Chapter 195
"Hun Kiat, lepaskan gadis itu!" Hun Kiat terkejut.
Dia melihat Kun Houw datang menyerang dan menghantam tengkuknya. Karena gerakan Kun Houw luar biasa cepat, sementara dia sendiri tidak menduga diserang oleh teman sendiri, tiba-tiba Hun Kiat menangkis dan memutar tubuhnya.
"Dukk!" Hun Kiat mencelat.
Dia terlempar oleh pukulan Kun Houw yang lebih terarah, membuatnya terpelanting sementara Hok Lian terlepas dari tangannya. Hok Lian segera disambar dan kini menangis tersedu-sedu di pundak Kun Houw.
Hun Kiat yang marah melompat bangun dan segera membentak dengan mata melotot, "Kun Houw, kau gila! Kau membantu siluman betina itu!"
Kun Houw berdiri tegak. Dia memandang berapi-api lawan yang seharusnya dibunuh ini, lawan yang tak dapat dimusuhi karena mereka sama-sama bernaung di bawah kekuasaan yang sama, yaitu Ok-ciangkun atau bahkan lebih tinggi lagi, Kaisar. Dengan beringas, Kun Houw memandang lawannya dan mendesis penuh kemarahan, maklum akan apa yang telah terjadi.
"Hun Kiat, kau manusia terkutuk. Kenapa kau mengganggu gadis ini?"
Hun Kiat terbelalak. Dia marah dan tentu saja gusar oleh sikap Kun Houw yang memusuhinya. Namun, belum sempat dia menjawab, tiba-tiba Mayat Hidup berkelebat ke depan sambil menjulurkan tongkatnya.
"Kun Houw, kau bocah tak tahu diri. Tak tahukah kau siapa gadis yang kaubawa itu? Butakah matamu sehingga tak mengenal dia?"
Kun Houw memandang lawan dengan mata berapi-api. "Aku tahu siapa gadis ini, Mayat Hidup. Tapi tidak sepatutnya kalian menangkap dan mempermainkannya seperti itu!"
"Heh, kenapa? Bukankah dia pemberontak? Kau mau membela pemberontak?"
Kun Houw geram. "Kau memang iblis keji, Mayat Hidup. Pantas kau tak mengenal perikemanusiaan. Gadis ini bukan pemberontak; dia datang untuk membunuhmu demi membalas dendam kematian ayahnya!"
"Heh, kau mencari-cari alasan?" Mayat Hidup berani karena merasa Hun Kiat akan membantunya. Sambil marah, dia memutar tongkat dan tiba-tiba iblis tinggi kurus ini berseru pada muridnya, "Kiat-ji, Kun Houw rupanya mau menjadi pemberontak juga. Sebaiknya kita tangkap dia!"
Hun Kiat mengangguk dan melompat maju. "Kun Houw, sebaiknya tak perlu kau main-main lagi. Serahkan gadis itu dan pergilah baik-baik!"
Kun Houw marah. "Kau tak dapat mengganggu gadis ini jika aku ada di sini, Hun Kiat. Kalau kau ingin coba-coba, majulah. Aku tidak takut!"
Hun Kiat melotot. "Kau mau memberontak?"
"Tidak, aku hanya melindungi gadis ini jika kau mengganggunya!"
"Tapi gadis itu telah membunuh belasan pengawal, Kun Houw. Sri Baginda tentu tak akan mengampunimu jika kau membelanya. Lepaskan dia!"
Hun Kiat siap menerjang dengan marah dan memasang kuda-kuda, sementara gurunya juga memutar-mutar tongkat sambil melotot pada Kun Houw. Namun, ketika Kun Houw menggeram dan siap menghadapi lawan, tiba-tiba bayangan Ok-ciangkun muncul bersama Bi Kwi dan kawan-kawannya.
"Kun Houw, benar kata Hun Kiat. Lepaskan gadis itu dan jangan mencari penyakit!" Ok-ciangkun membentak, membuat Kun Houw terkejut dan mengerutkan alisnya dengan muka merah.
Namun, ketika panglima itu kembali membentak dan Bi Kwi serta teman-temannya mengepung, tiba-tiba Hok Lian mendesis dan minta totokannya dibebaskan. "Kun Houw, lepaskan aku. Biar aku yang menanggung semuanya ini!"
Kun Houw ragu. Dia membela Hok Lian karena teringat budi gadis itu beberapa waktu lalu, ketika Hok Lian menyelamatkannya dari keroyokan Mu Ba dan teman-temannya. Betapa gadis ini, bersama kakek bermarga Phoa, telah menolongnya dalam keadaan kritis.
Ok-ciangkun yang terbelalak melihat keraguan Kun Houw tiba-tiba maju ke depan dengan gigi berkerot. "Kun Houw, kau tak ingat janjimu padaku? Kau tak mau tunduk dan siap menjilat ludah sendiri?"
Kun Houw gemetar. Dia berada di persimpangan jalan saat itu, antara melepaskan Hok Lian atau membelanya. Namun, terbentur kenyataan bahwa dia harus tunduk pada panglima itu dan sumpah atau janjinya harus dipegang teguh, terpaksa Kun Houw melepas Hok Lian dan membebaskan totokannya.
Begitu Hok Lian melorot turun, tiba-tiba gadis ini melengking menyerang Hun Kiat. "Hun Kiat, kau iblis keji....!"
Hun Kiat tertawa mengejek. Dia mengelak dengan mudah dari serangan gadis yang marah ini. Ketika Hok Lian menyerangnya kembali secara membabi buta, tiba-tiba Hun Kiat menangkis, membuat Hok Lian mengeluh dan terbanting roboh. Saat Hun Kiat melompat dan menotok lehernya, Hok Lian tertawan kembali dan roboh di tangan pemuda ini.
"Ha-ha, kau masih nekat juga, betina liar! Kau tak jera melihat kepandaianku?"
Hok Lian menangis. Dia memaki-maki dengan muka pucat, benci sekaligus ketakutan melihat dirinya dipondong oleh pemuda ini; pemuda iblis yang telah memperkosanya bersama gurunya di dalam kamar. Perbuatan tak tahu malu yang dilakukan berdua oleh guru dan murid itu.
Kun Houw yang melompat maju dengan muka marah tiba-tiba membentak, tak tahan melihat ketakutan Hok Lian. "Hun Kiat, lepaskan gadis itu!"
Hun Kiat tertawa mengejek. "Kau masih membentakku juga di depan Ok-ciangkun, Kun Houw? Kau membelanya atas dasar apa?"
Kun Houw marah. "Kau tak boleh mengganggunya, Hun Kiat. Aku membelanya atas dasar perikemanusiaan!"
"Ha-ha, perikemanusiaan yang mana? Dia gadis pemberontak, tanya saja pada Ok-ciangkun!"
Ok-ciangkun melangkah maju, maklum akan permusuhan dua orang pemuda itu. "Hun Kiat, sebaiknya tak perlu kita ribut-ribut di sini. Kun Houw tak senang kau membawa gadis itu. Nah, serahkan pada Bi Kwi dan kita menghadap Kaisar!"
Hun Kiat kurang puas. Sebenarnya dia ingin membawa Hok Lian ke kamarnya untuk mempermainkan gadis itu seperti rencana semula. Diam-diam dia mendongkol dan marah pada Kun Houw yang membuat keinginannya gagal. Namun, karena Ok-ciangkun telah bicara seperti itu—dan panglima itu adalah orang kepercayaan Kaisar—akhirnya Hun Kiat mengangguk dan melempar tawanannya pada Bi Kwi sambil tertawa mengejek.
"Baiklah, kau terima ini, Bi Kwi. Kun Houw rupanya jatuh hati pada siluman liar ini!"
"Keparat!" Kun Houw mendelik. "Kau berani menghinaku, Hun Kiat?"
Namun, Ok-ciangkun buru-buru mencegah dengan jalan menengahi dan membentak keduanya. "Kun Houw, Hun Kiat, tak perlu ribut-ribut di sini. Kalian semua adalah teman!"
Kun Houw dan Hun Kiat saling pandang. Mereka tampak seperti ayam siap berlaga, masing-masing melotot dan bersikap mengancam. Namun, begitu Ok-ciangkun mengibaskan lengan membawa mereka, semua orang memasuki istana menghadap Kaisar.
Kun Houw menyesal. Dia sekarang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena terikat janji setia kepada panglima bermarga Ok itu. Diam-diam dia marah dan benci bukan main kepada Hun Kiat yang mempermainkan Hok Lian. Dia mengepalkan tinju, menyesali mengapa dia tidak mengetahui peristiwa itu sebelumnya. Dia melihat Hok Lian menangis dan merintih di atas pondongan Bi Kwi.
Setelah menghadap Kaisar, mereka melaporkan apa yang diperbuat Hok Lian, bahwa gadis itu adalah pemberontak yang membunuh belasan pengawal dan mengamuk di luar istana. Kaisar yang terbelalak lalu menjatuhkan hukuman mati!
"Hm, kenapa menghadapkannya kepadaku lagi?" Kaisar berseru. "Bunuh saja gadis itu, Ok-ciangkun. Aku tak suka pemberontak diberi hidup!"
Kun Houw terkejut. Dia buru-buru maju memberi hormat, dan sementara semua orang terkejut oleh keberaniannya, pemuda ini sudah menukas nyaring.
"Sri Baginda, ampunkan hamba. Gadis ini bukan pemberontak. Dia datang karena mempunyai urusan pribadi dengan Mayat Hidup dan muridnya!"
Kaisar terkejut. "Apa maksudmu?"
"Maaf," Kun Houw menerangkan. "Hok Lian datang untuk membalas dendam, Sri Baginda. Karena itu kedatangannya bukan sebagai pemberontak, tapi masalah pribadi. Mayat Hidup telah membunuh ayahnya sepuluh tahun berselang."
"Hm," Kaisar terkejut dan menoleh pada iblis tinggi kurus itu. "Betulkah, Mayat Hidup?"
Mayat Hidup memberi hormat. "Mungkin saja betul, Sri Baginda. Hamba tak ingat siapa saja musuh yang telah hamba bunuh. Tapi yang jelas, gadis ini telah membunuhi pengawal Paduka. Apakah omongan Kun Houw perlu Paduka perhatikan?"
Kaisar terpengaruh. "Betul, gadis ini telah membunuhi pengawal istana, Kun Houw. Betapapun, dia harus dibunuh!"
"Betul, tapi itu pun dilakukan karena gadis ini dihadang larinya, Sri Baginda. Hok Lian lolos dan mencari-cari musuhnya setelah semalam dia dipermainkan!"
"Dipermainkan? Maksudmu....."
"Benar. Hun Kiat dan gurunya telah memperkosa gadis ini, Sri Baginda. Karena itu, dua orang terkutuk itu harus Paduka hukum. Hamba membelanya karena tak tahan oleh perbuatan di luar perikemanusiaan yang dilakukan guru dan murid itu!"
Kaisar tertegun. Semua orang terkejut oleh keberanian Kun Houw yang berapi-api. Namun, Kaisar tiba-tiba tersenyum lebar dan tertawa tertahan.
"Kun Houw, kalau begitu benar katamu. Ini urusan pribadi. Sebaiknya bebaskan gadis itu dan serahkan kepada yang bersangkutan!"
Kaisar memberi tanda agar Hok Lian dibebaskan, lalu berseru pada Ok-ciangkun, "Ciangkun, ternyata ini adalah urusan balas dendam. Kalau begitu, biarkan saja gadis itu menghadapi musuhnya. Lepaskan dia....!"
Kun Houw terbelalak. Dia melihat Ok-ciangkun membebaskan gadis itu. Hok Lian pun melompat bangun dengan kaki menggigil setelah mendengar seruan Kaisar, "Nah, sekarang lakukan maksudmu itu, gadis cantik. Kami akan melihat pertandingan kalian secara jujur!"
Hok Lian gemetar. Dia memandang Kaisar yang membebaskannya dari hukuman mati, lalu menoleh pada Kun Houw karena dari sinilah kebebasannya didapat. Namun, ketika dia mendelik pada Hun Kiat dan Mayat Hidup yang tertawa mengejek, tiba-tiba Hok Lian mendengar bisikan Kun Houw yang dilancarkan dari jauh.
"Hok Lian, sebaiknya tindas semua nafsu kebencianmu ini. Aku tak dapat menolongmu di dalam istana. Larilah, pergunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri. Masih banyak waktu bagimu untuk membalas dendam...!"
Hok Lian terisak. Matanya berputar memandang seluruh ruangan, berhenti pada Mayat Hidup dan Hun Kiat yang amat dibencinya, melihat bahwa apa yang dikatakan Kun Houw adalah benar.