Chapter 194
"Kau lagi-lagi salah berpikir, Houw-ji. Kau bukan menjadi pembantu Kaisar, melainkan pembantu selir cerdik itu. Kau menerima kedudukan tinggi semata atas hasil jerih payah selir ini, bukan Kaisar. Kenapa bicara yang tidak-tidak? Kau salah paham, Houw-ji. Kau sekarang bukan orangnya Kaisar, melainkan orangnya selir itu. Ingat!"
"Tapi... tapi selir itu juga orangnya Kaisar, Ayah. Berarti sama saja aku orangnya Kaisar atau orangnya selir itu!" Kun Houw membantah, pada dasarnya ragu menerima ajakan ayahnya. Pendekar Gurun Neraka yang gemas pada putranya itu lalu membentak setengah jengkel, "Houw-ji, kau masih bodoh juga! Tidakkah kau lihat perbuatan Kaisar dan orang-orangnya yang kejam terhadap rakyat? Tidakkah kau lihat kekejaman orang-orang Wu yang menginjak-injak rakyat kecil itu? Sebaiknya kau berpikir jernih. Bantu kami untuk melenyapkan manusia-manusia berwatak iblis itu. Jangan mempersoalkan Kaisar atau bukan Kaisar!"
Namun, Kun Houw masih menggeleng. "Tidak... aku masih terikat oleh janjiku, Ayah. Kalau waktu setahun itu telah lewat, biarlah aku bergabung denganmu melepaskan diri dari orang-orang jahat ini. Aku juga ingin membalas dendam kematian guru dan ibuku!"
Pendekar Gurun Neraka jengkel. Dia susah menundukkan kekerasan hati anaknya itu. Maklum, Kun Houw adalah orang yang setia kepada janji dan tak mau mengkhianati Wu karena pemuda itu terikat kedudukannya sebagai orangnya Ok Ciangkun yang membantu kerajaan. Maka, dengan kecewa dan mengerutkan alisnya, pendekar ini berkelebat turun, "Baiklah, tapi ingat janjimu kepadaku, Houw-ji. Kau tak boleh membocorkan rahasia selir itu kepada siapa pun juga. Kalau suatu hari kau sadar bahwa yang kaubela adalah Kaisar yang jahat, biarlah kau hubungi selir itu sebagai pengganti diriku...!"
Kun Houw termangu. Dia melihat ayahnya turun dengan kecewa karena marah kepadanya. Namun, Kun Houw yang menggigil di puncak lalu meluncur pula mengikuti ayahnya. Tiba di persimpangan di bawah bukit, Kun Houw berseru nyaring, "Ayah, maafkan aku...!" Kun Houw membelok menuju kota raja, mengerahkan ginkang, dan berkelebat meninggalkan ayahnya. Ia tak menengok lagi dan menghapus air mata yang menitik di pipinya, merasa haru sekaligus kecewa karena harus berpisah dengan ayahnya.
Mereka kembali meletakkan diri masing-masing pada jalur yang berbeda, bahkan berlawanan. Ketika Kun Houw tiba kembali di kamarnya dan menutup jendela, semalam suntuk pemuda ini menangis tanpa suara dengan duduk di atas pembaringannya.
Jilid 30. Siang itu, tiga hari sejak pertemuannya dengan ayahnya di bukit di luar kota raja, Kun Houw mendengar ribut-ribut di luar istana. Seorang gadis mengamuk; semalam tertangkap dan kini lolos melarikan diri. Kun Houw yang terkejut oleh berita itu lalu berkelebat keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Kun Houw tertegun. Dia melihat seorang gadis dikeroyok banyak orang, berteriak-teriak, dan berkelebat ke sana kemari merobohkan pengawal. Sikapnya bagai orang gila dengan rambut awut-awutan, pakaian robek-robek setengah telanjang, dengan sikap beringas, penuh dendam, dan benci mengamuk di tengah-tengah keroyokan pengawal yang kian bertambah banyak.
Ketika gadis itu membentak melengking-lengking, tiba-tiba sembilan pengeroyok yang ada di depan terlempar roboh. Jeritan ngeri terdengar dari sembilan orang ini. Perut mereka terobek lebar oleh serangan jarum di tangan kiri gadis itu—jarum yang panjangnya sepuluh inci dan tampak ganas menyambar-nyambar. Ketika tujuh orang kembali menjerit dan terlempar oleh jarum di tangan gadis itu, tiba-tiba gadis ini berteriak histeris mencabut senjata lainnya, sebuah kipas hitam, melihat pengawal berlarian mengepungnya sementara dua bayangan lain berkelebat mendatanginya.
Ketika dua bayangan terakhir ini mendekati pertempuran dan gadis yang mengamuk itu melihatnya, tiba-tiba pekik tinggi melengking penuh kebencian keluar dari mulut gadis ini. "Hun Kiat, Mayat Hidup, kalian binatang-binatang buas yang keji dan hina!"
Para pengeroyok berpelantingan. Gadis yang mengamuk itu menyapu mereka bagai topan merobohkan rumput, menerjang dan melukai mereka untuk menyerang dua pendatang baru ini, yang bukan lain adalah Hun Kiat dan gurunya, Mayat Hidup. Dua laki-laki itu terbelalak memandang gadis yang mengamuk tersebut. Namun, melihat mereka diserang dan kipas serta jarum menyambar mereka, tiba-tiba Mayat Hidup terkekeh mengelak ke kiri sementara Hun Kiat menangkis dengan matanya yang keji bersinar itu.
"Hok Lian, kau betina liar. Plak!" Gadis yang mengamuk itu terlempar. Dia ternyata Hok Lian, cucu murid Phoa Lojin, gadis yang dulu menolong Kun Houw di dalam hutan. Hok Lian yang terguling-guling menerima tangkisan lawan yang kuat lalu melengking dan melompat bangun kembali. Dia berteriak dan marah bukan main melihat kedatangan Hun Kiat dan Mayat Hidup, lalu menyerang pemuda ini dengan jarum di tangan kiri sementara kipas hitam di tangan kanan.
Begitu memekik dan memaki pemuda ini, Hok Lian berkelebat menyerang, "Hun Kiat, kau iblis tak tahu malu! Kubunuh kau... kuganyang jantungmu!" Hok Lian menerjang bagai orang gila. Para pengawal ngeri mendengar ancamannya yang diucapkan dengan suara mendesis-desis jitu, dengan mata terbelalak dan merah bagai api menyala, melihat Hok Lian menyerang bertubi-tubi dengan jarum dan kipas hitamnya itu.
Tapi Hun Kiat yang tertawa dengan mata bersinar mengelak ke sana kemari sementara tangannya menampar atau memukul balik kedua senjata di tangan gadis itu. "Hok Lian, kaulah yang seharusnya kubunuh. Kenapa tak kenal disayang orang? Kenapa melarikan diri setelah semalam kita bercinta memadu kenikmatan?"
"Keparat, kau jahanam terkutuk, Hun Kiat! Kau anjing hina yang merusak kehormatanku. Kubunuh kau... kubunuh kau...!"
Namun, Hun Kiat tertawa mengejek. Dia berlompatan ke sana kemari mempermainkan lawan, menyuruh para pengawal mundur karena dia tak perlu dibantu. Ketika Hok Lian melengking menusuk lehernya, tiba-tiba Hun Kiat tertawa menerima serangan ini. "Hok Lian, kau tak dapat membunuh aku. Lihatlah!"
Hun Kiat memasang lehernya, mengerahkan sinkang yang didapat dari Ciok-thouw Taihiap itu. Ketika jarum terpental dan Hok Lian terbelalak oleh kekebalan lawan, tiba-tiba kipas hitam ganti menyambar mengeprak kepala pemuda ini. "Hun Kiat, kau siluman jahanam...!"
Namun, Hun Kiat kembali tertawa. Dia memasang kepalanya dan membuat kipas hancur berkeping-keping, rusak dan tak dapat dipergunakan lagi. Ketika Hok Lian melengking dan menusukkan jarumnya ke mata kiri, mendadak Hun Kiat melemparkan kepala sambil tertawa mengejek, membiarkan lengan gadis itu meluncur di sisinya, lewat hanya beberapa sentimeter saja. Sementara lawan berseru kaget, tahu-tahu Hun Kiat mengusap buah dada gadis ini dengan sikap kurang ajar.
"Ha-ha, kau mau menciumku, Hok Lian? Aih, kuterima itu. Tubuhmu harum...!" Tangan Hun Kiat yang sudah meremas buah dada lawan disambut pekik Hok Lian yang membalikkan tubuhnya, menendang pemuda itu sementara gagang kipasnya yang hancur disambitkan ke muka lawan. Hun Kiat yang terkejut oleh serangan ini tiba-tiba membentak dan secepat kilat menundukkan mukanya. Begitu kipas lewat dan kaki Hok Lian menendangnya dari bawah, dia pun memapak tendangan itu dengan telapak tangannya.
"Plak!" Hok Lian menjerit panjang. Dia terpelanting dan roboh terguling-guling oleh tangkisan Hun Kiat, betapapun kalah kuat karena Hun Kiat sekarang bukanlah Hun Kiat beberapa waktu yang lalu. Dia adalah pemuda lihai yang telah memiliki sinkang Ciok-thouw Taihiap.
Ketika Hun Kiat membentak dan berkelebat mengejarnya, tiba-tiba Hok Lian mengeluh dan memaki-maki pemuda ini, menghindar dan kalang kabut menyelamatkan diri, jatuh bangun, dan terhuyung oleh pukulan sinkang pemuda itu yang jauh lebih kuat dibanding dirinya. Ketika Hun Kiat mendesak dan tamparan pemuda itu terpaksa ditangkis dengan jarum di tangan kanan, tiba-tiba Hok Lian berteriak ketika jarumnya patah.
"Ha-ha, bagaimana Hok Lian, kau masih mau melawanku?" Hok Lian menggigit bibir. Dia terus didesak dan mundur-mundur, pucat mukanya dan marah bukan main. Gusar tapi tak berdaya. Ketika Hun Kiat mendesaknya ke sudut dan tak ada jalan keluar lagi baginya, tiba-tiba Hok Lian mengeluh ketika lawan menotoknya hingga roboh. "Bluk!"
Hok Lian memaki-maki. Dia melihat Hun Kiat tertawa menghampirinya, menyambar tubuhnya, dan secara terang-terangan menciumi mukanya. Mayat Hidup yang terkekeh di sebelah kanannya tiba-tiba berkelebat ke depan. "Kiat-ji, bawa gadis pemberontak ini ke hadapan Kaisar. Biar Kaisar memberinya hukuman setimpal!"
Hun Kiat tertawa. "Tentu, dia telah membunuh belasan pengawal, Suhu. Tapi sebaiknya kita bawa dulu ke kamar. Gadis ini lolos ketika kita menghadap Ok-ciangkun."
Mayat Hidup terbelalak. "Kau tak segera membunuhnya saja?"
"Ah, kuda betina ini masih menarik bagiku, Suhu. Apakah kau tak ingin mengulang kejadian semalam dengan gadis cantik ini? Ayo kita permainkan dia. Biar dia menggelepar dan meronta-ronta di atas ranjang!" Hun Kiat terbahak, menyuruh para pengawal membubarkan diri karena gadis yang mengamuk itu telah dapat dijinakkan. Mayat Hidup yang terkekeh memutar tongkatnya, tiba-tiba menetes liurnya teringat kejadian semalam; betapa dia telah menggagahi gadis ini bersama muridnya itu, mempermainkan Hok Lian di kamar ketika gadis itu memasuki istana mencari dirinya dengan maksud membalas dendam atas kematian ayahnya sepuluh tahun yang lewat.
Hok Lian yang roboh tertotok mendengarkan pembicaraan itu tiba-tiba menjerit dan meronta histeris, "Hun Kiat, kau iblis keji! Lepaskan aku... lepaskan...!"
Hun Kiat tertawa. Dia senang melihat Hok Lian meronta, naik-turun di atas punggungnya hingga membangkitkan gairah nafsunya. Tapi belum dia melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba sebuah bayangan menyerangnya dan merampas Hok Lian.