Chapter 198
Saat Ceng Tan mengeluh dan menuding ke depan, tiba-tiba Shi Shih mendengar suaranya yang sumbang, "Shi Shih, kakekku datang... dia menghampiriku dengan mulut tersenyum. Aduh, dadaku sakit. Aku ingin minum!"
Shi Shih tersedu-sedu. Ia membawa minuman ke bibir sahabatnya itu dan menempelkannya. Namun, Ceng Tan yang tak dapat meneguk sendiri tiba-tiba memintanya agar disuapi. "Shi Shih, bantu aku... aku tak dapat minum sendiri."
Shi Shih menggigil dengan air mata bercucuran. Ia terpaksa menyuapi sahabatnya itu sesendok demi sesendok sambil menangis dan menggigit bibirnya sendiri. Tak tahan oleh keadaan Ceng Tan yang mengharukan, saat air dingin itu tertelan dengan susah payah dan Ceng Tan mengecap-ngecapkan lidahnya, tiba-tiba Ceng Tan tersenyum. "Shi Shih, sahabatku sayang... aku merasa kehangatan cinta kasihmu yang mendalam di suapan ini. Tak dapatkah kau menyayangi dan mencintai Sri Baginda dengan cinta kasih macam ini?"
Shi Shih terpukul. Ia tak menjawab. Ketika Ceng Tan meminta duduk, akhirnya wanita yang gemetar dengan muka pucat itu memberikan nasihat terakhir, "Shi Shih, dosa agaknya tak dapat dihindari oleh manusia. Dosa bagai bayang-bayang yang melekat di diri manusia. Apa yang seharusnya dilakukan manusia untuk menjauhi dosa, Shi Shih? Bukankah agama dan para nabi telah memperingatkan manusia untuk tidak melakukan dosa?"
Melihat Shi Shih kembali tak menjawab dan tersedu-sedu memeluknya, Ceng Tan bicara lagi, "Karena itu, kematian rupanya jalan paling baik untuk menghindari perbuatan dosa ini, Shi Shih. Karena itu aku ingin mati agar tak melakukan dosa lagi!"
Shi Shih terkejut. Ia melihat sahabatnya itu meregang nyawa, batuk, dan tiba-tiba melontarkan darah segar. Saat Shi Shih menjerit, tahu-tahu Ceng Tan roboh dan terguling di atas pembaringan. Tewas!
"Ceng Tan...!" Shi Shih melengking tinggi. Ia membuat dayang dan semua orang terkejut. Ketika Shi Shih menangis dan meraung-raung menubruk mayat sahabatnya itu, tiba-tiba istana menjadi gaduh dan ribut. Kaisar segera diberi tahu. Saat semua orang datang, ternyata Shi Shih roboh pingsan di samping mayat Ceng Tan.
Kaisar tertegun. Ia tak mengira Ceng Tan meninggal demikian cepat, hanya beberapa hari setelah diserang penyakit yang tak dapat disembuhkan tabib-tabib istana. Ketika Shi Shih sadar dan Kaisar memeluknya dengan penuh haru, selir tersayang itu menangis dan tak dapat dihibur. Shi Shih terpukul hebat oleh kematian sahabatnya. Ia tak mau makan dan beberapa hari kemudian tampak kurus serta pucat.
Saat Kaisar menjenguk dan menghiburnya, tiba-tiba Shi Shih marah dan memaki, "Sri Baginda, orang-orang paduka itu gentong-gentong kosong semuanya. Sebaiknya diusir atau dibunuh saja mereka itu!"
Kaisar terkejut. "Sabar, Shi Shih. Bukankah mereka telah memperjuangkannya sekuat tenaga? Aku juga terpukul oleh kematian sahabatmu itu. Sebaiknya kendalikan dirimu dan bersabarlah!"
Namun, Shi Shih semakin marah. Selir ini naik pitam. Ketika ia menangis tersedu-sedu dan memaki tabib-tabib istana, tiba-tiba Shi Shih mengeluh, menekan perutnya yang sakit, terhuyung, dan terbelalak memandang Sri Baginda. Saat Sri Baginda terkejut memeluknya, tahu-tahu selir ini pingsan dan roboh di pelukan Kaisar.
Kaisar kalang kabut memanggil-manggil selirnya itu. Namun, ketika tabib istana memeriksa, ternyata selir itu pingsan karena lapar; sudah empat hari Shi Shih tak mau mengisi perutnya. Maka, Sri Baginda menyuruh orang menyiapkan bubur lalu menyuapi selirnya dengan penuh kasih sayang.
Shi Shih sadar dan terbelalak melihat Kaisar menyuapinya, hal yang baru pertama kali dilakukan Kaisar terhadapnya. Sikap yang tulus dan luar biasa itu membuat Shi Shih yang tersedu-sedu mendekap Kaisar, teringat kata-kata Ceng Tan apakah ia tak bisa mencintai suaminya itu dengan kasih sayang yang sama—cinta yang benar, bukan semu. Shi Shih yang terpukul oleh semuanya lalu menjerit dan merintih penuh luka.
Begitulah, Kaisar dan segenap pembantunya dibuat murung oleh sikap Shi Shih yang dihunjam duka. Mereka terbawa dan hanyut pula oleh kesedihan selir yang kehilangan sahabatnya itu. Kaisar, yang mencoba menghibur dengan segala daya upaya, memberikan apa saja yang diminta. Ia ingin melepaskan Shi Shih dari derita duka yang agaknya tiada akhir. Namun, Shi Shih yang benar-benar terpukul ternyata menolak semuanya. Selir ini menyendiri dan tak mau melayani Kaisar. Hal yang sebenarnya luar biasa karena tak mungkin berani dilakukan selir lain. Sri Baginda, yang benar-benar jatuh hati, menuruti saja dan diam-diam memandang pedih dari kejauhan.
Sampai akhirnya, ketika suatu hari selir itu keluar dari kamarnya dan duduk di empang ikan, tiba-tiba Sri Baginda tertegun melihat perubahan besar pada diri selir tersayangnya itu. Shi Shih tidak seperti dulu lagi; tidak gembira dan lincah. Namun, kecantikannya yang masih memancar dengan amat kuat tetap membuat hati Sri Baginda tergetar. Ia melihat betapa selirnya itu kini memiliki kecantikan yang aneh, kecantikan yang dingin namun menarik, asing namun menggugah berahinya hingga Kaisar mendekati.
Ketika Shi Shih mengangkat muka dan Kaisar menangkap wajah yang tengadah itu, tiba-tiba Kaisar menggigil melihat selirnya terisak menitikkan dua bulir air mata yang turun bagai butiran salju, hinggap dan bening menempel di pipi yang halus kepucatan itu. Saat Kaisar menunduk dan Shi Shih menangis, tiba-tiba selirnya itu mendekapnya dengan air mata bercucuran.
"Sri Baginda, kenapa penyakit tak menyerang hamba saja? Kenapa maut mengincar sahabat hamba? Hamba ingin mengganti jiwa Ceng Tan, Sri Baginda. Hamba ingin mengembalikan nyawanya dengan menukar nyawa hamba."
Sri Baginda tertegun. Untuk kesekian kalinya ia melihat Shi Shih tersedu-sedu teringat kematian sahabatnya. Kaisar yang terharu mendengar kata-kata Shi Shih ikut menangis dan berduka, melihat betapa selirnya itu amat mencintai sahabatnya hingga rela memberikan nyawa sendiri—satu sikap yang dinilai luhur. Kaisar yang terharu lalu menggendong Shi Shih ke kamar peraduannya.
"Shi Shih, kau selalu teringat pada sahabatmu ini. Lalu bagaimana dengan aku, sayang? Bukankah aku juga perlu perhatianmu?"
Ketika Shi Shih gemetar memandangnya dengan air mata bercucuran, tiba-tiba Kaisar menghisap butiran air mata itu, merasuknya, dan meminumnya seperti orang kehausan mendapat embun pagi. Shi Shih yang mengguguk di gendongan Kaisar akhirnya melorot turun.
"Sri Baginda, maafkan hamba. Hamba benar-benar belum dapat melayani paduka!"
"Ah," Kaisar kecewa. "Kau tak dapat memberiku kebahagiaan, Shi Shih? Kau tak mau..."
Shi Shih tersedu. "Hamba tak dapat melayani paduka saat ini, Sri Baginda. Hamba masih dalam suasana berkabung!" Shi Shih memotong, mencium baginda, kemudian melarikan diri ke kamar pribadinya, menangis, dan menutup pintu rapat-rapat.
Sri Baginda yang terhuyung penuh kecewa akhirnya menarik napas dan menggigit bibir sendiri. Entah kenapa terhadap selir ini ia tak dapat main paksa. Terlampau besar kasih sayangnya untuk melakukan itu; ia tak mau menyakiti sang juwita pujaan hati. Sri Baginda yang termenung dengan muka dikerutkan akhirnya mencari selir lain untuk penutup kekecewaannya.
Shi Shih tersedu-sedu. Selir ini tahu betapa besar kasih sayang Sri Baginda kepadanya, betapa hebat dan mengharukannya. Sampai-sampai apa pun mau dilakukan Kaisar, hal-hal yang dapat merendahkan diri sendiri dan menurunkan wibawa, seperti menyuapinya atau melakukan hal-hal yang amat rahasia di atas ranjang, yang semuanya menunjukkan betapa besar cinta kasih Kaisar kepadanya.
Shi Shih, yang tentu saja terpukul oleh semuanya, teringat kata-kata Ceng Tan tentang "cinta kasihnya" terhadap laki-laki tua itu. Betapa ia memberikan yang semu dan menyimpan yang sejati, mempermainkan laki-laki itu padahal laki-laki tersebut mencintainya luar dalam. Shi Shih yang goyah oleh semuanya kembali tersedu-sedu dan teringat akan dosa. Hingga, seminggu kemudian sejak kekalutan yang menghimpit batin itu, mendadak Shi Shih "mogok" tidak melanjutkan tugasnya sebagai mata-mata.
Raja muda di Yueh terkejut. Berita ini tentu saja membuat raja muda bersama pembantu-pembantunya tertegun, kaget, dan pucat. Fan Li, yang maju dengan alis berkerut-kerut, akhirnya berkata kepada junjungannya, "Sri Baginda, sebaiknya hamba menemui selir itu. Hamba akan menyadarkan Shi Shih akan tugas utamanya!"
Sri Baginda terbelalak. "Tapi tugas ini berbahaya, Fan ciangkun. Bagaimana kalau Wu menangkapmu? Bisa hancur gerakan kita!" Raja muda itu gelisah, kecut, dan ngeri mendengar rencana Fan Li.
Namun, Fan Li menggeleng tegas untuk meyakinkan diri. "Tidak, hamba dapat mengatasi semuanya itu, Sri Baginda. Hamba akan minta tolong Pendekar Gurun Neraka!"
Kou Cien waswas. Tapi karena tak ada jalan lain untuk menemui selir itu, terpaksa ia mengabulkan permintaan pembantunya untuk menemui Shi Shih di istana musuh. Pendekar Gurun Neraka yang dimintai tolong akhirnya menyanggupkan diri membawa panglima itu ke kamar selir tersebut—perbuatan yang luar biasa berani dan amat riskan. Sekali kepergok, tentu hancur semuanya yang telah dirintis. Pendekar Gurun Neraka yang menghubungi Kun Houw akhirnya dengan hati-hati berhasil mempertemukan dua orang itu.
Shi Shih tertegun. Fan Ciangkun adalah orang yang pertama kali mengajari dia kepandaian menulis dan membaca.