Chapter 197
"Ini adalah misi kita, Ceng Tan. Ini adalah perjuangan kita yang harus kita lakukan demi terbalasnya dendam junjungan kita!" Shi Shih berkata, menegur temannya itu dan balik memperingatkan Ceng Tan bahwa musuh adalah musuh, tidak perlu dikasihi.
Namun, Ceng Tan yang pucat memandang rekannya sambil menjawab gemetar, "Benar, tapi Kaisar adalah suami kita juga, Shi Shih. Tegakah kita mempermainkannya demikian keji sementara beliau tetap melimpahkan kasih sayangnya kepada kita? Aku hanya minta agar kau tak kelewatan, Shi Shih. Cukup kiranya sepak terjangmu dengan terbunuhnya Wu-taijin itu!"
"Ah, bodoh sekali. Justru perjuangan kita mulai mendekati klimaksnya, Ceng Tan. Kenapa berhenti dan harus mandeg di tengah jalan? Tidak, justru aku siap mendirikan angkatan perang dalam bentuk pasukan cadangan itu. Wu harus kita hancurkan. Kaisar adalah musuh yang telah menghina junjungan kita!"
Ceng Tan menangis. Ia tahu siapa yang dimaksud junjungan itu, raja muda Kou Cien yang menjadi taklukan Sri Baginda. Raja muda telah menjalani hinaan sebagai perawat kuda selama tiga tahun. Waktu yang tidak sedikit! Ceng Tan yang terhuyung mendekap mukanya lalu merintih di atas pembaringan dengan air mata bercucuran.
"Shi Shih, tidak kejamkah sikap kita ini terhadap Kaisar? Tidak terkutukkah kita kelak di alam baka?"
Shi Shih mengerutkan kening. "Tak perlu kau pikirkan sejauh itu, Ceng Tan. Kita berbuat demi bakti kita terhadap negara, bukan demi kepentingan pribadi!"
"Benar, tapi kekejaman-kekejaman yang kita lakukan ini, pengkhianatan secara diam-diam terhadap suami ini, tidakkah semuanya itu akan berbuah karma buruk, Shi Shih? Tidakkah setan akan menyambut kita di dasar neraka?"
Shi Shih marah. "Ceng Tan, kau memiliki hati yang lemah sekali. Kau tak patut berkata seperti itu!"
Ceng Tan menangis tersedu-sedu. Ia mencoba mendebat, "Benar, aku memang lemah dibanding dirimu, Shi Shih. Tapi aku takut terkutuk oleh hukum karma yang kita pelajari. Aku takut itu. Aku ngeri!"
"Hm!" Shi Shih menarik temannya ini. "Kau tak perlu ngeri oleh bayang-bayang yang menghantui dirimu itu, Ceng Tan. Apa yang kita lakukan adalah demi bakti kita terhadap negara. Ingat janjimu, kita telah disumpah untuk setia kepada junjungan kita di Yueh!"
"Benar, aku ingat. Tapi kenapa jadinya kita lalu melakukan kekejaman-kekejaman, Shi Shih? Lihat sepak terjangmu itu. Kau mengadu domba sesama menteri hingga mereka terpecah belah. Kau memfitnah Wu-taijin hingga menteri setia itu bunuh diri, padahal menteri itu tak bersalah. Bukankah kau menjadi iblis yang mengacau sana-sini dan mencelakakan orang baik-baik? Dan kau menyuruh Kaisar menaikkan pajak yang mencekik rakyat dengan peraturan-peraturan berat hingga mereka menderita. Apa ini bukan dosa yang akan mencelakakan kita sendiri?"
Shi Shih terbelalak. Ia melihat rekannya itu tersedu-sedu memeluk guling, ketakutan oleh semua sepak terjang mereka yang dianggap dosa. Shi Shih yang tertegun dengan muka merah tiba-tiba mengepal tinju. "Ceng Tan, apa maumu kalau begitu? Apa yang kauinginkan?"
Ceng Tan mengguguk, "Menghentikan kekejaman-kekejaman kita, Shi Shih. Memberi cinta sejati kepada suami kita!"
"Hm, berarti menjilat janji kepada junjungan kita? Menarik sumpah kita di Yueh?"
Ceng Tan bingung. Belum sempat menjawab, tiba-tiba Shi Shih menarik pundaknya. "Ceng Tan, kau wanita tak patriotik. Kau lemah melebihi cacing tanah. Kalau tak setuju dengan semuanya ini, biarlah kaulaporkan saja pada Sri Baginda dan buka rahasia kita!"
Kemudian, Shi Shih melepas dan mendorong Ceng Tan dengan kasar, lalu terisak membanting pintu dan meninggalkan rekannya itu. Shi Shih terpukul oleh perselisihan ini karena tak menduga bahwa Ceng Tan memiliki hati yang lemah.
Ceng Tan terbelalak mendapat perlakuan kasar ini. Ia tersedu-sedu di atas pembaringannya, sehari penuh tak keluar. Ketika beberapa hari kemudian ia melihat Shi Shih bersikap dingin, wanita berhati lembut ini menangis.
Begitulah, untuk dua minggu lamanya kedua selir ini berdiam diri. Mereka agak jauh satu sama lain dan masing-masing tak bicara. Shi Shih menunggu dan diam-diam cemas kalau Ceng Tan benar-benar melapor. Namun, ketika Ceng Tan tak memberikan reaksi, legalah Shi Shih bahwa Ceng Tan tak akan berkhianat.
Shi Shih tidak tahu pergolakan hebat yang mengamuk di hati wanita ini. Ia tidak tahu betapa diam-diam selir nomor dua itu menangis sepanjang malam, menderita himpitan batin yang kian menyesakkan napasnya. Ceng Tan lupa makan dan minum, tidak mengurus badannya dengan baik, kuyu, dan pucat. Beberapa hari kemudian, tubuhnya kurus dan matanya bengkak.
Maka, ketika selir ini jatuh sakit dan Shi Shih terkejut mendengarnya, buru-buru wanita ini mengunjungi sahabatnya di kamar pribadi. Shi Shih tertegun melihat Ceng Tan menangis memandangnya dan menggapaikan lengan. Saat Shi Shih mendekat, ucapan pertama yang menyentuh perasaannya adalah permintaan maaf sahabatnya yang tersendat-sendat.
"Shi Shih, maafkan aku... aku memang lemah melebihi cacing tanah. Aku agaknya tak akan hidup lama lagi...!"
Shi Shih terbelalak. "Tidak, aku yang salah, Ceng Tan. Rupanya kekerasanku dulu telah membuatmu begini. Maafkanlah aku...." Shi Shih terisak, langsung memeluk dan menyuruh semua dayang menyingkir.
Saat dua orang itu berpelukan dan Ceng Tan mengguguk, Shi Shih hancur perasaannya dan sadar akan kekasarannya yang berlebihan. Ia maklum bahwa rekannya ini memang seorang wanita berhati lembut yang tak dapat dikasari.
Shi Shih yang menangis dengan air mata bercucuran akhirnya mendengar bisikan sahabatnya itu yang membelai mukanya, "Shi Shih, semalam aku bermimpi. Kakekku datang, dia membawa kain putih...!"
Shi Shih semakin tersedu. Rekannya ini memang selalu membicarakan keluarga daripada tugas, terkena penyakit rindu kampung halaman yang menyesakkan dada.
"Ceng Tan, jangan kau bicara seperti itu. Kakekmu telah tiada!"
"Itulah," Ceng Tan tersenyum, "Semalam aku bermimpi akan kedatangannya. Beliau membawa kain putih."
Shi Shih hancur perasaannya. Ia mendapat firasat tak enak oleh cerita sahabatnya ini. Shi Shih yang tersedu-sedu memeluk Ceng Tan akhirnya memanggil tabib istana ketika Ceng Tan kejang-kejang. Suasana menjadi gugup dan semua orang ribut tak keruan.
Ketika beberapa hari kemudian kondisi Ceng Tan semakin parah, Shi Shih tak meninggalkan kamar sahabatnya itu barang semenit pun. Di sini, Ceng Tan mengeluarkan segala keluhannya. Betapa dia tersiksa oleh kelemahan diri sendiri yang tidak setegar Shi Shih, betapa ia mengutuk diri sendiri yang merasa bodoh dan tak berdaya.
"Shi Shih, rupanya benar kata-katamu itu. Aku tak patriotis. Aku lebih cocok menjadi ibu rumah tangga biasa daripada menerima tugas berat ini... aku merasa berdosa, Shi Shih... baik kepadamu maupun terhadap Sri Baginda!"
Shi Shih tersedu-sedu, "Sudahlah, tak perlu kaubicarakan itu, Ceng Tan. Lebih baik kau berpikir bagaimana cepat sembuh dari penyakitmu ini."
"Ah," Ceng Tan tersenyum getir. "Aku tak ingin sembuh dalam keadaan seperti ini, Shi Shih. Aku tak mungkin sembuh. Biarlah kauperjuangkan sendiri tugas rahasia kita itu. Sampaikan maafku pada Baginda Kou Cien."
"Tidak!" Shi Shih semakin mengguguk. "Kau pasti sembuh, Ceng Tan. Aku akan meminta Sri Baginda mengumpulkan semua tabib paling pandai di seluruh kerajaan!"
Namun, Ceng Tan tersenyum pahit. "Kau salah. Orang bisa sembuh kalau yang bersangkutan menyimpan harapan. Tapi keadaanku ini, yang tak ingin hidup dan ingin menjauhi kehidupan, mana mungkin sembuh? Biar dewa sekalipun ke sini, tak mungkin dapat menolong aku. Aku merasa ajalku telah dekat!"
Shi Shih tersedu-sedu. Ia ingin meraung-raung mendengar ucapan sahabatnya itu, merasa tertusuk dan pedih seolah jantungnya tertikam pedang berkarat. Ia hancur dan memeluk serta menciumi muka sahabatnya. Ketika Ceng Tan berkelojotan dan Shi Shih hampir histeris, tiba-tiba Ceng Tan tersenyum aneh.
"Shi Shih, mendekatlah... aku ingin minta tolong bantuanmu..."
"Apa yang ingin kau minta, Ceng Tan? Apa yang kaukehendaki?"
"Aku... aku minta doamu untuk meringankan dosaku kepada Tuhan, Shi Shih... maukah kau mengiring ajalku dengan doa yang tulus?"
Shi Shih tak tahan lagi. "Tidak, kau tak akan mati. Kau akan sembuh dan mendampingiku di dunia!"
Ceng Tan tertawa, menarik bibirnya, tampak menahan sakit. "Kau bodoh, Shi Shih. Aku tak mau hidup, kenapa disuruh hidup? Tidak... sahabatku. Aku merasa kematian benar-benar akan menjemputku. Kakekku ada di depan!"
Shi Shih menggerung-gerung. "Ceng Tan, kau jangan bicara melantur! Aku tak mau dengar kata-katamu itu!"
Ceng Tan berkelojotan. "Kau tak mau memberiku doa, Shi Shih?"
"Tidak, aku tak mau dengar bicaramu yang melantur, Ceng Tan. Aku tak mau memberimu doa karena kau akan hidup. Kau pasti sembuh!"
Ceng Tan tertawa. Shi Shih melihat sahabatnya itu tertawa dengan muka yang aneh, seolah tertawa tapi mirip menangis.