Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 20

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 20

Pangeran Ko Cien hampir bunuh diri.

"Pedang pusakanya hilang!"

"Pedang yang mana, Lo-suhu?"

"Pedang Medali Naga!"

"Ah, bukankah itu tersimpan di dalam istana, Lo-suhu?"

"Ya, tapi sebulan yang lalu pedang itu lenyap, Yap Sicu. Dan pangeran jatuh sakit karena ini pertanda buruk bagi keadaan Kerajaan Yueh!"

"Ah...!" Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia terbelalak memandang tiga orang itu, dan Thian Kong Cinjin yang menarik napas segera menimpali.

"Dan ini berarti Ho-Han-Hwe tak mempunyai kekuatan gaib untuk membantu kerajaan, Pendekar Gurun Neraka. Karena seperti yang telah menjadi kepercayaan pangeran, hilangnya pedang itu akan membuat suram kerajaan ini untuk menanti datangnya puing-puing kehancuran total!"

Semua orang terdiam. Mereka saling pandang, tampak kecut dengan perasaan tidak enak. Pendekar Gurun Neraka yang mendongkol oleh berita ini tiba-tiba berdebar. Dia teringat akan keadaan dirinya sendiri. Betapa mendung kedukaan tiba-tiba muncul. Terbukti dari tewasnya Ta Bhok Hwesio dan hilangnya Sin Hong, bersamaan dengan munculnya Tok Sim Sian-li dan Bu-Beng Siauw-cut, dua orang yang sama sekali tidak disangka kehadirannya.

Dan bahwa kini Pedang Medali Naga yang merupakan pedang sakti dari istana juga hilang tak diketahui rimbanya, tiba-tiba pendekar ini menjadi gelisah. Sebenarnya, pedang itu adalah senjata yang menjadi simbol dari perkumpulan Ho-Han-Hwe ini. Perkumpulan para patriot yang dipimpinnya atas dasar permintaan Pangeran Kou Cien, pangeran yang menjadi raja muda Kerajaan Yueh yang kini menjadi taklukan Negara Wu akibat kalah perang.

Pangeran Kou Cien yang diam-diam menaruh sakit hati atas kekalahannya itu sudah merencanakan secara diam-diam untuk "memberontak", menyerang Negara Wu dengan siasat sematang-matangnya, karena sejak kekalahannya dulu pangeran ini tak boleh lagi mendirikan bala tentara.

Pangeran Kou Cien dibebaskan beberapa tahun yang lalu atas dua ikatan pokok, syarat yang membuat pangeran ini bersedia menerima karena dia ingin bebas. Yakni, pertama dia diharuskan membayar upeti setiap tahun sebagai tanda "setia" kepada Wu, sedangkan yang kedua ialah kembali ke Yueh, tetapi tak boleh mendirikan bala tentara atau pasukan.

Pangeran Kou Cien yang tentu saja tak dapat menolak dua syarat itu, setiap tahun selalu memberi "laporan" membawa banyak perhiasan dan kain-kain sutra kepada "junjungannya" selama waktu-waktu yang ditentukan.

Tapi akhir-akhir ini Wu mulai keterlaluan. Pangeran Fu Chai, yang saat itu menjadi raja muda Wu, mulai meminta dikirim wanita-wanita cantik. Dia tak puas hanya dengan benda-benda perhiasan maupun kain sutra yang merupakan benda mati itu. Selain upeti berupa benda-benda perhiasan, Yueh juga diminta untuk mengirim benda-benda "hidup", yakni wanita-wanita cantik yang harus dicari di seluruh pelosok, bahkan dusun-dusun yang ada di wilayah Yueh.

Pangeran Kou Cien yang mula-mula tak keberatan oleh upeti "tambahan" ini menuruti permintaan Wu agar tidak mendapat kesulitan.

Namun, celaka. Dua tahun yang lalu dia mendapat permintaan yang mengejutkan dari raja muda Wu itu. Fu Chai tidak puas dengan wanita-wanita yang dikirim, dan meminta agar seorang kembang istana bernama Kiok Hwa "dikirim" untuk menutup kekecewaannya. Padahal Kiok Hwa adalah selir terkasih dari pangeran ini!

Pangeran Kou Cien yang tentu saja marah oleh permintaan itu, hampir berontak. Tapi Fan Li, seorang panglimanya yang selama ini mendampinginya dalam suka dan duka, sempat memperingatkan.

"Hinaan itu harus diterima, betapapun pahitnya. Karena Yueh yang tidak mempunyai bala tentara lagi tak mungkin sanggup menyerang musuh yang saat itu menjajah mereka!"

Pangeran Kou Cien tunduk. Dia sendiri diharuskan mengantar selirnya itu, Kiok Hwa, yang selama ini menjadi kembang cintanya. Meskipun dengan perasaan hancur pangeran itu menuruti kehendak itu, namun diam-diam kebencian serta dendam pangeran ini bertumpuk dan membakar dadanya.

Kalau tidak ada Fan Li di situ, mungkin pangeran ini sudah lama bunuh diri. Karena sesungguhnya, hinaan-hinaan berat dialami berkali-kali oleh pangeran ini sejak dibebaskannya dia dari istana Wu yang waktu itu menyuruhnya menjadi mandor istal kuda. Pelayan istana yang setiap hari bergulat dengan tahi kuda!

Pangeran Kou Cien yang selalu mendapat hiburan dari panglimanya yang satu ini akhirnya kian lama kian menjadi tabah. Dia memiliki mental kuat. Seorang pangeran yang akhirnya tahan hinaan dan ujian hidup. Fan Li yang selalu mendampingi pangeran ini berhasil membawa junjungannya itu pada tempat yang lebih baik setelah tiga tahun pangeran itu dibebaskan dari hukumannya.

Dia boleh kembali pulang ke Yueh, tak menjadi mandor istal kuda lagi, namun harus membayar upeti setiap tahun dan tak boleh mendirikan bala tentara di wilayah Yueh. Dan itu akhirnya dituruti.

Sampai tiba-tiba, secara mengejutkan, dua tahun yang lalu raja muda Wu meminta pada pangeran ini agar Kiok Hwa diserahkan sebagai tambahan upeti karena wanita-wanita cantik yang dikirim tahun lalu oleh pangeran ini dinilai kurang memenuhi "syarat"!

Jadilah. Pangeran Kou Cien hampir mengamuk. Dia benar-benar merasa terhina sekali, namun Fan Li yang lagi-lagi memberi nasihat pada junjungannya itu akhirnya berhasil menyadarkan pangeran ini untuk menerima cobaan yang paling hebat itu.

Pangeran Kou Cien sendiri akhirnya mengantar selirnya itu, mempersembahkannya pada raja muda Wu. Pangeran yang hancur dan menangis di dalam hati ini terpaksa membiarkan saja selirnya itu dipermainkan Fu Chai yang memang berniat untuk menghina pangeran jajahannya itu, tak mengenal kasihan dan tertawa terbahak-bahak di dalam kamar mempermalukan istri orang!

Tapi dua bulan kemudian, pangeran ini terkejut. Dia mendengar berita bahwa selir tersayangnya itu tewas, mati bunuh diri setelah dicampakkan Pangeran Fu Chai, yang lalu membagi-bagikannya kepada para bawahannya seperti orang membagi-bagi pisang goreng!

Kiok Hwa yang tidak tahan dipakai secara berganti-ganti itu akhirnya menuang racun ke dalam mulut sebagai reaksi protes dari sakit hatinya yang tak tertahankan!

Pangeran Kou Cien jatuh sakit. Dia terpukul hebat oleh kejadian itu, dan Fan Li yang tidak tahan melihat penderitaan junjungannya ini akhirnya suatu hari mengajukan usul.

"Mereka harus membalas semua hinaan lawan."

Tapi Pangeran Kou Cien yang putus asa dan sedih hatinya mendahului menolak.

"Kita tak mempunyai kekuatan, Ciangkun. Percuma mencari akal untuk membalas raja muda itu!" demikian sang pangeran bicara ketika panglimanya belum membuka suara.

Fan Li yang maklum akan keadaan junjungannya ini menarik napas.

"Tapi hamba mempunyai gagasan, Pangeran. Paduka tak perlu putus asa untuk gagasan hamba kali ini!"

"Hm, gagasan bagaimana, Ciangkun? Membalas raja muda itu harus memiliki bala tentara yang kuat. Padahal kita tak diperkenankan menyusun bala tentara. Mana mungkin membalas raja muda itu?"

Fan Li tersenyum.

"Tapi hamba punya akal, Pangeran. Tak perlu Paduka berduka untuk akal hamba kali ini. Pasti berhasil!"

Namun sang pangeran tetap dingin. "Aku tak merasa gagasanmu berhasil, Ciangkun. Karena sebelum kita bergerak, tentu mereka sudah tahu terlebih dahulu!"

"Ah, tapi ini lain, Pangeran. Kita tak mempergunakan bala tentara untuk menyerang raja muda itu. Kita mempergunakan orang-orang kang-ouw!"

"Hm, jumlah mereka tak banyak, Ciangkun. Meskipun orang kang-ouw ribuan jumlahnya, tapi masih kalah jauh oleh jumlah tentara yang bisa puluhan ribu banyaknya!"

"Benar, tapi kita mempergunakan taktik 'pedang berselubung sarung', Pangeran. Hamba yakin ini adalah satu-satunya jalan yang paling jitu untuk menghadapi raja muda itu!"

Tapi sang pangeran masih tak tertarik. Dia sudah terlampau putus asa dan berduka oleh kejadian yang bertubi-tubi menggencetnya, maka mendengar kata-kata penuh semangat dari panglimanya ini dia pun menggeleng lemah.

"Fan-Ciangkun, agaknya tak ada seseorang yang dapat membantu kita secara tuntas selain Pendekar Gurun Neraka. Mana mungkin merencanakan akal bermacam-macam kalau orang yang bersangkutan tak mau? Dia telah menolak kita. Berarti tak ada harapan meskipun mengumpulkan banyak orang kang-ouw!"

Fan Li tersenyum. "Justeru itulah, Pangeran. Hamba akan ke Tapie-san untuk menemui pendekar ini. Dia tentu telah mendengar kekejian raja muda itu yang menghina Paduka habis-habisan. Dan mengandalkan kesempatan ini, hamba akan mengetuk pintu hatinya!"

Sang pangeran bangkit berdiri, mukanya bercahaya.

"Jadi kau akan ke sana, Ciangkun? Tapi mana mungkin? Bukankah dia telah menyatakan isi hatinya bahwa dia tak akan mencampuri lagi urusan kerajaan? Dan kau tahu kekerasan hatinya, Ciangkun. Pendekar itu tak akan mengangguk kalau sudah menggeleng!"

Fan Li tersenyum lebar. Dia sudah merasa girang bahwa junjungannya ini tiba-tiba bersinar matanya, tanda mulai bangkit semangatnya begitu membicarakan Pendekar Gurun Neraka. Dia yang tahu betapa besar harapan pangeran ini untuk memohon bantuan pendekar itu, tiba-tiba juga bangkit berdiri.

"Pangeran, kalau boleh Paduka izinkan, sekarang hamba hendak membeberkan rencana hamba pada Paduka. Tapi kalau Paduka tak setuju, tentu saja hamba tak akan bicara."

"Ah, katakanlah, Ciangkun. Asal ada hubungannya dengan Pendekar Gurun Neraka, tentu kau boleh bicara. Katakanlah...!"

Fan Li sudah merasa gembira.

"Begini, Pangeran. Karena jelas kita tak bisa menyusun angkatan perang, maka hamba mempunyai usul untuk mendirikan sebuah perkumpulan orang-orang kang-ouw yang dipimpin Pendekar Gurun Neraka. Mereka adalah simpatisan kita, kaum patriot yang tahu keadaan kita yang dihina lawan. Kalau Pendekar Gurun Neraka yang memimpin perkumpulan itu, tentu secara tidak kentara kita telah mempunyai semacam barisan pelindung dari orang-orang kang-ouw ini. Yang sewaktu-waktu bisa membantu kita dalam keadaan memaksa. Bagaimana menurut pendapat Paduka?"

Pangeran Kou Cien tertawa lebar. "Kau cerdik, Ciangkun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment