Chapter 189
"Aku mendengar dari banyak orang yang telah melihatnya, Taijin. Tapi terutama dari Sri Paduka Selir yang telah mengetahui tindak-tandukmu!"
"Ah!" Menteri She Wu terkejut, ganti memandang Shi Shih. Shi Shih yang bangkit berdiri dengan mata bersinar tiba-tiba membuat pembesar ini tergetar ketika mendengar wanita yang amat dibencinya itu menghadap padanya.
"Taijin, bolehkah aku bicara tentang tuduhan yang dijatuhkan padamu ini? Beranikah kau menyangkal bila bukti-bukti pengkhianatanmu kubuka di depan Sri Baginda?"
Menteri ini merah mukanya. Dia tidak melakukan pengkhianatan, maka membentak kepada lawan, ia menghardik, "Siluman betina, aku tidak melakukan pekerjaan yang dituduhkan kepadaku itu. Justru kaulah yang berkhianat. Kau ular berbisa yang menghasut Sri Baginda!"
Shi Shih tersenyum mengejek. "Aku bicara tentu aku mempunyai bukti, Taijin. Kalau kau dapat menyangkalnya, boleh kupotong leherku di sini!"
Wu-taijin gusar. Dia memaki-maki, tapi Sri Baginda yang menepuk lengan kursinya tiba-tiba membentak menyuruh menterinya itu diam. Lalu bangkit berdiri dengan mata merah, Sri Baginda berseru pada selirnya itu, "Shi Shih, coba kautunjukkan padaku di mana bukti pengkhianatan menteriku ini?"
Shi Shih mengangguk. Ia menepuk tangan dua kali. Ketika Sam-hek Bi-kwi muncul di ruang sidang, maka semua mata terbelalak ketika melihat tiga wanita cantik itu berdiri di belakang Shi Shih.
Shi Shih mengangkat tangannya, mulai bicara dengan jelas dan nyaring, satu per satu didengar semua orang, "Sam-hek Bi-kwi, benarkah kalian melihat Menteri She Wu ini berhubungan dengan musuh di Chi-kiang? Benarkah Wu-taijin merencanakan pemberontakan dengan jalan berkhianat secara diam-diam?"
Tiga wanita itu mengangguk. "Benar, Sri Paduka Selir."
"Dan adakah kalian membawa buktinya?"
"Kami membawa buktinya!"
"Nah, katakan kepada kami, biar Sri Baginda mendengar pernyataan kalian itu!"
Begitu Shi Shih memberi tanda, maka Sam-hek Bi-kwi yang merupakan pengawal rahasia ini lalu menghadap Kaisar. "Sri Baginda, ampunkan kami bertiga. Kami hendak bicara langsung dengan menteri Paduka itu."
Kaisar mengangguk dan memberi izin. Ketika Bi-kwi memutar tubuh mewakili dua kakaknya yang lain, bertanyalah wanita ini pada menteri itu, "Wu-taijin, ke manakah puteramu, Wu Hap, kausembunyikan? Salahkah bila kujawab bahwa puteramu itu berada di Chi-kiang di rumah seorang sahabatmu?"
Wu-taijin terkejut bagai mendengar petir di siang bolong. Dia terbelalak dan seketika tak dapat menjawab, tak menyangka bahwa dari sinilah datangnya tuduhan itu. Jebakan fitnah! Wu-taijin yang menggigil memandang Bi-kwi tiba-tiba mengeluh dan mendekap dadanya, kembali tak menjawab ketika Bi-kwi mengulang pertanyaannya. Dan ketika tiga kali Bi-kwi bertanya namun menteri ini tetap bungkam, akhirnya Kaisar bangkit berdiri membentak menterinya itu.
"Wu-taijin, benarkah pertanyaan yang ditujukan Sam-hek Bi-kwi ini? Kau menyembunyikan puteramu di Chi-kiang?"
Wu-taijin menjatuhkan diri berlutut. "Ampun, Hamba... hamba memang menyingkirkan putera hamba itu ke luar kota, Sri Baginda. Tapi bukan untuk berkhianat atau memusuhi Paduka!"
Shi Shih menjengek. "Tapi tak perlu ke Chi-kiang, Taijin. Kau tahu bahwa itu adalah sarang musuh yang anti-kerajaan!"
Wu-taijin pucat. Dia melihat semua mata memandangnya tajam, terutama Kaisar, yang marah dan terbelalak kepadanya. Ketika dia menggigil dan Kaisar melangkah maju, pertanyaan terakhir merupakan todongan yang tak dapat dielakkan lagi.
"Taijin, benarkah puteramu kausingkirkan ke Chi-kiang?"
Menteri ini mengangguk. Dia adalah orang jujur, tak pernah berbohong pada junjungannya itu. Namun, mencoba memberi penjelasan, ia berkata gugup, "Benar, tapi Hamba tidak bermaksudkan putera Hamba itu untuk melakukan pemberontakan, Sri Baginda. Justru Hamba menyingkirkan putera Hamba agar semata selamat dari selir Paduka yang telah membunuh Kim Ongya itu. Hamba tidak mengkhianati Paduka. Tuduhan ini adalah fitnah!"
"Hm, tapi menyingkirkan ke Chi-kiang sama dengan menyuruh puteramu itu bergabung dengan sisa-sisa pemberontak, Taijin. Kalau ini tak boleh disebut gejala pengkhianatan, lalu harus kunamakan apa?" Shi Shih lagi-lagi menyela, berani mendahului Kaisar karena ia adalah selir yang paling disayang dan Kaisar telah berada di bawah pengaruhnya. Semua orang yang menganggap kata-kata itu benar lalu menganggukkan kepala, menganggap Wu-taijin salah, termasuk Kaisar.
Wu-taijin yang ditodong tak dapat membela diri, tiba-tiba menangis dan berteriak, "Shi Shih, kau iblis betina yang pandai menghasut orang. Kau siluman ular berkepala dua!"
Kaisar marah, "Tak perlu memaki selirku, Taijin. Jawab saja, kau mengakui kesalahanmu atau tidak!"
"Tapi Hamba tak bermaksud berkhianat, Sri Baginda. Hamba menyelamatkan putera Hamba itu karena semata menghindari kejahatan selir Paduka ini. Hamba... hamba..." Wu-taijin tiba-tiba ambruk, menangis menggerung-gerung tak dapat menguasai diri lagi. Ia tak dapat mendebat karena hanya di sanalah puteranya itu terlindung dari jangkauan selir berbahaya ini. Rata-rata musuh Shi Shih memang berkumpul di sana, orang-orang yang tak senang akan sepak terjang selir cerdik yang telah mempengaruhi Kaisar luar dalam ini.
Ketika Wu-taijin mengguguk dan menangis karena dilanda sakit hati serta dendam yang dahsyat, tiba-tiba Kaisar meminta pedang Ok-ciangkun. Sang pengawal terbelalak dan terheran-heran oleh semua kejadian yang mengejutkan ini, melihat betapa permusuhan di antara menteri She Wu itu dengan selir yang cantik ini mencapai klimaksnya. Begitu Kaisar melolos pedang dan menghampiri menterinya, tanpa banyak cakap Kaisar melempar pedang di tangannya kepada Wu-taijin yang sedang berlutut.
"Trang!"
Wu-taijin mengangkat mukanya. Dia terkejut melihat Kaisar melempar pedang, lalu mundur dan duduk di kursi singgasananya dengan kepala tegak, gelap dan dingin memandangnya. Begitu sadar bahwa Kaisar menghendaki dia untuk menggunakan pedang itu sebagai hukuman, tiba-tiba menteri ini menghentikan tangisnya, bangkit berdiri dengan tubuh bergoyang dan muka pucat, seakan tak percaya bahwa junjungannya menghendaki dia bunuh diri. Hukuman maut!
Wu-taijin yang masih ragu setengah percaya lalu memungut pedang itu dengan jari gemetar, menghadap junjungannya. "Sri Baginda, Paduka... Paduka memutus hukuman mati untuk Hamba..."
Kaisar tak menjawab. Dia masih tegak di kursi singgasananya dengan sikap dingin, luar biasa dingin seperti es. Wu-taijin yang mencoba mengulang tiga kali berturut-turut namun tetap mendapat jawaban sama, tiba-tiba mengeluh dan mengangkat tinggi-tinggi pedang di tangannya. Kemudian, berteriak penuh kecewa, marah, serta dendam setinggi langit, pembesar itu menghunjamkan pedangnya ke perut sendiri.
"Sri Baginda, Paduka terhasut iblis. Semoga rakyat menanam banyak-banyak pohon kai untuk peti mati... crep!"
Wu-taijin terguling roboh. Menteri ini tewas seketika dengan mata mendelik, darah mengucur dari luka perutnya yang menganga lebar, melepas kutukan di saat ajal. Kaisar yang marah oleh kutukan ini menyuruh penggal kepala menteri yang malang itu, menancapkannya di tengah kota agar menjadi tontonan orang ramai, sementara sisa tubuhnya dibuang ke sungai, hanyut tanpa dikubur dengan layak. Tragis dan mengenaskan sekali.
Begitu semua orang tahu, tiba-tiba saja kota raja menjadi gempar! Wu-taijin adalah menteri setia. Bagaimana bisa menemui nasib demikian buruk? Namun, orang awam yang tak tahu-menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di istana hanya menarik napas dalam-dalam. Mereka menyayangkan kematian menteri tua itu. Kematian sia-sia. Kematian yang luar biasa buruk karena jasad tubuhnya tak dihormati, dibuang begitu saja bagai sampah tak berguna. Lenyap sudah jasa-jasa yang pernah dilepas menteri ini, hilang sudah semua perjuangannya untuk negara.
Namun, beberapa orang yang tahu duduk persoalan sebenarnya diam-diam menangis dan terharu. Sejarah mencatat betapa Wu-taijin adalah menteri yang gigih, yang tak kenal lelah dan selalu memperingatkan junjungannya akan bahaya selir cantik itu. Namun, kalau nasib menentukannya begitu, lalu apa yang dapat mereka lakukan? Orang hanya menangisi kematian menteri setia ini.
Shi Shih yang popularitasnya menanjak di luaran dan dikenal sebagai musuh nomor satu mendiang menteri setia itu, mendapat tanggapan bermacam-macam dari rakyat; ada yang pro dan ada yang kontra. Namun, setelah selir berhasil mempengaruhi Kaisar dan rakyat mulai dicekik oleh pajak yang tinggi, akhirnya selir itu mendapat citra buruk dan dibenci oleh sebagian besar orang. Khususnya rakyat Wu yang melihat junjungan mereka dibius oleh selir cantik itu, dinina-bobokan oleh kecantikan dan tubuhnya yang hangat.
Shi Shih yang tahu akan gejolak di luaran ini semakin berhati-hati dan mengendalikan Kaisar dengan perhitungan seksama. Itu memang misinya: membuat Wu porak-poranda diguncang kegelisahan. Ketika sedikit demi sedikit kendali pemerintahan mulai diarahkan kepadanya dan ia menunjuk beberapa menteri untuk pengganti Wu-taijin serta beberapa orang kepercayaannya, akhirnya kedudukan selir ini menjadi kuat dan luar biasa sekali.
Shi Shih kini berhasil menumbangkan musuh nomor satunya, Wu-taijin yang telah tewas itu. Karena semua orang melihat bahwa selir itu memang dekat dan amat disayang Kaisar, tak ada yang berani coba-coba melawan. Shi Shih mulai memperalat pembantu-pembantunya. Ia melihat sebagian besar menteri di kerajaan Wu itu adalah orang-orang yang tamak akan harta dan kedudukan, maka dengan memberi mereka harta dan jabatan, Shi Shih mengobral isi negara hingga mereka tunduk luar dalam.