Chapter 200
Dan Kun Houw yang baru mengetahui hal itu dari ayahnya tiba-tiba tergugah rasa patriotismenya dan merasa malu pada diri sendiri. Ia merasa belum memberikan kontribusi apa pun kepada rakyat kecil, bahkan selama ini ia cenderung membantu dan dekat dengan orang-orang jahat. Ia tidak tahu bahwa di seberang sana sedang bergulat orang-orang gagah seperti Panglima She Fan yang sanggup menindas kepentingan pribadi demi mendahulukan kepentingan negara.
Jiwa pendekar Kun Houw bangkit. Ia memantapkan diri untuk membantu ayahnya serta sang selir. Ia bukan sekadar membalas budi karena telah ditolong, melainkan karena ia melihat bahwa perjuangan ayahnya didukung oleh orang-orang hebat seperti sang panglima muda dan Shi Shih—wanita gagah yang amat pandai dan mengagumkan. Tergetar oleh kisah tersebut, semangat Kun Houw berkobar untuk membantu sekuat tenaga.
Melihat bahwa Shi Shih tampak ragu meneruskan perjuangan, Kun Houw memberanikan diri menegur selir tersebut.
"Paduka Selir, hamba tidak tahu apa yang sebenarnya menyebabkan Paduka begitu sedih atas kematian sahabat Paduka itu. Namun, setelah hamba melihat hubungan Paduka dengan Panglima tersebut semalam, seharusnya Paduka tidak membiarkan Panglima itu menyerbu istana yang berarti bunuh diri baginya!"
Shi Shih terkejut mendengar Kun Houw bicara lantang. Ia tertegun, lalu menghapus air matanya sembari memandang pemuda itu. "Apa maksudmu, Kun Houw? Kenapa kau menegurku?"
"Maaf, Paduka," sahut Kun Houw tegas. "Hamba tidak tahan melihat kekecewaan Fan-ciangkun. Paduka tidak seharusnya mencelakakan Panglima itu dengan membiarkannya menyerbu istana."
Shi Shih memandang dengan mata bersinar. "Aku juga melihat itu, Kun Houw. Namun, bagaimana pendapatmu?"
"Paduka harus bangkit. Paduka harus meneruskan perjuangan dan membantu Panglima itu. Paduka telah kehilangan orang yang dicintai, jangan sampai kehilangan lagi untuk kedua kalinya."
Shi Shih terbelalak. Ia melihat Kun Houw yang kini tampak patriotis dan penuh semangat. Akhirnya, selir itu mengangguk dan bangkit berdiri. "Benar, aku telah memikirkannya bolak-balik. Terima kasih atas kata-katamu. Aku mantap untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Fan-ciangkun memang tidak boleh bunuh diri!"
"Jadi, apa tindakan Paduka?"
"Berikan surat ini kepada Fan-ciangkun dan beritahukan bahwa aku akan meneruskan rencana yang telah dibuat!"
Kun Houw sangat girang. Ia menerima surat itu dengan perasaan tak menyangka perubahan tersebut terjadi begitu cepat. Setelah menerima isyarat dari Shi Shih, Kun Houw segera bergegas melaksanakan tugasnya. Ketika surat itu sampai ke tangan Fan-ciangkun, sang panglima sangat gembira hingga menangis dan membaca surat itu berulang-ulang.
Begitu rencana dijalankan, pasukan pendam yang selama bertahun-tahun disembunyikan mulai bergerak mengepung kota raja dari empat penjuru pintu gerbang. Jauh di balik bukit, suasana tampak tenang, tidak menunjukkan bahwa serbuan besar-besaran akan segera melanda istana kaisar. Sementara itu, Kun Houw kembali ke kota raja untuk melaksanakan tugasnya memberikan petunjuk dari dalam istana.
***
Siang itu, Kaisar dan para pembantunya berkumpul di ruang dalam tanpa menyadari situasi yang berkembang. Kaisar memberikan perintah untuk membangun istana baru yang megah di lereng Gunung Lin-yen-san demi memenuhi permintaan selir tercintanya. Istana tersebut dirancang sebagai taman seluas seratus hektar yang dilengkapi sungai buatan dan kebun binatang mini.
Bukan hanya itu, Shi Shih meminta agar istana tersebut dibangun dengan seribu kamar yang mampu menampung seluruh penduduk kota raja. Kaisar yang terobsesi pada selirnya itu menyanggupi meski biayanya ditaksir mencapai sejuta tail emas. Karena kas istana hanya memiliki separuhnya, Kaisar memutuskan menaikkan pajak yang dibebankan kepada rakyat atas saran Po-taijin.
"Hamba kira rakyat mampu menunjang biaya ini, Sri Baginda. Rakyat kita hidup makmur dan sejahtera," ucap Po-taijin meyakinkan Kaisar.
Kaisar yang percaya pada menterinya langsung setuju, tanpa menyadari kemarahan rakyat yang terbebani pajak tinggi. Tiga bulan kemudian, pembangunan dimulai dengan kerja keras yang kembali dilimpahkan kepada rakyat kecil. Enam bulan berselang, istana yang megah tersebut berdiri dan dinamai "Kwan-wa-kung" atau Istana Si Cantik.
Setelah istana itu selesai, barulah Shi Shih bersedia melayani Kaisar setelah sembilan bulan "berpuasa".
"Ah, kau keterlaluan, Shi Shih. Kenapa masa berkabungmu lama sekali?" keluh Kaisar.
Shi Shih tersenyum tenang. "Paduka mempunyai ratusan selir. Bukankah Paduka bisa lari dari pelukan yang satu ke yang lain?"
"Mereka tidak seperti kau, Shi Shih. Mereka hanya menang penampilan, tetapi bodoh dalam permainan di atas ranjang!" jawab Kaisar gemas.
Shi Shih tertawa geli. Ia mulai melayani Kaisar dengan sentuhan yang membuat sang Kaisar mabuk kepayang. Selama tiga hari berturut-turut, Kaisar tidak mau keluar dari kamarnya. Namun, pada hari keempat, seorang pengawal muncul dengan wajah gugup dan ketakutan.
"Sri Baginda, Ok-ciangkun datang menghadap. Ada berita penting dari kota raja!"
Kaisar terkejut, mengingat ia telah memberi perintah agar tidak ada yang mengganggu "bulan madunya" selama tiga hari terakhir.