Chapter 201
Bahkan Kaisar memberikan waktu seminggu agar tidak ada menteri maupun penasihat istana yang datang ke Istana Kwan-wa Kung. Ia tidak ingin ketenangannya bersama selir tercinta terganggu. Oleh karena itu, ketika mendengar Ok-ciangkun menghadap dan panglima itu datang mengganggunya secara tiba-tiba, Kaisar merasa tidak senang dan mengerutkan alisnya.
Namun, karena panglima itu adalah orang penting baginya dan seluruh angkatan perang berada di bawah pimpinannya, akhirnya Kaisar menyuruh panglimanya itu maju menghadap. Ok-ciangkun datang dengan muka pucat.
"Ampun, hamba membawa berita tidak menyenangkan, Sri Baginda. Di kota raja timbul pemberontakan!"
"Apa?" Kaisar terkejut. "Siapa yang memberontak, Ciangkun? Siapa jahanam itu?"
Panglima Ok menjatuhkan diri berlutut, melirik Shi Shih yang duduk di sebelah kiri junjungannya. Kaisar yang terbelalak melihat panglimanya tidak segera menjawab, lalu bangkit berdiri dengan muka merah. "Ciangkun, siapa pemberontak itu? Dan bagaimana bisa mereka berada di kota raja?"
Panglima itu menggigil. "Kun Houw, Sri Baginda. Pasukan cadangan yang dipimpin bocah itu!"
"Apa? Kun Houw? Bocah yang kuberi kedudukan itu?" Kaisar kaget bukan main saat melihat panglimanya mengangguk dan kembali melirik selirnya.
Shi Shih, yang berpura-pura kaget dan ikut berubah air mukanya, tiba-tiba bangkit berdiri dan membentak panglima itu. "Ok-ciangkun, jangan main-main kau! Kun Houw adalah orang kepercayaanku!"
Ok-ciangkun memandang dingin. "Ya, hamba tahu, Sri Paduka Selir. Tapi hamba tidak memfitnah atau melontarkan omongan kosong bahwa pemuda itu yang memberontak bersama pasukannya!"
"AH!" Kaisar pucat. "Bagaimana itu bisa terjadi, Ciangkun? Bagaimana anak itu mengadakan pemberontakan di kota raja?"
Ok-ciangkun kemudian menceritakan kejadian ini dari awal untuk menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi. Pengabdian Kun Houw kepada selir tercinta itu kini berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Pemuda ini terkesan hebat oleh kenyataan yang dilihatnya di dalam kamar antara selir itu dengan Fan-ciangkun. Ia terharu bukan main oleh pengorbanan yang dinilainya luar biasa itu, yakni memberikan kekasih kepada orang lain demi perjuangan.
Karena Kun Houw sejak saat itu merasakan arti cinta dan bagaimana rasanya memiliki kekasih, apa yang dilihatnya di dalam kamar selir antara Fan-ciangkun dengan Shi Shih dianggapnya hebat sekali. Dia sendiri agaknya tak sanggup berkorban seperti itu. Jangankan memberikan kekasih, baru melihat Kui Hoa diganggu Hun Kiat saja, dia sudah marah bukan main dan hendak membunuh pemuda itu.
Maka, setelah termangu dan kagum bukan main kepada Shi Shih dan Fan Li, diam-diam Kun Houw merasa malu hati terhadap diri sendiri. Ia merasa belum memberikan apa pun kepada orang-orang gagah itu. Menurutnya, sudah sepatutnya dia membantu Yueh menghancurkan Wu. Karena Shi Shih telah memberinya kedudukan lewat Sri Baginda dan pasukan cadangan telah dibentuk, Kun Houw mulai mengadakan gerakan bawah tanah bersama selir itu.
Di sinilah Kun Houw kagum bukan main. Dia melihat selir itu berhasil memengaruhi sebagian besar pembantu kaisar, kecuali Ok-ciangkun. Shi Shih mengikat menteri-menteri istana dengan bersikap royal, memberikan hadiah baik berupa kedudukan maupun harta. Karena manusia memang lemah terhadap hal-hal yang berbau duniawi, mau tidak mau menteri-menteri itu menjadi hamba Shi Shih. Apalagi Shi Shih adalah orang yang amat disayang Kaisar; semua kata-katanya dituruti dan hampir tidak ada yang ditolak.
Shi Shih yang berhasil menggaet banyak menteri akhirnya menyuruh mereka untuk korup. Kun Houw tertegun. Dia melihat selir itu terang-terangan memberi perintah kepada para menteri yang menjadi kaki tangannya untuk melakukan korupsi besar-besaran demi menggendutkan perut sendiri dan menindas rakyat kecil. Karena perbuatan korup ini atas suruhan selir tersebut dan semua rahasianya diketahui, otomatis semua menteri tunduk dan taat kepada Shi Shih.
Semua menteri yang korup akhirnya menuruti apa yang diperintahkan selir itu, termasuk mengkhianati Kaisar dan diam-diam menyelundupkan orang-orang Ho-han Hwe ke dalam pasukan cadangan. Shi Shih mulai "menyetir" mereka. Para menteri korup yang tidak peduli lagi akan keselamatan istana mulai diperintahkan untuk menyiapkan gagasan-gagasan besar yang disusun selir ini. Ia memperkenalkan Kun Houw sebagai orang kepercayaannya setelah Po-taijin. Namun, karena lama-kelamaan kedudukan Kun Houw terus menanjak dan Shi Shih menunjukkan perhatian yang demikian besar kepada pemuda ini, akhirnya Po-taijin menjadi orang kepercayaan kedua setelah Kun Houw.
Po-taijin tidak sakit hati karena dia tahu kelebihan Kun Houw, yakni orang yang pernah menjadi pembantu Ok-ciangkun dan menyelamatkan Kaisar, hal yang termasuk jasa besar terhadap negara. Kedudukan Kun Houw yang kian kuat berkat pengaruh Shi Shih akhirnya disegani oleh menteri-menteri korup yang melihat Kun Houw sering mewakili sang selir dalam urusan-urusan penting, termasuk mengatur roda pemerintahan. Hal ini sebetulnya sudah menyeleweng dari kedudukan Kun Houw sebagai kepala pasukan cadangan.
Namun, karena Kun Houw adalah orang kepercayaan Shi Shih dan selir itu adalah orang kesayangan Kaisar, tidak ada yang berani mengganggu pemuda ini, kecuali Hun Kiat dan guru-gurunya, termasuk Sam-hek Bi-khwi yang diam-diam iri dengan keberuntungan Kun Houw.
Maka, ketika suatu hari Kun Houw memeriksa pasukannya yang diam-diam mulai disusupi orang-orang Ho-han Hwe, mendadak Hun Kiat muncul mengejutkan pemuda ini.
"Hei, siapa itu, Kun Houw? Bukankah dia si Golok Kilat Kwee Cin?"
Kun Houw terkejut. Dia baru berbisik-bisik menghadapi dua orang laki-laki yang baru datang, salah satunya adalah laki-laki kurus berkumis panjang, yakni si Golok Kilat Kwee Cin yang dituding Hun Kiat. Orang yang dulu pernah dilihat Hun Kiat di puncak Beng-san saat terjadi keributan atas kematian Ciok Thouw Taihiap.
Kun Houw terbelalak melihat kedatangan Hun Kiat, lalu bangkit mendorong mejanya menghadapi pemuda itu dengan kaget dan marah. "Hun Kiat, ini bukan wilayahmu. Sebaiknya kau kembali ke tempatmu sendiri dan tidak perlu berbuat onar."
"Ha... ha..." Hun Kiat mengejek. "Aku datang justru karena aku melihat laki-laki ini, Kun Houw. Dia tampaknya si Golok Kilat Kwee Cin!"
Hun Kiat menghampiri laki-laki itu dengan sikap mengancam. "Kau si Golok Kilat, bukan?"
Kwee Cin tentu tidak mengaku. "Tidak, aku..."
Kun Houw mendahului, "Dia anggota pasukan cadangan, Hun Kiat. Dia Lao Kim yang datang diantar saudaranya!"
"Bohong!" Hun Kiat tiba-tiba membentak. "Dia adalah si Golok Kilat!"
Sementara orang-orang tertegun oleh bentakannya, tiba-tiba pemuda ini berkelebat mencengkeram laki-laki itu dan meremas tenggorokannya dengan serangan yang mematikan. Kwee Cin yang kaget langsung melempar diri dan mencabut goloknya.
"Swing!" Kwee Cin terguling-guling. Dia selamat dan melompat bangun dengan mata mendelik.
Hun Kiat yang tertawa melihat orang mencabut golok tiba-tiba memandang Kun Houw dan mengancam dengan tawanya yang serak. "Kun Houw, kau tampaknya memasukkan mata-mata. Orang ini jelas si Golok Kilat!"
Kun Houw tertegun. Dia hendak menjawab, namun Hun Kiat bersiul nyaring yang tiba-tiba disambut dua bayangan yang melompat masuk. Kun Houw menggigil dan pucat mukanya saat melihat Mayat Hidup dan Mu Ba berdiri di samping Hun Kiat dengan mata jelalatan.
Ketika Hun Kiat tertawa dan Mu Ba bertanya apa maksud pemuda itu memanggilnya, Hun Kiat menuding si Golok Kilat Kwee Cin. "Suhu, siapa orang ini menurut pendapatmu?"
Mu Ba terbelalak. Dia mencoba mengingat-ingat, namun Mayat Hidup yang lebih dulu mengenal tiba-tiba terkekeh dan batuk-batuk. "Wah, dia si Golok Kilat Kwee Cin. Ada apa tikus busuk ini ada di sini?"
Mu Ba ingat. "Benar, dia si Golok Kilat itu. Ada apa dia datang ke sini?"
Hun Kiat menjawab sambil memandang gurunya itu. "Kun Houw memasukkannya sebagai pasukan cadangan, Suhu. Rupanya diam-diam ada yang tidak beres yang dilakukan Kun Houw."
"Wah... pengkhianatan?"
"Begitu agaknya!" Hun Kiat mengejek. "Karena itu kita geledah tempat ini, Suhu. Tangkap si Golok Kilat itu!"
Kun Houw marah. "Hun Kiat, ini bukan wilayahmu untuk mengambil keputusan. Jangan coba-coba membuat onar!"
"Kau mau apa?" Hun Kiat menantang. "Ini bukti kerjamu yang tidak beres, Kun Houw. Aku mau melaporkannya pada Sri Baginda dan Ok-ciangkun."
Kun Houw melompat maju. "Kau tidak dapat membawanya begitu saja, Hun Kiat. Lao Kim adalah orangku. Kau sebaiknya panggil Ok-ciangkun kemari atau bawa surat perintah penangkapan!"
Kun Houw bingung, marah, tapi juga khawatir rahasianya bakal terbongkar oleh iblis busuk ini yang sesungguhnya merupakan musuh besarnya. Namun, Hun Kiat yang tertawa mengejek tiba-tiba maju menyambutnya dan menyuruh kedua suhunya itu menangkap si Golok Kilat.
"Suhu, bawa saja si Golok Kilat itu. Anggap saja perintahku adalah suara Kaisar!"
Mu Ba dan Mayat Hidup tertawa. Mereka melihat Kun Houw siap dihadapi muridnya itu. Hun Kiat kini memiliki kepandaian tinggi berkat sinkang Ciok Thouw Taihiap, sebuah kepandaian yang terus terang mereka akui lebih tinggi dari mereka sendiri, terutama sinkang Hun Kiat yang hebat luar biasa warisan Ciok Thouw Taihiap.