Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 193

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 193

Ia terharu dan memeluk ayahnya dengan mata berlinang.

"Houw-ji, kau memang benar. Janji yang telah diucapkan seorang ksatria memang harus dipenuhi, apa pun yang terjadi. Tapi, bagaimana kalau lawan mencurangimu, Houw-ji? Apa tindakanmu?"

Kun Houw mengepalkan tinjunya. "Aku tak melihat Ok Ciangkun mencurangiku, Ayah. Tapi kalau panglima itu berbuat curang, tentu aku akan menghadapinya dengan gagah!"

"Bagus, itu memang watak yang harus menjadi prinsip seorang pendekar, Houw-ji. Tetap bersikap pada watak sendiri biarpun lawan curang. Tapi kegagahan tanpa kecerdikan akan merupakan kebodohan. Karena itu, kejujuranmu ini harus diimbangi kecerdikan untuk menghadapi orang macam Ok Ciangkun itu!"

Kun Houw tertegun. "Apa maksudmu?"

Pendekar Gurun Neraka menarik napas. "Houw-ji, telah kaulihat betapa kegagahan dan kejujuranmu yang tidak ditunjang kecerdikan ini telah diperalat Ok Ciangkun untuk menyusahkan dirimu belaka. Kau jadi dibodohi oleh panglima yang cerdik itu. Tidakkah kau ingin berhati-hati agar kekuranganmu ini tak dipergunakan lawan untuk menjebakmu lagi?"

Kun Houw kurang mengerti. "Aku masih tak mengerti ke mana arah yang kau maksudkan ini, Ayah. Apa yang kau inginkan dari percakapan ini?"

"Baiklah," Pendekar Gurun Neraka mulai menuju ke pokok persoalan. "Aku ingin membawamu ke inti cerita. Aku ingin kau membantuku untuk suatu hal."

"Aku meninggalkan Ok Ciangkun?" potong Kun Houw, mulai mengerutkan kening dan terbelalak memandang ayahnya.

Namun, Pendekar Gurun Neraka tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan begitu. Sebaiknya kaudengar dulu baik-baik apa yang ingin kukatakan." Lalu, dengan pandangan bersungguh-sungguh, pendekar ini bertanya, "Houw-ji, bagaimana jika kau membantu selir Kaisar yang bernama Shi Shih itu?"

Kun Houw tertegun. "Aku memang membantunya, Ayah. Kenapa kautanyakan ini?"

"Tidak, kau belum mengerti apa yang kumaksudkan. Kaukira kedudukan yang kau peroleh sekarang ini adalah kebetulan belaka? Kau tentu tak tahu bahwa ini semua adalah berkat usaha selir itu."

Kun Houw terkejut. "Maksud Ayah...?"

"Benar, Shi Shih sengaja menarik dirimu dari samping panglima she Ok itu. Dia merencanakan agar kau membantunya luar dalam. Kau harus tahu ini." Pendekar Gurun Neraka menyuruh puteranya berjanji untuk tidak membongkar rahasia, lalu menceritakan kejadian seminggu yang lalu ketika ia menyerbu istana dan menangkap Kaisar. Kaisar tak sempat memasuki kamar rahasianya karena Shi Shih telah menjebak Kaisar dan para pengawalnya agar mereka mati kutu menghadapi kedatangan mendadak sang pendekar.

Kun Houw mendengar semuanya dengan mata terbuka lebar. Tiba-tiba ia mendesis dan teringat kematian Wu Taijin yang berkali-kali memperingatkan Sri Baginda bahwa selir itu adalah mata-mata musuh yang bekerja dari dalam. Bahwa Shi Shih adalah selir berbahaya yang dipasang Yueh untuk menghancurkan Wu.

Kun Houw terbelalak memandang ayahnya, lalu tertegun dengan sikap bengong. "Jadi, selir itu benar mata-mata yang dikirim Yueh untuk menghancurkan Kaisar, Ayah?"

"Ya," ayahnya mengangguk. "Tapi orang tak akan dapat menangkapnya basah, Houw-ji. Selir itu amat cerdik dan memiliki otak yang mengagumkan. Ia wanita jenius yang jarang tandingannya."

Kun Houw mendelong. Sekarang dia percaya akan berita ini setelah ayahnya sendiri yang bercerita. Pendekar Gurun Neraka memandang putranya dengan ragu, "Kau dapat menyimpan rahasia, Houw-ji? Kau tentu tak akan mencelakakan selir itu, bukan?"

"Ah," Kun Houw menggeleng. "Aku tentu tak dapat mencelakakannya. Biarpun kutahu ini darimu, tapi selir itu tak mempunyai bukti-bukti untuk ditangkap basah. Benar seperti katamu tadi, orang tak akan mampu menangkapnya dengan bukti di tangan."

Kun Houw kagum melihat bahwa apa yang dikatakan ayahnya benar. Meski ia tahu, ia tak bisa berbuat apa-apa. Kaisar yang dilapori hanya berdasarkan "bicara orang" tentu akan menganggapnya kabar burung belaka karena tak ada bukti kuat.

Kun Houw kemudian bertanya, "Ayah, bagaimana cara Yueh menghubungi selir ini? Siapa yang menjadi wakil untuk memperantarai komunikasi?"

Pendekar Gurun Neraka tersenyum. "Aku sendiri, Houw-ji. Aku sering mengunjungi istana dan diam-diam menghubungi selir itu."

"Ah, kaukah? Pantas kalau begitu!" Kun Houw terkejut dan kembali tergetar. Tak disangka bahwa "kurir" yang dikirim Yueh adalah Pendekar Gurun Neraka, orang yang memiliki kesaktian tinggi dan tak mungkin diketahui oleh pengawal mana pun.

Pendekar Gurun Neraka tertawa. "Kau terkejut, Houw-ji?"

Kun Houw menarik napas. "Ya, aku tak menyangka. Tapi kalau kau yang menjadi kurir, tentu saja para pengawal tak ada yang berdaya melawanmu! Tapi kenapa tidak sekalian membunuh Kaisar saja? Bukankah ini pekerjaan mudah bagimu?"

"Hm," Pendekar Gurun Neraka tersenyum pahit. "Membunuh Kaisar memang pekerjaan mudah bagiku. Tapi menyelesaikan permusuhan ini tak cukup hanya dengan membunuh Kaisar saja. Masih banyak terdapat pangeran-pangeran lain yang menjadi keturunannya, di mana mereka siap menggantikan kedudukan bila Kaisar tewas. Kau menghendaki aku membunuh pula pangeran-pangeran ini?"

Kun Houw terkejut. "Begitukah, Ayah?"

"Ya, kaukira bagaimana? Dan aku tak mau menjadi pembunuh sadis. Urusan kerajaan harus diselesaikan secara kerajaan juga. Artinya taktis dan teknis harus dilakukan untuk menjadi gerakan massal. Adu kekuatan dan otak harus dikerjakan di sini untuk memperoleh kemenangan secara mutlak!"

Kun Houw tak menjawab, masih bengong oleh cerita ayahnya. Pendekar Gurun Neraka bangkit berdiri dan mengusap rambut putranya. "Houw-ji, kau mau membantu selir ini, bukan?"

Kun Houw tergetar. Usapan lembut itu terasa menembus nadi sanubarinya yang paling dalam. Ia merasa betapa ayahnya amat sayang kepadanya. Namun, saat ia teringat kedudukannya di samping Ok Ciangkun, ia mundur selangkah. "Kau menghendaki aku berkhianat pada negara, Ayah?"

"Hai, kau bukanlah warga kerajaan Wu, Houw-ji. Kau adalah orang bebas yang sebenarnya tak terikat dengan kerajaan itu. Kenapa mengatakan berkhianat untuk melakukan ini?"

Kun Houw terbelalak. "Tapi aku hidup di kerajaan itu, Ayah. Aku makan dan minum di sana!"

"Sana mana? Maksudmu istana dan para pembantunya itu? Ah, kau kembali salah berpikir, Houw-ji. Kau berada di sana sebenarnya bukan atas kemauanmu pribadi, tetapi atas kehendak Ok Ciangkun! Panglima itulah yang menjebakmu. Dia menipumu dan memperalat kejujuranmu untuk membantunya!"

"Tapi aku telah menjadi kepala pasukan cadangan, Ayah. Masa inipun harus kucampakkan pula? Bagaimana kata orang bila..."

"Nanti dulu!" Pendekar Gurun Neraka memotong. "Kau lagi-lagi salah mengucapkan isi hatimu. Kau menjadi kepala pasukan cadangan itupun atas hasil jerih payah selir Kaisar, bukan kehendakmu pribadi pula. Siapa bilang kau mencampakkan semuanya? Aku hanya minta kau membantu selir itu sebagai orang kepercayaannya. Kau harus tunduk luar dalam pada selir itu sebagai junjunganmu yang sejati, bukan kepada Kaisar!"

Kun Houw mundur, wajahnya gemetar. "Tapi ini pengkhianatan, Ayah. Ini perbuatan busuk yang hina dan kotor!"

"Hm, siapa yang hina dan kotor? Kau tahu apa tentang hina dan kotor? Tak kaulihatkah sepak terjang Kaisar dan para pembantunya yang menyusahkan rakyat kecil itu? Tak kaulihatkah betapa Wu merupakan penindas yang kejam dan jahat terhadap si lemah? Kau tidak berkhianat, Houw-ji. Justru kau melakukan perbuatan mulia yang gagah dan patriot!"

"Tapi itu berarti memalingkan kepala ke Yueh, Ayah. Dan ini berarti pengkhianatan bagiku."

"Tidak! Yueh berjuang untuk membebaskan rakyat kecil yang sengsara. Justru bantuanmu ini adalah perbuatan pahlawan dengan menghancurkan si lalim. Kaisar amat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Dia dan para pembantunya adalah iblis yang harus dilenyapkan di muka bumi!"

"Tapi... tapi..."

"Tak ada tapi! Rakyat cukup sengsara oleh pemerintahan Kaisar ini. Kauturunlah besok ke tempat-tempat ramai untuk melihat penindasan yang terjadi. Betapa orang-orang Kaisar mirip setan kelaparan yang menghisap darah rakyat. Kaulihatlah itu, kauselidikilah itu. Kalau aku bohong, boleh kau maki ayahmu sebagai pendusta!"

Kun Houw menggigil. Dia memang melihat hal-hal yang dikatakan ayahnya itu. Namun, karena ia adalah orang istana dan Kaisar telah memberikan kedudukan tinggi, Kun Houw menggeleng dan melompat mundur dengan muka pucat.

"Ayah, aku tak dapat memenuhi keinginan hatimu ini. Aku adalah orang Wu, betapapun Wu melakukan kejahatan di luar. Aku tak peduli itu! Aku tak dapat mengkhianati orang yang telah memberikan kedudukan padaku. Tak mungkin bagiku mengkhianati Kaisar sementara aku masih menjadi pembantunya!"

"Hm!" Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis, terkejut juga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment