Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 192

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 192

Sakarang Kun Houw ikut berhenti.

Dua laki-laki ini berhadapan, sama tinggi, sama gagah, dan sama tampan. Meskipun Pendekar Gurun Neraka sekarang berusia empat puluhan tahun, ia jelas lebih tua namun tetap menarik, sehat, dengan wajah yang dicukur bersih.

Kun Houw yang menggigil di depan laki-laki yang berat disebutnya ayah itu tiba-tiba melihat pendekar itu mengembangkan lengannya.

"Houw-ji, kau tak rindu menyebutku ayah?" Kun Houw gemetar.

Dia melihat Pendekar Gurun Neraka melangkah maju, memeluk pinggangnya.

Lembut dan hangat hingga Kun Houw semakin menggigil. Ketika dua mata bentrok dan saling beradu di udara, tiba-tiba Kun Houw melihat pendekar sakti itu meneteskan dua titik air mata sebagai tangis bahagia.

"Houw-ji, kau tak rindu menyebutku ayah?" Ulangan pertanyaan ini membuat Kun Houw hancur perasaannya.

Dia seakan diremas-remas, dicopot dan disentak jantungnya.

Maka begitu Pendekar Gurun Neraka memeluknya dengan suara gemetar, tiba-tiba Kun Houw menangis dan terisak, membalas mendekap ayahnya ini.

"Ayah, apa yang kau maui dengan mengajakku kemari? Apa dosaku hingga kita saling bermusuhan?" Pendekar Gurun Neraka menggigil.

Sekarang dia benar-benar menangis dengan air mata bercucuran, baru kali itu mendengar Kun Houw menyebutnya ayah. Sebutan pertama kali yang diucapkan dengan perasaan hancur karena masing-masing menyadari keadaan mereka yang saling bertolak belakang. Sebutan yang bagi Pendekar Gurun Neraka serasa membetot sukma, mencabut nyawanya; pedih namun nikmat.

Pendekar Gurun Neraka yang lalu menciumi muka putranya itu tidak menjawab pertanyaan Kun Houw. Ia tiba-tiba merintih dan melampiaskan segala perasaan harunya hingga pundak berguncang-guncang.

Tersedu dan sama-sama menangis, tak kuasa menahan diri. Bapak dan anak sama-sama bercucuran air mata. Tapi setelah keadaan berjalan cukup lama dan masing-masing melepaskan diri, maka ucapan pertama yang dikeluarkan pendekar ini adalah tarikan napas berat, disusul tepukan perlahan di pundak putranya.

"Kun Houw, kau tak boleh mengikuti jejak mendiang ibumu. Aku prihatin atas kematiannya yang mengenaskan!" Kun Houw menggigil.

"Ayah telah mengetahui kematian ibu?"

"Ya, berita itu telah kudengar."

"Dan apa maksud ayah memanggilku kemari?"

Pendekar ini tersenyum, menarik putranya duduk di atas batu hitam. Lalu, memegang lengannya dengan jari-jari gemetar, pendekar ini menjawab, "Seperti yang kukatakan di muka, Houw-ji. Bahwa kau tak boleh mengikuti jejak mendiang ibumu. Kau adalah putraku, putra sulung. Putra yang kuharap mewarisi watak pendekar dan membuang jauh-jauh watak ibumu yang sesat itu!"

Kun Houw serasa diiris. "Hanya itukah?"

"Maksudmu?"

"Kau masih mempunyai persoalan lain, ayah. Kau belum menerangkan apa yang sebenarnya kaukehendaki dengan mengajakku kemari."

Pendekar ini menarik napas. "Houw-ji, kau memiliki perasaan yang tajam. Aku hendak membuka sesuatu yang amat berbahaya bagi seseorang. Bisakah rahasia ini kaupegang teguh dan orang itu kaujamin keselamatannya?"

Kun Houw menatap tajam. "Siapa?"

Pendekar Gurun Neraka tidak buru-buru menjawab. "Houw-ji, berjanjikah kau memegang rahasia ini yang menyangkut keselamatan orang banyak? Bersediakah kau untuk mendengar apa yang ingin kukatakan ini dan bersumpah untuk tidak memberitahukannya kepada musuh?"

Kun Houw tersenyum pahit. "Ayah, siapa yang kaumaksud dengan musuh itu? Bukankah kita juga saling bermusuhan dan satu sama lain berpijak di tempat yang berbeda?"

"Hm," pendekar ini terpukul. "Aku tahu, Houw-ji. Tapi bagaimana kalau malam ini kita bicara sebagai ayah dan anak? Aku tidak memusuhimu. Yang membuat kita bermusuhan adalah karena cara berpikirmu yang salah!"

Kun Houw menggigit bibir. "Aku dibesarkan oleh perjuanganku sendiri, ayah. Sebaiknya tak perlu kau menyalahkan aku untuk apa yang kulakukan!"

"Benar. Tapi kau adalah darah dagingku sendiri, Houw-ji. Mestikah kudiam saja melihat sepak terjangmu? Aku ingin berbicara dari hati ke hati, sebagai ayah dan anak. Kalau kau mau, maka kita bisa bicara baik-baik dan menghilangkan sejenak semua permusuhan yang melibatkan kita dalam urusan kerajaan itu!"

Kun Houw mengangguk. Betapapun, dia melihat ayahnya itu adalah pendekar sejati. Pendekar yang diam-diam membuat dia kagum dan harus diakui tak memiliki kesalahan kepadanya. Tak dapat dibilang menyia-nyiakan dia di masa kecilnya karena ayahnya itu telah berusaha mencarinya bertahun-tahun, namun tak menemukannya karena dia menghilang sejak ibu dan ayah angkatnya tewas, meninggalkan Po-hai dan merantau ke sana kemari, hidup tak teratur bagai bocah gelandangan hingga akhirnya dia bertemu dengan mendiang gurunya. Si jago pedang Bu Tiong-kiam Kun Seng, yang memelihara dan mengangkatnya sebagai murid.

Maka mendengar ayahnya itu minta bicara dari hati ke hati sebagai ayah dan anak, tiba-tiba Kun Houw merasa tak ada salahnya bercakap-cakap seperti ini, meskipun dia membela kerajaan Wu sedangkan ayahnya berdiri di belakang Yueh, yang membuat mereka bermusuhan dan saling bertolak belakang.

Pendekar Gurun Neraka yang gembira melihat putranya mengangguk, lalu duduk dengan enak dan mulai bicara. "Houw-ji, bagaimana perasaanmu berkumpul dengan Ok Ciangkun dan teman-temannya itu?"

Kun Houw mengerutkan alis. "Kenapa kau tanyakan ini, ayah?"

"Sebagai pembuka dari pembicaraan kita nanti, Houw-ji. Coba kaujawab saja pertanyaanku itu dengan jujur!"

"Hm," Kun Houw tak enak. "Terus terang tak menyenangkan bagiku, ayah, tapi itu adalah urusan pribadiku sendiri dan kutanggung akibatnya sendiri pula."

"Tentu, dan bagaimana penilaianmu tentang panglima she Ok itu?"

"Dia amat lihai, cerdik, dan pandai memimpin pasukan."

"Bukan, bukan itu maksudku, Houw-ji. Yang kutanyakan adalah, bagaimana penilaianmu tentang watak panglima ini?"

Kun Houw tertegun. "Maksudmu, ayah?"

"Kau jawab jujur saja, Houw-ji. Baik atau tidakkah watak panglima ini menurut pendapatmu!"

"Hm," Kun Houw menggigit bibirnya. "Baik atau buruk adalah penilaian seseorang yang amat subjektif, ayah. Bukankah kau tahu sendiri watak panglima ini? Kenapa tanya kepadaku?"

"Benar, baik buruk memang bersifat subjektif, Houw-ji. Tapi kalau menyangkut kepentingan umum, menyangkut kehidupan orang banyak, bukankah subjektivitas itu dapat dikurangi? Kenapa kau enggan menjawab?"

Kun Houw terpukul. "Ayah, lebih baik tak perlu kautanyakan pendapat pribadiku tentang panglima she Ok ini. Dia adalah atasanku. Aku masih harus tunduk dan taat kepadanya!"

"Itulah!" Pendekar Gurun Neraka menepuk lengannya. "Aku heran bagaimana kau bisa membantu panglima ini, Houw-ji. Kalau bukan suatu jebakan licik yang dipasang panglima itu, bukankah tak seharusnya kau terikat dengan panglima itu? Kenapa kau bisa berhubungan dan menjadi pembantu Ok Ciangkun?"

Kun Houw menggigil. Dia terbelalak memandang ayahnya itu, teringat asal mula kejadian ketika dia bertemu Ok Ciangkun. Betapa dia dikalahkan dalam pertaruhan yang dipasang secara cerdik oleh panglima itu. Kecerdikan yang licin hingga dia harus menyerah. Merasa ada sesuatu yang menipunya, membuatnya terjebak dan terikat memenuhi janjinya.

Pendekar Gurun Neraka yang melihat Kun Houw terbelalak tak menjawab pertanyaannya, tiba-tiba menyentuh lengan putranya itu dengan mata bersinar iba. "Houw-ji, salahkah bila kunyatakan panglima itu adalah seorang yang licik dan amat berbahaya? Salahkah dugaanku bahwa panglima itu menjebakmu dalam sesuatu yang belum kuketahui hingga kau terikat dengannya?"

Kun Houw menggigil. "Bagaimana, Houw-ji?"

"Benar," Kun Houw akhirnya mengangguk, lirih dan hampir tak terdengar suaranya yang ditekan sekuat mungkin.

Pendekar Gurun Neraka yang mencekal pundak putranya itu tiba-tiba berkata, "Karena itu tinggalkan dia, Houw-ji. Jauhi dan jangan dekati lagi panglima yang berbahaya bagimu itu!"

Kun Houw tiba-tiba berdiri, terkejut dengan muka merah. "Tidak, tak mungkin itu, ayah. Waktu setahun masih belum habis bagiku!"

Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis. "Waktu setahun? Apa maksudmu?" Lalu menarik putranya duduk kembali, pendekar ini gemetar bertanya dengan mata bersinar-sinar, "Houw-ji, apa sesungguhnya yang telah terjadi di antara dirimu dengan panglima itu? Apa maksudmu dengan waktu setahun itu?"

Kun Houw tiba-tiba menitikkan air matanya. Dia menggigit bibir menahan gejolak rasa yang sebenarnya telah dipendam berbulan-bulan. Teringat himpitan batinnya setelah berhubungan dengan panglima she Ok itu. Betapa dia harus bergaul pula dengan Mu Ba dan teman-temannya, si Mayat Hidup serta Hui Kiat yang sebenarnya adalah musuh nomor satu baginya; musuh yang membunuh ibu dan gurunya. Musuh yang harus dibasmi dan tak seharusnya didekati!

Maka begitu ayahnya bertanya tentang apa yang menjadi tekanan batinnya ini, mendadak Kun Houw menangis mendekap mukanya, tersedu-sedu. Menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dengan panglima itu. Betapa dia kalah bertaruh dalam sebuah pertandingan melawan Ok Ciangkun.

Ketika Pendekar Gurun Neraka mendengar semuanya ini dengan mata terbelalak marah, Kun Houw menutup ceritanya dengan tinju terkepal. "Itulah sebabnya aku tak mungkin melepaskan diri dari panglima ini, ayah. Karena waktu setahun yang telah menjadi perjanjian bersama itu belum habis masa waktunya!"

Pendekar Gurun Neraka mendesis, "Keparat! Jadi dengan adanya pertaruhan ini, kau lalu diadu denganku, Houw-ji. Pantas kau demikian gigih menghadapiku di Ta-pie San dulu karena kau terikat janjimu itu!"

"Benar, dan aku tak berdaya, ayah. Ok Ciangkun telah menjeratku dengan pertaruhan itu. Dan aku harus menepati janjiku. Apapun yang terjadi!"

Pendekar Gurun Neraka tergetar. Sekarang dia melihat bahwa putranya ini lebih banyak mirip dirinya daripada Tok-sim Sian-li. Gagah dan jantan sebagaimana pendekar sejati. Tak kenal kecurangan. Berwatak ksatria, jujur, serta memegang teguh janji sendiri. Dan Pendekar Gurun Neraka yang kagum akan kegagahan putranya ini tiba-tiba...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment