya, Taijin? Kau dapat menunjukkan kepadaku sampai di mana perbuatanku itu?" Wu-Taijin marah.

"Tak perlu bukti lagi setelah semalam kau mengakuinya, Shi Shih. Sri Baginda telah mendengar sendiri pengakuanmu itu!"

"Hm, itu kulakukan karena aku tak kuat menerima kecurigaan terus-menerus ini, Taijin. Bahwa aku tak ingin suamiku mencurigai diriku gara-gara hasutanmu!" Dan Shi Shih yang tiba-tiba mendekat Ok-Ciangkun dan minta panglima itu melolos pedangnya sudah menangis lagi.

"Ciangkun, aku tak ingin hidup lebih lama. Kau serahkanlah pedangmu, biar Sri Baginda sendiri menabas kutung leherku!" Dan belum panglima ini memberi apa yang diminta, tahu-tahu Shi Shih sudah merampas pedangnya, tersedu-sedu menghadap Kaisar. Lalu mengguguk dan memasang lehernya di depan Kaisar, selir ini berkata, "Sri Baginda, harap Paduka kutungi leher hamba. Hamba tak ingin hidup lagi bila Paduka yang hamba cintai menaruh kecurigaan kepada hamba!" Kaisar tergetar. Dia melihat selirnya itu bicara sungguh-sungguh, menyerahkan pedang dan siap menerima kematian. Minta agar dia memenggal kepala selirnya itu. Dan melihat leher Shi Shih yang jenjang dan halus, tiba-tiba Kaisar tertegun membelalakkan matanya, terkesima oleh leher yang putih halus itu, leher yang biasa dia cumbu dan belai. Leher yang manis dan rela dikutungi saat itu juga. Dan Kaisar yang terkejut oleh semua kata-kata selirnya ini, yang memang masuk akal, tiba-tiba mengeluh dan... membuang pedang di tangannya itu.

Percaya bahwa pengakuan yang dilakukan Shi Shih semalam hanyalah karena keputusasaan selirnya itu menerima kecurigaan terus-menerus, tak tenang hidupnya diganggu Wu-Taijin. Dan karena menterinya itu selalu menggosoknya dan tiada henti menghasut Shi Shih, tiba-tiba Kaisar memeluk dan memandang selirnya ini!

"Shi Shih, kau benar. Wu-Taijin selamanya menuduhmu tanpa bukti. Aih, bagaimana aku tak tahu tentang ini, dewiku? Pengakuanmu semalam memang atas jebakan menteriku itu. Wu-Taijin rupanya cemburu. Dia iri dan dengki kepadamu...!" Semua orang tertegun. Mereka tak menyangka perubahan yang radikal itu, melihat Kaisar membelai kekasihnya dan melotot pada Wu-Taijin, yang kini tersudut dan ganti terjebak oleh tangkisan Shi Shih yang masuk akal. Bahwa selir itu terpaksa mengaku karena tak tahan hidup dikejar kecurigaan, didorong hasutan dan gosokan Wu-Taijin hingga Kaisar sendiri percaya pada menterinya itu. Dan karena Shi Shih telah menyebutkan alasannya dan dengan sungguh-sungguh pula selir itu siap menerima kematian di tangan Kaisar yang katanya tetap diminta sepenuh hati, mendadak keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat untuk kemenangan selir itu!

"Ah...!" Wu-Taijin kaget bukan main, buru-buru menjatuhkan diri berlutut. "Sri Baginda, mohon kesadaran Paduka untuk melihat tembaga sebagai emas. Selir Paduka itu ular berbahaya. Dia menipu Paduka!" Kaisar tak dapat dipengaruhi lagi.

"Tidak, kaulah yang berupa tembaganya, Taijin. Shi Shih tetap emas dan mulia bagiku. Dia mengaku karena tak tahan oleh gosokan dan hasutanmu."

"Tapi hamba berani sumpah, Sri Baginda. Hamba..." Kaisar mengilapkan lengan.

"Taijin, tak perlu banyak cakap lagi. Kau telah membuat kacau di tempat ini. Shi Shih tak bersalah, kau pergilah...!" Dan Kaisar yang tidak memedulikan lagi menterinya itu dan masuk memondong Shi Shih, tiba-tiba disambut isak menteri ini yang terpukul hebat. Wu-Taijin benar-benar tak menyangka akhir dari semuanya itu, tercengang bengong. Tapi begitu mengeluh dan mendekap dadanya, tiba-tiba menteri ini terjungkal dan roboh pingsan!

Gaduhlah tempat itu. Wu-Taijin rupanya tak kuat menerima pukulan itu, terlampau hebat dan berat baginya, terlampau menyakitkan. Maklum, Shi Shih yang ibarat ikan sudah di mulut buaya, tiba-tiba lepas begitu saja dengan amat mudahnya. Lolos dengan alasan jitu, mengaku karena ingin mengakhiri hidup diburu kecurigaan Wu-Taijin yang tak kenal lelah dan memusuhi dirinya. Dan karena Kaisar percaya pada menterinya itu dan curiga pada selir sendiri, akhirnya Shi Shih memilih mengaku untuk dihabisi saja riwayatnya, tak tahan oleh sikap suami yang curiga, terhasut, dan tergesek oleh Wu-Taijin. Dan Wu-Taijin yang tentu saja tahu dan maklum akan kecerdikan lawan yang luar biasa, tiba-tiba jatuh sakit untuk yang kesekian kalinya!

Berakhirlah sudah. Permusuhan yang terjadi itu adalah permusuhan yang terakhir. Artinya, Kaisar sudah tak akan mendengarkan lagi semua kata-kata dan nasihat menterinya ini. Tak akan menggubris dan memedulikan Wu-Taijin lagi. Dan Wu-Taijin yang mengalami syok hebat akibat kejadian itu lalu direncanakan untuk dipindah ke lain tempat. Celaka! Menteri Wu ini memang benar-benar bernasib sial. Dia kalah cerdik oleh Shi Shih.

Dan belum rencana itu dijalankan, tiba-tiba pada suatu hari, ketika pemberontakan di Chi dan Chih berhasil ditumpas, mendadak Kaisar mendapat laporan bahwa menterinya itu berkhianat dengan sisa-sisa pasukan Chi untuk mengadakan pemberontakan melawan Kaisar!

"Jahanam, adakah bukti bahwa menteri itu berkhianat, Po-Taijin?" Kaisar terkejut, berang mukanya memandang Po-Taijin (Menteri Po) yang melapor berita baru ini. Dan Menteri Po yang bukan lain adalah tangan kanan Shi Shih, buru-buru membenturkan jidat.

"Ampun, hamba melapor, tentu hamba mempunyai bukti, Sri Baginda. Tapi untuk lebih memperkuat dugaan ini, biarlah Paduka tanyakan hal itu pada selir Paduka!"

"Shi Shih?"

"Ya."

Kaisar murka. Dia memanggil selirnya itu, tak tahu betapa diam-diam Shi Shih memainkan mata di belakang panggung, pura-pura terkejut dan cepat menghadap Kaisar. Dan ketika Kaisar membentaknya dengan suara keras, buru-buru selir yang cerdik ini bersimpuh hormat.

"Ampun, ada apa Paduka memanggil hamba, Sri Baginda? Ada persoalan apa lagi?" Kaisar mengepal tinju.

"Aku hendak bicara tentang Menteri Wu itu, Shi Shih. Benarkah dia berkhianat dan hendak membantu sisa-sisa pemberontak di Chi-Kiang!"

"Ah," Shi Shih membelalakkan mata. "Dari mana Paduka tahu, Sri Baginda? Kenapa hamba yang diminta keterangannya?"

Kaisar geram. "Po-Taijin memberi tahu Padaku bahwa kaulah yang dapat memberi keterangan lengkap tentang Wu-Taijin ini, Shi Shih. Betulkah pembantuku itu hendak berkhianat dan adakah buktinya!" Shi Shih mengerutkan alis, pura-pura enggan.

"Sri Baginda, sebaiknya Paduka tak perlu bertanya kepada hamba. Kalau hamba bicara nanti dikira hamba sengaja menjelek-jelekkan Wu-Taijin karena kami memang selalu bermusuhan."

"Tidak, tak perlu kau takut, Shi Shih. Katakan saja apa yang dilakukan menteriku itu. Betulkah dia berkhianat dan adakah buktinya?" Shi Shih menangis.

"Sri Baginda, sesungguhnya hamba telah mengetahui hal ini beberapa waktu yang lalu. Tapi dikarenakan takut hamba memfitnah, maka hamba sengaja diam dan tak memberi tahu. Kini Paduka bertanya langsung, apa yang harus hamba lakukan?"

"Katakan terus terang saja, Shi Shih. Tunjukkan Padaku, betulkah menteriku itu berkhianat?" Shi Shih akhirnya tersedu. Dia berkata bahwa Wu-Taijin itu memang berkhianat, saksinya banyak. Antara lain Po-Taijin yang hari itu ada di dekat mereka. Tapi untuk menjelaskan persoalan agar tak disangka fitnah, sebaiknya menteri itu dipanggil menghadap sekarang juga. Dan ketika Wu-Taijin muncul dan ganti dia menjadi pesakitan di ruang sidang, akhirnya Kaisar membentak dengan penuh kemarahan.

"Taijin, betulkah kau berkhianat dengan sisa-sisa pasukan Chi-Kiang untuk memberontak dari dalam?"

Menteri Wu terkejut. "Siapa bilang, Sri Baginda?"

"Banyak yang bilang, antara lain Po-Taijin!"

Menteri Wu itu terbelalak. Dia marah memandang rekannya itu, dan maju selangkah dengan tinju terkepal, menteri tua ini menuntut, "Po-Taijin, adakah buktinya aku melakukan pengkhianatan? Dari mana kau tahu? Kenapa kau hendak memfitnah aku?" Po-Taijin tersenyum mengejek.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment