Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 190

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 190

Bukan tunduk kepada Kaisar, melainkan tunduk kepadanya.

Secara pribadi!

Ketika kedudukannya semakin kuat dan roda pemerintahan dikendalikan lewat tangannya, mulailah selir ini menyusun angkatan perang di balik angkatan bersenjata negara!

Begitulah. Shi Shih mulai mengembangkan sayap. Selir ini tak tanggung-tanggung mengoyak kekalutan istana. Namun, ketika dia harus berhadapan dengan Ok-ciangkun sebagai menteri pertahanan dan panglima itu melihat gejala-gejala yang tidak beres, tiba-tiba untuk sejenak selir ini menemui batunya.

"Ok-ciangkun tidak setuju bila mendirikan pasukan cadangan, Paduka Selir. Katanya itu tak berguna dan hanya memboros-boroskan potensi negara saja!" demikian Po-taijin melapor suatu hari, menghadap dan menyatakan keluhannya.

Shi Shih, yang terkejut oleh keterangan itu, membelalakkan matanya. "Apa yang dikatakan menteri pertahanan ini?"

Po-taijin, yang telah menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan selir itu, menjawab, "Dia tidak setuju, Paduka Selir. Katanya pasukan cadangan tak perlu dibangun karena pasukan di bawah pimpinannya sudah cukup diandalkan untuk melindungi Kaisar."

"Ah, tolol kau, Po-taijin. Tidakkah kaukatakan bahwa pasukan cadangan ini adalah untuk memperkuat penjagaan terhadap Kaisar? Musuh mulai menyelinap ke dalam istana, dan Ok-ciangkun tak mungkin mengandalkan pasukannya bila dia dikirim menghadapi sisa-sisa pemberontak di luar."

Po-taijin ketakutan melihat selir ini marah, tetapi ia mencoba meredakan keadaan. "Jadi bagaimana, Paduka Selir? Apa yang sebaiknya hamba lakukan?"

"Kau panggil panglima itu. Biar kubicarakan bersama Kaisar."

Po-taijin mengangguk. Dia tak dapat menolak. Ketika Ok-ciangkun datang menghadap dan Shi Shih melihat panglima itu menunjukkan muka tak senang, buru-buru selir ini bangkit berdiri sambil tersenyum manis. Ia maklum bahwa terhadap panglima ini dia harus mengambil hati karena Ok-ciangkun merupakan tulang punggung negara dalam masalah angkatan perang.

Begitu Kaisar mempersilakan duduk, menyapalah selir yang cerdik ini, "Ok-ciangkun, tahukah kau apa maksud kami memanggilmu?"

Ok-ciangkun mengangguk. "Hamba tahu, Paduka Selir. Po-taijin telah menerangkan kepada hamba apa yang menjadi maksud Paduka!"

"Bagus, kalau begitu bagaimana, Ciangkun? Bisakah kita sekarang memusyawarahkan masalah ini bersama? Sri Baginda sengaja kuajak ke mari untuk mendengarkan pembicaraan kita. Mari kita mulai saja!"

Kaisar, yang sudah mendengar rencana selirnya untuk menyusun pasukan cadangan di luar pasukan kerajaan demi keselamatan dirinya, memandang panglimanya itu. "Ciangkun, selirku minta memperkuat penjagaan. Bagaimana pendapatmu untuk menyusun pasukan cadangan itu? Perlukah?"

"Tidak!" Panglima ini langsung menggelengkan kepala, tegas pada sikapnya semula. "Hamba rasa pasukan cadangan itu tak perlu dibuat, Sri Baginda. Pasukan yang hamba pimpin sudah lebih dari cukup untuk melindungi Paduka!"

"Hm, aku juga sudah berkata pada selirku itu. Tapi bagaimana pendapatmu, Shi Shih?"

Selir cerdik ini tersenyum. "Hamba justru memperkuat keinginan hamba, Sri Baginda. Hamba ingin menyusun pasukan cadangan untuk memperkuat perlindungan terhadap Paduka!"

"Tapi Ok-ciangkun telah menjamin keselamatanku, Shi Shih. Apakah ini kurang dan masih perlu dikhawatirkan?"

"Tidak," Shi Shih masih tersenyum. "Apa yang dikatakan Ok-ciangkun memang benar, Sri Baginda. Tapi bukankah jaminan ini berlaku bila Ok-ciangkun ada di kota raja? Bagaimana jika sewaktu-waktu Ok-ciangkun bertugas di luar?"

"Hamba dapat mewakilkannya pada pembantu-pembantu hamba, Paduka Selir. Paduka tak perlu khawatir jika hamba bertugas di luar!"

"Tapi beberapa waktu yang lalu kau kecolongan, Ciangkun. Tak ingatkah kau betapa penjahat menculik diriku? Kalau tak ada Sam-hek Bi-kwi di sana, tentu aku sudah menjadi mayat!"

"Ini..." panglima itu tertegun. "Hamba memang kecolongan, Paduka Selir. Maafkan hamba untuk peristiwa itu. Waktu itu dua orang putri hamba sedang keluar meninggalkan Paduka!"

"Ya, dan terus terang aku tak menghendaki peristiwa itu berulang, Ciangkun. Aku tak ingin apa pun alasannya, aku atau Sri Baginda mendapat serangan musuh yang menyelinap memasuki istana!"

Ok-ciangkun mengerutkan alis. Mukanya merah, entah marah atau malu. Namun, Sri Baginda yang mengangkat lengannya buru-buru menengahi, "Shi Shih, jangan terlampau keras menekan Ok-ciangkun. Betapapun kau tahu sendiri panglimaku ini bekerja sekuat tenaga untuk melindungi diriku. Bukankah selama ini tak ada musuh yang berani menggangguku?"

"Benar, musuh memang belum mengganggu Paduka, Sri Baginda. Tapi musuh telah berani menculik hamba. Ini berarti penjagaan di istana masih kurang tangguh!" Shi Shih tetap bertahan, bersikeras pada pendapatnya, dan cemberut pada Kaisar yang terang-terangan membela Ok-ciangkun.

Ok-ciangkun yang mengangkat mukanya memberikan janji, "Baiklah, hamba akan menambah pembantu-pembantu hamba di istana, Paduka Selir. Kalau Paduka masih merasa khawatir akan penjagaan istana, biarlah hamba menanam orang-orang kepercayaan hamba untuk melindungi Paduka!"

"Kalau masih kecolongan juga?"

"Tak mungkin!" Panglima ini merasa pasti. "Hamba memiliki pembantu-pembantu yang kuat, Paduka Selir. Hamba yakin keselamatan Paduka dan Sri Baginda tak mungkin dijangkau musuh dari luar!"

"Baiklah," Shi Shih akhirnya mengalah. "Aku juga tak mengharap musuh dapat menerobos penjagaanmu, Ciangkun. Tapi kalau terbukti keselamatan kami terancam juga, sebaiknya kau melihat kekuranganmu ini untuk membentuk pasukan cadangan!"

"Boleh," Ok-ciangkun setuju. "Hamba tak yakin itu, Paduka Selir. Tapi kalau benar ada musuh yang dapat mengganggu Paduka berdua, biarlah saat itu juga hamba membentuk pasukan cadangan."

Begitulah, Shi Shih terganjal sejenak oleh kekerasan hati panglima ini. Namun, Ok-ciangkun yang tak mengenal kecerdikan selir itu mana tahu siasatnya yang luar biasa. Shi Shih sengaja mengalah agar tidak terlalu melukai perasaan panglima itu, yang bagaimanapun amat diandalkan Kaisar karena dia adalah orang yang paling lihai di seluruh kerajaan.

Namun, begitu panglima ini berjanji untuk menyusun pasukan cadangan bila musuh dapat mengganggu mereka, tiba-tiba selir ini tersenyum dan segera mengatur siasat. Shi Shih adalah selir yang banyak mempunyai mata-mata. Bahkan, ia merupakan orang kedua setelah Kaisar. Jadi, apa susahnya mempermainkan orang?

Maka, begitu panglima ini keluar meninggalkan ruangan, selir yang cerdik ini menyusun siasat yang bagus. Tentu saja tidak tergesa-gesa, memasang jarak agar panglima itu tak curiga. Ketika waktu yang ditentukan itu tiba dan Panglima Ok "kebetulan" keluar kota raja untuk mencari sisa-sisa pemberontak di Chi-kiang, saat itulah kejadian menggemparkan terjadi di istana.

Dua orang musuh berkedok menyerbu, datang ke istana dan merobohkan banyak pengawal untuk mencari-cari Kaisar. Ketika Kaisar tertangkap dan semua orang tertegun melihat kehebatan musuh yang datang itu, tiba-tiba semua orang terhenyak ketika mengetahui bahwa yang datang ternyata adalah Pendekar Gurun Neraka dan istrinya, Pek Hong!

Kaisar yang tentu saja kaget bukan main oleh kehadiran tokoh yang luar biasa ini tertegun dan bertanya apa yang menjadi maksud pendekar sakti dan istrinya itu. Pendekar Gurun Neraka menyatakan maksudnya; dia tidak bermaksud membunuh Kaisar, tapi sekadar mengancam agar Kaisar tidak mengganggu dua anaknya yang dianggap sebagai pemberontak, yakni Sin Hong dan Bi Lan, karena kejadian dahulu hanyalah fitnah belaka.

Kaisar yang dipaksa berjanji untuk tidak mengganggu Sin Hong dan Bi Lan beserta teman-temannya lalu dilepaskan. Kaisar marah-marah pada pendekar sakti itu, memaki sebagai manusia tak tahu aturan yang membuat ribut di rumah orang.

Begitu Kaisar dilepas dan Pendekar Gurun Neraka memegang janjinya, mendadak para pengawal maju membentak dan mengerubuti pendekar ini. Terjadilah perkelahian seru. Pendekar Gurun Neraka dan istrinya dikeroyok. Namun, pendekar sakti yang gagah perkasa itu ternyata unggul. Bi Kwi serta teman-temannya yang dipaksa mundur oleh suami-istri berkepandaian tinggi ini akhirnya kalang-kabut dan roboh satu per satu, gentar dan mengakui kehebatan mereka.

Namun, ketika dua orang pemuda maju dengan bentakan penuh semangat, pertempuran berubah. Pendekar Gurun Neraka menghadapi pemuda baju putih, sementara pemuda baju hitam yang menyusul belakangan menyerbu Pek Hong.

Ketika Pek Hong terdesak dan menjerit untuk pertama kalinya, ia terluka. Semua orang terkejut, terbelalak, dan kagum melihat sepak terjang dua orang pemuda ini. Ketika Pek Hong kembali menjerit dan untuk kedua kalinya terpelanting, mendadak Pendekar Gurun Neraka mengeluarkan bentakan yang membuat semua orang terguncang dan roboh oleh pekik dahsyat itu.

Begitu lawan terkejut oleh bentakannya yang menggelegar, Pendekar Gurun Neraka meninggalkan pemuda baju putih, menyambar istrinya yang saat itu dikejar pemuda baju hitam yang ganas. Setelah menangkis dan membuat pemuda baju hitam itu terlempar, Pendekar Gurun Neraka berkelebat lenyap membawa istrinya yang terluka, meninggalkan istana sementara orang-orang masih bengong oleh geraknya yang luar biasa cepat.

Ketika semua orang sadar dan mencoba mengejar, ternyata pendekar yang amat berani dan gagah perkasa itu telah lama menghilang jauh di kegelapan malam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment