Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 196

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 196

Tak mungkin baginya membalas dendam saat itu. Dan Hok Lian yang melengking tinggi tiba-tiba berkelebat keluar meninggalkan istana.

"Hun Kiat, awas kau! Aku akan membunuhmu kelak!" Semua orang terkejut. Mereka melihat gadis itu melarikan diri. Dan Hun Kiat yang tertawa mengejek dan siap mengejar tiba-tiba bentrok dengan pandangan Kun Houw yang tajam. Pandangan yang memberi tahu kepadanya bahwa pemuda itu akan melindungi Hok Lian bila dia mengganggunya di luar batas, seperti yang dilakukannya semalam bersama suhunya itu. Hun Kiat yang melotot tak jadi mengejar akhirnya mengumpat dalam hati, kecewa dan marah pada Kun Houw yang dianggap mengganggunya. Hok Lian akhirnya dibiarkan lolos dan dilupakan begitu saja setelah Kaisar tahu duduk persoalan sebenarnya.

Begitulah. Untuk pertama kalinya, Kun Houw mulai mengetahui watak Kaisar. Kaisar terang-terangan membiarkan pembantunya berbuat keji dan menganggap perkosaan sebagai hal yang biasa saja. Tak peduli dan sama sekali tak menghiraukan kehormatan seorang gadis. Ketika hari-hari kemudian Kun Houw melihat kejadian yang lebih mengerikan, seperti perampasan istri orang lain, pemerasan, serta kejahatan yang dilakukan orang-orang istana, akhirnya Kun Houw tidak kuat lagi dan menyadari bahwa ia membantu sekawanan iblis yang amat biadab.

Apalagi ketika beberapa menteri Kaisar juga merampas gadis-gadis muda, menyuruh pembantunya mendatangi rumah-rumah yang memiliki gadis cantik, berpura-pura mengambilnya sebagai selir, tapi setelah itu dicampakkan begitu saja. Mereka diberikan dan dibagi-bagikan kepada para pengawalnya seperti orang membagi pisang goreng.

Ketika suatu hari ia mendengar kabar bahwa Kaisar bermaksud mengambil Kui Hoa sebagai selirnya dan Ok-ciangkun rupanya setuju, tiba-tiba Kun Houw tidak kuat lagi saat melihat Kui Hoa menangis dan berlari menubruknya.

"Houw-ko, selamatkan aku. Ayah sudah gila!" Kun Houw gemetar.

"Apa yang terjadi, Hoa-moi? Ada apa dengan ayahmu?" Kun Houw masih tak yakin, pura-pura bertanya dan memeluk kekasihnya.

Kui Hoa yang tersedu-sedu dengan muka pucat akhirnya memberi keterangan, "Kaisar menghendaki diriku, Houw-ko. Semalam ayah hendak mempersembahkan diriku kepada Kaisar!"

"Keparat! Jadi berita itu benar?" Kun Houw menggigil, mukanya merah menahan amarah karena Kaisar hendak mengambil kekasihnya.

Kui Hoa yang mengguguk dengan air mata deras mengalir akhirnya menarik lengannya. "Houw-ko, ayah gila hormat. Aku tak tahu bagaimana asal mulanya ayah tiba-tiba hendak menerima kemauan Kaisar. Aku tak mau, sebaiknya kita melarikan diri!"

"Hm!" Kun Houw melotot penuh kemarahan. "Apakah ayahmu tak tahu hubungan kita, Hoa-moi? Apakah dia pura-pura menutup mata?"

"Tak tahulah. Pokoknya ayah hendak memaksa, Houw-ko. Aku lari mencari-carimu. Ayo tinggalkan saja istana. Kita minggat!"

Kun Houw gemetar. Dia tak tahu bagaimana kejadian itu pada mulanya, karena berita itu baru didengarnya tadi pagi. Bahwa Kaisar hendak mengambil Kui Hoa sebagai selir dan Ok-ciangkun tidak menolak, rupanya rela menyerahkan putrinya daripada menjadi kekasih dirinya. Hal yang menyakitkan!

Kun Houw menggeram mengepal tinju, lalu tiba-tiba mendorong kekasihnya. "Tidak, kita temui saja ayahmu, Hoa-moi. Suruh dia mencari gadis lain untuk persembahan kepada Kaisar!"

"Ah, tak mungkin ayah mau, Houw-ko. Salah-salah kita ditangkap dan aku disekap. Tidak! Jangan lakukan itu. Sebaiknya kita lari saja dan tinggalkan istana!"

Kun Houw bingung. Dia melihat Kui Hoa kembali menangis tersedu-sedu memeluk dirinya, merasa tak berdaya. Ia merasa lawan yang kali ini dihadapi terlampau kuat. Kun Houw tertegun mendekap kekasihnya, pikirannya melayang-layang. Ia tak menyangka Kaisar tertarik pada kekasihnya, hal yang membuatnya bingung dan marah.

Namun, sementara ia mendelong dengan pikiran kalut, mendadak bayangan selir Kaisar tercinta, Shi Shih, berkelebat di ruang dalam. Kun Houw terbelalak. Dia seakan mendapat jalan keluar dengan melihat bayangan selir itu—selir yang bekerja sama dengan ayahnya, Pendekar Gurun Neraka.

Kun Houw yang mendapat pikiran bagus tiba-tiba melepaskan Kui Hoa dan berseru girang, "Hoa-moi, kau tunggu dulu di sini. Aku punya jalan!"

Kui Hoa terkejut. Dia tak tahu apa yang dikerjakan kekasihnya, tapi melihat Kun Houw memasuki istana, tiba-tiba Kui Hoa mengejar. "Houw-ko, jangan membunuh Kaisar. Jangan mencari penyakit!"

Kun Houw menoleh. "Tidak, aku tidak mencari Kaisar, Hoa-moi. Kau tunggulah di luar. Aku hendak menemui Paduka Selir."

Kun Houw sudah masuk ke dalam. Kui Hoa memandangnya dengan hati tegang, takut kekasihnya melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, khawatir Kun Houw mencari Kaisar dan membunuh laki-laki itu. Maka, cemas dan mengkhawatirkan nasib Kun Houw, tiba-tiba Kui Hoa terisak melompat memasuki istana, mengikuti kekasihnya.

Ia melihat Kun Houw menjatuhkan diri berlutut di depan selir itu. Kui Hoa tertegun dan memandang dari kejauhan, melihat dua orang itu bercakap-cakap dan sang selir berkali-kali menggerakkan tangan. Ketika beberapa saat kemudian Kun Houw memutar tubuh meninggalkan sang selir, tiba-tiba ia berteriak setengah bersorak, "Hoa-moi, aku berhasil!"

Kui Hoa keluar. Dia menyambut kekasihnya itu dengan muka heran, melihat Kun Houw terbahak dan gembira bukan main, memeluk dan memutar-mutar dirinya diajak menari. Ketika Kui Hoa bertanya dan Kun Houw memberi tahu, Kui Hoa tiba-tiba tertegun dan ikut menjadi girang. Ia mendapat janji selir itu bahwa Sri Baginda tak akan mengambilnya sebagai selir. Bahwa maksud itu akan digagalkan dan Kaisar tak boleh mengambil Kui Hoa.

Kui Hoa tentu saja girang oleh keterangan ini, dia menangis dan memeluk kekasihnya penuh bahagia, merasa lolos dari satu tekanan besar yang menghimpit batin. Ia percaya akan pengaruh selir itu terhadap Sri Baginda. Namun, begitu keduanya berciuman gembira, Kun Houw dan Kui Hoa tak tahu betapa diam-diam selir cerdik itu tertawa!

Memang, dari sinilah sebenarnya sumber "bencana" itu berasal. Kun Houw tentu tak menduga seujung rambut pun bahwa selir itulah sebenarnya yang menjadi penyebabnya. Ia sengaja membuat kejadian itu agar Kun Houw minta tolong kepadanya. Dan karena Kun Houw telah datang dan pemuda itu benar-benar minta bantuannya, maka selir yang cerdik ini memberi janji tapi sekaligus meminta janji.

Yakni, jika dia berhasil menggagalkan rencana Kaisar itu, baik Kun Houw atau Kui Hoa harus ganti membantunya, terutama Kun Houw, yang diminta selir itu agar tunduk dan setia kepadanya. Ia berbisik bahwa Pendekar Gurun Neraka telah datang semalam menanyakan keadaan pemuda itu. Kun Houw yang tentu saja tertegun oleh permintaan selir ini tiba-tiba mengangguk dan menyatakan kesanggupannya!

Begitulah. Kun Houw berhasil "ditaklukkan" selir ini dengan akal cerdiknya yang luar biasa. Ia sengaja menundukkan pemuda itu dengan taktiknya yang jitu, "mengganggu" Kui Hoa agar Kun Houw keluar "taringnya". Ketika Kun Houw benar-benar marah dan pemuda itu berhasil dikelabuhi, sejak saat itu pemuda ini menjadi orang kepercayaan selir cerdik ini di dalam istana.

Hari itu, tidak seperti biasanya, istana Sri Baginda tampak murung. Selirnya yang dicinta, Shi Shih, dua hari ini menangis tak mau melayaninya. Ada yang mengganggu perasaan selirnya itu. Ceng Tan sakit, mulanya hanya panas biasa, tapi ketika beberapa hari kemudian panas Ceng Tan meninggi dan tabib-tabib istana dibuat kelabakan oleh penyakit selir kedua ini, mendadak semua orang takut ketika Shi Shih mulai marah-marah.

Memang, selama ini orang seakan terlupa pada selir kedua itu. Shi Shih terlampau menonjol, lebih aktif dan banyak bergerak di istana. Tapi ketika selir kedua itu sakit dan Shi Shih terkejut oleh keadaan madunya ini, tiba-tiba semua perhatian ditujukan pada selir nomor dua itu.

Seperti diketahui, Ceng Tan adalah teman dan sahabat karib Shi Shih. Justru mereka berdua inilah yang diam-diam menjadi mata-mata di Kerajaan Wu sejak mereka dikirim Yueh untuk meninabobokan Sri Baginda. Menghanyutkan laki-laki tua itu dalam buaian cinta yang memabukkan. Membuat Sri Baginda menjadi hamba nafsu berahi yang diperas secara tidak kentara.

Tapi karena Ceng Tan lebih memiliki watak keibuan dan tidak seagresif Shi Shih, maka semua sepak terjang dua sahabat ini lebih didominasi Shi Shih daripada Ceng Tan. Dan itu tercatat dalam sejarah. Shi Shih memang wanita hebat. Dia memiliki kepandaian yang jarang dipunyai wanita-wanita sebangsanya pada zaman itu, memiliki otak yang cerdas, kematangan berpikir, dan jenius dalam mengelabui Kaisar.

Namun, Ceng Tan yang tak memiliki hati setegar temannya diam-diam menangis dan tak sampai hati melihat Shi Shih mempermainkan Kaisar. Ia sering mengeluh dan memperingatkan temannya agar tak bersikap keterlaluan terhadap Kaisar, yang bagaimanapun juga adalah suami mereka berdua. Tapi Shi Shih yang tetap bertindak menurut kemauan hati sendiri akhirnya membuat wanita yang lembut perasaan ini sakit.

Ceng Tan terpukul. Dia berada di persimpangan jalan melihat semuanya itu. Di satu pihak, Shi Shih adalah sahabat dan teman seperjuangannya, tapi di lain pihak, Kaisar adalah suami dan junjungan mereka. Orang yang dengan penuh kasih sayang memenuhi segala kebutuhan mereka, dari masalah harta sampai kedudukan. Merasa betapa Kaisar melimpahkan budi demikian besar kepada mereka berdua, maka melihat sepak terjang Shi Shih yang memporak-porandakan istana dan memecah belah kekuatan istana hingga yang terakhir Wu Taijin tewas bunuh diri, tiba-tiba Ceng Tan yang berhati mulia ini teriris perasaannya.

Melihat betapa mereka berdua membalas budi Kaisar dengan tuba. Diam-diam menuang racun sementara Kaisar sendiri tetap memberi madu pada mereka berdua. Tak tahan bahwa Kaisar tertipu, dan ketika suatu hari Ceng Tan menemui rekannya dan menyatakan keluhannya itu, tiba-tiba terjadi percekcokan kecil di antara mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment