Chapter 199
Panglima inilah yang mendidik Shi Shih mempelajari semua keterampilan istana hingga ia mahir mengerjakan semuanya. Termasuk kepandaian bercinta, cara mencumbu, dan merayu pria.
Shi Shih, yang terkejut melihat panglima itu berdiri di kamarnya, tiba-tiba menangis dan menggigil saat memandang sosok seorang panglima yang patriotik dan tampan itu.
"Fan-ciangkun, apa yang harus hamba lakukan? Apa yang harus hamba perbuat?" Fan Li maju, menjura di depan selir itu.
"Tak perlu kau merendahkan diri kepadaku, Shi Shih. Kau telah mencapai apa yang kita rencanakan semula. Kedudukan kita kini sederajat. Tak perlu kau menyebut dirimu hamba!"
Shi Shih tersedu-sedu. "Aku... aku tak dapat melaksanakan tugasku lagi, Ciangkun. Aku merasa berdosa dan terpukul oleh kematian sahabatku!"
Fan Li menarik napas. "Aku tahu, Shi Shih. Tapi apakah kematian Ceng Tan harus membuatmu lemah begini? Haruskah persiapan yang mendekati puncak ini hancur di tengah jalan hanya karena kematian sahabatmu? Ingat, pernah kuberi tahu kepadamu bahwa perjuangan kita mengandung pengorbanan, Shi Shih. Dan salah satu dari pengorbanan itu ternyata adalah kematian sahabatmu!"
Shi Shih terisak. "Aku tak dapat berpikir jernih, Ciangkun. Aku sangat terpukul oleh kematian Ceng Tan."
"Ada apa? Ada sesuatu yang dibicarakannya hingga kau terganggu?"
Shi Shih tak dapat menjawab terus terang. Ia merasa tidak enak untuk berterus terang di depan panglima itu. Namun, karena menyadari ketajaman panglima tersebut dalam mencium gerak-geriknya, Shi Shih sedikit berbohong, "Tidak, hanya saja aku merasa bahwa kematian sahabatku itu disebabkan olehku, Ciangkun. Bahwa diam-diam aku merasa akulah yang membunuh sahabatku itu!"
"Hm," Fan Li terkejut. "Bagaimana bisa terjadi begitu, Shi Shih? Apakah kalian bertengkar?"
Shi Shih mengangguk. "Benar, kami pernah bertengkar, Ciangkun. Aku memaki sahabatku itu karena dia lebih ingat keluarga daripada tugas. Dia akhir-akhir ini lemah!"
Fan Li tertegun. Ia memang tahu watak Ceng Tan yang lembut dan perasa, sering rindu rumah serta membicarakan orang tua dan saudara-saudaranya yang jauh di kampung. Mendengar Shi Shih bertengkar dengan mendiang sahabatnya itu, mau tak mau Fan Li tercekat dan mengerutkan kening. Melihat Shi Shih terpukul demikian sedihnya, panglima ini menduga bahwa pertengkaran itu penting sekali. Sedemikian penting hingga Shi Shih "mogok" tak mau melanjutkan tugasnya—hal yang tentu menyangkut perjuangan.
Namun, karena Shi Shih tidak menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, panglima ini pun tak tahu dan hanya bisa menarik napas dalam.
"Shi Shih, apakah sebenarnya yang kalian pertengkarkan itu? Benarkah hanya karena kelemahan sahabatmu yang ingat keluarga di kampung?"
Shi Shih menangis. Sebenarnya sukar baginya untuk menjelaskan kepada panglima itu bahwa pertengkaran mereka menyangkut urusan Kaisar. Betapa Ceng Tan mengingatkan bahwa Kaisar adalah suami mereka, orang yang telah menyayang dan mengasihi mereka dengan luar biasa. Shi Shih yang tersedu-sedu menekan batinnya, tiba-tiba membalikkan tubuh dan tidak mau bicara.
"Fan-ciangkun, sebaiknya kau pergi saja. Tinggalkan aku..."
"Hm," Fan Li menjadi penasaran. "Kenapa begitu, Shi Shih? Apakah kalian... aku tahu. Apakah kalian tak dapat mengkhianati Kaisar, Shi Shih? Bahwa Ceng Tan menghendaki kau menghentikan sepak terjangmu dan menarik diri dari tugas yang dibebankan di pundak kalian?"
"Tidak... tidak...!" Shi Shih semakin terisak. "Ceng Tan tidak menghendaki begitu, Ciangkun. Dia tetap setia dan jujur pada kalian. Hanya ia... hanya ia..."
Shi Shih tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia ditelan tangis yang menyesakkan dada, menelungkup di atas pembaringan, dan membelakangi panglima itu. Fan Li maju dan menyentuh pundak wanita ini, lalu berseru dengan suara bergetar, "Shi Shih, sebaiknya kita berterus terang saja. Aku mengenal watakmu. Aku juga mengenal watak mendiang sahabatmu. Bukankah Ceng Tan menghendaki kau menghentikan sepak terjangmu, Shi Shih? Bukankah Ceng Tan tak sampai hati melihat kalian mempermainkan suami sendiri?"
Shi Shih tersedu-sedu. Sekarang panglima itu telah menodongnya dengan kata-kata yang tepat, jitu, dan tak dapat ia pungkiri. Panglima itu telah mengenal baik watak mereka berdua: Shi Shih amat patriotik, sementara Ceng Tan kurang, terbawa oleh sikap keibuannya yang lembut dan mulia. Ia tak sampai hati mempermainkan orang yang mencintai mereka dengan begitu sungguh-sungguh.
Shi Shih yang air matanya bercucuran terpaksa mengaku, tak dapat menghindari ini lagi. "Benar, Ceng Tan memang menghendaki begitu, Ciangkun... tapi Ceng Tan juga tak mengkhianati kita. Dia dilanda kebingungan melihat posisinya yang terjepit. Kami bertengkar, tapi dia mengalah... dan akhirnya jatuh sakit."
"Hm!" Fan Li tertegun. Sekarang dugaannya tepat. Panglima muda yang cerdik itu tiba-tiba bertanya dengan suara serak, "Dan kau bagaimana, Shi Shih? Sependapatkah kau dengan mendiang sahabatmu itu?"
Shi Shih tersedu-sedu. "Aku, ah... aku bingung, Ciangkun... aku tak tahu apa yang harus kulakukan!"
"Tapi perjuangan tinggal sedikit, Shi Shih. Haruskah ini diterlantarkan begitu saja?" Fan Li gemetar, pucat memandang Shi Shih yang merupakan orang satu-satunya yang menjalankan peran teramat penting. Dari wanita itulah jatuh bangunnya usaha mereka, perjuangan yang telah dirintis dan mendekati penyelesaian.
Shi Shih yang menelungkupkan tubuhnya tiba-tiba menangis semakin keras. "Fan-ciangkun, aku tak dapat menjawabnya sekarang. Sebaiknya besok saja kau kembali."
Fan Li mengepal tinju. "Tapi aku mengharap kesadaranmu, Shi Shih. Aku dan Sri Baginda beserta rakyat menghendaki selesainya perjuangan ini yang tinggal sejengkal. Atau..." Fan Li mengertakkan gigi. "Kami akan menyerbu istana secara terang-terangan, Shi Shih. Kami akan menerjang lautan api untuk mengorbankan diri!"
"Tidak!" Shi Shih terkejut. "Jangan lakukan hal yang terlalu berbahaya itu, Ciangkun. Pasukan kita belum siap penuh untuk bertempur secara terbuka. Ok-ciangkun ada di sana."
Fan Li mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku siap berkorban, Shi Shih. Demi membela negara dan rakyatku, aku siap melabrak istana dan membunuh diri di depan musuh!"
Shi Shih menggigil dan membalikkan tubuhnya. "Ciangkun, jangan lanjutkan rencana gilamu itu. Biar aku berpikir. Berilah aku waktu untuk meredakan dukaku ini..."
"Hm, kau mau melanjutkan tugas?"
Shi Shih terisak. "Jangan tanyakan dulu sekarang, Ciangkun. Aku ingin mengatasi guncangan ini dulu. Kau kembalilah..."
"Baik," Fan Li mengangguk. "Tapi camkan padamu di sini, Shi Shih. Bahwa bila semuanya ini gagal karena kau tak dapat membantu kami, maka bersumpah demi langit dan bumi, aku akan menyerang istana dan menumpahkan darahku di depan Sri Baginda!"
Shi Shih terbelalak. Ia melihat panglima itu memutar tubuhnya, tampak keras, garang, dan jantan, yang membuatnya terpukul. Shi Shih yang tersedu tiba-tiba menubruk panglima itu.
"Ciangkun, maafkan aku... kau... kau masih teringat janji kita berdua, bukan? Betapa kau akan menolongku sekuat tenaga? Nah, sekarang tolonglah aku, Ciangkun, tolong beri aku kesempatan untuk berpikir. Sehari saja...!"
Fan Li memutar pinggangnya dan beradu pandang dengan mata yang bercucuran air mata. Mata yang sayu, lembut, dan gemetar. Begitu Shi Shih memeluknya dengan suara tersendat-sendat, panglima ini mengeluh, memejamkan mata, dan memeluk selir itu dengan kaki yang gemetar, penuh rindu dan sayang. Ketika Shi Shih mengangkat mukanya dengan air mata yang bercucuran, mendadak panglima ini mendekap dan mencium mulut wanita itu.
"Shi Shih, pengorbananku juga berat. Aku menyerahkan kekasihku kepada musuh...!"
Shi Shih menggelinjang. Ia menyambut dan mencium mulut panglima itu, mengguguk, dan menangis tersedu-sedu. Tak tahan, ia roboh di pelukan panglima ini, hanyut, dan hampir saja pingsan di dalam dekapan panglima muda itu.
Namun, Pendekar Gurun Neraka serta Kun Houw yang muncul mengejutkan Fan Li. Akhirnya, panglima ini melepaskan Shi Shih, sadar dan mendapat isyarat bahwa mereka terlalu lama. Maka, begitu mengangguk dan mendorong Shi Shih, panglima ini berkelebat keluar dengan bibir digigit kuat-kuat, menahan dua titik air mata yang siap runtuh membasahi pipinya.
Kun Houw yang tertegun melihat adegan di kamar itu baru tahu bahwa Shi Shih ternyata adalah kekasih panglima she Fan itu yang diam-diam saling menjalin cinta.
"Benar, mereka telah sama-sama menaruh hati sejak gadis itu masih di istana Kou Cien-ong, Houw-ji. Shi Shih dan panglima she Fan itu sama-sama jatuh hati ketika mereka belajar di istana. Agaknya pertemuan yang terjadi setiap hari itulah yang membuat mereka dekat satu sama lain!"
Kun Houw tertegun. Keterangan ayahnya ini membuat ia bengong, tergetar, dan terharu bukan main. Ia baru tahu bahwa ada pengorbanan yang amat berat yang dialami dua orang itu. Betapa Fan-ciangkun mengorbankan kekasihnya sendiri demi perjuangan, membiarkan Shi Shih menjadi milik orang lain, sementara Shi Shih sendiri juga menahan perasaan melihat panglima itu meremas batin. Sering terbakar melihat Kaisar mempermainkan kekasihnya—hal yang amat berat. Kun Houw yang tertegun mengetahui ini tiba-tiba kagum bukan main pada dua kekasih yang diam-diam menangis dengan air mata darah itu.
Sejarah memang mencatatnya. Shi Shih dan panglima she Fan itu memang telah lama menjalin hubungan, sejak Shi Shih diajari menulis dan membaca, sejak Shi Shih diajari menabuh alat musik dan menari. Hal itu tentu saja terjadi secara diam-diam dan amat rahasia. Maklum, hubungan ini tak boleh diketahui orang lain yang dapat berakibat bocor kepada Kaisar di Wu. Ini merupakan rahasia utama bagi Yueh yang dipegang erat-erat.