Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 19

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 19

"Urusan ini tak boleh diawali dengan kepala panas!"

"Tapi aku ingin mencari Hong-ji, koko."

"Aku tak akan membuat enci Hong berduka atas hilangnya sang anak!"

"Tapi tidak begitu caranya, Bi-moi. Kau tak boleh pergi sendiri mencari musuh yang belum kita kenal baik."

Ceng Bi mau membantah, namun suaminya yang sudah mengejar dan mencekal tangannya membentak, "Bi-moi, jangan gegabah kau. Bukan Pek Hong saja yang berduka oleh lenyapnya Hong-ji...!"

Pendekar Gurun Neraka yang membawa kembali isteri nomor duanya ke dalam ruangan sudah menyuruh isterinya itu duduk. "Bi-moi, kita baru datang. Kegagalan kita mencari Ceng Liong tak boleh dilanjutkan dengan kegagalan berikut dalam mencari Sin Hong. Kita harus mendinginkan kepala dulu biarpun hati panas."

Pendekar Gurun Neraka yang sudah duduk pula di atas kursi menanya isterinya nomor satu, "Hong-moi, bagaimanakah asal mula kejadian ini? Kapan iblis itu datang?"

Pek Hong masih menangis. "Kejadian ini berawal tadi malam, koko. So Beng membunuh Lay-lay dan dua orang pembantu kita yang lain setelah memecahkan kepala Hekkauw den Pek kauw."

"Jadi dua anjing kita juga mati dibunuh?"

"Ya."

"Ah...!" Pendekar Gurun Neraka yang tiba-tiba berkilat matanya ini mengepal tinju. "Lalu bagaimana kelanjutannya, Hong-moi? Bagaimana Ta Bhok lo-suhu dapat tewas di sini?"

"Aku tak tahu, Yap-koko. Yang jelas pada saat iblis itu hampir membunuhku, mendadak suhu datang. Dia menangkis serangan itu, lalu bertempur. Dan ketika aku membawa Hongji dan Bi Lan di tempat persembunyian, tahu-tahu suhu tewas ketika aku kembali!"

"Dan kalian tak tahu siapa iblis itu?"

Pek Hong menggeleng, mengguguk tangisnya. Nyonya muda yang amat sedih serta marah kehilangan anaknya itu tiba-tiba bangkit berdiri. "Aku akan mencari Sin Hong, koko. Aku akan mencari iblis itu sampai ketemu...!"

"Hm, tenang dulu, Hong-moi. Aku juga terpukul oleh hilangnya Hong-ji. Tapi ke mana kira-kira mereka pergi?"

"Mana aku tahu, koko. Bi Lan sendiri tak tahu ke mana kakaknya dibawa!"

"Hm, ini gara-gara Bu-beng Siauw-cut itu. Kalau bocah itu tidak datang dan kita tidak pergi mencarinya, tentu tak akan terjadi semuanya ini!"

Ceng Bi mendesis, mengepalkan tinju. Pendekar Gurun Neraka yang mengerutkan alis melihat kejadian ini tiba-tiba bangkit berdiri. "Bi-moi, tak perlu menyalahkan anak itu. Semuanya yang terjadi sudah terjadi. Tak perlu kita mencari kambing hitam. Sekarang bagaimana kehendak kalian untuk menyelesaikan persoalan ini?"

"Aku akan mencari Sin Hong, koko. Aku tak akan tenang kalau belum menemukan kembali anakku itu!"

"Ya, dan aku akan membantu enci Hong untuk mencari Hong-ji, koko. Tak akan kembali sebelum menemukan anak itu!"

"Baik, kalau begitu kita semua turun gunung. Tak ada yang tinggal di sini ataupun berpisah di antara satu dengan yang lain. Bagaimana pendapatmu, Hong-moi?"

Pendekar Gurun Neraka menjawab, menyetujui kehendak isterinya dan memandang Pek Hong. Pek Hong yang bersinar matanya mendapat bantuan dua orang yang dicintainya ini mengangguk terhibur. "Aku setuju, koko. Dan kalau boleh hari ini juga kita pergi mencarinya."

"Baik," tetapi baru ucapan Pendekar Gurun Neraka selesai dikeluarkan, mendadak tiga buah bayangan berkelebat masuk.

"Pendekar Gurun Neraka, selamat bertemu?"

"Yap-sicu, semoga panjang umur...!"

"Yap-twako, aku datang...!"

Begitu tiga suara susul-menyusul beriringan masuk, mendadak tiga orang telah berkelebat di dalam menjura kepada tuan rumah. Mereka dua orang hwesio dan tosu, sementara orang ketiga adalah seorang laki-laki muda yang gagah dengan sinar mata tajam bercahaya.

Begitu tiga orang ini masuk, segera Pendekar Gurun Neraka dan dua orang isterinya terkejut. "Ah, kalian yang datang Bu Wi lo-suhu? Dan kau Thian Kong locianpwe? Ah, selamat bertemu... selamat datang...!"

"Mari duduk, ji-wi locianpwe. Mari duduk saudara Ceng Han... kami juga baru saja datang...!" Pendekar Gurun Neraka yang segera mempersilakan tamunya sudah terburu-buru membalas hormat.

Mereka adalah Bu Wi Hosiang dan Thian Kong Cinjin, dua orang ketua Bu Tong dan Cin-Img, dua tokoh yang dulu ikut membasmi perkumpulan Gelang Berdarah. Sementara orang ketiga yang bukan lain adalah Ceng Han atau Souw Ceng Han, kakak kandung isteri Pendekar Gurun Neraka yang nomor dua (Ceng Bi), sudah tersenyum gembira bertemu tuan rumah.

Tetapi tiba-tiba tiga orang ini tertegun. Mereka melihat keadaan rumah yang porak-poranda, meja kursi masih ada yang terbalik. Dan ketika pandang mata mereka membentur mayat Ta Bhok Hwesio, mendadak tiga orang ini berseru kaget. "Hei, itu bukankah Ta Bhok lo-suhu, Pendekar Gurun Neraka?"

Pendekar ini mengangguk. "Ya, baru saja tewas, Thian Kong locianpwe. Kami mendapat musibah pada saat kami tidak ada di rumah!"

"Ah...!" Tiga orang yang sudah saling berpandangan ini tertegun dengan muka berubah. Mereka tak menyangka Ta Bhok Hwesio tewas di situ.

Bu Wi Hosiang yang sudah merangkapkan tangannya berdoa. "Omitohud, sungguh tak terduga, Yap-sicu. Tapi semoga arwahnya tenang di alam baka!"

"Siancai, pinto juga tak mengira, Pendekar Gurun Neraka. Pantas kami tunggu-tunggu tak pernah dia kembali...!" Thian Kong Cinjin yang sudah menyambung dengan puja-puji mendoakan arwah ini mengerutkan keningnya dengan muka muram, terhenyak dengan sikap kaget.

Pendekar Gurun Neraka yang tersenyum pahit sudah menarik napas berat. "Ji-wi locianpwe, saudara Ceng Han, ada berita apakah kalian bertiga datang ke mari? Apakah ada sesuatu yang penting?"

Bu Wi Hosiang mengetrukkan tongkatnya. "Omitohud, pinceng jadi sukar bicara kalau begini, Yap-sicu. Biarlah kalian berkabung dulu baru nanti kita bicara!"

"Ah, ada persoalan apa kiranya, lo-suhu? Pentingkah itu? Kalau penting boleh kalian bicara saja, tak perlu sungkan dengan keadaan kami!"

"Ah, tapi mana bisa pinceng bicara, Yap-sicu. Pinceng masih terkejut oleh kematian sahabat pinceng ini. Biarlah Thian Kong Cinjin saja yang bicara!"

Tetapi Thian Kong Cinjin juga mengelak. "Wah, pinto juga tak sampai hati membiarkan urusan ini. Pendekar Gurun Neraka. Bicaralah Souw-siauwhiap saja yang bicara!"

Pendekar Gurun Neraka yang jadi terheran oleh sikap dua orang hwesio dan tosu ini sudah memandang iparnya. "Han-te, ada persoalan penting apakah kiranya? Kalian tak perlu sungkan, bicara saja di depan kami apa adanya!"

Ceng Han menarik napas, tersenyum berat, "Kami sesungguhnya hendak memberitahukan sebuah berita baru, Yap-twako. Bahwa Hohan-hwe yang selama ini tenang kaupimpin digemparkan seorang tokoh iblis yang jahat dan keji. Dia telah membunuh lima puluh orang anggota kami. Dan Thian Kong Cinjin serta Bu Wi lo-suhu kali ini mendapat ancamannya!"

"Hm, siapa dia?"

"So-beng, iblis Penagih Jiwa!"

"Apa?" Pendekar Gurun Neraka terbelalak, "iblis Penagih Jiwa itu?"

Ceng Han heran. "Ya iblis itu, Yap-twako. Kau sudah mengenalnya?"

Tetapi Ceng Bi melompat maju, membanting kakinya. "Dialah yang membunuh guru enci Hong ini, Han-ko. Iblis itulah yang justru hari ini datang menyatroni rumah kami...!"

Ceng Han dan dua orang temannya terkejut, "Apa, Bi-moi? Dia sudah datang ke mari mengganggu kalian?"

"Ya, dan dia datang pada saat enci Hong sendirian di rumah, Han-ko. Malah iblis itu telah membawa lari Sin Hong malam tadi."

Ceng Han tertegun. Dia dan dua orang temannya benar-benar terkejut, tetapi putera Pendekar Kepala Batu yang berwatak lebih tenang dibanding adiknya itu sudah membungkukkan tubuh ke arah Pek Hong. "Adik Hong, maaf. Aku tak tahu bahwa sampai sedemikian jauh perbuatan iblis itu. Tapi bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Kenapa Bi-moi bilang bahwa saat itu kau sedang sendirian di rumah? Di manakah Yap-twako dan adik Ceng Bi saat itu?"

"Kami sedang turun gunung, Han-ko. Kami keluar sehari untuk mencari seorang anak!"

Ceng Han terheran. "Siapa yang kalian cari?"

"Bu-beng Siauw-cut!"

"Bu-beng Siauw-cut?" pendekar muda ini membelalakkan mata. "Apakah seorang bocah laki-laki berumur sepuluh tahunan yang pakaiannya compang-camping?"

"Ya, benar dia itu!" Ceng Bi berseru. "Apakah kau tahu di mana bocah itu, koko?"

"Wah...!" Thian Kong Cinjin tiba-tiba menimbrung. "Aneh kalau begitu, Yap-hujin. Kami memang telah bertemu dengan anak laki-laki itu yang membawa Medali Naga!"

Ceng Bi tertegun. "Di mana kalian bertemu dengannya, locianpwe?"

"Di luar dusun Cih-bun, di perbatasan kota Hang-low bersama seorang laki-laki yang tidak pinto kenal!"

"Hm," Ceng Han kembali ikut bicara. "Dan dia membawa Medali Naga. Bi-moi. Sungguh aneh bagaimana anak itu bisa mendapatkan medali yang menjadi tanda kepercayaan Pangeran Kou Cien ini. Apakah Yap-twako tahu siapa anak itu?"

Ceng Bi melengking, "Dia anak siluman Tok-sim Sian-li, Han-ko. Dia anak setan yang telah membuat kami susah itu!"

Pendekar Gurun Neraka membentak, "Bi-moi, tak perlu kau menjelek-jelekkan anak itu! Kita belum mendapat kepastian tentang siapa sebenarnya anak ini!"

Ceng Bi sadar. Ia mendapat kedipan Pek Hong, yang memberi isyarat bahwa suami mereka terpukul apabila membicarakan Bu-beng Siauw-cut di depan orang lain. Karena membicarakan anak itu berarti membuka "luka" hati suami mereka dari hubungan gelapnya dengan Tok-sim Sian-li, meskipun suami mereka tak bersalah dalam hal ini.

Ceng Bi yang sadar akan kebenciannya terhadap iblis betina itu sudah menundukkan kepalanya dengan mulut terisak, menyesal tapi juga penasaran. Ceng Han yang sudah mendengar seruan adiknya itu membelalakkan mata dengan heran. "Jadi dia anak iblis betina itu, Yap-twako?"

Pendekar Gurun Neraka menarik napas. "Aku belum tahu benar, Han-te. Kami sedang menyelidikinya untuk membuktikan itu. Tapi sudahlah, urusan anak ini tak begitu penting bagi kalian. Sekarang setelah berita tentang So-beng, masih adakah berita lain?"

Bu Wi Hosiang kali ini melangkah maju, "justru ini yang penting sekali, Yap-sicu. Karena setelah So-beng muncul menggemparkan dunia kami, tiba-tiba kehilangan pedang komando."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment