Chapter 191
Begitulah. Kejadian malam itu benar-benar mengejutkan. Istana benar-benar gempar oleh kedatangan Pendekar Gurun Neraka; tak ada yang menyangka bahwa Kaisar yang dijaga ketat tidak mampu menyelamatkan diri dari sergapan pendekar yang dikenal sakti dan memiliki kepandaian tinggi tersebut.
Begitu semua orang sibuk membicarakan kejadian ini, dua pemuda yang berhasil menahan serbuan lawan tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dan banyak dikagumi. Siapakah mereka? Tidak lain adalah Kun Houw dan Hun Kiat, dua pemuda yang sebenarnya bermusuhan namun sama-sama membantu Ok-ciangkun. Kun Houw adalah pemuda berbaju putih, sedangkan Hun Kiat adalah pemuda berbaju hitam.
Kaisar yang kagum dengan kelihaian kedua pemuda ini menyatakan terima kasih dengan mengangkat mereka sebagai panglima muda yang memimpin seribu pasukan. Namun, Kun Houw menolak. Pemuda itu menyatakan bahwa perbuatannya hanyalah sebuah kewajiban, bukan dilakukan demi meraih jabatan atau pujian tertentu. Kaisar yang tertegun oleh jawaban tersebut kemudian memandang selirnya yang duduk di sebelah kiri.
Shi Shih, yang tersenyum mengerling Sri Baginda, akhirnya menengahi, "Sri Baginda, pemuda ini adalah pembantu Ok-ciangkun. Bagaimana jika kita menunggu pendapatnya mengenai penghargaan apa yang layak diberikan kepada pemuda ini jika dia menolak menjadi panglima muda?"
"Hm, aku setuju saja, Shi Shih. Tapi apa pendapat pribadimu untuk memberi penghargaan pada pemuda gagah perkasa ini?"
"Hamba kira mengepalai pengawal rahasia saja, Sri Baginda. Karena pemuda yang satu itu sudah menerima anugerah untuk menjadi panglima muda."
"Ah, tapi jabatan kepala pengawal sudah dipegang oleh Ok-ciangkun, Shi Shih. Mana mungkin memberikan kedudukan itu padanya?"
Shi Shih tersenyum. "Sri Baginda, jabatan rangkap yang dipegang Ok-ciangkun sebenarnya memberatkan pembantu Paduka itu sendiri. Mengapa sungkan menarik jabatan ini untuk diberikan kepada Kun Houw? Dia cukup pantas menerimanya. Kepandaiannya jauh lebih lihai dibanding Bi Kwi dan teman-temannya!"
"Tapi Ok-ciangkun bisa tersinggung, Shi Shih. Salah-salah dia tidak senang jika aku memberikan anugerah itu pada pemuda ini!"
"Tidak," Shi Shih menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ok-ciangkun harus tahu kekurangannya, Sri Baginda. Bukankah beberapa waktu lalu dia berjanji untuk memperbaiki kelemahan perlindungannya? Kalau Paduka segan memberi kedudukan itu, ganti saja sebagai kepala khusus, Sri Baginda. Yakni kepala pasukan cadangan yang harus dibentuk sesuai usul hamba dulu!"
Kaisar tertegun. Ia teringat bahwa ucapan Shi Shih benar; pasukan cadangan harus dibentuk untuk memperkuat penjagaan. Melihat bahwa pengawal Ok-ciangkun masih dapat ditembus musuh—dan jika bukan karena dua pemuda ini, tentu Pendekar Gurun Neraka dapat berbuat sewenang-wenang—akhirnya Kaisar mengangguk dan berseru girang, "Bagus, usulmu memang tepat, Shi Shih. Sebaiknya pemuda ini dijadikan kepala pasukan cadangan itu. Dia memiliki kelihaian yang dapat diandalkan!"
Shi Shih tersenyum. Kali ini Kaisar mendukung keinginannya tanpa perlu dibujuk lagi. Ketika beberapa hari kemudian Ok-ciangkun pulang dan mendengar berita mengejutkan tersebut, panglima itu tertegun dan terbelalak kaget.
"Apa? Pendekar Gurun Neraka menyerbu?"
"Ya, dan Kaisar sempat tertangkap oleh pendekar sakti itu, Ayah. Untung ada Kun Houw dan Hun Kiat yang melukai lawan," jawab Kui Hoa dengan bangga pada kelihaian kekasihnya, sementara sang ayah terkejut seakan bermimpi di siang hari.
Panglima itu mendengar kisah lengkap dari putrinya, lalu menggerotkan gigi dan mengepal tinju. "Ke mana Paman So-beng, Ayah? Kenapa dia juga tidak muncul?"
Panglima itu termangu tanpa menjawab. Ia geram pada pembantu-pembantunya sendiri hingga menepuk paha dengan muka merah. Saat itu, Po-taijin datang membawa undangan Kaisar, menyatakan bahwa ia ditunggu Sri Baginda bersama selirnya. Ketika Shi Shih menegur dan mengingatkan akan kesalahannya secara halus, Ok-ciangkun menarik napas dan membungkukkan tubuh.
"Paduka benar. Hamba rupanya masih kebobolan. Apa yang Paduka inginkan sekarang?"
Shi Shih tersenyum manis. "Tak perlu kecewa, Ok-ciangkun. Bagaimanapun yang datang adalah Pendekar Gurun Neraka. Kalau kau ada di sini saat itu, tentu Sri Baginda tidak akan tertawan dengan memalukan. Sekarang bagaimana janjimu dulu untuk membentuk pasukan cadangan? Dapatkah usulku kau terima?"
Panglima itu mengangguk. "Hamba memenuhi janji, Paduka Selir, tapi semuanya tergantung Sri Baginda."
"Aku pribadi menyetujui keinginan selirku, Ok-ciangkun. Kalau kau tak keberatan, tentu aku akan senang mengabulkannya," sahut Kaisar.
"Dan Kun Houw menjadi kepala pasukan cadangan ini, Ciangkun. Dapatkah kau menerimanya dengan baik pula?" sambung Shi Shih.
Panglima itu terkejut dan mengerutkan alis; ia tidak menyangka Kun Houw yang selama ini adalah pembantunya akan diambil. Namun, Kaisar memotong dengan seruan yang membuat sang panglima tersudut. "Tadinya selirku menginginkan Kun Houw menjadi kepala pengawal rahasia. Tapi karena jabatan itu sudah kaupegang, maka kucegah dan aku memberinya jabatan lain. Itulah keputusan kami!"
Ok-ciangkun tidak dapat berkutik. Ia sadar selir junjungannya itu memiliki perhitungan yang jauh lebih tajam. Kun Houw pun akhirnya resmi diberi penghargaan sebagai kepala pasukan cadangan dan memisahkan diri dari kelompok Ok-ciangkun. Kun Houw yang tidak enak menolak untuk kedua kalinya menerima penghargaan tersebut, meski dalam hati ia heran mengapa selir Kaisar berkali-kali mengerlingnya dengan senyum aneh.
Malam itu, di kamarnya dalam keadaan samadhi, Kun Houw mengumpulkan tenaga setelah seharian sibuk menerima petunjuk dari Ok-ciangkun untuk membentuk pasukan cadangan. Ketika malam semakin larut dan ia hampir terlelap, sesosok bayangan muncul membuka jendela kamarnya.
"Kun Houw, bangunlah. Ikuti aku!"
Kun Houw terkejut saat pundaknya ditepuk orang. Tanpa pikir panjang, ia bergegas membentak dan berjungkir balik menghantam sosok tersebut. Keduanya beradu tenaga di udara hingga ruangan tergetar. Kun Houw terdorong mundur dan terbelalak saat melihat siapa yang datang.
"Kau?"
Orang itu mengangguk dan memberi isyarat agar Kun Houw tenang, lalu mengajaknya keluar. "Houw-ji, ikuti aku!"
Kun Houw tergetar hebat. Ia memandang sosok yang tidak lain adalah Pendekar Gurun Neraka, ayahnya sendiri. Panggilan "Houw-ji" yang terdengar mesra itu membuat hatinya terguncang dan menangis. Tanpa banyak tanya, ia mengikuti sang ayah menuju sebuah bukit di luar kota raja, sementara di puncak bukit, sang pendekar besar berhenti menunggu.